Ayah Terhebat 41

1672 Words

"Dek, awas jat—" Fatih tak lagi melanjutkan ucapannya karena tangisan Ratih sudah terdengar sebab adiknya itu terjatuh, ada sedikit besar dan tanpa sengaja Ratih tersandung benda itu. "Tuh," lanjut Fatih setelah bergegas menghampiri Ratih. "Huaaaa, Kak! Kaki aku beldalah," adu Ratih dengan tangisannya yang nyaring. Fatih hanya bisa meringis melihat sedikit darah yang mengalir dari lutut adiknya itu. "Berdiri dulu, ya? Kita duduk di kursi, nanti kalau Nenek udah datang, baru kita obati," ajak Fatih. Ratih menggeleng. "Ndak, mau!" tolaknya. "Itu dalah, ya. Latih takut salah, Kak!" Gadis kecil itu kembali mengadu sambil menunjuk lututnya. "Perih?" tanya Fatih, tentu cemas melihat adik kecilnya kesakitan. "Iya," jawab Ratih sambil mengangguk. Fatih menunduk dan meniup lutut Ratih berhar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD