Pukul 17.30 sore Aswat baru saja pulang dari kantor. Kali ini dia pulang ke rumah Ibu mertuanya lebih dulu— hendak menjemput istri dan kedua anaknya di sana. Aswat tidak tahu di sana ada juga Kakak iparnya yang tidak pernah suka dengan dirinya— sebab orang miskin.
Ya, selalu kasta yang di pandang oleh orang-orang sekarang. Aswat membawa satu bungkus kue pisang kesukaan Ibu mertuanya, tidak mungkin datang dengan tangan kosong, rasanya kurang sopan bagi Aswat.
Ketika sampai di sana, pintu rumah di bukakan oleh Sarah— Kakak iparnya. Garis wajah Aswat sedikit menurun, tetapi tidak urung dia tetap berusaha tersenyum— meski dalam hati terus menebak kalau sebentar lagi dia kena semprot oleh Kakak iparnya ini.
“Assalamualaikum, Kak. Dewi mana, ya?” tanya Aswat— sudah sangat sopan menurutnya.
Sarah— wanita itu terlihat mendengkus kasar. “Ada di kamarnya.” Kemudian tatapannya terfokus dengan bungkusan yang ada di tangan Aswat. “Bawa apa kamu tuh?” tanyanya, terdengar ketus.
Aswat tersenyum canggung, menggaruk tengkuknya. “Oh, ini Kak. Ada kue pisang untuk Ibu. Ibu juga di mana, Kak?”
Namun, bukan menjawab. Sarah malah tertawa, meledek. “Kebiasaan kamu nggak berubah ya, Wat. Selalu bawa kue pisang ke sini, pas pacaran dengan Dewi kamu juga sering bawa itu. Nggak bosan apa? Ibu juga pasti bosan terima kue pisang pemberian kamu. Sesekali bawa makanan mahal lho, Wat. Biar Ibu nggak bosan makan itu Mulu,” cerca Sarah.
Aswat hanya tersenyum kecil. Lagi-lagi dia di semprot dengan ucapan yang sinis. Sungguh Aswat harus meneguhkan hatinya untuk tidak ambil pikir dengan perkataan itu. “Iya, Kak. Nanti kalau sudah ada rezeki saya bawa makanan mahal,” balasnya.
“Ya, ya.Aku nggak mau percaya sama kamu. Kan aku sadar kalo kamu itu orang nggak mampu. Masih nggak rela aku, karena Dewi mau nikah sama kamu,” ucapnya s***s, lagi.
Aswat tidak mau berlama-lama di depan Kakak iparnya ini. Yang ada hatinya semakin sakit mendengar hinaan itu terus-menerus. “Saya ke kamar Dewi dulu, ya, Kak. Tolong kasih ini ke Ibu, permisi, Kak.” Setelah itu Aswat berlalu dari sana. Menuju kamar sang istri.
Aswat membuka pintu kamar sedikit hati-hati. Begitu masuk di dalam sana. Lelahnya langsung tergantikan dengan melihat wajah penyemangatnya. Aswat duduk di pinggiran kasur, mencium dahi Dewi yang terasa hangat, istrinya masih demam. Kemudian beralih mencium kedua pipi anaknya secara bergantian.
“Dewi,” panggil Aswat pelan. Menepuk pipi istrinya itu dua kali. Mereka harus pulang cepat, sebelum Maghrib menjemput.
Tidak berapa lama mata Dewi mengerjap, menatap Aswat yang duduk di sebelahnya. “Mas, sudah pulang?”
“Iya, baru aja sampai,” balas Aswat, tersenyum. Mencium bibir istrinya sekilas. Satu tangannya mengusap pipi Dewi. “Gimana? Kamu sudah mendingan setelah berobat?”
Dewi ikut tersenyum. “Alhamdulillah, Mas. Pusingnya sudah hilang, cuman suhu badanku yang masih hangat,” jelasnya.
“Makanya jangan capek-capek sekarang. Kalau butuh bantuan dariku, jangan sungkan bilangnya. Biar aku bantu urus rumah sebisa mungkin. Anak-anak juga kamu urus tiap hari, mana Ratih makin bandel.”
Dewi menyandarkan kepalanya di bahu Aswat. “Iya, Mas. Kita pulang sekarang, ya? Kak Sarah ada di sini, males lihat dia, sukanya ngatur hidup orang.”
Satu kecupan Aswat berikan di pelipis Dewi. “Iya, tapi aku mau bangunkan anak-anak dulu.” Aswat mengusap bahu istrinya.
“Fatih saja yang dibanguni, Mas. Nanti Ratih bisa nangis, karena tidurnya di ganggu,” ujar Dewi. Sudah tidak menyandarkan kepalanya lagi di bahu Aswat, sebab suaminya itu sudah beranjak ke sisi tempat tidur lainnya.
Aswat mengangguk mengerti. Sangat paham dengan kebiasaan putrinya yang sangat tidak suka diganggu saat tidur, pun sangat susah dibangunkan. Beda sekali dengan Fatih anak sulungnya.
“Fatih, bangun yuk, Nak. Kita pulang,” ujar Aswat, mengusap kepala anaknya beberapa kali. Saat itu jugalah mata Fatih terbuka, menatap Aswat sebentar.
“Cuci muka dulu sana! Biar kita pulang setelah itu,” suruh Aswat yang dituruti oleh Fatih. Sementara Dewi sudah lebih dulu keluar dari kamar.
Aswat mulai mengangkat tubuh putrinya kemudian menggendongnya. “Makin berat saja kamu, Nak,” gumam Aswat, mencium pelipis Ratih. Anaknya itu sedikit terusik, tetapi dengan sigap Aswat mengusap punggungnya. Agar tidur nyenyak lagi.
Begitu keluar dari kamar. Aswat mendapati Ibu mertuanya duduk menonton tv di ruang tengah bersama Sarah dan Divya.
“Ibu.” Aswat menunduk sedikit, meraih tangan Ibu mertuanya dan menciumnya kemudian. Aswat melirik ke atas meja, di mana ada kue pisangnya yang sudah di makan beberapa potong.
“Mau pulang langsung, Wat?” tanya Ibu.
“Iya, Bu.”
Ibu mengangguk pelan. “Makasih kue, ya, Wat. Kamu nggak pernah ketinggalan bawa kue ini tiap datang. Ibu merasa beruntung dapat menantu pengertian kayak kamu, nggak kayak suami Sarah sibuk mulu orangnya. Sampai nggak pernah datang ke sini,” ucap Ibu, sangat sengaja menyindir Sarah.
“Ya ampun, Bu. Suamiku kan sibuk kerja buat cari uang untuk aku dan Divya. Lagian toh, suami kalau datang ke sini bawa pizza, Bu. Bukan kue pisang murahan yang di bawa Aswat,” ketus Sarah.
“Ibu lebih suka dibawain kue pisang, Rah. Pizza itu makanan yang nggak Ibu suka. Jadi percuma suamimu bawa itu,” sahut Ibu.
Aswat berada di situasi yang tak pernah dia inginkan sama sekali. Dia bersyukur kalau Ibu menerimanya dengan baik, tetapi dia kurang suka kalau dibandingkan dengan suami Sarah. Yang ada Kakak iparnya itu akan membencinya.
“Sudah lah! Aku muak sama Ibu, selalu belain menantu kesayangan Ibu satu ini,” ujar Sarah menunjuk Aswat dengan tatapan tajam.
Kan, Aswat sudah menduga ini.
“Bu, kita pulang.” Dewi datang dari arah belakang, menyalim tangan Ibu dan diikuti oleh Fatih dari belakang. Seketika Aswat bisa bernapas lega, karena situasi menegangkan tadi sudah terhenti karena kedatangan Dewi. Akan tetapi, Aswat salah besar.
“Oh, iya, Wat. Aku kasih tau, ya. Jadi orang tua itu harus bisa memenuhi kemauan anaknya. Bukan lepas tangan gitu saja.”
Dahi Aswat mengkerut mendengar itu. Apa maksudnya?
“Si Ratih, tuh. Pengen boneka kayak punya Divya. Terus tadi hampir berantem sama anak ku, karena mau pinjam bonekanya. Harusnya kamu bisa beliin boneka ini, masa boneka aja nggak sanggup kamu beli. Oh, iya, aku lupa, kan kamune miskin,” ejek Sarah. Lagi-lagi mengiris hati Aswat.
Aswat bungkam seketika. Sebelum Dewi mengajaknya pulang dan berbisik untuk tidak mendengarkan perkataan Sarah tadi.
“Sudah, Kak. Jangan terus merendahkan suamiku. Urus saja rumah tangga Kakak. Jangan Kakak pikir aku nggak tahu tentang rumah tangga kakaknya, suami yang suka selingkuh. Tapi aku sadar nggak mau mengungkit masalah rumah tangga orang, hanya saja Kakak sudah keterlaluan sekarang,” balas Dewi. Aswat memejamkan matanya, dia pikir Dewi tidak membalas.
Sarah sekarang sudah bangkit dari duduknya. Wajahnya merah padam menunjuk Dewi dengan emosi yang hendak meledak. “Kamu?! Kurang ajar sekali jadi Adik?! Mau durhaka sama Kakakmu ini, ha?” Sarah melotot.
“Sudah, Dewi. Kita pulang saja.” Aswat menengahi, kalau tidak pertengkaran ini akan berlanjut.
“Kenapa Kakak marah?” tantang Dewi. “Gitu perasaan ku, Kak. Saat Kakak selalu merendahkan suamiku, Kakak kalau Ndak tahu apa-apa diam saja. Jangan ikut campur dengan urusan rumah tangga kami. Mau kami nggak makan pun, kami nggak pernah minta uang sama Kakak kan?” sarkas Dewi.
“Sayang, sudah, ya. Kita pulang, nggak baik bertengkar di depan anak-anak,” bisik Aswat, kembali mencoba menenangkan istrinya.
Perlahan Dewi menatap Fatih dan Ratih yang masih tertidur di gendongan Aswat. “Maaf, Mas,” sesalnya.
Aswat tersenyum menenangkan. “Nggak apa-apa. Minta maaf sama Ibu, gih. Kalian selalu berantem di depannya,” suruh Aswat.
Bola mata Dewi berkaca-kaca. Menatap Ibu dengan nelangsa. “Bu, Dewi minta maaf. Nggak seharusnya Dewi berantem sama Kakak,” ujarnya, mengusap lelehan air mata yang sudah jatuh mengenai pipi.
“Nggak apa-apa, Nduk. Kakakmu saja yang sudah cari perkara. Sekarang kalian pulang saja, hati-hati di jalannya,” pesan Ibu.
Dewi mengangguk pelan. Mereka keluar dari rumah berlantai dua itu. Tiba di depan motor Aswat.
“Maaf, Mas.” Dewi seakan sesal dengan pertengkaran tadi.
“Nggak apa-apa, sayang. Sekarang jangan nangis lagi,” ujar Aswat, mengusap sisa air mata Dewi.
“Ratih di belakangnya sama kamu?” ucap Aswat. “Biar Fatih yang duduk di bangku depan sama ku.”
Dewi tidak menolak. Mulai naik ke atas jok belakang motor, memangku Ratih yang masih tidur, duduk ditengah-tengah jok motor. Sementara di depan ada Fatih terduduk di sedikit kursi yang tersisa, kemudian Aswat yang duduk di dekat Fatih. Satu motor berisi empat, sudah biasa. Dewi tidak masalah menaiki motor butut ini, asal ada alat transportasi yang bisa membawa mereka ke rumah Ibu dan berjalan-jalan keliling kota.
Aswat mengenakan helmnya, begitu juga dengan Dewi. “Sudah siap semua?” tanya Aswat.
“Siap, Yah!” balas Fatih semangat, sangat suka duduk di depan dengan Aswat, kalalu saja Ratih terbangun. Sudah dipastikan dua orang itu berebut tempat duduk yang ada di depan itu.
“Sudah, Mas,” balas Dewi.
“Oke, jangan lupa berdoa sebelum melakukan perjalanan,” pesan Aswat. “Bismillah,” gumam laki-laki itu. Kemudian menghidupkan mesin motor dan mengendarai motornya itu, membelah jalan raya di sore hari sebelum Maghrib menjemput.
Matahari sore sudah bergerak ke arah barat, siap tenggelam, tugasnya sebentar lagi selesai dan digantikan oleh bulan yang menghias langit malam. Warna jingga memancar indah, langit-langit sore lebih disukai banyak orang, apalagi pecinta senja.
Motor dikendarai oleh Aswat menghilang ujung jalan, bersamaan dengan matahari yang perlahan sudah tenggelam, langit senja perlahan berganti dengan langit biru gelap.