“Gimana, Mas, kerjaan di kantor sudah ada jalan keluarnya?” tanya Dewi malam itu, ketika mereka hendak tidur.
Aswat tampak menggeleng pelan. “Belum ada, Dew. Direktur utama sedang mencari jalan keluar dan mencari tahu siapa yang melakukan korupsi di proyek besar ini.” Laki-laki itu menghela napas pelan. “Aku merasa bersalah banget, Dew. Ini proyek pertama yang aku pimpin dalam divisi, tapi aku sudah mengacaukannya,” lanjutnya dengan sesal yang ada.
Dewi lantas mengusap bahu Aswat, mereka duduk bersandar di kepala ranjang. Anak-anak sudah tidur di kamar samping, pukul 10 malam. Akan tetapi, mereka belum ada niatan tidur sama sekali.
“Sabar, Mas. Ini mungkin ujian dari Tuhan, aku di sini selalu berdoa untuk kamu,” ujar Dewi, menyandarkan kepalanya di bidang d**a Aswat, terasa nyaman di sana, apalagi tangan Aswat bergantian mengusap bahunya, lembut.
“Makasih, Dew. Aku selalu bersemangat tiap hari untuk bekerja karena ada kamu dan anak-anak. Terima kasih telah menjadikan impian ku terwujud, Dew.” Tanpa sadar Asatu alis Dewi naik.
“Sejak kecil aku selalu mengimpikan keluarga yang utuh, keluarga harmonis. Dan sekarang sudah terwujud karena kamu jadi istriku dan telah melahirkan dua anak yang ganteng dan cantik,” sambung Aswat, memberikan kecupan hangat di pelipis Dewi. Kedua tangan Dewi mulai melingkar di perut suaminya.
“Nggak perlu berterima kasih, Mas. Sejak menerima lamaran kamu hari itu. Aku sudah siap mewujudkan mimpi kecil kamu, terutama keluarga kita ini. Semoga kita terus begini, Mas, tanpa adanya orang lain masuk ke rumah tangga kita,” ujar Dewi.
Kemudian wanita itu mendongak menatap Aswat, kali ini tatapannya tidak seramah tadi. “Awas saja kamu berani main api di belakang ku, nggak selamat kamu, Mas?!” ancamnya.
Aswat langsung tergelak mendengar itu. Semakin mengeratkan pelukannya pada Dewi. “Ya nggak beranilah aku, Yang. Kamu itu napasnya sekarang, kalau kamu nggak ada di sisiku, artinya saat itu juga aku sudah berhenti bernapas.” Aswat memberikan permisalan.
“Kamu itu cinta pertamaku dan terakhir untukku. Wanita yang aku puja-puja sampai kita menua bahkan saat Tuhan mengambil nyawaku.” Aswat menatap manik mata Dewi lekat. “Pun setiap dalam sholat aku berdoa, semoga Tuhan mengambil nyawaku lebih dulu, atau lebih bisanya mengambil nyawa kita berdua. Agar sama-sama pergi ke dunia ini dan meraih kebahagiaan di tempat kita yang baru,” jelas Aswat, satu tangannya mengelus rambut Dewi.
“Mas ....” tatapan haru diberikan oleh Dewi. “Aku bahagia, ternyata keputusanku untuk hidup bersama kamu adalah benar. Kamu sumber kebahagiaan ku sekarang, terima kasih sudah mau memperistri kan aku.”
“Aku beruntung jadi milikmu.” Dewi melanjutkan.
Aswat menggeleng pelan. “Kita sama-sama beruntung karena saling memiliki.”
“Aku cinta kamu, Mas.”
“Aku lebih cinta kamu, sayang.”
Tatapan keduanya beradu, penuh cinta. Hingga ungkapan cinta itu berakhir dengan pergulatan panas di dalam kamar itu. Untuk saat ini, iya, untuk saat ini mereka sama-sama beruntung. Belum tahu ke depannya seperti apa.
Malam berlalu dengan cepat. Suara ayam yang berkokok lantang sudah membangunkan Dewi sejak tadi. Wanita itu baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dengan handuk yang melekat di rambutnya yang basah. Daster selutut juga sudah dia kenakan. Dewi membuka lemari es yang umurnya sudah sangat tua, ingin rasa membeli baru, tetapi dia belum ada niatan sama sekali, toh lemari es ini juga masih bisa digunakan.
Definisi Dewi, “Nggak perlu beli baru, selagi masih bisa digunakan.”
Dewi mulai mengeluarkan terong serta tempe dan tahu, pagi ini dia akan memasak menu sarapan kesukaan semua keluarganya. Di dalam kamar sana Aswat belum bangun, selesai sholat subuh langsung tidur. Dewi memaklumi karena laki-laki pasti capek seharian bekerja, belum lagi kegiatan malam mereka kemarin.
Sebelum pukul 6 pagi tepat, Dewi meninggalkan masakannya setengah jadi itu. Bergegas ke kamar membangunkan suaminya, aktivitas setiap pagi.
“Mas, bangun dulu. Bentar lagi jam 6, ntar kamu telat ke kantor lho. Belum lagi kamu mau nganterin Fatih sekolah,” ucap Dewi. Sibuk membuka gorden kamar, sehingga matahari pagi memasuki kamar yang gelap gulita tadi.
Aswat sedikit terusik karena itu. “5 menit lagi, sayang,” sahutnya pelan.
Dewi menggeleng pelan. “Awasnya kalo setelah 5 menit nggak bangun, aku bawa air segayung buat siram wajah kamu,” ancam Dewi.
Lantas wanita itu beralih ke kamar sebelah, membangunkan putranya. Fatih sudah duduk di kelas 1 SD sekarang, sekolah umum tidak elit seperti anak-anak kebanyakan.
“Fatih, bangun, yuk. Sekolah lho hari ini, katanya di pelajaran pertama ada kesenian, nanti telat jangan salahkan ibunya,” ujar Dewi, sama halnya seperti tadi. Wanita itu membuka gorden kamar, Ratih masih bergelut dalam selimutnya, menghiraukan Dewi yang sibuk membangunkan Fatih.
Fatih sudah terbangun, duduk termangu di pinggiran kasur. Kebiasaan, saat bangun tidur selalu melamun lebih dulu. Dewi tertawa pelan, mengusap kepala Fatih.
“Mandi dulu sana, nanti berebut kamar mandi sama Ayah. Bunda nggak mau dengar kalian berantemnya pagi-pagi begini,” ujar Dewi lagi.
Maka dengan langkah gontai Fatih mengambil handuk di penjemuran kecil di dalam kamar itu. Matanya sedikit terpejam, sembari berjalan ke arah dapur tepatnya menuju ke kamar mandi. Baru saja kakinya hendak menginjak kamar mandi itu, dia sudah keduluan oleh ayahnya.
Fatih cemberut seketika, wajah kantuknya berubah menjadi kesal. “Ayah! Fatih duluan lho yang mau mandi?!” teriaknya.
“Ayah dulu, Nak. Udah nggak tahan mau buang air besar,” balas Aswat dari dalam kamar mandi.
Fatih mendengkus kasar, memilih duduk di kursi makan. Menatap ibunya yang sudah mulai melanjutkan acara masaknya lagi.
“Ayah lho, Bu. Tiap pagi pasti cari gara-gara sama Fatih,” gerutu anak itu. Meski sedikit susah berbicara, tetapi ketika kesal Fatih lebih leluasa mengutarakan perasaannya pada sang ibu.
“Sudah, nanti pas keluar dari kamar mandi, Ibu jewer telinga, Ayah,” balas Dewi.
Hingga 15 menit kemudian barulah Aswat keluar dari kamar mandi— mengenakan boxer saja, handuk kecil tersampir di bahunya— menghampiri Dewi dan mencium pipi wanita itu di depan Fatih. Fatih seketika merotasikan bola matanya. “Ayah lama banget sih, mandinya.”
Aswat tersenyum lebar, tidak membalas, tetapi detik berikutnya menjerit kecil kala merasakan sakit di area telinganya. “Ayah kebiasaannya, nggak mau ngalah sama anak. Kasihan Fatih nunggu kamu mandi yang lama,” ujar Dewi.
Fatih tersenyum miring, dia sudah memastikan ucapan ibunya tidak main-main. Tidak banyak bicara, Fatih melangkah masuk ke kamar mandi, meninggalkan Aswat yang meringis kesakitan.
“Duh, ampun sayang, lepas, ya telinga aku nanti bisa lepas dari tempatnya,” bujuk lelaki itu.
Dewi mendengkus pelan, melepaskan tangannya dari telinga suaminya itu.
“Pagi-pagi jangan sering marah-marah, Yang. Bikin aku tambah cinta saja.” Aswat mulai mengeluarkan gombal mautnya.
“Nggak usah merayu, ya! Masih pagi ini.”
Namun, Aswat tidak mendengarkan. Laki-laki itu memeluk tubuh Dewi dari belakang, mencium bahu Dewi yang sedikit terbuka. “Tapi suka kan? Sudah deh, ngaku saja.”
“Mas! Jangan ganggu deh, aku lagi masaknya.” Dewi menahan tangan Aswat yang berada di atas bahunya. Kemudian berbalik dan mencubit perut Aswat.
Aswat tergelak. “Makin cantik banget sih,” gumamnya. Kemudian mencium pipi Dewi dengan gemas.
“Sudah sana pakai baju?! Jangan ganggu aku,” usir Dewi terang-terangan.
“Iya-iya,” pasrah Aswat. Beranjak dari dapur, tetapi baru beberapa langkah suara tangis Ratih terdengar. Aswat menoleh pada Dewi. “Biar aku aja yang ke kamar, kamu lanjut masak.”
Aswat bergegas ke kamar anaknya itu. Masuk ke dalam kamar dengan senyum ceria. “Selamat pagi Putri Ayah, ututuuuu kenapa nangis hm?” Aswat menggendong Ratih, kebiasaan Ratih kala bangun tidur harus menangis dulu, terus digendong baru berhenti nangis.
“Ayah.” Suara rengekan kecil itu terdengar, Ratih menyandarkan kepalanya di atas bahu Aswat. Sudah berhenti menangis.
“Iya, sayang? Kenapa? Ratih mau apa?” tanya Aswat, berdiri di depan jendela.
“Latih mau boneka kayak punya Kak Divya. Beliin Ayah,” rengek Ratih.
Aswat tersenyum kecil, menatap lekat wajah putrinya. “Kalau Ayah beliin bonekanya, Ayah dapat apa coba dari kamu?” tanya Aswat, satu alisnya terangkat.
“Dapat ini,” balas Ratih, seraya memberikan ciuman di pipi Aswat.
“Cuman itu doang?” tanya Aswat lagi.
Kemudian Ratih bergerak lagi, mencium kedua pipi Aswat bergantian, turun ke dagu dan naik ke dahinya. Aswat tertawa geli mendapatkan empat ciuman itu. “Sudah ... sekarang Latih mau bonekanya, Ayah.” Ratih kembali merengek.
“Iya, Ayah beliin nanti.” Aswat membawa Ratih duduk di pinggiran kasur, mengambil kalender yang tergeletak di atas meja. “Tapi ... nunggu ulang tahun kamu, ya? Bentar lagi, kok. Sekarang masih tanggal 3, dan berarti 7 hari lagi ulang tahun kamu bakal tiba. Ayah bakal kasih kado boneka kayak punya Kak Divya, sama persis,” ujar Aswat.
Ratih tampak ceria. Anak kecil itu sangat menginginkannya boneka Barbie tersebut. “Benel, Yah?” tanyanya. Aswat mengangguk dua kali. “Janji?” Ratih memberikan jari kelingking kecilnya ke Aswat.
Aswat tersenyum gemas, menakutkan jari kelingkingnya ke jari Ratih. “Iya, Ayah janji,” balasnya.
“Yeay?! Ayah memang yang telbaik.” Ratih menerjang Aswat, memeluknya dengan erat. Aswat tertawa sembari membalas pelukan itu.
Memenuhi keinginan Ratih adalah tugasnya, Aswat tidak keberatan membeli boneka itu sama sekali. Asal Ratih bahagia, Aswat rela tabungannya akan berkurang, meski tabungan itu untuk masa depan kedua anaknya lagi.
“Kakak!” seru Ratih kala melihat Fatih masuk ke dalam kamar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Aswat menahan tawanya melihat Fatih yang sangat gemas mengenakan handuk itu.
“Kenapa?” tanya Fatih.
Ratih segera turun dari pangkuan Aswat, berjalan mendekati Fatih. “Ayah janji beliin aku boneka kayak punya Kaka Divya. Yeay! Ayah baik kan, Kak?” tanya Ratih.
Fatih menatap Aswat sebentar, kemudian beralih menatap Ratih lagi. “Iya, Ayah memang baik,” balasnya, mengusap rambut Ratih.
Ratih semakin terlihat senang. “Aku mau temuin Ibu, deh. Mau bilang kalau Ayah mau beliin aku boneka, pas ulang tahunku nanti,” gadis kecil itu kemudian keluar dari kamar.
Aswat berdiri dari duduknya. “Tanggal 10 nanti kan ulang tahun kalian berdua,” ujar Aswat, mengingat tanggal lahir kedua anaknya sama persis, hanya beda tahun kelahiran saja. “Kamu mau apa? Nanti Ayah beliin kado, request dong. Kayak Ratih, biar Ayah tau beliin apa.” Aswat melanjutkan.
Fatih meliriknya sekilas. Kemudian berjalan ke arah lemari kecil, hendak mengambil seragam. Akan tetapi, Aswat dengan sigap mengambilkan lebih dulu dan memberikannya pada Fatih.
“Aku nggak mau apa-apa. Asal ada Ayah dan Ibu serta Ratih, itu sudah lebih cukup dari segalanya,” balas anak itu.
Aswat tersenyum haru. “Jangan berpikiran seperti orang dewasa, Tih. Kamu masih kecil, terlalu jauh ke arah sana. Berinteraksi lah seperti anak kecil lainnya. Ayah nggak mau masa kecil kamu berlalu begitu saja, nikmati prosesnya,” jelasnya.
Fatih menatapnya cukup lama, sebelum akhirnya anak itu mengangguk pelan. “Iya, Ayah.”
“Nah, sekarang pakai seragam. Ayah juga mau pakai baju,” ujar Aswat, mengusap rambut Fatih lembut. Kemudian keluar dari kamar itu, meninggalkan Fatih yang termenung sendirian.