“Ratuuu ....” semua orang memburu Roro ketika dia membuka pintu kamar. Sampai hampir saja Roro terjungkal kalau saja tidak ada patih Tarata yang menghadangnya di belakang. “Apa kalian ingin membunuh Tuan kalian! Atau kalian hanya ingin melihat dia terkapar mati!” Suara patih Tarat membuat seluruh dayang mundur dan berlutut di depan Roro sang Ratu. “Maafkan kami ... kami tidak bermaksud demikian, kami melakukan itu karena kami merasa bahagia ternyata yang Mulia tidak apa-apa. Padahal pikiran bukur terus menghantui kami, sampai kami meminta patih melihat keadaan yang Mulai Ratu.” “Kami juga meminta maaf pada sang Patih, karena kami, Anda jadi terlambat untuk datang ke acara rapat para petinggi pasukan perang.” Ucap seorang dayang yang langsung membuat Roro terkejut dan melotot sambil mena

