Chapter 14

1085 Words
Pagi yang cerah dengan suasana hati yang buruk. YA! Begitulah hari Queen pagi ini. Dirinya sibuk mondar-mandir didalam kamarnya, ehm kamar Mike maksudnya. Dengan pikiran yang masih betah berkelana. "Terus harus gimana ni?" Tanyanya pada diri sendiri. Dirinya masih mondar-mandir dengan tangan yang ia ketuk-ketukkan di dagunya. Dalam benaknya ia berfikir. 'Kalo gue udah disini ntar matinya kecepetan dong?" Tanyanya pada diri sendiri. Kembali ia berfikir, 'Terus kan sekarang belom deadlinenya gue mati, tapi ko udah di bawa kesini! Masa matinya di percepat, ga lucu anji*.' Pikirnya frustasi. Dirinya mengacak rambutnya kesal, dengan perasaan campur aduk dirinya menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Otaknya sibuk mencari jalan keluar atas apa yang akan terjadi. "Udah pokoknya gue ga mau mati! Baru idup anj ih lelah batin gue." Ujarnya pada diri sendiri kesal, ingin rasanya ia membanting kepalanya sekarang juga lantaran otaknya benar-benar serasa pecah akan ini semua. "Lagian juga kenapa gue harus jadi antagonis bangs**." Teriaknya lagi tak suka. "Kalo cuman gue biarin si cogan deket trus langgeng ama protagonis cewe kan ga mungkin, pasti ada aja kejadian ntar yang bikin gue mati." Ujarnya lagi masih dengan berfikir. Menghela nafasnya sejenak. "Huftt," Dirinya membuka kelopak mata sembari menatap kedepan dengan yakin, "lo pasti bisa sha ayo dong anj, kabur aja udah." Ujarnya pada diri sendiri. Sha? Ya. Namanya dulu adalah Esha lebih tepatnya Caesha diora, tapi sekarang namanya bukan esha lagi! "Lo itu Queen! Elqueena Shaillyn! Stop berfikir lo esha lagi karna lo udah punya kehidupan baru!" Ujarnya yang malah melantur. "Arghhh." Karna kesal langsung saja Queen menjambak rambutnya sembari membanting-bantingkan kepalanya di kasur. "Kapan gue bisa bebas dari pikiran laknat ini yatuhan." Ujarnya lagi hendak mengeluarkan air mata. Dirinya benar-benar bingung sekarang, dia sudah berada di kediaman malaikan mautnya dan pasti sebentar lagi ajalnya akan tiba. Walaupun kadang dirinya tidak niat menjalani hidup di dunia ini, tapi ayolah, dirinya juga tak ingin langsung mati. "Harus gimana?!" Tanyanya kali ini yang malah membenturkan kepalanya hingga berbunyi nyaring. Brak Pintu di dorong kuat oleh seseorang, tak ada niatan sedikitpun bagi Queen untuk melihat siapa yang datang, dirinya masih betah membenturkan kepalanya sehingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring, tak peduli dengan kepalanya yang mungkin memar akan hal itu, yang jelas, DIA SEKARANG SEDANG DEPRESI! "WOI!" Teriak orang yang Queen rasa telah mendobrak pintu kamar itu, mereka ga takut di suruh ganti rugi apa? Secara kan pintunya mahal. Langkah kaki nampak menghampiri dirinya ysng masih membenturkan kepalanya, sedetik kemudian hening Queen tak mendengar suara lagi, namun ia tak pedul-- "AWSH," Teriak Queen nyaring kala rambutnya di tarik kasar kebelakang. Dirinya meringis, mengaduh sakit sembari memejamkan kepalanya, menghayati rasa sakit yang kini ia rasakan. "Jika otak mu ingin pulih kembali ksu sebarusnya memanggil kami untuk ikut membenturkannya bukan malah membenturkan kepalamu sendiri," Celetuk salah satu orang ketika sakit yang ada di kepalanya mulai mereda. Oke ia tau siapa ini. Dirinya mendongakkan kepalanya melihat dengan jelas siapa yang telah lancang menarik rambutnya, dan benar saja, sekarang di depannya sudah ada dua orang pria bernama Cesario dan Austin YANG JELAS KALIAN TAU MEREKA ADALAH KAKAKNYA. "MAKSUD MU APA MENJAMBAK RAMBUTKU HAH?" Teriak Queen tak kuasa membendung emosinya sendiri. Kedua orang itu mengacuhkaannya dan malah sekrang mereka malah menjatuhkan tubuhnya, ikut rebahan bersama Queen. "Ck berlebihan," Samar-samar Queen mendengar celetukan Cesario, tetapi karena dirinya sedang tidak mood,ia hiraukan saja pernyataan itu. "Kenapa kalian kesini?" Tanya Queen kepada dua orang yang masih betah tiduran di ranjangnya. "Kastil ini bahkan lebih besar dari yang kita tempati bukan?!"  Bukannya jawaban yang ia dapat, malah pertanyaan aneh yang di lontarkan oleh kakaknya. "Ya kau benar, tapi kastil ini terlihat tidak terurus," Ujar Cesario menimpali. Tangannya ia gunakan sebagai bantalan sdmbari matanya yang sibuk menerawang dengan takjub. "Sama seperti mu," Celetuk austin nyakitin. Cesario memutar bola matanya, memang harus banyak banyak sabar menghadapi manusia prik satu ini. "Kalau di pikir pikir berapa bayaran yang akan aku terima bila bekerja di sini?" Tanya Cesario pada Austin. Austin mengedikkan bahu dalam rebahannya, "Mungkin 1000 tael emas dalam sehari?" "Itu terlalu banyak." "Tapi kudengar-dengar juga bayaran orang yang bekerja disini rata rata segitu. "Wow, apa menurut mu lebih baik aku berhenti berburu saja atau lebih baik menjadi pengawal depan gerbang disini?" Tanya Cesario pada Austin. "Jadilah pengawal disini, raup bayaran yang banyak lalu bagi untukku, itu ide bagus--" "HEI!!" Teriak Queen nyaring. "APA KALIAN MENGANGGAP AKU INI HANYA BAYANGAN SEKARANG?!" Tanyanya dengan kesal. Dia sedari tadi sudah kebingungan sendiri dengan dua orang yang malah asik dengan topik mereka, melupakan gadis imut yang malah di telantarkan oleh dua orang ini. DAN LIHAT! CESARIO DAN AUSTIN BAHKAN TAK MENJAWABNYA SAAT DIRINYA SAJA SUDAH BERTERIAK DENGAN KERAS. "b******n sialan ini." Umpat Queen tertahan. Dirinya bangkit dan mulai menjambak rambut kedua kakanya dengan brutal, "SEKALI LAGI AKU TANYA, APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI HA?" Tanyanya ga nyelow, membuatAustin dan Cesario yang di jambak mengaduh kesakitan. "Awhs sakit monyet!" Umpat Austin. "Lepaskan babi!" Maki Cesario. Queen melepaskan jambakannya lantaran kasihan juga melihat kedua orang di depannya yang tersiksa karena ulahnya. Gini-gini dia juga masih punya hati. "JAWAB!" Ujarnya melototkan matanya. Dilihatnya dua orang di depannya saat ini masih sibuk memegangi kepalanya, mirip upin ipin jatohnya. "Memang kenapa kalau kami kesini?" Tanya Austin yang sudah merasa mendingan di kepalanya. Cowo itu kembali merebahkan tubuhnya membiarkan Cesario yang berbicara. "Kau jangan sombong, mentang-mentang tunangan orang yang berada,kau malah mau menistakan kakak-kakak mu yang imut ini." Imbuh Cesario membuat Queen bergidik ngeri. "Jangan lupakan karena kau lah rumah kita jadi di bakar! Uh ingin rasanya ku bom kepalamu jika saja aku tak ingat kau tunangan orang kaya." Lanjut Cesario lagi masih tak iklash dengan rumah yang bertahun-tahun ia tempati tapi malah berakhir dengan terbakar karena ulah adiknya. Queen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Ya.. aku juga tak tau bila akhirnya akan seperti ini, ku pikir pria sinting itu tak peduli padaku." Ujar Queen menjelaskan. "Pria sinting?" Tanya Cesario. Queen mendongak menatap Cesario, "Ya pangeran itu sinting bukan?" Tanyanya menaikkan sebelah alisnya. Cesario memutar bola matanya, "Sinting-sinting begitu dia juga tunangan mu." Ujar Cesario merebahkan dirinya di samping Austin. "Dan sebentar lagi dia juga akan menikah dengan mu." Celetuk Austin menimpali. Queen bergidik ngeri, "Siapa juga yang mau menikah dengannya." Tanyanya pada diri sendiri. Austin mendongakkan kepalanya, "Tapi memang kenyataannya kau akan menikah dengannya bukan?" Tanya Austin yang membuat Queen menaikkan sebelah alisnya bingung. "Ya di bawah mereka sedang menyiapkan pesta untuk pernikahan mu dengan pria itu, apa kau pura-pura lupa?" Celetuk Austin lagi. Detik itu juga mata Queen ingin copot dari tempatnya. "H-h-ha? Menikah? S-sekarang?!" JEDER Ok mautnya telah tiba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD