Bab 19

1010 Words
Cinta datang terlambat Atau mungkin sudah cinta tapi terlambat menyadari. Dua-duanya punya resiko.  *** Weekend kali ini rumah Ali cukup ramai karena kedatangan Azka dan Safira, pasangan suami istri itu diundang oleh Zahra untuk berkumpul. Sekedar mengisi waktu dengan acara berbeque kecil-kecilan. Zahra dan Safira asyik berbincang di sela-sela aktivitas mereka membuat saus, sementara Azka dan Ali bertugas memanggang sosis dan danging. Dua lelaki itu tampak cekatan, benar-benar idaman.  "Sayang, kamu istirahat aja. Biar Zahra yang buat sausnya," ujar Azka seraya menatap Safira.  "Kenapa emangnya?" tanya Zahra.  "Aku takut dia kecapean, lagi isi soalnya," jawab Azka ambigu.  "Isi apa?" Zahra bertanya bingung, Safira tersenyum.  "Isi bayi, iya enggak sih?" Ali ikut berbicara setelah sedari tadi memilih diam saja.  Mata Zahra melebar. "Serius? Kamu hamil Ra?"  Safira mengangguk. "Alhamdulillah, udah empat minggu usia kandungan aku." Senyuman Zahra mengambang, ia memeluk Safira dengan erat. "Selamat."  "Makasih Ra." Safira tersenyum saat Zahra mengurai pelukan.  "Duh, sehat-sehat ya di dalam." Zahra mengelus lembut perut Safira yang masih rata.  "Antusias banget istri anda." Azka terkekeh, ia menepuk pelan pundak Ali.  Ali tertawa kecil. "Temennya aja yang hamil udah senang banget, gimana kalau dia, ya?"  "Jingkrak-jingkrak mungkin." Azka ikut tertawa, ia memperhatikan Zahra yang tampak malu.  "Apasih! Bakar lagi sana sosisnya!" Zahra mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin menjadi korban yang akan digoda oleh dua lelaki itu.  "Semoga Allah cepat menitipkan amanah-Nya untuk kamu, Ra. Biar nanti umur anak kita enggak beda jauh. Bisa temenan kayak orang tuanya." "Amin." Zahra mengamini ucapan Safira, ia melirik Ali dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah dari tatapan itu.  Ali mengerti perihal maksud dari tatapan yang Zahra berikan, ucapan Safira seakan menampar halus istrinya itu.  "Yuk lanjut lagi," ajak Azka. Ali mengangguk, ia dan Azka kembali berkutat dengan tugas mereka. Sementara Safira pamit ke toilet.  Zahra sibuk dengen pikirannya sendiri.  Perihal dirinya yang belum bisa memberikan apa yang seharusnya  menjadi milik Ali.  Zahra tersentak ketika Ali menyentuh pundaknya. "Ah iya, kenapa?" Perempuan itu mengerjap beberapa kali.  "Aku ke kamar dulu. Barusan Papa telepon, dia mau minta bantuan aku buat cek data soal perusahaan yang udah dia kirim ke aku," ujar Ali.  Zahra mengangguk. "Iya," ujarnya. Bahkan Zahra tidak menyadari kalau Ali sempat menerima telepon, perempuan itu melamun.  Sekarang hanya ada Azka dan Zahra. "Ra." panggil Azka, lelaki itu memusatkan diri pada Zahra. Rehat sejenak dari kegiatan memanggang yang sejak tadi ia lakukan.  "Hmm." Zahra hanya mengguman.  "Kamu percaya enggak sih kalau cinta itu bisa datang terlambat bahkan diwaktu  yang enggak tepat? Kening Zahra berkerut. "Percaya aja ih, orang aku pernah buat novel dengan cerita kayak gitu. Kenapa emangnya?" Azka terkekeh kecil. "Aku lagi ngerasain, aneh sih sebenarnya tapi ya enggak tau juga kenapa perasaan ini baru muncul sekarang." "Maksudnya? Jangan setengah-setengah gitu kalau ngomong." Zahra penasaran dengan maksud ucapan Azka, tidak ada angin tidak ada hujan lelaki itu membahas soal cinta.  "Aku cinta sama kamu." Zahra mematung mendengar ucapan Azka, ia tidak salah dengar 'kan? Lelaki itu mengucap kata yang dulu sangat Zahra nantikan. Mengapa Azka baru mengatakannya sekarang? Saat ia sudah menjadi milik orang lain dan Azka juga sudah menjadi milik orang lain, empat kata yang Azka ucapkan membuat ingatan Zahra terseret pada saat lelaki itu mengatakan bahwa ia akan melamar Safira, di mana ia menangis kala mengetahui bahwa lelaki yang dicintainya mencintai sahabatnya sendiri, kini kata cinta itu sudah tidak ada gunanya, semuanya sudah terlambat. Seharusnya Azka tidak mengucapkan kalimat itu.  Azka tertawa melihat reaksi Zahra, ia sudah menduga kalau perempuan itu akan kaget. "Biasa aja, Ra. Mukanya enggak usah tegang gitu." Mulut Zahra masih bungkam, ia tidak tau harus apa. Bisa-bisanya Azka bersikap sesantai itu seolah-olah apa yang ia katakan tidak berarti apa-apa. "Emang seharusnya aku enggak ngomong gini, enggak guna. Tapi entah kenapa aku cuma pengen kamu tau. Aku enggak ada maksud apa-apa." Azka melanjutkan ucapannya.  "Apapun alasanya, seharusnya kamu enggak usah ngomong." Akhirnya Zahra sanggup berbicara.  "Kamu tau sendiri 'kan kalau aku paling enggak kuat soal memendam?"  Zahra tau betul akan hal itu. Jika Zahra lihai dalam memendam, maka Azka sebaliknya.  "Apa yang kamu rasain itu bukan apa-apa, Ka. Jangan berpikir kalau itu cinta."  Azka tersenyum tipis. Ia mengangguk mengiyakan ucapan Zahra.  "Itu kenapa Safira pulang? Sambil nangis?" Ali tiba-tiba datang dengan raut  kebingungan. Ia sempat berpapasan dengan Safira.  Azka mengacak rambutnya. "Pasti dia dengar semuanya, aku pamit ya." Azka berlalu begitu saja setelah mengucapkan kalimat itu.  Zahra panik, apa yang terjadi jika Safira benar-benar mendengar pembicaraannya dengan Azka tadi? Ini semua salah Azka, kenapa juga lelaki itu mengucapkan kalimat yang sudah tidak ada gunanya. Bahkan kalimat itu mendatangkan masalah yang tidak seharusnya ada.  "Kenapa sih?" tanya Ali. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.  Zahra menggeleng. "Enggak ada apa-apa kok." Ali mengedikkan bahu. "Terus ini acaranya gimana?"  "Enggak tau, aku mau ke kamar." Zahra kacau, ia meninggalkan Ali yang masih berdiam diri.  Sesampainya di kamar Zahra sibuk mencari buku diary, seingatnya buku itu sudah ia bawa ke rumah ini.  "Mana sih bukunya?" Zahra semakin pusing saja, diary itu ingin Zahra buang kalau berhasil ditemukan. Hampir keseluruhan isi di buku itu curhatan hati Zahra perihal perasaan yang ia punya terhadap Azka. Bahaya kalau sampai Ali melihatnya. Bisa-bisa masalah baru hadir lagi. Itu jangan sampai terjadi.  "Cari apa?" Ali bersandar di dinding samping pintu.  "Cari buku punya aku yang sampulnya warna ungu, kamu liat?"  Ali tak menjawab, ia mengambil sesuatu di dalam koper yang kemarin ia bawa ke lombok.  Rasanya jantung Zahra merosot ketika apa yang ia cari malah berada dalam genggaman Ali. Bagaimana bisa?  "Ini?"  Zahra mengangguk kaku. Dengan tangan bergetar ia mengambil buku itu dari tangan Ali.  "Kenapa bisa ada sama kamu?" Zahra bertanya gugup.  "Bukunya jatuh di depan pintu, jadi aku ambil. Maaf karena aku udah lancang baca diary kamu, bahkan diary itu aku bawa ke lombok kemarin," jelas Ali.  "Ka-mu baca se-muanya?" Ali mengangguk. "Satu katapun enggak ada yang terlewat." Tatapan Ali berubah sendu, tatapan meneduhkan milik lelaki itu sirna begitu saja. "Jadi..." Zahra tidak sanggup melanjutkan ucapannya, dengan mata berkaca-kaca perempuan itu menatap Ali.  "Aku tau semuanya." Tangis Zahra tak terbendung lagi, rasa bersalah memeluk dirinya begitu saja. "Maaf."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD