Ayah Terhebat 2

1618 Words
"Dia yang tamatan SMA, bagus apa ya sih? Beruntung banget bisa kerja di sini. Lah gue yang susah-susah belajar buat tamat S1 baru bisa masuk sini. Enak banget jadi dia." "Lah, kalo pake orang dalam mah, gampang sekarang. Tinggal ting, udah bisa kerja di kantor kayak gini." "Bener, gilak memang. Rugi banget kita, yah. Kayak nggak adil gitu." "Hush, diem. Orangnya lihat ke sini. Ntar dia ngadu sama bos, bisa-bisa kita terancam dipecat nih. Dia kan anak kebanggaan bos." Sebenarnya, Aswat tidak perlu mendengarkan cibiran teman sekantornya. Dia sudah biasa mendengar cibiran itu, tetapi tidak bisa dipungkiri Aswat tidak suka mendengar hal itu. Apa salahnya sih, kalo dia tamatan SMA? Terus diangkat jadi karyawan tetap di kantor ini? Mereka hidupnya mungkin serba kekurangan, sampai-sampai hidup Aswat di urusin segala. Tepukan berasal dari bahunya membuat Aswat menoleh. Tersenyum tipis kepada temannya satu-satu dikantor ini, yang selalu melihatnya tanpa sebelah mata. "Nggak usah didengerin. Mereka tuh suka benget julid sama hidup orang," ujarnya. Aswat mengangguk setuju. Melirik segerombolan orang kantor yang berdiri di dekat parkir. Kebiasaan mereka, kalo pulang kerja tidak langsung pulang. Malah bergerombol untuk mencaci orang sana sini. "Lo langsung balik nih?" tanya Bayu, temannya tadi. "Jemput si Dewi dulu di rumah mertua gue, Bay." Aswat menyahut, dia sudah duudk di atas motornya kemudian memakai helm. "Gue duluannya." Aswat berpamitan. Meninggalkan Bayu di parkiran sana. Motor yang dikendarai Aswat membelah jalanan. Matahari sudah di pucuk sana, hendak tenggelam karena tugasnya sudah selesai. Aswat semakin memacu laju motornya, takut nantinya dia dan Dewi sampai malam di rumah nanti. Lima belas menit membelah jalanan yang sedikit macamet karena banyak karyawan kantor sepertinya ini pulang di jam segini. Akhirnya Aswat sampai di rumah mertuanya, rumah berlantai dua yang isinya hanya ditempati oleh dua mertuanya itu. "Assalamualaikum." Aswat mengucapkan salam. Tersenyum ketika membuka pintu adalah Dewi, istrinya. Tangannya langsung di cium oleh wanita itu, tanda Dewi menghormatinya sebagai suami. "Langsung pulang, nih, yang?" tanya Aswat. Dewi mengangguk. "Iya, Mas. Ntar kita ke maghrib-an di jalan." "Ya, udah aku pamit ke Bapak sama Ibu dulu." Aswat masuk ke dalam, menuju ruang tengah. Garis wajahnya sedikit menurun melihat salah satu Kakak iparnya ada di sana. "Pak, Bu. Kita pulang dulu, ya," pamit Aswat. "Loh, nggak nginep di sini aja, Wat?" tanya Bapak mertuanya. Aswat menggeleng pelan. "Nggak dulu, Pak. Ntar kita kapan-kapan cari waktu bisa nginep di sini," balasnya. Menyalim tangan Bapak dan Ibu berganti. Dewi datang dari arah dapur membawa satu rantang. "Bu, aku bawa makanan dikitnya, nggak apa-apa kan?" tanya Dewi. "Ya, nggak apa-apa toh, Nduk," balas Ibunya Dewi dengan gaya bicaranya khas medoknya. "Makasih, Bu." Dewi tersenyum manis. "Dewi, Dewi, kamune ndak malu apa toh? Minta makan sama Ibu. Apa Aswat ndak bisa kasih kamu makan lagi, ha?" Kakak pertama Dewi angkat suara. Wanita itu mana pernah suka melihat adiknya menikah dengan laki-laki miskin seperti Aswat. "Udah Kakak bilang dari awal. Laki-laki kayak Aswat ndak usah dijadiin suami. Hidupnya aja melarat dari dulu, lah sekarang malah buat kamu melarat juga kan?" tanyanya, mendengkus kasar. "Kak!" Dewi menegur kakaknya, melirik Aswat yang kini hanya bisa diam tidak bisa membantah ucapan kakaknya tadi. "Mas Aswat suamiku, lho. Kakak sebagai kakak iparnya ndak boleh rendahin dia," lanjut Dewi. "Iya, Rah. Itu adik ipar kamu loh." Ibu angkat suara juga yang diangguki oleh Bapak. "Dewi aja yang bodoh, Bu. Dulu punya pacar kaya di sia-siakan, eh malah nikah sama orang miskin. Kan melarat hidupnya sekarang kan? Tinggal di rumah yang kecil." Sarah mendengkus kasar sekali lagi. "Harusnya dia kayak aku lah. Cari suami kaya, biar hidup nggak melarat." "Udah, Rah! Mending kamu ke kamar sekarang," suruh Bapak. Sarah mendecak, tak urung berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya. "Udah, Le. Ndak usah dengerin apa kata Kakak iparmu itu." Ibu berbicara dengan Aswat. "Maafin Sarah, ya." Aswat mengangguk pelan. "Nggak apa-apa, Bu. Aswat maklum kok. Kita pulang dulu, ya, Bu." Aswat berpamitan sekali lagi. Bapak dan Ibu pun menyilakan. "Hati-hati di jalan!" peringat keduanya. Dewi terlihat murung karena hal tadi. Membuat Aswat tersenyum kecil karena bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran istrinya itu. "Udah, jangan murung lagi. Mas nggak apa-apa kok," ujar Aswat untuk menenangkan Dewi. Laki-laki itu memakaikan helm kepada Dewi. "Mas." Dewi menatap Aswat dengan mata berkaca-kaca. "Mulutnya Kak Sarah tadi kok pedes banget, ya. Udah melebihi seblak pedas." Dewi terlihat menahan tangisnya. Aswat menahan senyumnya. Sangat gemas dengan Dewi, saat hendak menangis saja masih bisa mengatai Kakak sendiri. "Udah, udah jangan nangis. Ntar Bapak sama Ibu lihat. Dipending aja dulu nangisnya," suruh Aswat. Dewi menurut, wanita itu segera naik ke atas motor setelah Aswat lebih dulu naik ke tunggangannya. Akan tetapi, dipertengahan jalan, Dewi tidak bisa menahan tangisnya lebih lama lagi. Sembari memeluk pinggang Aswat dengan erat, Dewi menangis dalam diam dibelakang sana. Tidak tahu kalau Aswat menyadarinya menangis lewat kaca spion. Aswat menggeleng pelan. Merasa tidak becus menjadi suami karena untuk membiayai Dewi saja serba kekurangan. Tidak bisa memungkiri, kalau perkataan Kakak iparnya tadi cukup menyentil hatinya. Hanya saja, Aswat sudah terlalu sering mendengar perkataan seperti itu. Seakan-akan hatinya sudah menjadi batu yang keras, tidak ada gunanya mencaci makinya atau meremehkannya lagi. Aswat hanya bisa bekerja lebih giat lagi, agar kedepannya kehidupan mereka lebih baik. Tidak serba kekurangan sekarang. Tepat motor Aswat berhenti di depan rumah sederhana mereka. Hanya rumah yang berlantai satu, dengan luasnya cukup di bilang kecil. Di saat itu jugalah, Dewi menghentikan tangisnya. "Cup, cup, jangan nangis lagi." Aswat langsung memeluk Dewi ketika sudah berada di dalam rumah. Tangis Dewi kembali pecah setelah mendapatkan pelukan itu. Terisak pelan di dalam pelukan ternyaman baginya. "Itu Kak Sarah suka ikut campur rumah tangga orang. Nggak lihat rumah tangganya sendiri." Dengan senggukan Dewi berujar pelan. "Udah, nggak usah dimasukin ke hati." Aswat mengecup puncak kepala Dewi dengan mesra. "Aku minta maaf, ya. Maaf kalo selama ini nggak bisa jadi suami yang selalu memenuhi kebutuhan kamu," sambung Aswat." Dewi langsung mengurai pelukan mereka. Menatap Aswat dengan tajam. "Apa sih, Mas! Jangan ngelantur, deh. Bagiku kamu sekarang udah jadi suamu terhebat buat aku." Aswat tersenyum tipis, tangannya bergerak untuk mengusap air mata Dewi. "Aku janji sama kamu, kalo aku akam bekerja lebih giat lagi. Biar bisa jadi suami yang terhebat buat Dewi," ujarnya. "Aaaaa." Dewi tentu saja terharu mendengar itu. "Pokoknya bagi Dewi, cuman Mas Aswat saja yang boleh bikin aku bahagia nggak boleh yang lain," balas Dewi. Aswat tertawa pelan. Memeluk istrinya kembali, dalam hati dia terus berdoa agar kebahagiaan mereka tidak terhambat oleh siapapun. Atau lebih parahnya, adanya orang ketiga di antara mereka. Aswat tidak akan membiarkan hal itu terjadi. "Mas janji, sayang. Akan buat kamu bahagia sampai akhir hayat ku. Jangan bosen ya sama aku." Pelukan mereka semakin erat. "Nggak bakal bosen, Mas," sahut Dewi seraya memejamkan matanya. Malam hari, Aswat tersenyum melihat Dewi yang lagi sibuk memanaskan semua makanan yang di bawa wanita itu dari rumah Ibu tadi. "Ini udah selesai, yang?" tanya Aswat mengangkat sayur lodeh yang ada di dalam mangkuk. "Udah, Mas. Tolong taruh ke depan tv ya, biar kita makan habis ini." Dewi tersenyum. "Oke, yang!" Sebelum keluar dari dapur, dengan jahil Aswat mengecup pipi Dewi yang semakin hari bertambah besar saja. Makan malam terlewatkan seperti biasanya. Usai makan malam, Aswat melarang Dewi untuk mencuci piring kotor karena dia yang akan mengerjakan itu seorang diri. "Tapi, Mas. Ini udah tugas aku sebagai istri." Dewi terlihat masuh bersikeras tidak mau Aswat yang mencuci piring. "Nggak apa-apa, Yang! Kamu duduk manis aja di situ. Aku cuci ini sebentar, nggak lama kok." Aswat berlalu dari sana seraya membawa beberapa piring kotor bekas makan mereka tadi. Dengan cekatan Aswat mencuci semua piring itu. Dia tidak tega melihat Dewi melakukan pekerjaan rumah seorang diri. Apalagi wanita itu sedang hamil besar. Jahat rasanya ketika Aswat tidak bisa mempekerjakan seorang pembantu hanya untuk menolong Dewi di rumah ini. Sekali lagi Aswat tersenyum miris, sedikit merutuki hidupnya yang tidak bergelimang harta seperti ini. Ada Dewi saja di sisinya Aswat sudah amat bersyukur. Karena laki-laki miskin sepertinya, ada yang perempuan yang mau dia nikahi. "Tadi Kak Sarah ngapain ke rumah Ibu?" tanya Aswat setelah mencuci piring dan membersihkan dapur yang sedikit kotor. Dewi nampak mencebikkan bibir. Terlalu kesal mendengar nama kakaknya itu. "Kata Ibu, dia udah dua hari nginap di sana. Lagi berantem sama suaminya," balas Dewi. Aswat tertawa pelan. "Kakak kamu tuh ada-ada aja." Aswat menggeleng heran. "Saat dia berantem sama suaminya, lah dia malah ngurusin rumah tangga kita." Dewi mengangguk seakan setuju. "Makanya aku langsung kesel pas dia ejekin kamu. Mau bales ucapannya, tapi aku inget lagi hamil. Nggak baik ngomong aneh-aneh ntar si dedeknya ke ikutan." Dewi tertawa kecil. "Lah, iya. Aku lupa sapa si dedek." Aswat menunduk sejenak. "Halo anak Ayah. Lagi apa di dalam sana, hm?" tanyanya kepada bayi di dalamnya perut Dewi. Mata Aswat melotot kecil ketika mendapat respon yaitu satu tendangan kecil. "Wah, dia nendang lagi yang," ujar Aswat antusias. "Iya, Mas. Dari kemarin dia kayaknya aktif banget." Dewi mengusap perutnya. Seakan ingat sesuatu, Aswat duduk tegap seperti semula. "Eh, bulan ini kita belum periksa si dedek kan?" ujarnya. "Lah, iya, Mas. Aku lupa." Dewi menepuk dahinya. "Oke, deh. Besok aja kita periksa di dedek. Mas bisa izin pulang pas istirahat jam makan siang buat nemenin kamu," ucap Aswat. "Nggak apa-apa, Mas? Kan biasanya aku ditemani sana Ibu atau sendiri aja." Dewi teringat, beberapa bulan ini, memang dirinya jarang pergi bersama Aswat kalau hendak periksa ke dokter. "Nggak apa-apa. Aku bisa usahain, lagian aku ke pengen nemanin kamu buat periksa." Aswat mengusap perut Dewi dengan lembut. Keduanya bertatapan dengan rasa cunta yang amat mendalam. Di awal seperti ini, Aswat sangat amat bersyukur. Tidak tahu kalau kedepannya, kehidupannya akan berubah drastis. Orang yang dia cintai saat ini akan berpaling darinya. Apa yang ditakutkan Aswat pun terjadi akhirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD