Ayah Terhebat 18

1565 Words

Pusing semakin terasa di kepalanya. Aswat mengurut kepalanya pelan, berharap rasa pusing itu sedikit berkurang. Lalu menghela napas berat, ini sudah hampir dua minggu semenjak dia dipecat, tidak ada kemajuan sama sekali. Tabungan semakin terkuras sebab tiap hari pengeluaran pasti ada. “Mas, mau kopi?” tawar Dewi yang ada diambang pintu kamar. Ini hari libur, anak-anak akan bangun sedikit siang, apalagi Fatih yang hari ini tidak sekolah. “Boleh, Dew,” balas Aswat, tersenyum kecil. Dia berharap setelah menyesap kopi, pusing di kepalanya akan berkurang. Sementara Dewi sudah beranjak menuju dapur lagi. Aswat membuka ponselnya, masuk ke aplikasi email, melihat semua lamaran kerjanya yang tak kunjung dapat balasan dari sana. Aswat kembali menghela napas, sungguh ini di luar nalar. Aswat pi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD