Chapter 13

989 Words
Queen menepis tangan Mike yang mengelus rambutnya, ia memalingkan wajahnya sembari bersemu malu. Ni bocah demen  banget bikin anak orang melting, batinnya mengerutu. "Kenapa?" Tanya Mike melirikku menggoda. Queen memalingkan wajahnya, malu menatap cogan satu itu. "Ayo," Ujar Mike tiba tiba yang langsung menarik lengan Queen untuk ikut dengannya. Sedangkan Queen yang masih malu-malu itu hanya bisa diam dan mengekori Mike saja. "Kau diam disini," Ujar Mike kala mereka telah sampai di depan pintu ruangan yang masih tertutup rapat. Queen memiringkan kepalanya bingung lantaran Mike yang tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya sendiri di sana, Suruh masuk dulu kek, suruh duduk dulu kek, mlah langsung pergi. Batin Queen kesal. Padahal baru saja tadi dirinya di buat nge blush oleh Mike tapi sekarang dirinya di buat jengkel dengan lelaki itu. Secepat itu dirinya di ghosting. Eh tapi tunggu? Kenapa dirinya mau-mau saja di bawa ke sini! Bukankah seharusnya dirinya menolak? Kenapa t***l sekali wahay otak! Prank "Eh monyet," Latah Queen kala mendengar suara gaduh di bawah. 'Itu di bawah ngapain? Brisik banget sih.' Pikirnya. Langsung saja ia berjalan menuruni anak tangga, tak mengidahkan ucapan Mike tadi. Dan apa yang di lihatnya? "KAU APAKAN RUMAH KU HAA!" Teriak Ayah Queen murka menatap berang Mike. Disana ia lihat, ayahnya telah menarik kerah jubah yang di pakai oleh cogan satu itu. "BERANI-BERANINYA KAU BAKAR RUMAHKU SIALAN!" Teriak ayahnya lagi. Owh sialan, lihatlah bahkan ayahnya Mike juga berada disini saat ini, mereka apa tidak berniat menolong anaknya apa ya? "Aku hanyak membakarnya," Celetuk Mike santai tidak membalas perlakuan ayah mertuanya. Ehbuset, Queen melototkan matanya. "Otak mu dangkal ya?!" Nah ini yang ada di otaknya saat ini, namun kata-kata itu keburuan di lontarkan oleh ayahnya saat ini. Biar kita jelaskan, kastil milik Mike saat ini ramai dengan orang, tidak ramai sih, hanya ada dirinya, orang tuanya, orang tua Mike, dan tentu saja Mike. Saat ini. Suasana masih gaduh, dan kepalanya pusing mendengar ayahnya yang berteriak, sedangkan tunangannya itu malah semakin menyulut emosi ayahnya. Eh? "Sudahlah sayang itu hanya rumah," lerai ibunya mencoba menenangkan ayah Queen. "Apa kau juga gila!" Tanya ayahnya sekali lagi. "Aku hanya membakarnya saja lagian juga itu tidak bisa di sebut rumah jadi mengapa kalian harus mempermasalahkannya," Ujar Mike tiba-tiba. Dirinya melepaskan cengkraman Ayah Queen dari kerah jubah yang saat ini ia gunakan. "Lebih baik kalian tinggal disini saja, disini lebih besar dah tidak kumuh," Ucapnya sekali lagi kurang ajar. Ia membalikkan badannya, dan kini matanya bersitatap dengan mata Queen. "Dan juga gadis ku tak akan tersesat lagi di hutan, juga tak akan bersembunyi lagi dari ku." Sedetik kemudian Queen terdiam kala mendengar ucapannya, Gimana-gimana? "ANAK SIALAN INI," Ayah Queen ingin menarik kerah baju Mike lagi namun sudah keduluan di tarik oleh istrinya. "Sudah-sudah ingat dia siapa sayang," Ujar ibunya menenangkan. Queen masih bingung dengan apa yang di lihatnya barusan, gila, anjir ini mah t*i. "Ayo." "Hah?" Tanyanya bingung kala Mike sudah berada di depannya dan menarik lengannya untuk kembali ke atas, meninggalkan keributan yang masih membara disini. Lengannya di seret sedikit kasar oleh Mike, sesekali pria itu menatap ke arahnya dan tersenyum simpul. What?! Ko gemes sih anj "Kenapa turun?" Tanyanya yang kini kita sudah berada di depan pintu, dia membuka ruangan itu, dan menyeret Queen masuk kesana, mendudukkannya di tepi ranjang dengan ia yang ikut duduk di samping Queen, dirinya menaikkan alis seolah menagih jawaban darinya. Queen menggaruk tegkuknya yang tak gatal, "Aku hanya merasa penasaran dengan suara ribut-ribut di bawah makanya aku turun untuk memeriksannya," Jawab Queen masih menggaruk tengkuknya namun kali ini di selingi dengan cengiran gajelasnya. Mike menghembuskan nafasnya kesal, dirinya menyentil dahi Queen, "Lain kali bila ku suruh diam disini, maka kau harus mematuhi perintahku!" Ujarnya melototkan matanya. Queen menyengir lagi dan tanpa sengaja menganggukkan kepalanya, dirinya mengusap keningnya yang di sentil tadi oleh Mike. Di ikuti dengan pergerakan cogan di depannya yang ikut mengusap dahinya "Omong-omong kenapa kau bakar rumahku?" Tanya Queen kembali di buat sadar dengan kelakuan setan satu ini. Mike menatap manik mata Queen, "Ya karena kau tidak datang kemarin." "Hanya karna itu?" Tanyanya yang bingung dengan orang di depannya, Mike mengedikkan bahunya acuh. Dirinya membaringkan tubuhnya di ranjang dengan paha Queen sebagai bantalan, di tatapnya Queen yang menunduk menatap dirinya, seolah belum puas dengan jawabannya. Dirinya menghembuskan nafasnya kasar, "Hei! Aku menulis undangan khusus untukmu, berharap kau datang, tapi kau malah menyerahkan surat undangan yang langsung ku tulis sendiri ke orang lain, kau jahat!" Ujarnya cemberut dan kini membalikkan tidurnya menghadap ke perut Queen menyembunyikan kepalanya disana. Kesal rasanya kala kau merasa orang itu akan datang tapi ternyata engga dateng sama sekali, ingin rasanya Mike menjambak rambut Queen kala gadis itu masih saja mempertanyakan pertanyaan bodoh unfaedah, tapi niat itu di urungkan dirinya sayang soalnya.. Sedangkan Queen ah jangan ditanya, dirinya tiba-tiba shock seketika. Kenapa setan ini malah berubah menjadi sangat menggemaskan!! Batinnya berteriak tak karuan. Ia masih bengong, gila! Tetapi dirinya kembali tersedar akan satu hal, lalu Alyca dimana? **** "Huhuhuhuhu," Teriak seorang gadis frustasi. Dirinya menangis semalaman meratapi nasibnya saat ini, tau begini dirinya mending tidak kabur dari rumah nya! Seandainya saja dia tidak nekat tidak mungkin sekarang dirinya berakhir kumal di hutan ini, huaaaaa! "AKU KAN HANYA INGIN KEMBALI KE KEDIAMAN TEMAN BABI KU SATU ITU, KENAPA MALAH AKU YANG DI KEJAR ANJING! HUAAAA!" Teriakny menggema di seluruh hutan. Ya! Niat hati ingin kembali ke kediaman Queen, namun naasnya dirinya malah di kejar kejar oleh anjing hutan, b******n. Matahari terik menyinari, kulit putihnya terpaksa harus terpapar dengan sinar matahari yang terik, "Kulit ku..." Ujarnya kembali menangis. Dirinya benar benar tak mengenal siapa-siapa disini, ia hanya kenal Queen dan satu lagi saudaranyanya siapa namanya ah iya Cesario, dan satu yang tengil itu ia lupa namanya. "KENAPA AKU HARUS MENGUSIR KURIR ITU SIH!" Bentaknya lagi berteriak kesal, bodoh sekali dirinya ini. Sudah di kejar-kejar anjing, tak tau arah jalan pulang, badan dekil, buta arah, dan sekarang! Dirinya malah tersesat di hutan. Cobaan yang sungguh membuatnya hanya bisa tersenyum dan dalam hati bilang, "Gapapa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD