Jika dengan diam membuatmu merasa lebih baik, tak apa. Lakukan saja.
***
"Ra, Safira. Tunggu!" Azka turun dari mobil, ia mengejar Safira yang berjalan cepat meninggalkannya.
"Sayang." Azka berhasil menahan langkah Safira dengan mencekal pergelangan perempuan itu.
"Lepas!" Safira mengentak kasar tangannya, tetapi Azka bergeming dengan mengeratkan genggamannya. Ia tidak akan membiarkan Safira lolos darinya.
"Kita pulang, aku jelasin di rumah," ujar Azka.
Safira menghapus air matanya dengan satu tangan yang terbebas dari Azka. "Siapa juga yang mau pulang sama kamu."
"Sayang."
"Sayang, sayang, sayang. Apasih!" Nada suara Safira meninggi, untuk pertama kalinya ia membentak Azka.
Azka menghela napas. "Maafin aku, serius aku enggak ada maksud apa-apa ngomong kayak gitu sama Zahra."
"Enggak ada maksud apa-apa?" Safira terkekeh kecil. "Kalau enggak ada maksud apa-apa, ngapain kamu ngomong?"
Azka diam sejenak mencari kalimat yang pas untuk diucapkan.
"Kenapa diam?" Safira mendorong pelan d**a Azka. "Aku udah feeling tau enggak kalau kamu tuh pernah suka sama Zahra. Dan ternyata feeling aku itu benar, bahkan sampai sekarang kamu masih suka sama dia. Nyatain cinta lagi." Safira menekan tiga kata terakhir yang ia ucapkan. "Kamu sama dia temenan dari kecil, sering sama-sama. Paling enggak kamu nyimpen sedikit aja perasaan buat dia, enggak mungkin enggak."
"Maaf." Azka melirih.
"Maaf kamu enggak guna!" Dengan paksa Safira melepas genggaman Azka, ia berlalu pergi tetapi Azka tetap mengejar istrinya itu. Azka tidak menyangka kalau Safira akan semarah ini padanya, bahkan sikap lemah lembut yang melekat pada diri Safira seakan sirna begitu saja.
"Kamu mau kemana?" Lagi-lagi Azka berhasil menahan langkah Safira. "Kita pulang yuk, aku takut kamu kenapa-kenapa."
"Aku enggak mau pulang sama kamu! Ngerti enggak sih?"
"Yaudah kalau gitu aku pesanin taxi kalau kamu enggak mau bareng aku." Azka mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Aku enggak mau pulang ke rumah kamu."
"Terus kamu mau kemana?" Azka menyimpan kembali ponselnya, ia menatap Safira.
"Ke rumah mama."
"Ini masalah kita, jangan sampai mama tau. Kita selesain berdua."
"Aku cuma pengen ketemu mama, aku enggak akan ngadu kok! Lagi pula aku malu kalau harus cerita ke mama tentang suami aku yang menyatakan cinta sama perempuan lain, istri orang lagi."
Ucapan Safira tajam bagaikan pedang yang menghujam jantung Azka, bahkan lelaki tidak menyangka kalau Safira akan mengucapkan kalimat seperti itu.
"Aku pengen sendiri dulu."
"Oke, oke. Tapi aku yang antar kamu. Kalau kamu sendirian pasti mama curiga." Azka memberikan tatapan memohon.
Safira mengangguk kecil. Azka membiarkan Safira masuk ke mobil lebih dulu, mungkin ia memang harus memberi Safira waktu untuk menenangkan diri. Sedari awal ini memang salah Azka, ia seperti menghadirkan masalah yang dibuatnya sendiri.
***
Ali duduk di ruang keluarga dengan televisi yang menampilkan acara komedi. Seharusnya lelaki itu tertawa jika ada adegan yang lucu tapi nyatanya Ali hanya diam dengan pandangan kosong. Ia bisa menerima perihal Zahra yang belum mencintainya. Wajar saja itu semua perlu waktu. Tapi dari kemarin setelah kepulangannya dari lombok, Ali berusaha keras untuk bersikap biasa saja setelah mengetahui semua isi diary Zahra. Di mana fakta teruangkap bahwa Zahra memendam rasa cinta pada lelaki lain.
Selalu ada ruang yang tersisa di hatiku untukmu, Azka.
Kalimat itu ada di halaman terakhir dalam diary milik Zahra. Tanggal yang tertera di sana bertepatan dengan hari di mana Reyandra melamarnya untuk Ali. Itu artinya Azka masih memiliki tempat yang spesial di hati perempuan itu.
Lalu hari ini lelaki yang telah memiliki hati istrinya itu ternyata juga merasakan peraasaan yang sama. Bukan hanya Safira yang mendengar pembicaraan itu, tetapi Ali juga. Hanya saja lelaki itu bertahan pada kepura-puraan. Seharusnya tidak terlalu menjadi masalah karena bagaimanapun keadaanya Ali telah memiliki Zahra begitu juga dengan Safira yang telah menjadi milik Azka.
Tapi rasanya sungguh menyakitkan ketika kita bisa bersama raga orang yang dicinta tetapi hatinya tidak hadir untuk kita. Sadisnya malah berkelana ke tempat lain.
Dari tangga teratas, Zahra menatap Ali dengan tangis yang masih belum reda. Sudah berkali-kali Zahra mencoba mengajak Ali bicara tetapi lelaki itu bertahan dalam kebisuan yang nyata. Keberadaan Zahra diabaikan. Sekarang penyesalan itu hadir begitu saja, rasa bersalah memeluk erat diri Zahra. Kenapa juga ia masih membawa buku diary itu bersamanya? Kenapa juga Azka malah menggungkap isi hatinya padahal semuanya sudah tidak memiliki arti apa-apa.
Dengan langkah pelan Zahra menghampiri Ali, duduk di samping sang suami. Tetapi kehadiran Zahra masih tak membawa pengaruh apa-apa untuk Ali. Lelaki itu bergeming tak menoleh sedikitpun.
"Maaf." Entah sudah berapa kali kata itu Zahra ucapkan. Ia meraih tangan Ali, menggenggamnya. Lelaki itu tidak memberi penolakan tetapi ia masih bertahan dalam diam.
Isakan tangis Zahra kembali terdengar saat Ali beranjak seraya melepas genggaman tangannya.
Zahra ikut berdiri. Ia menahan pergelangan tangan Ali. "Kamu boleh marah sama aku, Lebih baik kamu marah. Terserah mau maki aku, mau pukul aku juga enggak apa-apa. Tapi aku mohon jangan diemin aku kayak gini!"
Kali ini Ali bereaksi, ia menatap Zahra. "Aku cape, mau istirahat," ujarnya lantas berlalu begitu saja meninggalkan Zahra.
Zahra hanya bisa menatap punggung Ali yang menjauh, ia menghempaskan diri ke sofa. Menangis tersedu-sedu sendirian sampai akhirnya ia tertidur dengan mata yang sembab.
Ali berusaha keras mempertahankan egonya, hatinya masih menolak Zahra. Ia kecewa.
Ali menatap jam dinding, sudah satu jam ia meninggalkan Zahra tetapi perempuan itu tidak menyusul juga. Merasa khawatir Ali memutuskan untuk turun ke bawah. Ia tersenyum kecil saat mendapati Zahra tertidur.
Bagaimanapun juga Ali tidak tega, ia mengangkat tubuh Zahra. Walaupun sudah hati-hati tetap saja pergerakan Ali membuat Zahra terbangun.
"Kamu udah maafin aku?" tanya Zahra, ia mengalungkan tangannya ke leher Ali.
"Aku enggak marah."
Zahra tersenyum, tetapi senyuman itu hanya bertahan sebentar karena Ali melanjutkan ucapannya.
"Tapi kecewa."
Rasa kecewa membuat Zahra lebih merasa sakit. Kecewa lebih menyeramkan dari marah.
Zahra menunduk. "Maaf," lirihnya.
Sesampainya di kamar, Ali membaringkan Zahra di kasur. Ia tidak berkata apa-apa hanya tanganya yang bergerak menyelimuti Zahra sebatas d**a.
"Kamu mau kemana?" tanya Zahra ketika Ali membalik badan menghadap pintu.
"Keluar sebentar."
"Mau ngapain?"
"Cari udar segar."
"Jangan." Zahra merengek. "Aku takut sendirian."
Ali menghela napas ia urungkan niat untuk pergi. Lelaki itu ikut berbaring di samping Zahra, memejamkan mata berharap bisa tidur secepatnya.
Zahra menatap lekat wajah damai Ali, kelopak yang dihiasi bulu mata lentik itu memejam dengan sempurna. "Aku minta maaf," bisik Zahra, ia tau Ali belum tidur.
"Berhenti minta maaf, yang perlu kamu lakukan cuma satu hal. Belajar mencintai aku, kalaupun belum bisa benar-benar mencintai, berpura-pura juga enggak apa-apa. Setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali." Ali berucap dengan mata yang terpejam. Ia enggan menatap Zahra, karena ia tau di mata perempuan itu belum ada binar cinta untuknya.