Duality of Dewa

1376 Words
“Dewa... ini gimanaaa?” Aku merengek-rengek padanya ingin meminta bantuan dari Dewa, tapi ia hanya terus saja diam sedari tadi. Tak menjawab tanyaku atau pun memberitahuku harus apa dan bagaimana dalam latihan ujianku saat ini. “Ya di kerjain Put, masa kamu mau nanya kaya gitu sama dosen pengawas nanti...” Balasnya, ia benar-benar tak membantu sekali sedari tadi. “Ih, kan sekarang cuma latihan, jadi kasih tau aku harus kaya-“ Dan belum juga kuselesaikan ucapanku, Dewa tiba-tiba berdiri dari duduknya lalu mendekat padaku dan berdiri tepat di belakangku. “Ma-mau apa...” Tanyaku gugup saat tangannya yang kini mulai melingkar pada tubuhku dan meraih tanganku. “Lah kok mau apa, katanya mau di ajarin...” “I-iya sih tapi... ini-“ Rasanya canggung dan tak nyaman sekali berada sangat dekat dengannya saat ini. Kemudian ia menuntunku untuk mulai mengarahkan needle holder dan pinset anatomi di tanganku pada silicon pads yang biasa menjadi alat model pelatihan hacting atau penjahitan luka. “Sekarang... Lo sebutin tata cara menjahit luka” Ucapnya sambil terus mengarahkan tanganku untuk melakukan teknik single layer yang bisa di lakukan pada penutupan luka yang superfisial. “Apa?” Aku menoleh padanya yang kini sedang mengunci tubuhku, bahkan hanya dengan otot kekar lengannya wajaku kembali di buatnya mengarah ke depan. “Jawab aja cepet...” Perintahnya, seketika aku langsung dibuatnya mengingat materi yang membahas tentang penutupan luka pasien itu. “Ehm... Pertama, alat dan tempat alat steril, kedua... operator bedah steril, ketiga bersihkan luka dan sekitar luka dengan desinfectan, keempat, duk atau kain penutup luka steril... kelima... Ehm...” Aku tak bisa mengingat poin kelima dari tata cara estetik suturing itu, “Ehm...itu-“ “Anestesi blok...” Dewa akhirnya memberiku clue atas atas poin yang sempat kulupakan itu. “Ah iyaa, anestesi blok atau infiltrasi kurang lebih 1 cm dari luka, dan yang terakhir jahit dengan metode yang cocok...” Jawabku dengan riangnya, akhirnya bisa menjawab kuis dadakan yang baru saja Dewa ajukan padaku. “Sekarang sebutin syarat jahitan yang benar...” “Ehmm... jarak jahitannya teratur, jarak dari pinggir luka teratur, melintasi luka sudut 90 derajat, tidak terlalu erat, terus.... ehmm tidak tumpang tindih, terakhir ujung atau pangkal jahitannya tidak boleh melipat...” Aku kembali menoleh dengan senyum di wajahku, bangga bisa menjawab pertanyaan Dewa dengan lancarnya. Dan yang tak pernah kusangka, Dewa tersenyum padaku saat ini, dalam jarak yang amat begitu dekat sekali detik ini. “Good... hal penting yang harus diperhatiin itu penutupan yang bener pada tepi luka, jangan sempe terlalu kenceng, gak ada tunneling atau undermining, terus pastiin hemostatisnya bener...” Ingat Dewa padaku, kutempelkan baik-baik catatan darinya itu. “Nah... sekarang kerjain ini jahitan interrupted suture (jahitan terputus, yang terdiri atas jahitan simple interrupted dan jahitan matras horizontal dan vertical), terus jahitan kontinu, sama yang jahitan intradermal... SEN-DI-RI!” “Yahh... kok sendiri???” Haranku padahal tangannya itu sudah memegangi tanganku siap untuk menuntunku untuk latihan macam-macam jahitan luka itu. “Sendiri lah... gue laper mau beli siomay... bye” Ucapnya sambil langsung pergi kabur melarikan diri begitu saja. “Dewaaa!!!” “Ish dasar nyebelinnn...” . . . “Hhhh... Mas Nakula mana yaa... kok belum pulang...” Kulirikan selalu mataku pada jam dinding yang terus berjalan sedari pukul 5 sore tadi hingga kini sudah menunjukan pukul sembilan malam. Tak tenang aku di buatnya, meski buku yang kini berada di depan mataku, namun pandanganku seolah tak ingin focus pada apa yang tertulis di sana, terus mencari seseorang yang saat ini masih belum terlihat sosoknya. Kulihat kembali handphoneku, masih belum ada balas dari Mas Nakula. “Mungkin dia lagi ada pertemuan, atau oprasi mendadak kali ya...” Inginku bisa bersikap biasa-biasa saja dan mencoba tenang sekarang, tapi sayangnya sudah susah, kepalang resah. Sampai akhirnya kututup materi untuk ujian blokku, kusimpan juga beberapa rangkuman yang sudah kubuat, terkahir kurapihkan meja belajarku. Setelah itu aku bangun dan memilih berjalan saja ke luar untuk menunggu Mas Nakula pulang di teras depan. “Ehmm...” Padahal malam ini lumayan dingin dan Mas Nakula masih belum sampai rumah juga. Aku jadi semakin khawatir, apa dia sudah makan atau belum, memakai jaketnya atau tidak, ia sempat beristirahat atau tidak, kelelahan atau tidak, sedang melakukan apa sekarang, pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalaku. “Put, Woy! Ngapain Lo di situ???” Dewa meneriakiku seperti itu dari depan rumahnya. Dia itu tak bisa lebih sopan apa padaku, pikirku dalam hati. “Kepo!” Balasku sambil mendelik padanya, masih kesal juga aku padanya yang langsung kabur begitu saja tadi saat mengajariku. “Ahh, gue tau, nungguin Nakula yaaa... suami Lo lagi godain dokter-dokter residen yang cantik-cantik deh kayanya...” “DEWAAAA!!!” Kuteriaki saja dirinya, tak peduli lagi dengan tetangga yang mungkin saja akan terganggu dengan suaraku yang cukup keras baru saja itu. “Sutttt berisik!” “Ya lagian, bisa-bisanya kamu ngomong kaya gitu sama kakak kamu sendiri...” Balasku padanya “Ya kan mungkin aja, apa lagi perawat-perawat di rumah sakitnya itu cantik-cantik banget lagi...” Sikapnya itu benar-benar sudah kelewatan sekali. Aku jadi geram karenanya. “Ish, nyebelinnn!!” Karena saking kesalnya kulepas saja sandalku, dan kulemparkan itu ke arahnya. Plakkkk “Aa!” Dewa memekik “Yessss!!” Sandalku berhasil mengenainya, dan tepat mendarat di kepalanya. “Putri!!! Lo- sini Lo!!” Aku langsung mengambil langkah lariku karena Dewa yang sepertinya berniat ingin menangkapku, untuk membalas apa yang baru saja kulakukan padanya. “Putriiii...” “Aaaaa....” Aku berteriak sambil berlari, ingin menjauh dari dirinya yang saat ini mulai mengejarku. “Put!! Awass...” . . Untuk beberapa saat aku merasa seperti kehilangan pandanganku, jelas gelap karena mataku jadi kupejamkan saat tubuhku yang mendadak kehilangan keseimbangan dan sudah hampir jatuh tersungkur ke jalanan. Tapi.... “Hhhh...” Kurasakan tangan kekar nan kokoh kini tengah menahan pinggang juga punggungku. Sampai aku tak jadi jatuh. “Put, Lo gak papa kan?” Mendengar tanya itu, perlahan kubuka kedua mataku, dan kudapati wajah yang kini tengah menatapku dengan raut khawatirnya. Rasanya aku tak asing dengan wajah itu. Aku tahu memang tak seharusnya aku asing karena itu adalah wajah yang sama yang selalu ada mengisi hari-hariku selama ini. Tapi aku menemukan sesuatu yang lain dari apa yang kini nampak begitu jelas di depan mataku. Memori. Ya, memoriku dua tahun lalu, saat aku yang juga hampir terjatuh dan tengah di tangkap oleh tangan dari pemilik wajah yang saat ini sedang menahan berat tubuhku, menyelamatkanku hingga aku tak jadi terjatuh. “Mas Na...” Panggilku dalam hati, Aku tertunduk, aku tahu aku telah salah mengenali Dewa. Tapi entah kenapa mereka bisa begitu sama sekarang ini, ini benar-benar seperti de javu. Tapi sungguh sulit untuk kupungkiri, orang dua tahun lalu dengan yang saat ini menyelamatkanku itu benar-benar terasa begitu sama. “Ehmm Dewa... bantuin aku berdiri” Pintaku pada Dewa, “Oh- okey...” Dewa langsung membantuku agar bisa berdiri dengan seimbang lagi. Ia masih menampakan raut wajahnya yang sepertinya tak tenang dengan apa yang baru saja terjadi padaku. “Lo gak papa, kaki Lo kesandung...” Ia tiba-tiba langsung saja menurunkan tubuhnya, berlutut kini di hadapanku, tengah memeriksa pergelangan kakiku. “Akh!” “Sakit?” Aku mengangguk, rasanya sakit sekali saat tangan Dewa menekan bagian pergelangan kaki kananku itu. “Hhh, kayanya ini kekilir...” “Lo, sini naik punggung gue...” Dewa tiba-tiba berjongkok di depanku, dan memberikan punggungnya untuk kunaiki. ‘Tuhan... ada apa degannya? Kenapa dia tiba-tiba sampai seperti ini padaku, bahkan setelah aku yang tadi sempat melemparinya dengan sandal, aku juga tak sampai berdarah... tapi kenapa...’ “Engga deh, aku masih bisa jalan kok- ahh...” Tolakku, namun kini aku berdiri saja sudah sulit untuk tetap seimbang. “Ishhh, udah kekilir aja masih bandel aja, udah naik...” Dewa memaksa, tapi aku masih hanya terdiam, bingung dengan perubahan sikapnya yang mendadak seperti sangat peduli sekali padaku. “Put...” Dewa akhirnya berdiri karena aku yang tak kunjung naik ke atas punggungnya itu. “Shhh, dasar nakal...” Dan tiba-tiba Dewa mengangkat tubuhku dan memangku tubuhku kini. “Aaaa... Dewa terunin akuuu” “Udah nurut aja, kalo kaki Lo kenapa-kenapa gimana coba...” “Tapi-“ “Suttt udah, susah banget sih di kasih tau... nakal” Ucapnya sambil membawa tubuhku melangkah berjalan masuk ke dalam rumahku. . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD