Chapter 7

1045 Words
Di sebuah kastil yang cukup megah, bukan-bukan, sangaat megah maksudnya. Seorang pria dengan alis tebal nan rahang tegas berdiri menatap halaman kastilnya yang mirip sekali dengan pepohonan hangus. Bagaimana tidak? Di halaman ini hampir semua tumbuhan yang tumbuh tak terawat alias sudah mati, tapi tak ada niatan sekalipun dari laki laki itu untuk meminta pelayannya untuk membersihkan halaman ini. Rahangnya yang tegas dan tatapannya yang tajam menyorot setiap sisi halaman tanpa terkecuali, walau matanya asik dengan pepohonan hangus itu, beda lagi dengan pikirannya yang sedang berpikir keras. Petaka macam apa ini? Seorang Mike, di tolak mentah mentah, oleh seorang gadis yang bahkan kastanya jauh lebih rendah darinya. "Pangeran," Lamunannya buyar kala seorang prajurit istana memanggil namanya. Yeah asal kalian mau tahu, Mike adalah orang yang tak terlalu suka berbaur maka dari itu, dirinya membangun kastilnya sendiri yang khusus hanya untuk di tempati olehnya saja, jika kastilnya kotor maka saat itulah dirinya mengizinkan pelayan untuk masuk kedalamnya. Terdengar berlebihan bukan? "Hm?" Dehamnya pelan tanpa menoleh ke arah prajurit istana. "Baginda meminta anda menemuinya," ujar prajurit itu membungkuk hormat, walaupun ia tau jelas tuannya tak melihat dirinya membungkuk/ menghormati tuannya saar ini. "Kenapa?" Tanya Mike lagi tak ada niatan menoleh barang sedetikpun. Prajurit itu menunduk pelan, "Maaf Pangeran, hamba juga kurang tahu akan hal itu." Mike menghembuskan nafasnya pelan, ia memejamkan nafasnya sejenak sebelum membuka matanya dan pergi meninggalkan prajurit itu menuju istana utama. *** "Sejak kapan kau pandai memasak?" Queen mengibas rambutnya pelan, sok membanggakan diri kala melihat Austin yang lahap memakan masakan yang dibuat olehnya. "Ternyata ada gunanya juga kepalamu terbentur kau jadi lebih baik dari biasanya," ujar Austin membuat Queen mengangguk bangga, "kecuali sifatmu yang malah persis seperti babi, sungguh merepotkan." Sambungnya dan.. Bugh. Satu lemparan sendal mendarat mulus di kepala Austin. "Apa kau gila?" Tanya Austin berang. Queen berdecih sebelum memutar bola matanya malas dan mengambil piring di tangan Austin sebal. "Setidaknya kalau kau sudah di masakkan makanan yang enak itu, puji dia sebagai penghormatan, bukan seperti ini sialan." Dumel Queen yang memilih untuk memakan masakannya. Kini mereka tengah berada di halaman rumah Queen, ingatkah kalian dengan pohon mangga? Yeah saat ini mereka sedang berada di bawah pohon mangga tersebut, menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit. Austin memutar bola matanya malas, pria dengan rambut kecoklatan miliknya itu mengibaskan rambutnya menawan. "Kenapa kau tolak?" Tanya Austin ambigu yang membuat Queen menolah dan menaikkan alisnya bingung. "Yeah jika ku pikir-pikir Pangeran itu lumayan untukmu, menilai dari tampangnya yang tampan, kekuasannya, dan juga tahtah yang akan diambil alih olehnya, adalah sebuah keberuntungan untukmu untuk bisa menikan dengan pria yang bisa dikatakan adalah seorang suami idaman para wanita." Oceh Austin panjang lebar yang dihiraukan Queen. "Bahkan menurutku, Pria dengan ke sempurnaan semacam dia sangat amat tidak pantas untuk mendapatkan manusia modelan seperti dirimu, " Sambungnya yang masih di hiraukan oleh Queen. "tapi lihatlah dirimu! Kau bahkan sok sokan jual mahal di depan orang seperti dia, dengan menolak pria sempurna macam itu apakah pria itu masih mau untuk melamar dirimu?" Tanya Austin meremehkan, dirinya benar benar tak habis pikir dengan manusia di sebelahnya saat ini, di kasih serbuk berlian, malah dibuang. Queen mencebikkan mulutnya kesal, hey! Siapa yang ga mau sama manusia modelan kayak Mike? Dia juga mau dengan orang macam itu, tapi dia juga tau diri, saat ini ia tengah berada di dalam tubuh tokoh antagonis dalam novel ini, yang sudah jelas jika dirinya menyetujui untuk menikah dengan Pangeran tak bersayap itu dirinya benar benar akan mati. "Tutup mulutmu!" Ujar Queen sekenannya. Ia mengunyah steak yang saat ini ia makan dengan kesal, begini amat nasibnya. Austin mendengus, "Baru menyesal sekarang kan kau?" Tanya Austin beranjak dari duduknya. Dia melirik Queen sekilas, "Sudah tak ada harapan lagi, Pangeran itu langsung pergi saat kau menolak dirinya, jelas sekali bila harga dirinya di rendahkan olehmu maka sudah pasti dia tak akan mau denganmu," Ujar Austin lagi memanas-manasi. Queen sampai bingung, orang ini kenapa banyak omong begini sih? Dia beneran cowo ga sih? "Tutup mulutmu b*****t!" "Hah?" "Lupakan." Sudahlah memang tak ada gunanya berdebat dengan manusia semacam Austin dan Cesario, btw Cesario tumben ga keliatan. "Aku sarankan kau pergi ke depan Pangeran Mike, ngemis kek di kakinya biar dia mau melamar dirimu lagi." Celetuk Austin sebelum ngancir pergi meninggalkan Queen yang berang sendirian. Gila kali ya? Dikira dia cewe apaan ngemis ngemis minta dinikahi. Emang minta di tabok ginjalnya. *** Mike menundukkan kepalanya, memberi hormat pada ayahnya. Usai menunduk beberapa detik dirinya kembali menegakkan tubuhnya dan menatap ayahnya heran. "Kenapa?" Tanyanya to the point. Ayah Mike memutar bola matanya malas, anaknya ini tak tau cara berbicara secara panjang atau emang dirinya saja yang tak mau berbicara panjang? Entah menurun dari siapa sifat anaknya ini. "Ekhem." Berdeham pelan, dirinya kembali menatap Mike yang tepat berada di depannya. "Duduk dulu." Pintanya menepuk kurai disebelahnya. Mike memutar bola matamya malas, "Cepat katakan apa maumu pak tua!" Huftt menghadapi setan dihadapannya ini benar benar harus membuat pria paruh baya ini bersabar. Dirinya menghembuskan nafas kasar sebelum berujuar, "Aku akan mengadakan pesta untukmu." Mike menaikkan satu alisnya. "Di pesta itu aku akan mengundang gadis gadis dari berbagai daerah untuk ikut serta memeriahkannya, dengan begitu kau bisa memilih wanita untuk kau nikahi." Ujarnya yang membut Mike mengkrinyit tak suka. "Mengingat kau yang baru saja ditolak oleh putri sahabatku membuat diriku iba padamu," Ujar pria paruh baya itu menepuk dadanya sendiri dan mengangguk pelan sembari menutup matanya, "tapi tenang, dengan acara ini kau akan melihat ada lebih banyak wanita yang mau denganmu anakku." Sambungnya lagiendramatis. Mike berdecih, "Cih, aku tak butuh bantuanmu." Semprotnya dengan muka lempeng alias datar. Ayah mike membuka matanya pelan, melipat tangannya ke atas meja dirinya memutar bola matanya malas, "Kau mau atau tidak mau itu urusanmu, tapi acara ini akan tetap aku laksanakan." Saut pria paruhbaya itu mengedikkan bahunya acuh. Mike terdiam beberapa saat, sebelum berbalik ingin pergi dari hadapan ayahnya. "Mau kemana kau?" Tanya ayahnya yang membuat dirinya menoleh. "Kau sudah selesai kan?" Tanya Mike yang di tanggapi garukkan kepala oleh ayahnya. "Kalau begitu aku permisi," Ujarnya membungkuk, saat benar benar ingin meninggalkan kediaman itu Mike terdiam sejenak, "Undang juga putri dari sahabatmu itu." Ucapnya yang setelahnya benar benar pergi dari kediaman ayahnya. Sedangkan lelaki paruh baya itu? Dirinya berdecih kesal, kenapa sekarang malah dia seakan takut dengan anaknya? Padahalkan dia bapaknya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD