Ayah Terhebat 9

1706 Words
Malam Minggu, hari weekend sudah tiba. Saat inilah Aswat berusaha meluangkan semua waktunya untuk keluarga. Berupaya melupakan semua masalah di kantor serta proyek yang gagal di buat. Malam ini dia sudah berjanji membawa anak-anak ke taman hiburan terdekat. Aswat menurunkan Ratih yang duduk di jok depan bersamanya tadi. Sedangkan di belakang, Fatih serta Dewi sudah turun lebih dulu. Motor butut Aswat sangat berguna juga ternyata, sudah bertahun-tahun Aswat ditemani oleh motor ini dan masih bisa digunakan ke mana-mana. “Ayah! Ayah! Mau naik itu,” tunjuk Ratih ke salah satu wahana taman hiburan, bianglala. Aswat tersenyum kecil, melepaskan helmnya lebih dulu baru dia turun dari motor. Serta menggendong Ratih setelahnya. “Mau naik itu? Memangnya Ratih nggak takut naik bianglala?” tanya Aswat, satu alisnya terangkat. Ratih menggeleng tegas. “Ndak takut sama sekali! Kan ada Ayah?!” ujarnya, sembari memeluk Aswat dengan gembira. Aswat tertawa pelan, mengusap rambut Ratih dengan gemas. “Ya sudah, kita naik itu dulu, habis itu baru ke main pancingan. Katanya Fatih mau ke sana kan?” tanyanya, menunduk menatap putranya. Fatih mengangguk pelan sebagai jawaban. Aswat mengantre untuk membeli tiket bianglala. Sesekali melirik istri dan dua anaknya yang duduk di salah satu kursi sambil menunggunya. “Ayo naik!” seru Aswat setelah membeli tiketnya. Aswat mengambil alih Ratih, kala kedua tangan anaknya itu terulur pertanda hendak di gendong. Sepanjang di atas bianglala, kedua anaknya terlihat bahagia. Menikmati pemandangan dari atas sini, dengan keluarga tercinta sangat-sangat membuat Aswat bahagia dua kali lipat. Sehingga beban yang terasa di pundak Aswat hilang begitu saja. Melihat senyuman Dewi, Ratih dan Fatih sungguh candu bagi Aswat. “Nggak ada rencana nambah anak lagi, hm?” bisik Aswat, satu tangannya merangkul bahu Dewi. Memperhatikan anak-anak yang duduk di kursi depan, menjaga. “Emang dua nggak cukup, Mas? Makanya mau tambah lagi?” tanya Dewi, mendongak menatap Aswat. “Kalau kamu tahu, aku nih anak tunggal. Jadi makanya nggak mau kalau anak-anak ku kesepian kayak aku, harus ada saudara yang berada di sisi mereka,” jelas Aswat, menjawil hidung Dewi, pelan. “Kalo saudaranya kayak Kak Sarah, mah aku nggak mau, Mas. Mending aku jadi anak tunggal aja, daripada dapat Kakak yang julid kayak dia,” balas Dewi. Aswat jadi melotot kecil. “Heh, nggak boleh ngomong gitu!” larangnya. Dewi malah tertawa pelan, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aswat. “Nggak usah nambah anak lagi, Mas. Aku nggak kepikiran sama sekali, dua saja lebih cukup. Mereka pasti bisa melengkapi satu sama lain,” lanjut Dewi, menatap wajah Aswat yang diterangi cahaya lampu bianglala. Aswat mengecup puncak kepala Dewi. “Kalau gitu mau kamu, aku nggak masalah sih. Dua anak memang sudah cukup bagi kita, selagi kita masih sama-sama hingga nanti. Melihat Fatih dan Ratih dewasa, terus menikah dan kita dapat cicit yang cantik dan ganteng.” “Berkhayal kamu, Mas!” “Ya, kan berkhayal dulu baru jadi kenyataan.” Mereka saling pandang, tidak sadar kalau bianglala sudah berhenti. “Ayah!” Aswat tersentak, menatap dua anaknya sembari berdeham pelan. “Iya, Nak? Kenapa?” Fatih menunjuk ke arah luar. “Bianglala, ya sudah berhenti, turun,” ujarnya. “Lah, iya, Ayah nggak tahu.” Aswat tertawa pelan, saking sibuknya saling tatap dengan Dewi, waktu terasa cepat berputar. “Jadi main pancingan kan, Tih?” tanya Aswat. Setelah mereka turun dari bianglala. “Jadi, Yah,” balas Fatih, penuh semangat. “Ikan itu yang ambil, Tih. Nah yang itu,” ujar Aswat sedikit heboh, di belakang Fatih. Mereka sekarang berada di tempat mainan pancingan, Fatih sangat menyukai tempat ini kalau mereka pergi ke taman hiburan. “Ibu, mau itu, Bu!” tunjuk Ratih, menarik atensi Dewi ke arah lain. “Mau balon?” tanya Dewi, setelah melihat tempat yang ditunjuk Ratih tadi. “Iya, Bu. Ayo beli itu, kemarin Latih lihat Dea bawa balon. Latih mau balon kayak dia, balon lampu walna walni,” jelas Ratih lagi. Sambil menyebutkan nama anak tetangga mereka. “Tanya Ayah dulu, gih. Di kasih beliin balon itu atau enggak,” suruh Dewi. Ratih lantas berbalik menatap ayahnya yang sibuk mengajari kakaknya main pancingan. “Ayah!” panggilnya, menarik ujung kaos ayahnya. “Iya sayang?” “Mau beli balon.” Ratih kembali menunjuk tempat balon tadi, kembali menatap ayahnya. “Kata Ibu harus nanya Ayah dulu, di bolehkan nggak beli boneka ya,” jelas Ratih lagi. Mata polosnya mengerjap beberapa kali. Aswat tersenyum kecil. “Beli saja, gih. Ini uangnya,” ujar Aswat, memberikan satu lembar uang berwarna biru. “Yeay! Makasih Ayah.” Ratih memeluk kaki Aswat sebentar, kemudian beralih ke ibunya. “Ayo, Bu! Ke sana!” ajaknya tidak sabaran. “Kita ke sana dulu, ya, Mas. Nanti ke sini lagi kok,” izin Dewi. “Iya, sayang. Jangan lama-lama, ya. Aku nggak bisa jauh dari kamu,” ujar Aswat, menggombal. “Apa sih!” Akan tetapi, tak urung pipi Dewi memerah mendengar gombalan Aswat itu. Ah, suaminya memang manis tidak mengenal tempat sama sekali. Dewi menggandeng tangan Ratih, membawa ke tempat balon tadi. “Ratih mau yang mana?” tanyanya, menatap balon yang lampunya berkedip-kedip, berganti warna. “Yang itu, Bu.” “Oke, Pak, kasih balon yang ini satu.” Dewi mengambil balon dari tangan si penjual, kemudian memberikannya pada Ratih. “Berapa Pak?” “25 ribu, Bu.” Alis Dewi bertaut, sungguh dia tidak terima harganya semahal itu. Lebih baik beli beras satu kilo, cukup untuk makan. “Mahal amat, Pak. Nggak dapat 10 ribu saja?” tanya Dewi. Si penjual malah tertawa pelan. “Mana bisa, Bu. Ini balonnya beda dari yang biasa.” Perjelasnya. Dewi menatap balon yang tertata rapi di dekatnya itu, masih mengernyit. “Beda dari mana sih, Pak? Kayak balon biasa kok,” ujarnya. “Jelas beda lah, Bu. Ini balonnya ada lampunya, berkedip-kedip. Makanya harganya sedikit mencoreng dari yang balon biasanya.” Dewi mendengkus kasar. “Beda di lampu doang, astaga. Harganya semahal itu,” gerutu Dewi, mengeluarkan uang yang diberikan oleh Aswat tadi. “Saya saja yang bayar,” ujar seseorang, mendahului tangan Dewi hendak membayar. “Eh?” Dewi tentu saja tersentak melihat itu. “Nggak usah, Mas! Biar saya yang bayar! Ini untuk anak saya kok, duh saya jadi nggak enak,” tolak Dewi, tersenyum canggung kemudian menatap seseorang di sebelahnya tadi. Namun, tidak berapa lama, Dewi tertegun melihat orang itu. “Bima?” gumamnya. Laki-laki itu tersenyum membalasnya, menatap Ratih sebentar. “Anak kamu?” tanyanya. Dewi langsung teringat dengan Ratih yang ada di dekatnya, lantas memegang tangan anaknya itu. “Iya, anak kedua ku,” balasnya. Bima ini merupakan mantan Dewi. Mereka putus karena suatu hal, sejak itulah Dewi pun bertemu dengan Aswat, sehingga memutuskan menikah secepatnya. Kakak Sarah dulu sangat mendukung hubungan Dewi dengan Bima, tetapi langsung marah kala mendengar Dewi menikah dengan laki-laki lain. Wajar sih, Kak Sarah marah. Soalnya Bima ini orang kaya, layak untuk dijadikan Adik ipar, itu menurut Sarah. “Kamu apa kabar, Wi?” tanya Bima. “Ba-baik, kok,” balas Dewi, sedikit tergagap. “Eh, makasih ya sudah bayarin balon anak ku. Kalau gitu saya permisi dulu.” Dewi hendak beranjak dari sana, tetapi siapa sangka kalau tangannya malah ditahan oleh Bima. “Bisa minta nomor telepon kamu, Wi? Siapa tahu kita nanti bisa reunian,” ujarnya Bima. Dewi berdecih dalam hati. Reunian? Di kira ini sekolah apa? Maksudnya reunian mantan gitu? Tidaklah! Dewi mana mau. “Aku nggak ada ponsel. Permisi,” pamit Dewi lagi, dia sejak dulu tidak mau berurusan dengan para mantannya. Sudah ada Aswat dia harus menjaga perasaan suaminya itu. “Nggak punya ponsel? Masa sih?” Bima lagi-lagi menahan tangan Dewi. Ratih yang ada di sana juga terlihat bingung. “Lepas, Bim! Aku sudah ada suami, nggak usah kamu dekati lagi!” ujar Dewi, sangat tajam. Bima malah tertawa pelan. Laki-laki lantas melepaskan cekalan tangannya pada Dewi. “Cuman minta nomor telepon, ada salahnya?” tanyanya. Dewi menggeleng pelan. “Ya jelas salah dong! Suamiku pasti marah, lagian aku juga harus menjaga hatinya, aku ini istri orang Bima ingat itu!” balas Dewi, tajam. “Dewi.” Dewi menahan napas mendengar suara Aswat. Lantas dia berbalik menatap suaminya itu. Situasi yang tidak tepat. “Mas?” “Kok, lama sih? Fatih sudah selesai main. Kita pulang atau keliling dulu?” tanya Aswat, belum menyadari Bima di antara mereka. Aswat tentu saja mengenal Bima, pernah dulu jadi rival saat SMA. “Aswat, apa kabar bro?” Bima malah menyapa. Menjadikan Dewi menahan napas ke berapa kalinya. Matanya menatap Bima nyalang. “Bima? Ngapain kamu di sini?” Aura lebih mencekam dari yang tadi, itulah yang Dewi rasakan. “Ngapain lagi kalau nggak reunian sama mantan,” balas Bima, sangat enteng sekali. “Jangan ganggu kami. Dewi sekarang istri saya,” ujar Aswat, sangat dingin dengan tatapan tajamnya. “Nggak ganggu sih, cuman ngusik kalian saja.” Bima menyeringai. “Kita pulang saja, Dew. Anak-anak pasti ngantuk.” Aswat sepertinya tidak mau meladeninya Bima. Mengalah lebih baik menurutnya. “Iya, Mas.” Maka itu, Dewi pun menurut, Aswat pasti di rundung cemburu sekaligus emosi. Apa pun yang bersangkutan dengan mantan, Aswat paling anti dengan hal itu. “Kamu kenapa bisa ketemu sama Bima tadi?” tanya Aswat, saat mereka sudah pulang dan menidurkan anak-anak di kamar. Dewi mengusap lengannya. “Nggak sengaja ketemu, Mas. Dia juga tiba-tiba datang dan bayarin balon Ratih tadi,” ujar Dewi, sangat jujur karena sejak dulu dia tidak pernah berani berbohong pada suaminya. “Jauh-jauh dari dia, Dew. Kamu tahu kan aku nggak suka dengan dia,” suruh Aswat. Duduk dipinggiran kasur, kemudian rebahan di sana. “Iya, Mas. Buat apa aku dekat sama dia, sekarang sudah ada kamu di sisiku,” jelas Dewi, sangat mengerti dengan kegundahan Aswat. Laki-laki itu tidak mau kehilangan lagi, sama seperti kehilangan keluarganya saat kecil, hancur karena ketidaksetiaan. “Kamu suamiku, Mas. Aku akan selalu setia sama kamu. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu, apa pun dan bagaimanapun kondisi kamu.” Dewi memeluk tubuh Aswat dari belakang karena laki-laki membelakanginya. “Aku akan pegang omongan kamu, Dew. Aku cinta kamu, aku nggak mau keluarga kita hancur karena kehadiran seseorang dari masa lalu.” “Aku janji, Mas.” Malam itu ditutup dengan perjanjian yang selalu Dewi utarakan. Hingga dia sendiri yang mengingkari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD