“Udah Kakak bilang tadi, jangan main sama anak Tante Sarah.”
“Tapi Kak ... Kak Divya punya boneka yang tantik, latih ndak punya boneka kayak gitu.” Ratih merengek dengan khas cadelnya.
Fatih— selaku Kakak sangat tahu apa yang diinginkan oleh adiknya itu. Bocah yang sebentar lagi berumur 7 tahun itu mengembuskan napas pelan. “Nanti kamu punya kayak gitu kok. Tapi tunggu Kakak besar dulu, nanti Kakak beliin yang banyak buat kamu,” balasnya.
Ratih itu si keras kepala. Mungkin dikarenakan dia anak bungsu, segala keinginannya harus dituruti tidak boleh tidak dituruti, dia pasti akan marah-marah dan ujung-ujungnya mengambek kepada semua orang.
“Ndak mau?! Latih mau sekalang?! Nanti aku minta sama Ayah, pasti Ayah beliin,” ujar Ratih— bersikeras.
“Boneka itu mahal, Dek. Ayah mungkin bisa saja beli, tapi Ayah juga mentingin makan kita dan kebutuhan kita yang lain juga. Boneka nggak penting, yang ada buang uang Ayah gitu aja.” Fatih menyahut— sebenarnya ingin memberikan pengertian pada adiknya yang masih kecil ini.
“Iiiihh ndak mau!” tolak Ratih. Gadis kecil itu melepaskan tangannya yang digenggam oleh sang kakak. Kemudian berlari masuk ke dalam rumah neneknya lagi, duduk di dekat Divya— anak Tante Sarah.
Sore ini mereka dititipkan ke rumah Nenek. Kebetulan ada Divya dan Tante Sarah datang ke sana juga. Ibu mereka sedang ke klinik, akibat tidak enak badan sejak pagi tadi. Maka itu memilih pergi ke sana ditemani oleh Nenek.
“Kak Divya gantian, dong. Aku mau pinjam bonekanya,” ujar Ratih, setelah duduk di dekat sepupunya itu.
Divya hampir seumuran dengan Fatih. Dia anak sulung yang selalu di manjakan oleh Tante Sarah. “Ih, nggak boleh! Kamu beli sendiri dong?! Nggak usah pinjam, dasar orang miskin?!”
“Latih ndak miskinnya?!”
“Nggak miskin darimana?! Mamaku bilang kalau kalian itu orang miskin, makan saja susah, tuh lihat kamu sendiri nggak punya boneka sebagus boneka ku,” ledek Divya. Sifatnya sangat sama dengan ibunya yang bermulut pedas itu.
Ratih sudah ingin menangis, bola matanya sudah berkaca-kaca dengan bibir bergetar. “Huaaaaa?!” dan akhirnya pun tangisan itu pecah.
Fatih sudah lelah melihat itu. Dia tidak suka dengan Divya, makanya memberi jarak dengan anak itu. Akan tetapi, adiknya sangat keras kepala kalau diberi nasihat. Selalu membangkang dan akhirnya selalu begini, menangis kalau tidak diberi apa yang dia inginkan.
“Ini kenapa nangis sih?!”
Mata Fatih membola. Anak itu langsung mendekati adiknya yang masih menangis. Tante Sarah sudah ada di depan mereka— berkecak pinggang.
“Itu si Ratih kenapa, hah?! Cengeng banget jadi anak. Diamkan Fatih! Telinga Tante sakit dengan suara tangisnya?!” sentak wanita itu. Fatih tidak terkejut lagi bila intonasi suara tantenya sangat tinggi bila berbicara, tetapi tidak untuk adiknya. Ratih terkejut di dalam pelukannya mendengar suara tantenya.
“Iya, Tan. Ini tangisannya nggak bakal lama kok,” balas Fatih. Mengusap punggung adiknya dan membisikkan kalimat penenang. “Jangan nangisnya, Dek. Nanti pas Ayah pulang kerja, Kakak janji minta beliin permen kesukaan kamu. Sekarang berhenti nangisnya.” Fatih membujuk.
Namun, k*******n kepalaan Ratih ini yang susah di atur. Adiknya makin menangis sembari menunjuk boneka Barbie yang dipeluk oleh Divya.
“Mau itu, Kaaaak. Mau Boneka ituuuuu,” rengek Ratih, senggukan.
Fatih menelan ludahnya perlahan. Menatap Tante Sarah dan Divya bergantian, di rumah ini hanya ada mereka berempat. Kakek sudah tidak ada, beliau sudah dipanggil Tuhan sejak satu tahun yang lalu. Membuat rumah ini semakin sunyi kalau Nenek sendirian tinggal di sini bersama satu orang pembantu.
“Tante Sarah ... kami boleh pinjam boneka Divya bentar? Biar Ratih nggak nangis lagi. Janji deh, habis itu Fatih balikin sama Divya,” ujar Fatih, pelan.
Sarah malah melotot mendengar itu. “Heh?! Enak saja?! Saya beliin boneka ini mahal, gimana nanti bonekanya lecet, hah?! Emangnya kalian mampu ganti?! Beli saja nggak mampu, gimana gantinya nanti. Bikin susah saja kalian ini,” omel wanita itu. Divya tersenyum jahat di sebelah ibunya, seraya memeluk bonekanya dengan erat. Seakan meledek Ratih lewat itu.
“Ng-nggak bakal rusak kok, Tan. Nanti Fatih bilang ke Ratih buat mainnya hati-hati,” ucap Fatih lagi, dengan tergagap.
Sarah menggeleng tegas. “Nggak boleh?! Minta beliin sama Ayah kalian yang miskin itu sana?! Nyusahin banget jadi orang. Ayo, Divya, kita ke kamar. Jangan di sini, bisa-bisa boneka kamu di ambil paksa sama mereka.” Sarah menarik tangan Divya dan berlalu dari sana.
Fatih sekali lagi menelan ludahnya susah payah. Masih memeluk adiknya dengan erat, Ratih seakan enggan berhenti menangis. Yang hanya bisa Fatih lakukan adalah, berdiam sembari mengelus punggung Ratih. Menunggu adiknya itu berhenti menangis sendiri, mungkin bisa tertidur akibat kelelahan menangis.
Tante Sarah memang begitu. Orangnya jahat, bagi Fatih. Tidak pernah baik kepada mereka sama sekali, juga selalu menjelekkan ayahnya yang setiap hari sudah bekerja keras di kantor.
***
Ratih sudah tertidur lelap di atas sofa. Fatih senantiasa memangku kepala adiknya itu, mengusap rambutnya Ratih. Impian Fatih saat dulu ialah memiliki Adi perempuan. Dalam ketika mengetahui adiknya yang lahir adalah perempuan, Fatih senang bukan main, sama halnya seperti Ayah yang selalu ingin mengimpikan anak perempuan.
Fatih merasa tidak apa-apa saat ayahnya begitu memanjakan Ratih. Dia tidak cemburu, sebab dia tahu Ayah sama juga sayang dengan dirinya.
“Assalamualaikum.” Suara itu terdengar dari ambang pintu masuk. Di susul Ibu yang masuk bersama Nenek yang sudah sedikit membungkuk jalannya, tapi masih terlihat bugar di usia tuanya.
“Waalaikumsalam.” Fatih membalas dengan suara pelan.
“Ratih sudah tidur lama, Tuh?” tanya Ibu. Duduk di sofa lain begitu juga dengan Nenek.
“Baru saja, Bu.” Fatih menatap wajah ibunya yang pucat, wanita itu sakit pasti karena mengurus mereka tiap hari. “Ibu gimana? Sudah nggak pusing lagi?” tanya Fatih.
Dewi tersenyum kecil dengan gelengan pelan. “Nggak, Nak. Ibu sudah mendingan karena baru minum obat di klinik tadi. Tapi kita pulangnya nanti saja, ya? Nunggu Ayah pulang dari kantor. Ibu sudah telepon Ayah tadi, biar jemput kita di sini,” jelasnya.
Fatih tidak keberatan sama sekali. Apalagi melihat wajah mengantuk ibunya. Fatih membiarkan Ibu masuk ke kamar untuk beristirahat, bersama Ratih yang di gendong Ibu. Dia tahu kalau Ibu masih lemas, tetapi wanita itu tidak keberatan sama sekali kala menggendong adiknya itu.
“Tante Sarah mana, Tih?” Nenek yang kali ini bertanya. Tatapan Fatih— yang sejak tadi menatap punggung ibunya— kini teralihkan ke Nenek.
“Ke kamar, Nek.” Fatih berdiri dari duduknya kala melihat Nenek berdiri. “Nenek mau ke kamar? Sini Fatih bantu,” ujarnya. Sebagai anak lelaki dia ingin memastikan orang yang disayanginya baik-baik saja. Terutama Nenek, wanita inilah yang sudah menolong Ibu saat dirinya masih bayi dulu.
“Makasih, ya, Tih. Kamu cucu Nenek yang dapat diandalkan. Sama seperti Ayah kamu, selalu pengertian sama orang sekitarnya,” ujar Nenek, tersenyum. Fatih tersenyum tipis membalasnya.
Setelah mengantarkan Nenek ke kamar. Fatih memilih ikut masuk ke kamar ibunya. Begitu pintu kamar terbuka, dia melihat Ibu sedang mencium kedua kelopak mata adiknya secara bergantian.
“Tadi pas Ibu tinggal, Tante Sarah nggak macam-macam kan,Tih?” tanya Ibu. Fatih duduk di pinggiran kasur yang kosong. Melirik ibunya was-was, jemarinya bergerak gelisah.
“Nggak macam-macam kok, Bu.” Cuman satu macam doang. Fatih tentu saja melanjutkan kalimat itu di dalam hatinya.
Namun, bagaimana usaha Fatih hendak berbohong. Ibu pasti bisa menebak gelagat anehnya ini.
“Jangan bohong, Tih. Kamu tahu, kan, Ibu benci sama tukang bohong?”
Fatih menggigit bibir bawahnya. Kemudian meloloskan helaan nafasnya perlahan. Di memang tidak jago dalam berbohong. “Tadi Ratih mau pinjam boneka Barbie punya Divya, tapi nggak di kasih sama Divya dan Tante Sarah. Terus Ratih nangis.” Fatih menatap ibunya lekat. “Fatih juga sudah berusaha minta pinjam bonekanya, Bu. Tapi Tante Sarah terlalu pelit,” cibir Fatih diakhir kalimatnya.
Dewi tampak tersenyum kecil, menggapai tangan Fatih dan mengusapnya pelan. “Nggak apa-apa. Tapi Ibu minta sama kamu, jangan cerita masalah tadi ke ayahnya? Kantor beberapa hari ini lagi ada masalah, Ibu nggak mau tambah beban Ayah. Kamu paham kan?” tanyanya.
Fatih paham, sangat paham. Tanpa dijelaskan pun, dia sudah tahu situasi kantor, sebab tanpa sengaja mendengar pembicaraan Ibu dan Ayah pagi tadi. Jadi anak sulung diharuskan dewasa meski umurnya masih segini. Fatih pun sudah bisa membaca situasi, meski tanggungannya jadi anak sulung berat. Fatih tidak akan mengeluh sampai kapanpun hingga mereka besar nanti. Meski sikapnya yang tidak terlalu bicara, adalah salah satu konsekuensinya.
“Iya, Bu. Fatih nggak akan bicara apa-apa sama Ayah,” balas Fatih.
Senyuman Dewi semakin lebar menghiasi bibirnya yang pucat itu. Kemudian menepuk sisi kasur yang masih kosong, menyuruh Fatih berbaring di sana.
“Sini tidur dulu, Ayah sekitar dua jam lagi pulang. Nanti Ibu bangunkan pas mau pulang,” ujar Dewi.
Fatih menurut, karena itu adalah sifat lainnya. Dia tidak keras kepala dan pembangkang seperti Ratih. Mereka berbeda meski darah yang mengalir di dalam tubuh mereka adalah darah yang sama.
“Iya, Bu.” Saat memejamkan matanya, Fatih dapat merasakan kecupan kecil di dahinya. Tanpa sadar bocah laki-laki itu tersenyum kecil, Ibu sangat menyayanginya. Setiap hendak tidur, pasti tidak pernah lupa mencium dahinya.
Sedangkan dari itu. Dewi mencoba memejamkan matanya, sebenarnya dia hendak marah dengan kakaknya karena sangat pelit sama dua anaknya. Akan tetapi, selain malas berdebat sekarang, Dewi juga masih lemas karena sakit yang tiba-tiba menyerangnya sejak pagi.
Dewi kelelahan, itu yang dikatakan dokter. Juga asam lambung Dewi naik, akibat kemarin dia terlambat makan siang. Dan di malam harinya dia meminum kopi sisa Aswat. Sungguh Dewi sangat ceroboh bahkan selalu lalai dengan kesehatan sendiri.
Kalau suaminya tahu, Dewi pasti omel nanti. Dewi bisa memastikan itu saat Aswat pulang kerja nantinya. Perlahan kelopak mata Dewi tertutup, kantuknya tidak tertahan lagi setelah meminum obat resep dokter.
Mata itu benar-benar terpejam, meraih alam bawah sadarnya. Tertidur di satu ranjang bersama dua anaknya.