Kemiripan

2782 Words
Putri pov “O-ooh... Jangaannn!!!” Teriakku sambil berlari ke dalam rumah Dewa untuk menghentikan apa yang akan di lakukannya. “Jangan Dewa, please... jangan, okey??” Ucapku sambil merebut cutter dari tangannya, dan segera kusembunyikan itu di belakang tubuhku. “Put, balikin...” “Jangan... Dewa, kamu tuh masih punya ha-“ Kalimatku tergantung saat sadar sepertinya keadaannya tak seperti yang kupikirkan sebelumnya. “Ha apa? balikin itu cutter, gue mau buka paket!” Ucapnya sambil mengangkat paket yang semula di taruhnya di bawah meja ruang tamu rumahnya ini. Aduh, pikiranku sudah yang negative saja tentang Dewa. Kupikir Dewa ingin berbuat macam-macam seperti yang di ceritakan oleh Mas Nakula semalam, soal dirinya yang sangat memungkinkan untuk melukai dirinya sendiri karena tekanan akan kembali menjalani perawatan cederanya di rumah sakit kemarin. “Ha... ha...” Aku berpikir keras jadinya, padahal sebelumnya inginku mengatakan kalau ia masih memiliki ‘ha-rapan’ dari pada harus melukai dirinya. Tapi tak mungkin kukatakan itu padanya, karena Dewa juga tak ada niatan untuk menyayat tubuhnya dan malah hanya ingin membuka paketnya menggunakan cutter itu. “Ha apa?” “Ha- hari lain... Iya! Hari lain, buat buka paketnya...” Akhirnya hanya itu yang terlintas di kepalaku dan yang bisa kuucapkan padanya. “Ish, usil banget sih, balikin gak, gue mau buka paketnyaa...” Balasnya terdengar kesal sambil berusaha merebut cutter yang kusembunyikan di belakang tubuhku. Namun dasar jahilku, seketika aku jadi tak ingin memberikan cutter yang ada di tanganku ini padanya begitu saja. “Balikin gak” “Ehmm... gak mauuu...” Kataku, ingin bermain-main dengannya. Rasanya ada kepuasan tersendiri saat melihat wajah kesalnya itu di pasang oleh Dewa yang sudah selalu membuatku ingin meledakkan isi kepalaku saat ia tengah mengajar di kampus. “Putri... cepet balikin, mumpung gue masih belum marah” “Oh... emang mau marah?? iiih seremmm” Balasku ngeyel atas ancamannya itu padaku, aku benar-benar bertingkah kekanak-kanakan dan menyebalkan sekali di hadapannya saat ini. “Put, aahh.... ini masih pagi, jadi jangan bikin gue emosi...” Dewa yang tak sabaran ingin mengambil kembali cutter itu, sampai membuat tubuhku jadi terkunci oleh tubuhnya yang berusaha meraih cutter miliknya yang kusembunyikan di punggungku. Deg Karena kaget aku yang jadi amat begitu dekat dengannya sekarang ini, aku sampai mengerutkan tubuhku dan menahan napasku agar tak sampai bersentuhan dengan tubuhnya. Meski sesungguhnya itu sangat percuma karena kini aku sudah erat berada dalam rengkuh tubuh Dewa. “Put...” Panggilnya dengan suara yang amat pelan, lembut, dan terdengar begitu berhati-hati. Dan itu benar-benar sangat langka sekali bisa terdengar oleh telingaku. “Ehm?” Aku sampai di buat mendongak untuk melihat wajahnya yang hanya berjarak beberapa inci saja dengan wajahku saat ini. “Itu...” Ucapnya, begitu pelan bersamaan dengan banyak napas yang keluar dari mulutnya itu. “Apa?” Dan.... . . Plakkkk “Aaa!! Sakit!! Kenapa kamu jitak jidat aku Dewaa??!!!” Protesku, kesal, marah juga padanya yang sudah dengan sangat tiba-tiba melayangkan tangannya di keningku dengan cukup keras barusan itu. “Nyamuk, nih liat... sampe berdarah...mau kena DBD?” Balasnya tanpa merasa bersalah sama sekali atas apa yang sudah di lakukannya padaku. “Ah, pelan-pelan kan bisaaa...” “Kalo pelan nyamuknya gak akan mati Put...” Hhh... padahal tadi aku sempat di buatnya bingung karena mendengar suaranya yang begitu lembut itu, eh ternyata... itu hanya agar nyamuk di keningku yang baru saja di bunuhnya dengan kejam itu tak terbang pergi begitu saja. “Dasar nyebelin...” “Lo yang nyebelin, balikin cutter gue...” “Biar aku aja yang buka...” Balasku menolak memberikan cutter di tanganku ini padanya. Entah kenapa rasanya aku tak ingin membiarkannya memegang cutter ini. Pikiranku masih buruk soal dirinya yang mungkin bisa saja hilang control sampai salah sayat dan malah melukai dirinya. “Gue juga bisa sendiri Putri...” “Awas, biar aku aja yang buka paketnya” Aku memilih untuk membandel padanya, dengan menggantikan dirinya untuk membuka paket miliknya dengan cutter di tanganku ini. Sretttt streeettt... Tak canggung ataupun ragu aku membuka paketnya yang ternyata berisikan sesuatu yang tak asing sekali bagiku. “Oh??” Aku sampai jadi ber-oh ria karenanya. “Apa? Kenapa?” Tanyanya nyolot sekali padaku, saat melihatku yang tengah sedikit terkejut saat tahu ternyata isi paketnya itu adalah s**u pisang Binggrae, yaitu produk s**u dari korea selatan yang sangat terkenal sekali itu. Dulu sekali aku selalu meminumnya karena terkena demam drama korea sampai aku sering memesan langsung dari negeri gingseng sana. “Ternyata selera kalian sama... dulu waktu pacaran Mas Nakula juga suka banget ambilin diem-diem terus sampe abisin stok s**u pisang ini dari aku, tapi... abis nikah, gak tau kenapa dia bilang udah gak suka lagi sama susunya” Ceritaku pada Dewa, “Kenapa dia gak suka? Padahal enak banget, gue aja nagih banget sama ini susu...” Ucapnya sambil menusuk satu kotak s**u dengan sedotan dan langsung saja ia meminumnya. Dan sungguh... caranya menikmati s**u pisang itu benar-benar mengingatkanku pada Mas Nakula saat aku dengannya berpacaran dulu. Bagaimana pipinya yang jadi di kempiskan, kemudian bibirnya yang di kerutkannya, ditambah lagi dengan tubuhnya yang sedikit di gerakannya ke kanan dan kekiri saat menyedot s**u pisang itu... ahhh benar-benar tampak seperti anak kecil yang menggemaskan sekali tingkahnya itu. Apa yang di lakukan keduanya benar-benar percis sekali. Aku sampai jadi terkehkeh melihatnya. “Mas Nakula bilang susunya kemanisan, kalo kamu sih... udah kecanduan banget kayanya, itu dua box di sana juga s**u pisang?” Tanyaku saat kulihat ternyata masih ada dua box lainnya dengan label yang sama dengan yang baru saja kubuka. “Ehmm... ambil satu sana, udah lama gak minum s**u ini kan” Ucapnya padaku dengan nada acuh tak acuh-nya itu. “Boleh emang?” Tanyaku memastikan, “Ambil sana... siapa tau Lo bisa pinteran dikit” “Ishhh, niat mau ngasih itu ya ngasih ajaaa, gak usah di tambahin sama omongan yang gak enak gitu bisa gak sih?” Ungkapku, padahal sebelumnya aku sudah senang sekali karena dirinya yang tumben-tumbennya mau berbaik hati, ingin memberiku s**u pisang yang lumayan kurindukan dan sudah lama tak kuminum itu. “Iya ambil aja satu kotak itu...” Balasnya “Eh, mau kemana?” Tanyanya padaku. Yang padahal tak perlu di tanya lagi juga, jawabnya sudah pasti kalau aku sekarang ini ingin pergi untuk mengambil satu box besar s**u pisang pemberiannya itu. “Ya mau ambil s**u pisangnya...” “Emang kuat?” Aku diam mendengar tanyanya itu, tak terpikir olehku soal aku yang akan kuat atau tidaknya mengangkat box berisiskan s**u-s**u pisang itu. “Ooh... gak tau coba aja dulu...” Jawabku seadanya “Hhhh...” Dewa kemudian menghela panjang napasnya, dan kulihat kini ia mengambil satu kotak s**u pisang lalu menusuknya dengan sedotan. “Nih, ini aja dulu kalo mau minum susunya, box s**u itu biar nanti gue yang anterin ke rumah Lo” Ucapnya sambil memberiku s**u yang tinggal kuminum itu. “Makasih...” “Apa? Gak denger... barusan bilang apa?” Sifat menyebalkannya mulai muncul kembali, padahal aku baru saja mengucapkan terimakasih itu dengan perasaan tulus yang jarang sekali ada untuknya. “Makasih Dewa...” Akhirnya meski kesal kuucapkan kembali terimakasihku untuknya itu dengan suara yang cukup lantang agar ia tak memintaku untuk mengulangnya kembali. “Makasih doang?” “Aiiiuuhhhh... Dewaaa, sumpah ya nyebelin banget sih jadi orang, ma-ka-sih! Makasih banyak! Terimakasih sekali! Puas??” Ucapku padanya dengan penuh penekanan. Dewa kemudian malah tertawa dengan puasnya melihatku yang jadi kesal karena sikapnya yang sangat menyebalkan itu. “Hahahahh... lucu banget sih Lo Put, ahahah” “Apanya yg lucu coba” Gerutuku, “Lo tuh kalo marah tuh lucuuuu banget...” Balasnya tiba-tiba, dengan nada yang di manis-maniskannya. Benar-benar dia itu aneh sekali, mungkin bakat terhebatnya adalah membuatku bingung dengan perubahan sikapnya itu. ‘Apa? lucu katanya? cih, dasar, pasti bilang gitu cuma biar gak aku aduin ke Mas Nakula’ Batinku, “Tau gak Lo lucu kaya apa?” Tanyanya padaku, aku sampai jadi di buat penasaran karenanya. “Kaya apa?” Tanyaku sedikit berharap akan mendengar sesuatu yang indah terucap dari mulutnya “Kaya Sule... hahahahahh...” Balasnya sambil tertawa terbahak-bahak setelah memberikan jawabnya itu. Wahhh... benar-benar menyebalkan sekali dia itu. Bisa-bisanya menyamakanku dengan pelawak begitu. “Ish Dewaaaa!!! Nyebelin nyebelin nyebeliiiinnn!!!” Marahku, sambil kupukuli dirinya karena sudah membuatku masuk ke dalam perangkapnya, yang kupikir tadinya ia benar-benar ingin memujiku tapi ternyata ia malah ingin mengejekku begitu. “Ahh, sakit! jangan pukul-pukul...” Dan tak kehabisan akal, Dewa kini berusaha untuk menghentikan tanganku yang terus memukulinya, dengan menangkap kedua tanganku. “Ih lepasin!” “Gak nanti gue babak belur lagi Lo pukulin” “Lepasin Dewaaa...” “Oh! Put... ehmmm...” Tiba-tiba saja ia malah terdiam, mendadak lekat menatap wajahku sambil mendekatkan dirinya padaku. “Apa? Kenapa?” “Ternyata... mata Lo bagus juga ya...” Ucapnya, aku sampai jadi bingung harus meresponnya seperti apa atas pujiannya yang amat tiba-tiba terlontar dari mulutnya itu. “Ish, apaan sih...” Ucapku sambil mengulum senyumku, berusaha untuk tak tersenyum senang dengan semudah itu karena ucapannya itu. “Iya bener deh, mata Lo bagus.... kaya...” Dewa terlihat menyipitkan matanya kini, mungkin ia sedang sedikit berpikir untuk mencari perumpaan yang tepat untuk mataku yang katanya indah itu. “Kaya... mata kaki gue hahahahhh...” Balasnya dan lagi-lagi aku dengan bodohnya tertipu karena ucapannya yang semula manis itu padahal hanya ingin kembali mengerjai diriku. “Dewaaaaa!!!!” . . Masih kesal dengan candaan yang di lakukan Dewa pagi tadi, bahkan suara tawanya yang begitu keras dan sialnya masih saja membandel di telingaku, terus berdengung-dengung hingga saat ini. “Ishh...” “Kenapa? Kamu kok... cemberut gitu? Kamu marah sama Mas?” Tanya Mas Nakula padaku, “Ahh... maaf Mas... tadi aku di bikin kesel sama Dewa, terus kebawa-bawa deh sampe sekarang...” Mas Nakula pasti terganggu sekali dengan tatapan tajam dan raut wajah marahku, yang padahal sesungguhnya kutujukan pada Dewa, tapi karena wajah mereka sama... jadilah Mas Nakula, suamiku yang tak salah apa-apa malah menerimanya. “Hhh... jadi kamu marahnya sama Dewa, ngambek-ngambeknya sama Mas gitu?” Tanya Mas Nakula dengan nadanya yang terdengar tak suka. Rasanya itu sudah pasti dan tak usah di tanya lagi kalau suamiku jadi bad mood sekarang ini, karena siapa yang akan terima jika malah harus mendapat marahku atas kesalahan yang tak pernah di lakukannya. “Ya... kan wajahnya sama, jadinya aja...” Balasku jujur padanya. Dan aku pikir mungkin itu adalah salah satu part tak enaknya saat harus memiliki wajah yang sama dengan kembarannya yang kebetulan memiliki sifat kebalikannya dari suamiku yang amat lembut dan penyayang ini. Aku tahu tak seharusnya aku seperti itu pada Mas Nakula. Dan rasanya aku harus melakukan sesuatu atau ia akan mendiamkanku karena moodnya yang sudah kubuat down weekend ini. Akhirnya kubawa bangun tubuhku dan berjalan menghampirinya, lalu kupeluk suamiku itu, berharap bisa meluruhkan sedikit kekesalannya atas sikapku tadi itu. “Maaf Mas...” “Manyunnya sama Dewa aja, jangan sama Mas... Mas gak suka liat istri Mas yang cantik ini malah pasang wajah cemberutnya depan Mas padahal keselnya sama Dewa...” Protesnya padaku, aku harus mengakui kesalahanku yang satu itu padanya. “Iya deh... gak lagi, janji...” “Cium dulu...” Dan tanpa menunggu lagi langsung kukecup pipinya sesuai pintanya itu. “Satu lagi...” Cup Kuturuti dirinya yang ingin menambah ciuman dariku, “Bibir Mas gak mau di kecup juga?” Tanyanya, sampai aku jadi tersenyum karenanya. “Sini...” Mas Nakula meraih pingganku sampai membuatku jadi duduk di atas pangkuannya. “Cium Mas...” Pintanya padaku, Tapi kali ini tak ingin kupenuhi pintanya itu begitu saja, bahkan kujawab dengan kugelengkan kepalaku padanya. “Engga ah, masih kebayang wajah Dewa di wajah Mas...” “APAA???” Mas Nakula sampai terkaget dan menaikan suaranya saat malah kujawab seperti itu atas pintanya untuk mendapat kecupan dariku itu. “Nakal kamu yaaa...” “Ahahahah... ahah... geli, geliii, ampun Mas...” Aku jadi mendapat gelitikan dari Mas Nakula karena telah jahil, mengerjainya. “Ayo cium Mas dulu...” “Ahahahah iya-iyaaa, aku cium tapi hahahh... udah dulu gelitikinnyaa...” Pintaku agar tangannya mau berhenti menggelitikiku saat ini. Cup “Udah...” Akhirnya kuberikan kecupan singkat di bibirnya. “Yang lamaa sayang...” “Mas banyak maunya ih...” “Biarin, sama kamu ini, ayo cium lagi yang lamaa...” “Ehhemmm....” Baru saja akan kudaratkan ciumanku untuk Mas Nakula, tapi tiba-tiba suara keras itu terdengar dari ambang pintu depan rumahku, dan tak perlu di tanya lagi siapa pemilik deheman yang memang selalu mengganggu saja kerjanya itu. “Dewa, Lo tuh munculnya lain waktu aja bisa gak sih?” Mas Nakula sampai protes seperti itu kepada adik kembarnya yang sangat tak di harapkan sekali kehadirannya saat ini. Tapi bukannya ia sadar kalau ia sudah dan sedang mengganggu momenku bersama suamiku sekarang ini, Dewa malah memutar kedua bola matanya lalu mendelik ke arahku dan Mas Nakula. ‘Apa-apan sekali dia itu...’ Batinku, bergerutu pada sikapnya yang sangat menyebalkan itu. “Bokap telpon, nanyain Lo, suruh Lo angkat telpon, penting katanya...” Mendengar itu Mas Nakula segera mengambil handphonenya dan memeriksa kebenaran yang baru saja di katakan oleh Dewa itu. “Oh, ada apa ya? bentar ya sayang, Mas telpon ayah dulu, takut penting soalnya...” Aku mengangguk dan Mas Nakula langsung saja berjalan ke ruang kerjanya untuk segera menghubungi kembali nomor yang sepertinya sudah beberapa kali miss called itu. “Huhh, pacaran mulu sih kerjanya, bikin gue jadi yang ikutan ribet kan” Dewa bergerutu demikian, padahal ia hanya harus sekedar berjalan beberapa langkah dan mengatakan kalimat pesan dari ayah itu. Dan rasanya tak akan sampai menguras banyak waktu ataupun tenanganya, tapi kenapa ia berkeluh seolah baru saja di mintai pergi ke pasar dan berdesak-desakan, atau berlarian berkilo-kilo meter jauhnya. "Ya, kan ini weekend, pacarannya juga sama istri sendiri, jadi gak papa dong, bebassss...” “Tch, istri sendiri” Dewa mengulangi ucapanku dengan nadanya yang terdengar tak suka dengan itu, ia bahkan terlihat membuang mukanya kini. “Ya, emang aku istrinya, jadi gak papa dong Mas Nakula manja-manjaan sama aku...” Balasku tak ingin aku kalah beradu mulut dengannya, setelah tadi aku sudah di buat K.O dengan kejahilannya yang benar-benar berhasil membuatku naik darah. “Shhhh... tapi Lo tau gak, cowok tuh lebih suka bermanja-manja sama cewek yang punya body hot, punya big boobs plus big booty kaya perawat-perawat sexy yang selalu ada nemenin Nakulua sepanjang hari di rumah sakit” Ucapnya, Hufftttt, dia ini benar-benar membuatku sampai jadi ingin melemparkan secangkir kopi yang sempat kubuatkan untuk Mas Nakula dan sedang ada di depanku saat ini. “Dewa, mending kamu pulang gih, kalo gak mau aku siram pake kopi ini” Kuberikan peringatan seperti itu padanya. “Dih ngambek, sereeemm... tapi itu fakta, gue cuma mau ingetin Lo, kalo cowok tuh kadang suka yang montok-montok bukan yang kurus kaya Lo...” “Ish, nyebelinnnn!!!” Bisa-bisanya dia berkata seperti itu padaku. Padahal belum lama ini ia baru saja memposting sebuah poster gerakan anti-body shaming di akun istagramnya. Tapi sekarang ia malah mengejekku, mengataiku kurus lalu membandingkan tubuhku ini dengan tubuh wanita yang katanya ‘montok-montok’ itu. ‘Harus sesabar apa lagi aku menghadapinya Tuhan...’ Batinku, Dewa benar-benar paling hebat menguras tenagaku dengan tingkahnnya yang mengkesalkan itu. “Hhhh... Gak papa aku ini istrinya, Mas Nakula cintanya sama aku bukan sama perawat-perawatnya yang sexy itu...” Balasku, mencoba mengobati diri sendiri meski rasanya sangat ingin marah dan ingin meledak sudah di katainya seperti itu. “Kalo dia sampe nyari yang lain gara-gara gak puas sama Lo-“ “Aww!!” Karena saking kesalnya, akhirnya kulemparkan saja sandal rumahku sampai tepat mengenai kepalanya. “Put! Lo tuh ya, seneng banget kayanya lemparin gue, sakit tau!” Marahnya padaku “Sakit kan?! Rasain!!” Balasku tak ingin aku peduli padanya, yang jelas aku sudah benar-benar marah sekali padanya. “Shhh...” “Hey hey hey!! Kalian ini.... di tinggal bentar aja, kayanya udah bisa bikin rumah kaya kapal pecah deh, ribuuuuttt terus kerjanya ckckk” Ucap Mas Nakula yang baru saja kembali setelah menyelesaikan panggilan telponnya dengan ayah. “Mas, Dewa tuh jahat banget!” Aduku pada Mas Nakula, sambil langsung meraih tangannya dan menyembunyikan diri padanya. “Dih, Si Putri tuh yang lempar-lempar gue pake sandal!” “Udah, ya ampun kalian ini... bisa akur bentar gak sih...” Mas Nakula jadi memarahiku dengan Dewa yang sepertinya memang tak akan pernah bisa akur. “Sayang, Mas pergi dulu ke rumah sakit ya” “Yaaahh, kok pergiii... ini kan weekend...” Sedikit kecewa aku mendengarnya, padahal seharusnya Mas Nakula bisa bersamaku seharian ini. Tapi ia malah masih saja harus pergi ke rumah sakit. “Nah loh, bener kan apa kata gue...” “Dewaaaa!!!” . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD