Pagi ini entah mengapa mood Queen sudah tak jelas, gelisah entah karena apa dan bingung sendiri pada dirinya. Dan sekarang terjawab sudah mengapa perasaannya mendadak campur aduk dari tadi pagi.
Lihatlah! Sekarang berdiri seorang pria dengan postur tinggi bak tiang tapi masih terlihat manly dan tampan, siapa lagi kalau bukan Mike.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Queen mengrinyit tak suka.
Mike tak menghiraukan pertanyaan yang di lontarkan gadis itu, dirinya malah nyelonong masuk kedalam rumah sederhana itu yang bahkan belum di persilakan oleh Queen.
"Sialan kau." Umpat Queen merasa kesal dengan tingkah manusia satu ini.
Mike berjalan maju, bersama dengan beberapa orang yang berada di belakangnya, dilihatnya sekitaran rumah itu dengan teliti, membuat Queen yang melihatnya merasa bingung.
"Bakar rumah ini!" Ujar Mike sukses membuat Queen membelalak matanya kaget.
Langsung saja Queen berlari kearah Mike berdiri dengan tatapan tak sukanya, "Kau apa yang mau kau lakukan hah?"
Pertanyaan bodoh, Pikir Mike.
"Tentu saja aku ingin membakar gubuk ini."
"Memang kau siapa?" Tanya Queen kesal. Datang bagaikan jelangkung, tiba-tiba mau ngebakar rumah orang kan anzing.
"Aku suamimu." Jawab Mike santai.
Queen menatap tak suka Mike sembari berkacak pinggang, "Memang kau pikir aku mau menikah dengan mu?" Tanya Queen menantang.
"Aku tak perlu meminta izinmu untuk menjadikan kau istriku, jika aku bilang kau adalah istriku maka akan tetap begitu!"
Sinting, "Apa kau gil--"
"Jangan hiraukan dia, bakar saja rumah ini." Potong Mike cepat membuat Queen melototkan matanya untuk yang kedua kali.
Mike tak pernah berbohong dalam masalah beginian oke, ingat tidak dirinya pernah bilang akan meratakan hutan belantara itu agar gadisnya tak tersesat lagi? Dan apa kalian ingat dirinya juga pernah berkata ingin membakar rumah ini? Ya perkataannya akan terjadi sekarang.
"Hei ada apa dengan mu ha?"
Mike tak memperdulikan bantahan Queen, pria itu malah menyeret tangan gadis itu pergi dari rumah yang kalau di matanya iya pikir itu gubuk.
"Kau mau bawa aku kemana?" Tanya Queen masih memberontak dengan kesongongan pria satu ini.
"Pulang," Jawab Mike santai.
Langsung saja Mike mendorong tubuh Queen naik keatas kereta mewah yang di naikinnya kemari tadi, dirinya kesini hanya untuk membakar rumah dan menjemput gadisnya, lama-lama dirinya kasihan melihat gadisnya yang hidup seperti tarzan.
Hendak protes kembali namun mulutnya sudah keduluan di bekap oleh lelaki satu itu.
"Jangan brisik, aku tak suka dengan gadis brisik seperti mu." Ujar Mike yang padahal tak benar sama sekali.
Queen memutar bola matanya malas, "Lalu mengapa kau mau menikah denganku monyet!--"
Cup
"Satu u*****n lagi ku tiduri kau disini."
*****
Okeh gais disini kita sekarang, Austin mengerjabkan matanya bingung, sedangkan Cesario masih tak percaya dengan apa yang di alaminya sekarang.
"Apa ini yang disebut dengan orang kaya memang suka bertingkah semaunya?" Tanya Austin pada dirinya sendiri yang malah mendapat anggukan oleh Cesario.
"Ini gila,"
"Bukan ini bukan gila, tapi stres."
Yah baru saja mereka datang dari berburu namun rumah mereka sudah gosong ludes bak lahan kosong yang gosong. Tiba-tiba saja datang seseorang berjubah mahal, yang meminta mereka naik ke kereta untuk mengantar mereka ke tempat tinggal baru sebagai gantinya.
Dan lihatlah kastil megah ini, disini mereka sekarang! Dengan masih memasang tampang cengo dan tak percaya.
"Ini semua salah Queen anzing." Maki Cesario.
"Harusnya aku memaksanya untuk datang ke pesta kemarin." Umpat Austin yang kali ini menyesal.
Bukannya tak bersyukur dikasih tempat tinggal yang lebih bagus, tapi kan rumah sendiri lebih nyaman ya ga sih?
"Mari saya antar kalian mengelilingi halaman," Ujar maid berbaju mahal itu.
"Aku sekarang merasa menjadi pembantu disini padahal yang sebenarnya majikan adalah diriku." Ujar Cesario berbisik.
Lihat saja, baju nya dengan baju maid disini, kualitasnya tentu lebih bagus baju pembantu itu ketimbang dirinya, apalagi mereka berdua sebabis memburu, sudah pasti tampang mereka pada dekil.
"Ahh aku rasa kita harus mandi terlebih dahulu," Ujar Cesario tiba-tiba yang langsung menghentikan langkah maid yang ingin mengajaknya berkeliling tadi.
Sementara Austin yang masih cengo hanya bisa mengikut saja sembari menganggukkan wajahnya pertanda setuju dengan pernyataan Cesario.
Maid itu menganggukkan kepalanya sopan sembari mengulurkan tangannya mempersilakan kedua pria itu untuk naik ke atas tangga, "Mari saya antar," ujar maid itu.
Cesario dan Austin menganggukkan kepalanya kiku, sembari ikut berjalan mengekori maid tadi.
****
Mari kita beralih ke tampat dimana Queen berada sekarang, ya tentu saja dirinya sekarang sedang berada di kastil yang empat kalilipat mewahnya dari kastil yang di tempati Cesario dan Austin.
Pipinya sedari tadi masih bersemu malu kala Mike mengambil ciuman -- eh?
"Kenapa kau masih berada disana?" Tanya Mike pada Queen yang masih malu-malu meong di tempatnya.
Queen menghiraukan ucapan pria itu, gadis itu kini mulai berlari kecil menyusul Mike yang menunggunya. "Sudah kan?" Tanyanya judes.
"Ya." Jawab Mike singkat, pria itu kini memilih untuk meraih tangan gadisnya untuk ia genggam, menuntut masuk gadis itu kedalam kastil mewah miliknya, ya miliknya!
Tak henti-henti Queen berdecak kagum melihat interior kastil yang mewah ini, walau tak sama seperti kastil di zaman modren, namun kastil ini cukup mewah untuk menyaingi kastil-kastil di zaman modren.
Lihatlah interiornya yang elegan, lilin-lilin berjejeran menerangi kastil, tetapi anehnya dirinya sama sekali tak melihat ada tanda-tanda kehidupan manusia di sekitar sini.
"Apa kau tak punya uang untuk mengerjakan pembantu?" Tanya Queen tiba-tiba barbar.
Mike menghentikkan langkahnya kala mendengar perkataan tak masuk akal Queen, membuat gadis itu juga ikut berhenti berjalan, "Apa kau bodoh? Aku memiliki lebih dari cukup uang untuk melakukan hal itu," Ujar Mike yang tiba-tiba menoyor kepala Queen.
Queen mengusap kepalanya kesal, "Aku kan hanya bertanya, tak usah kau toyor juga kepala ku," Ujar Queen yang nadanya malah menjadi seperti anak kecil yang tengah mengadu.
Mike menaikkan alisnya sebelah, "Apakah sakit?" Tanyanya yang di jawab anggukan oleh Queen.
"Apakah sesakit itu?" Tanya Mike ulang yang malah mendapat pelototan kesal oleh Queen.
Mike terkekeh pelan melihat gadisnya yang cemberut karena di ejek olehnya. "Coba ku lihat!" Ujar Mike mengulurkan kepalanya untuk menyentuh dahi Queen.
Queen juga mendongakkan kepalanya agar Mike yang tingginya bak tiang bisa melihat betapa sakitnya jidat ini.
Baru juga di elus sekali oleh lelaki itu, tapi.
Cup.
Satu kecupan manis mendarat di keningnya, Queen terdiam sejenak, sedangkan Mike mulai menjauh sembari tersenyum simpul melihat Queen yang cengo di buatnya.
"Apa masih sakit," Tanya Mike mengelus rambut Queen pelan, "Oh atau mungkin sakitnya pidah ke bibirmu?"
Sialan.