Ayah Terhebat 8

1950 Words
“Ini bekal untuk Ayah dan ini bekal buat Fatih.” Dewi meletakkan kotak tempat nasi di atas meja, tersenyum lembut kepada keluarga kecilnya. Fatih dengan sigap memasukkan kita nasi tersebut ke dalam tasnya, kembali melanjutkan sarapan paginya. Tiap pagi Dewi membuatkan dua bekal untuk Fatih maupun suaminya. “Makasih, Yang,” ujar Aswat, ikut memasukkan kotak nasi tadi ke dalam tas kerjanya. “Sini Ratih, Ibu suap, Ayah biar makan. Nanti telat ke kantor,” ucap Dewi, mengambil alih Ratih dan menyuapi putrinya itu. Aswat pun melanjutkan sarapan paginya, sebab sejak tadi sibuk menyuapi Ratih yang menggerutu kelaparan. “Hati-hati di jalannya. Nanti pas pulang, Fatih tunggu ibunya. Ibu jemput di tempat biasa, jangan pulang dulu!” peringat Dewi, pernah kejadian kala itu Dewi terlambat menjemput Fatih dari sekolah, dan anak itu nekad pulang sendirian, berjalan berapa kilo meter dari sekolah ke rumah. Bikin Dewi khawatir dan geleng kepala sekaligus. “Iya, Bu.” Fatih menjawab, mengambil tangan Dewi dan menciumnya. “Kamu juga hati-hati bawa motornya, Mas. Jangan ugal-ugalan,” ujar Dewi, beralih kepada Aswat, mengusap kemeja panjang Aswat, agar terlihat rapi. “Iya, sayang.” Aswat menatap kedua anaknya yang memperhatikan interaksi mereka. “Ratih, Fatih, tuh lihat ada pesawat di atas,” tunjuk Aswat ke langit yang cerah pagi ini. Saat kedua anaknya mendongak menatap langit, Aswat buru-buru mencium bibir Dewi sekilas. Dewi melotot mendapatkan itu, sementara Aswat nyengir sendiri. Sungguh, Aswat mengambil kesempatan dalam kesempatan. “Ndak ada pesawat, Yah,” ujar Ratih, sudah tidak menatap ke langit lagi. “Iya.” Fatih ikut menjawab. Aswat seketika tertawa pelan, dia hanya mengelabui kedua anaknya tadi, agar bisa mencium Dewi. “Masa sih? Padahal Ayah lihat kok pesawatnya ada tadi. Apa mungkin Ayah salah lihatnya?” gumam Aswat. Fatih melengos mendengarnya, anak itu lebih dulu beranjak dan berdiri di dekat motor. “Sudah sana berangkat!” suruh Dewi, mencubit perut Aswat, tidak kuat hanya meninggalkan rasa perih di sana. Aswat malah tertawa mendapat itu. “Iya.” Kedua tangannya kini mengusap rambut Ratih dan Dewi bergantian. “Kalian juga baik-baik di rumahnya. Ratih jangan bandel! Ibu masih belum terlalu sehat,” ujarnya. Dewi mendengar, dia sudah sehat begini. Kalau belum sehat, dia mana bisa melayani Aswat malam tadi, dasar suaminya itu. Ratih yang polos hanya mengangguk pelan. “Iya, Ayah.” Aswat segera menyusul Fatih. “Duduk di belakang saja, ya, Nak?” pinta Aswat. Fatih tidak menolak, anak itu segera naik ke atas motor di jok belakang dan memeluk pinggang ayahnya agar dirinya tidak jatuh. Sekolah Fatih tidak jauh, kalau naik sepeda motor, hanya membutuhkan 5 menit saja, pun kalau berjalan hanya 10 menit maka sudah sampai di rumah. Mereka sengaja memilih sekolah yang dekat dari rumah jaraknya, agar memudahkan Dewi untuk menjemput Fatih ketika pulang sekolah. Fatih sudah turun dari motor, gerbang sekolah sudah terbuka. Banyak ada seumuran Fatih di antar oleh orang tuanya, membuat keramaian di gerbang sekolah itu. “Belajar yang rajin, jangan nakal di sekolahnya,” pesan Aswat, membiarkan Fatih mencium tangannya. “Iya, Yah.” “Ayah pergi kerja dulu kalau gitu. Semangat belajarnya!” Aswat tersenyum memberikan semangat untuk putranya. Fatih tersenyum kecil membalasnya. Memperhatikan motor ayahnya sudah menghilang di ujung jalan. Fatih kemudian memilih masuk ke sekolah, saat itu dia mengenakan tas punggung berwarna hitam. Tas pembelian di pasar abang beberapa bulan lalu sebelum dia masuk sekolah. Fatih sampai di kelasnya, sudah ramai dipenuhi oleh teman-temannya. Fatih duduk di sudut ruangan kursi paling depan. Melipat kedua tangannya sembari menunggu bel berbunyi dan saat itulah guru masuk ke dalam kelas. Namun, ketenangan Fatih tidak bertahan lama. Fatih tidak pernah bilang ke Ayah Ibu kalau di kelas ini ada beberapa anak tidak menyukainya. “Heh, Fatih! Diam saja kamu?! Nggak berani main sama kita lagi, ya?” salah satu anak bandel menyapa Fatih. Tiga bocah itu mengelilingi kursi Fatih. Fatih tidak menjawab, sungguh dia tidak menyukai tiga orang itu. Terakhir kali Fatih bergabung dengan mereka, Fatih malah dikerjain. Saat istirahat bel pertama waktu itu berbunyi, mereka awalnya pergi ke kantin bersama-sama. Fatih senang bukan main mendapat teman baru, tetapi dia cukup terkejut kala membuka bekal makan siangnya, tiga temannya itu menertawakan isi lauk pauknya. “Tempe dan tahu goreng?” salah satu anak laki-laki sudah tertawa meledek. “Heh, Fatih. Kenapa nggak ada ayam goreng huh? Kayak isi bekal kita? Masa tempe sama tahu, ihhh nggak elit banget makanan kamu,” ujarnya. Fatih menunduk menatap makanannya. Dalam hati bertanya, “ada yang salah sama lauknya ini?” kemudian dia mengangkat kepalanya lagi. “Ibu jarang masak ayam goreng, kata Ibu lebih bergizi makan sayuran dan tempe sama tahu,” balas Fatih, sangat polos. Tiga temannya itu kembali menertawakan dirinya. “Itu Ibu kamu pelit atau kalian yang miskin sih? Lihat dong, mamaku. Hampir tiap hari makan ayam, katanya biar aku bisa makan enak tiap hari.” Fatih menatap tiga temannya itu bergantian. “Besok aku suruh Ibu deh buat masak ayam,” ujarnya dalam hati. “Eh, tapi kayaknya si Fatih memang orang miskin deh. Tuh lihat dia pakai sepatu yang merek ya bahkan nggak ada di mall, aku sering ke mall cuman beli sepatu sama ayahku, tapi nggak pernah lihat merek sepatu kayak gitu,” ujar satu temannya lagi. Mendengar itu Fatih yang polos malah menjawab. “Ayah beliin aku sepatu di tanah Abang, nggak ke mall. Kita juga jarang ke sana.” “Ih, kamu memang miskin banget deh. Kita jadi ilfil buat temanan sama kamu. Jangan temani Fatih!” dua teman Fatih lagi dihasut. Sejak hari itu Fatih jadi bahan olokan, sekolah ini memang umum, anak-anak dari manapun bebas masuk, dari kalangan atas bisa bahkan sampai kalangan batas. Pun, hanya saja semua orang melihat bertapa banyaknya harta kita, bukan melihat bagaimana baiknya kita menolong orang. Fatih sedikit paham dengan siklus kehidupan sekarang, yang kaya di temani dan yang miskin dijauhi, sungguh kenapa Tuhan menciptakan manusia-manusia toxic seperti itu? “Selamat pagi anak-anak!” seruan itu menarik Fatih dalam lamunannya. Menatap Ibu guru sudah masuk ke dalam kelas. Dan tiga anak bandel tadi sudah pergi dari hadapannya. Fatih lega, karena tidak jadi bahan bual-bualan untuk saat ini. *** “Aswat!” Baru saja kakinya memijak lobby kantor. Namanya diserukan oleh seseorang, Aswat lantas berbalik ke arah asal suara. Tersenyum lebar mendapati Bayu di sana. “Bay! Apa kabar, hah? Lo makin ganteng aja, ya sejak dipindahkan ke perusahaan di luar kota,” ujar Aswat, memeluk temannya itu sekejap. Bayu tertawa. “Ya begitulah. Lo apa kabar, Wat? Udah ada satu tahun kita nggak ketemu, sejak gue dipindahkan,” jelasnya. Iya, Bayu dipindahkan ke perusahaan di kota lain. Sehingga mereka berpisah dalam jangka waktu cukup lama. Dan hari ini mereka bertemu lagi. “Alhamdulillah, baik, Bay. Lo apa kabar?” tanya Aswat balik. “Baik juga, Wat. Makin baik karena gue bawa kabar buat Lo,” ujar Bayu, mengeluarkan satu surat berupa undangan dan memberikannya pada Aswat. “Nih, buat Lo.” Bayu tersenyum jemawa. Alis Aswat bertaut, menatap surat undangan itu lekat, sesaat setelah membacanya. Aswat berseru heboh. “Heh, ini benaran lo mau nikah?” tanyanya. Bayu mengangguk sebagai jawaban. “Eh, eh, selamat, akhirnya Lo bisa lepas masa jomblo Lo. Gue aja udah buntut dua, Lo malah mau baru nikah.” Aswat tergelak seraya menjabat tangan Bayu. “s**l! Jangan ngeledek gitu juga?!” Bayu menyugar rambutnya. “Jangan lupa datangnya, acaranya di sini kok. Setelah nikah gue bakal bawa istri gue keluar kota tempat gue kerja,” jelas Bayu. Aswat mengangguk dua kali, menepuk bahu Bayu. “Selamatnya buat Lo.” Kemudian menatap jam tangan dipergelangan tangannya. “Eh, gue mau telat, gue masuk dulunya. Nanti Lo mampir ke rumah gue, ya” pesan Aswat, lantas berlari kecil hendak memasuki lift. Menuju ruang divisinya tempat berkerja. *** Direktur utama tampak mengusap wajahnya gusar. Ruang meeting pagi ini sangat tegang sekali. Suasana lebih mencekam, sebab satu proyek yang di pimpin oleh Aswat sendiri mengalami penurunan, ada korupsi di keuangan serta menyelundupkan bahan-bahan yang akan digunakan dalam proyek. “Ini proyek kamu setelah lama bekerja di sini, Aswat. Dan saya cuku kecewa dengan hasil, seluruh tenaga sudah saya keluarkan untuk mencari solusi dari masalah ini, tetapi risiko proyek yang akan gagal ini sangat besar. Ini juga terpengaruh juga dengan perusahaan, belum lagi ada masalah dibeberapa divisi “ Direktur utama mengembuskan napas perlahan. Meletakkan kedua tangannya di atas meja, menatap semua ketua divisi di ruangan itu dengan saksama. “Dengan berat saya mengatakan hal, kalau nantinya akan ada pengurangan karyawan. Sebab perusahaan tidak bisa menanggung bahkan menggaji beberapa karyawan lagi. Saya katakan jangan ada yang kecewa, mungkin ini awal dari kalian yang ingin masuk ke perusahaan yang lebih besar lagi,” ujarnya, ada gurat sedih dari raut wajahnya. Aswat menunduk dalam, merasa amat bersalah. Perusahaan dari beberapa bulan yang lalu memang ada masalah, ditambah dengan dirinya yang melakukan kegagalan dalam proyek cukup besar ini. “Saya akan umumkan info lebih lanjut dalam tempo yang singkat. Meeting hari ini selesai dan kesimpulannya proyek yang dipimpin oleh Aswat akan berpindah tangan ke saya langsung saya akan akan turun kelapangan kerja untuk memastikan semua agar berjalan lancar.” “Kalian boleh istirahat sekarang.” Direktur utama mempersilakan semua karyawannya keluar dari ruangan itu. Bersamaan dengan jam makan siang tiba. Aswat berdiri dari duduknya, tidak ikut keluar dari ruang itu. Kepalanya tertunduk dalam di depan direktur utama. “Direktur ... saya minta maaf, memang seharusnya saya tidak mengambil proyek ini. Saya terlalu percaya diri dengan kemampuan saya, sampai lupa kalau saya ini lulusan SMA,” ujarnya, penuh sesal. “Tidak apa-apa, Aswat. Ini mungkin awal dari kegagalan kamu, jangan patah semangat. Akan tetapi, proyek yang kamu pimpin sampai sini saja, kembali bekerja, tenang saja saya yang akan mengurus semuanya. Doakan juga kalau masalah kantor cepat selesai, sehingga pemecatan beberapa karyawan tidak terjadi,” jelas direktur. “Sekali lagi saya minta maaf, Pak.”Aswat masih menunduk, sampai dia keluar dari ruangan meeting. Aswat mengembuskan napas pelan. Kalau saja Bayu masih bekerja di kantor ini, dia pasti ada yang menyemangati. Akan tetapi, sayang seribu sayang temannya itu sudah dipindahkan keluar kota. Ah, padahal pagi tadi mereka juga baru saja bertemu. Aswat melangkah masuk ke dalam divisinya, duduk di kubin dengan perasaan gundah. Sehingga buah bibir teman-temannya mulai terdengar lagi. “Sudah dimanjakan sejak dulu, jadi pas dipercayai untuk memimpin proyek. Dia malah semena-mena, tuh lihat sendiri kan dia gagal.” “Ya, dia tamatan SMA sih, nggak ada kepandaian sama sekali, wajarlah.” “Kasihan sama Pak direktur, wajahnya kelihatan kusut dari kemarin. Pasti terbebani sama masalah yang di buat sama Aswat.” “Eh, gue juga dengar dari hasil meeting tadi. Katanya bakal ada pemecatan beberapa karyawan karena perusahaan nggak bisa nanggung gaji kita lagi. Duh, gue harap jangan gue deh.” “Semoga bukan kita, ya. Kalau gue sih lebih setuju di Aswat di pecat, toh kinerjanya aja nggak becus selama ini.” Bisikan itu semakin jelas. Tangan Aswat terkepal kuat, menyalurkan emosinya lewat sana. Ingin sekali rasanya membungkam mulut-mulut s***s itu, tetapi tangan Aswat ada dua. Lebih baik dia gunakan untuk menutup telinga. Untuk tidak mendengarkan pembicaraan buruk tentang dirinya. Toh, Aswat sudah terlatih sejak kecil kalau dirinya harus kuat menghadapi kehidupan di dunia ini. “Sabar, Aswat. Bertahan saja, nggak ada yang bisa terima Lo jadi karyawan kalau keluar dari pekerjaan ini. Ingat Dewi dan anak-anak, masih ada mereka yang ingin Lo bahagia kan,” gumam Aswat dalam hati. Pada akhirnya dia tetap bertahan di lingkungan toxic ini, meski hatinya tiap hari merasa sakit karena terus-menerus jadi bahan buah bibir yang tak sedap. Aswat juga berdoa dalam hati, semoga pemecatan karyawan tidak terjadi. Apabila terjadi, Aswat takut kalau karyawan tak berguna seperti dirinya akan di depak tanpa pikir panjang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD