Garis wajah Aswat menurun melihat balasan pesan dari Dewi. Bukan hanya firasat, tapi dia menebak kalau Dewi tidak begitu antusias kala dirinya akan interview. Aswat mengembuskan napas pelan, sudahlah tidak perlu berpikir macam-macam. Sekarang dia harus pergi interview ke perusahaan yang hari ini tiba-tiba menghubunginya. Aswat keluar dari kamar, melihat anak-anak sedang duduk tenang di ruang tengah. Ratih sedang menggambar sementara Fatih hanya menjadi penonton saja. "Anak-anak, Ayah pergi interview dulu, ya! Doain Ayah biar dapat kerjaan, supaya Ibu nggak perlu kerja lagi. Yang artinya bisa temani kalian lagi di rumah," jelas Aswat, merasa semangat melihat senyum dan wajah antusias anak-anak, terutama Ratih. "Benel, Yah?" tanyanya. Aswat mengangguk pelan, mengusap rambut bocah itu. "M

