Ayah Terhebat 3

1635 Words
Katanya roda kehidupan itu selalu berputar, tetapi kenapa Aswat rasanya tidak pernah merasakan itu. Kehidupannya selalu saja di bawah, atau hanya dia saja yang kurang bersyukur dengan hidupnya ini? Sore ini Aswat pulang membawa satu bingkisan kado— berukuran kecil— yang hendak dia berikan pada Dewi. Tepat hari ini— pernikahan mereka genap 3 tahun. Sudah selama itu mereka bertahan dan Aswat terus berharap pada Tuhan, supaya pernikahan mereka kekal hingga menua bersama serta melihat anak-anak mereka menikah nantinya. Motor yang dikendarai Aswat sudah berhentilah di depan rumah sederhana mereka. Di balik pintu sana, Aswat sudah bisa menebak kalau ada Dewi menunggu kepulangannya di sana. Aswat tersenyum lebar, satu tangannya memegang bingkisan kado tadi, serta satu tangan lagi mengetuk pintu rumah. “Assalamualaikum, Dew.” Aswat mengucap salam. Tidak berapa lama suara balasan terdengar dari dalam bersamaan bunyi handle pintu pun terdengar di putar dari dalam sana. “Mas.” Seperti biasa pula, Dewi menyambut kepulangannya dengan senyuman lebar, pun mencium tangannya tanda hormat kepada suami. “Fatih mana, sayang?” tanya Aswat, seraya memberikan tas kerjanya pada Dewi, sementara satu tangannya dia sembunyikan di belakang tubuh. “Ada di dalam, Mas. Lagi main sendirian, aku tadi lagi cuci piring di dapur. Terus aku tinggalin dia di ruang tengah,” jelas Dewi. Sepertinya masih tidak menyadari sesuatu yang disembunyikan oleh Aswat. “Dew, aku ada sesuatu buat kamu,” ujar Aswat, tersenyum tertahan. Meski hadiahnya tidak mahal, dia berharap kalau Dewi akan menyukainya. Satu alis Dewi tampak terangkat, menatap suaminya heran. “Apa?” saat setelah mengatakan itu, Aswat mengeluarkan tangannya dari belakang tubuh. Bingkisan kado yang dia bikin sendiri di kantor tadi— telah diterima Dewi. Aswat mendorong tubuh istrinya agar masuk ke rumah. Tidak baik berdiri di depan pintu. “Maaf, ya, Dew. Kalau kadonya nggak mahal. Tapi semoga kamu suka, ya, sayang,” ujar Aswat, sedikit meringis. Dalam hati merasa kecewa dengan kemampuannya yang tidak bisa memenuhi kebutuhan Dewi, semuanya. Dia hanya memenuhi sedikit, pun banyak ekonomi rumah yang harus dipenuhi. Mengingat gaji Aswat tidak besar tiap bulannya. Dewi perlahan membuka bingkis kado itu. Mereka berdua sudah duduk lesehan di lantai beralaskan karpet bulu, daripada memilih duduk di sofa— yang beberapa bulan lalu Aswat beli. Duduk di dekat anak mereka yang sibuk bermain sendiri, berceloteh tidak jelas— khas batita. “Ini sudah sangat cukup bagiku, Mas.” Dewi menutup mulutnya dengan satu tangan, bola matanya bahkan berkaca-kaca sekarang. “Mas, aku nggak pernah minta dibeliin ini lho,” ujar Dewi lagi. Menatap kotak beludru berwarna merah itu, di dalamnya ada sebuah anting yang dia idamkan tahun lalu. Tidak menyangka kalau tahun ini dia bisa memakai anting emas ini. “Syukurlah kalau kamu suka, Sayang.”Aswat mengembuskan napas pelan. “Dari tahun lalu aku sisihkan uang yang kamu kasih ke aku buat jajan di luar, aku sengaja menabung diam-diam. Demi beliin ini untuk kamu. Maaf, ya, aku telat beliin anting ini. Meski tahun ini sudah keluar yang model baru,” tutur Aswat, lagi. Dewi menggeleng lemah. “Ini ... sangat berharga untukku, Mas. Kamu yang pengertian.” Dewi menghambur ke pelukannya. Aswat mengusap punggung wanita itu, menciumi pelipis Dewi. “Selamat ulang tahun pernikahan yang ke 3, sayang,” bisik Aswat. Dari balik pelukan, Dewi tersenyum lebar, menangis haru. Dia pikir Aswat melupakan hari penting ini, ternyata tidak. Sebab, pagi tadi saat dia hendak mengucapkan selamat ulang tahun pernikahan, Aswat sudah keburu pergi ke kantor. Dikarenakan ada meeting mendadak yang harus diikuti suaminya itu. Sehingga menjadikan Dewi tidak jadi mengatakan itu. “Selamat ulang tahun pernikahan juga, Mas. Aku pikir kamu lupa.” Dewi mengusap pipinya yang terasa basah akibat air matanya. Kembali merasakan ada kecupan manis di pucuk kepalanya. “Aku mana bisa lupa, Dew. Ini hari berarti buat kita berdua,” balas Aswat. Mereka larut dalam pelukan itu. Hingga pelukan tadi tidak bertahan lama, akibat putra mereka ikut masuk ke dalam pelukan tadi. Seakan tidak mau membiarkan kedua orang tuanya berpelukan tanpanya. “Bubububu,” celotehan putra mereka yang belum genap dua tahun itu, mengalihkan antensi mereka. Dewi dan Aswat tertawa pelan. Menarik Fatih— putra mereka ke tengah-tengah pelukan, sehingga bocah kecil itu terjepit. Akan tetapi, tidak protes sama sekali, malah balas memeluk Dewi. Karena anak itu sangat manja dengan Dewi. Wajar anak laki-laki bila manja ke ibunya dan kebalikannya, anak perempuan akan lebih manja dengan sang ayah. Hanya saja Aswat belum memiliki anak perempuan. Doakan secepatnya, tetapi mereka harus menunggu Fatih besar dulu, baru program kasih adik untuk Fatih. *** Malam ini, Aswat pikir akan terlewatkan seperti malam biasa. Akan tetapi, kedatangan tamu yang terduga tak membuat Aswat habis pikir. Sekian tahun mereka tidak bertemu lagi, puncaknya waktu di pernikahannya dan Dewi, saat itu adalah pertemuan terakhirnya dengan ibu kandungnya. Dan sebelum makan malam tiba, wanita itu datang seorang diri. Padahal selama ini, Aswat tahu kalau ibunya itu tinggal di Yogyakarta sekarang. “Ibu kok datang sendiri?” itu pertanyaan Aswat yang sudah bersarang di kepalanya sejak kali ibunya datang menginjakkan kakinya ke rumah ini. “Suami Ibu mana? Ibu sudah nggak kayak masa muda dulu, kalau berpergian harus ada yang menemani,” jelas Aswat, bukan mengomel. Hanya saja anggapan ibunya sangat berbeda yang dia perkirakan. “Kamu nggak suka Ibu datang, iya? Ganggu kalian gitu?” sarkas Ibu, wanita itu duduk di sofa dengan kaki terangkat satu. Aswat mengembuskan napas pelan. Sifat Ibu tidak pernah berubah. “Bukan gitu, Bu. Aswat cuman bilang—“ “Sudah sana! Mending kamu bantuin Dewi di dapur, Ibu sudah lapar. Mau cepat-cepat makan.” Aswat malah di usir. Baiklah, karena tidak mau menimbulkan masalah malam ini. Aswat memilih pergi ke dapur, meninggalkan ibunya di ruang tv seorang diri— Fatih sudah lebih dulu tidur setelah dimandikan sore tadi. “Ada yang perlu Mas bantu, Dew?” tanya Aswat ketika sampai di dapur. Dewi menoleh ke arahnya. “Nggak ada, Mas. Ini sudah siap kok, tolong panggil Ibu deh, Mas. Biar kita makan malam sama-sama.” Dewi meminta tolong. Akhirnya Aswat kembali ke ruang tengah, menyerukan ibunya agar segera ke dapur. Kursi makan yang terdiri dari empat itu— ketiganya sudah terisi— meninggalkan satu kursi yang kosong. Lauk pauk sudah Dewi sediakan di atas meja makan persegi itu. Tumis kangkung, goreng tempe pakai tepung dan sambal matah kesukaan Aswat. Makan malam sederhana. Rasanya juga tidak kalah banding dari restoran-restoran di luaran sana. Aswat sangat menyukai semua masakan Dewi. Sudah seperti candu baginya. “Nggak ada ayam goreng, Wi?” tanya Ibu. Gerakan tangan Dewi yang hendak mengambil nasi untuk Aswat, terhenti sebentar. Wanita itu tersenyum kecil, melirik Aswat juga. “Kita memang jarang makan ayam, Bu. Mas juga nggak terlalu suka, katanya dia lebih suka tempe sama tahu daripada ayam,” jelas Dewi. Aswat pun menyetujui, karena itu adalah benar. “Lagi pula, Bu. Ini tanggal tua, kita juga harus hemat. s**u formula Fatih juga mahal, hidup sederhana nggak ada masalahnya bagi kami, Bu. Asalkan makan sehari-hari lepas,” imbuhnya. Ibu tampak mencibir di depan mereka. Aswat menghiraukan itu, dia tahu sifat ibunya luar dan dalam. “Ibu sarankan, ya. Setiap Ibu datang ke sini, kamu harus masak ayam, Wi. Ibu suka makan itu, nggak terbiasa sama makan tempe,” ujar Ibu, menatap Dewi sejenak. Akan tetapi, tangannya tidak urung mengambil tiga potong tempe goreng tepung yang di masak Dewi tadi. Aswat mencibir dalam hati. “Iya, Bu. Nanti Dewi masakin ayam buat, Bu,” balas Dewi. Dia tidak mau macam-macam di depan mertuanya kalau tidak ingin di cap menantu buruk. Karena selama ini mereka jarang bertemu, jadilah Dewi ingin meninggalkan kesan yang baik untuk mereka berdua. “Habis makan malam anterin Ibu ke hotel terdekat, Wat.” Ibu berbicara saat makan malam berlangsung. “Ibu mau nginap di sana?” tebak Aswat. Wanita itu mengangguk singkat. “Nggak mungkinkan Ibu nginap di rumah kecil kamu ini? Kamar pun satu, Ibu juga nggak mau tidurnya terganggu sama suara tangis anak kamu nantinya,” ujar wanita itu, tanpa merasa bersalah di setiap katanya— sedikitpun. Satu tangan Aswat yang berada di atas meja terkepal, bahkan wanita itu tidak menyadari perubahan raut wajah Aswat. Hanya Dewi yang mengerti situasi. “Iya, nanti Aswat anterin.” Aswat memilih mengalah, meski dia sudah diburukkan oleh ibu kandungnya sendiri. Tentu sakit, tetapi Aswat bisa apa? Ibunya sudah terlanjur membuatkan luka yang amat mendalam di hidupnya yang dulu-dulu. Jadi, Aswat sudah terbiasa akan hal itu. “Mau Mas bantu cuci piringnya, Dew?” tanya Aswat, setelah makan malam selesai. Dewi menggeleng pelan. “Nggak usah, Mas. Mending kamu lihat Fatih di kamar, mana tahu dia ke bangun nanti.” Aswat tidak menolak. Laki-laki itu pergi dari area dapur. Meninggalkan Dewi dan ibunya di sana. “Ibu heran sama kamu, Wi.” Ibu bersedekap. Dewi menatap wanita itu sebentar, kemudian menyusun piring kotor untuk dia angkat ke wastafel. “Aswat tuh nggak punya apa-apa, sama kayak ayahnya. Tapi kenapa kamu milih nikah sama dia? Kayak bodoh kelihatan kamu, ya, Dew,” lanjut Ibu lagi. Sebelum beranjak dari meja makan. Dewi kembali menatap Ibu mertuanya. “Dewi nggak mandang Mas Aswat dari hartanya, Bu. Mas Aswat punya cinta serta rasa tanggung jawab yang besar, maka itu Dewi memilih dia.” Setelah mengatakan itu, Dewi berdiri dan menuju wastafel yang masih dekat dengan meja makan. Terdengar suara decihan pelan yang berasal dari Ibu. “Cinta nggak bikin kamu kenyang, Wi. Saran Ibu, kamu harus cepat-cepat cerai dari Aswat. Biar nggak menyesal seperti Ibu yang pernah menikah dengan ayahnya dulu.” Sungguh, Dewi yang mendengar itu saja sakit hati. Bagaimana dengan Aswat yang mendengar perkataan ibu mertuanya tadi. Mungkin Aswat merasa sangat hati sekali. Dewi tidak menanggapi, wanita itu memilih sibuk dengan piring-piring kotornya. Meski pelupuk matanya berembun, sungguh merasa sakit hati dengan ucapan wanita itu tadi. Ibu kandung mana yang tega, memburukkan anaknya sendiri? Kejam sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD