Satu minggu berlalu setelah kejadian di taman waktu itu. Tidak ada yang berubah, Aswat bertahan meski rasanya sakit. Dirinya ada tapi selalu tak dianggap, kerja kerasnya tidak ada gunanya lagi selain untuk anak-anak. Malam ini adalah malam ketiga dia pulang sedikit larut, dia sengaja melakukan itu. Banyak orderan yang dia ambil meski malam semakin larut. Rasa lelah sudah menumpuk dan Aswat ingin menuntaskannya dengan beristirahat dengan tenang malam ini. Meski tidur di atas sofa kecil, tapi cukup untuk beristirahat sejenak. Pintu dia buka dengan kunci cadangan, Dewi belakangan ini juga jarang lembur lagi, Aswat tak tahu alasannya, tapi Ratih dan Fatih kelihatan senang akan hal itu. Karena waktu malam mereka terlewati bersama sang ibu meski dirinya tidak ada. Aswat membuka sandalnya, mem

