“DEWI?! BUKA PINTUNYA?! DEWI s****n! SINI KELUAR KAMU?!” Baru saja mereka hendak memejamkan. Kini sontak membuka matanya secara bersamaan, Dewi lantas terduduk. “Kak Sarah, Mas?” tebak Dewi dengan pelan. “DEWI?! HEY, KELUAR KAMU ADIK KURANG AJAR?! KELUAR?!” “Kenapa pakai teriak segala, sih?” tanya Dewi, lelah. Sifat kakaknya yang sejak kecil selalu tamak, itu yang membuat Dewi kurang suka dengan kakaknya. Tangannya di usap seseorang, Dewi menoleh ke arah suaminya yang tersenyum menenangkan. “Kita keluar, temuin Kak Sarah. Mungkin ada hal yang penting,” ujar Aswat. Dewi menghela napas pelan. “Di jam segini? Nggak sopan itu, Mas. Ganggu waktu istirahat kita saja,” gerutu Dewi. Aswat sudah ikut duduk juga, memakai kaosnya yang terlempar ke lantai tadi. “Sudah, ayo keluar! Daripa

