Ayah Terhebat 45

1609 Words

Terpuruk memang bole, tapi Aswat tak bisa lama-lama bersedih dalam masalahnya ini. Pagi ini, dia duduk termenung di kursi makan. Di depannya sudah ada satu porsi nasi goreng dengan telur ceplok dia buat sendiri. Tatapan sendunya terarah pada tiga kursi yang kosong itu. Lalu mengembuskan napas pelan. Aswat mulai menyuapkan satu sendok nasi goreng. Hampa, sunyi, itulah tekannya sekarang. Aswat menelan kunyahan nasinya meski tenggorokannya terasa serat. Baru lima sendok dia makan, tetapi dia sudah tak bernafsu lagi. Dia mendorong piringnya tak berminat, kemudian meneguk air putih hingga tandas satu gelas. Dia terdiam. Menatap dapur yang begitu sunyi sekarang, biasanya pagi begini melihat wajah anak-anak sangat dia sukai. Apalagi mendengar celotehan Ratih yang berbicara tentang kesenangannya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD