Chapter 8

992 Words
Sinar mentari pagi menyinari, seorang gadis yang masih terbaring di ranjangnya menggeliat gelisah. Apa-apaan ini! Perasaannya tidao enak dari kemaren dan alhasil dirinya malah tidak tidur semalaman. "Arghhh." Teriak Queen kesal menendang angin, dirinya berdiri dari ranjangnya hingga posisi badannya menjadi duduk, "Ini kenapa si anying, gua pengen tidur susah banget.." Ujarnya sembari mengacak rambutnya kesal. Matanya sudah merem melek ingin di tiduri, namun ketika dirinya memejamkan mata entah kenapa otaknya masih aktif bekerja. Menghirup nafasnya sejenak, sembari memejamkan mata, "Lu harus tenang, lu mikirin apaan si? Gua cuman pengen tidur otak, lu jan mikir aneh-aneh!" Makinya pada diri sendiri, kan keluar bahasa gaulnya. Bengong menenangkan diri untuk beberapa detik, dirinya kembali memejamkan matanya kasar. 'Mandi aja kali ya?' Batinnya. Setelah menimang-nimang dirinya memutuskan untuk mandi saja. Ia beranjak dari duduknya, dan beranjak keluar menuju kamar mandi, kamar mandi disini tak sama dengan kamar mandi orang kaya kebanyakan yang dimana kamar mandinya satu ruangan dengan kamar mereka, ayolah cuy dia cuman anak bangsawan rendahan yang di angkat sama bapaknya Mike. Mengsad. **** Bughh Cesario menjatuhkan tubuhnya di atas padang rumput, hari sudah mau menjelang pagi, tetapi dirinya masih disini, di tengah hutan bermain dengan pedangnya. Ia menatap langit-langit sembari mengatur nafasnya, memejamkan matanya sejenak, tetapi matanya kembali terbuka kala mendengan suara bising dari semak di sebelahnya. "Siapa?" Tanyanya sembari bangkit dari baringnya. Tak ada jawaban, membuat dirinya semakin penasaran. Dirinya mendekat ke arah semak-semak itu. Dan apa yang dilihatnya? Seorang gadis tengah menelungkup gelisah dengan keadaan yang berantakan, rambut acak-acakan, bekas luka yang mengeluarkan darah, dan jangan lupakan noda membandel yang ada pada tubuh gadis itu. Cesario menatap gadis itu datar, yang dibalas tatapan tak kalah datar oleh gadis itu, ketika dirinya ingin kembali ke tempatnya berbaring tadi, gadis itu menahan lengannya. "Tolong aku," Ujar gadis itu dengan tampang datar, tetapi menatap tajam manik Cesario. "Siapa kau?" Tanya Cesario heran, menatap aneh orang di depannya ini. Gadis itu menggeleng, membuat Cesario bingung dibuatnya, "Kau bisu?" Tanyanya yang seketika membuat gadis itu melotot. "Tidak," Jawab gadis itu spontan, gadis dengan manik biru itu mengerjabkan matanya sembari sesekali menggelengkan kepalanya. "Lalu?" Jeda Cesario memiringkan kepalanya, "Kenapa kau tak menjelaskan siapa dirimu nona?" Walau hari sudah mau menjelang pagi, suasana diantara kedua orang ini sangatlah tegang, entah karena gugup atau memang merekanya yang seperti itu. Gadis itu melepas cekalannya pada lengan Cesario, ia memalingkan wajahnya malu, sembari mengerjabkan beberapa kali matanya. Cesario yang melihat hal itu mendengus kesal, ya gimana ga kesel?! Orang ditanya baik-baik dianya ga mau jawab! Katanya minta bantuan, ditolongin ga mau ngasih info. Dahlah. Cesario kembali ingin memutar tubuhnya, yang kembali di cekal gadis itu. "Tunggu," Ujar gadis itu menggeleng. Yang di balas hanya dengan alis terangkat oleh Cesario. "Tolong ak-" "Kau siapa?" Potong Cesario cepat, "Aku akan menolongmu, tapi jelaskan dulu kau siapa?" Tanyanya mencoba bersabar. Gadis itu kembali menggelengkan kepalanya sembari membuang mukanya, membuat darah rendah Cesario jadi tinggi saja. "KAU SIAPA MONYET?!" Teriak Cesario terlampau kesal. Gadis itu jadi gelagapan dibuatnya, "A--aku Alyca Monely," Jawab gadis itu tergagap-gagap. Cesario memutar bola matanya malas, harus banget ya di teriakin dulu baru mau jawab? Cewe gini amat dah. Tunggu. "Monely?" Tanya lelaki itu pada dirinya sendiri. Dirinya memandang gadis itu bingung, "Sedang apa putri dari kerajaan Monely berada di daerah sini?" Sedangkan yang ditanya, hanya membuang mukanya ke arah lain menahan malu. Cesario mendengus sebal, "Sedang apa kau disini nona?" Tanyanya melembut. Iya berjongkok mencoba mensejajarkan duduknya dengan gadis di depannya. Gadis itu diam dengan tampang datar tapi masih terlihat malu-malu meong di mata Cesario. "Hei d***o aku bicara padamu!" Ujar Cesario sedikit kasar. Gadis yang katanya bernama Alycia itu menatap datar Cesario, "Kenapa? Apa tidak boleh?" Lah? Cesario mengrinyitkan dahinya, "Kau sedang minta tolong kan padaku?" Tanyanya yang di jawab anggukan oleh gadis itu. "Maka jawablah jawaban yang sesuai dengan pertanyaanku nona." Alyca menggaruk kepalanya yang tak gatal, iya juga ya? Kenapa disini dia yang nyolot? Memutar bola matanya malas, gadis itu menjawab dengan sedikit gagap, "A-aku k-abur dari rumah." Cesario menganggukkan kepalanya, "Lalu apakan orang tua mu tak mencarimu?" Tanyanya polos. Hei pertanyaan bodoh macam apa ini! "Ya pasti mereka sedang mencariku sekarang bodoh!" Ujar gadis itu yang tak lagi gagap. Cesario mengedikkan bahunya, "Itu sebabnya dirimu terluka?" Tanyanya yang di angguki malas gadis di depannya. "Kau itu seorang putri kan?" Tanyanya lagi yang kembali di angguki oleh gadis di depannya, "Lalu kenapa kau malah kabur dari sana? Menjadi beban keluarga yang merepotoan saja." Celetuknya asal. Alyca memandang sengit Cesario, tapi dirinya tak bisa berkata apa-apa karena itu memang benar adanya. Cesario beranjak dari jongkoknya, ia berdiri dengan gaya cool ala-ala cogan, mengulurkan tangannya yang di sambut alis terangkat oleh alyca. "Ayo ku obati lukamu itu!" Ujar Cesario tidak nyelow. **** Queen mengeringkan rambutnya dengan kain, dirinya memandang malas maid yang saat ini tengah membantu dirinya mengenkan pakaian. 'Lagian ini baju napa susah banget dah di pake, kan malu.." "Apa mau saya rias juga wajahmu nona?" Tanya maid itu sedikit menunduk. Queen menggeleng cepat, ayolah dirinya bukan anak kecil yang harus didandani oleh orang. Dirinya mengusir kedua maid itu dari ruangannya, memandang cermin yang tak jelas pantulannya seperti apa. "Gila ini baju gede banget," Dumelnya sendiri, ini berat loh btw, udah kegedean, berat lagi. "Ko ni anak mau betah ya jadi diri sendiri, gua yang jadi dia aja ngeluh tiap hari, ya walau soal muka dia, gua ga pernah ngeluh sih." Ujar Queen mengatai sang pemilik tubuh. Tapi lupakan, dirinya mengantuk epribadih, ternyata benar kalo semisal abis mandi tu otak jadi seger, buktinya sekarang dirinya sudah tak memiliki beban di otaknya. "Tapi laper.." Ujarnya pada diri sendiri yang mengelus perutnya, "Kebawah dulu lah, abis makan lanjuy tidur." Dengan langkah riang Queen berjalan keluar kamar, menuruni tangga dengan mata yang sedikit mengantuk namun perut yang keroncongan minta diisi. Baru saja dirinya sampai dibawah, ia sudah menemukan pemandangan tidak mengenakan. "KALIAN SEDANG APA HAH?" Teriak Queen dahsyat menganggetkan dua orang yang saat ini terlihat seperti berciuman di bawah tangga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD