Ingatan mudah lupa
Semakin menua segala kenangan begitu mudah terkikis masa
Maka dari itu aku ingin menulis tentang kita
Menjadikannya abadi bersama semesta
Dalam bentuk sebuah buku yang bebas dibaca oleh siapa saja
Sederhana, tetapi hal itu akan terkenang sepanjang masa
Tetap ada walau sang penulis sudah tiada.
***
Zahra merasa kesepian karena sendirian. Satpam yang berjaga di rumahnya tidak menyenangkan untuk diajak berbincang, jadi Zahra memutuskan untuk tenggelam dalam pekerjaannya. Mengkhayal.
Naskahnya beberapa waktu lalu sudah selesai di garap, sekarang Zahra mulai menulis kisah yang baru. Alur cerita yang terinspirasi dari kisahnya dan Ali. Ia ingin menjadikan kisah itu sebagai sebuah kenangan yang nantinya akan berwujud dalam bentuk buku. Mainstream memang tetapi Zahra mencoba mengemasnya agar terlihat berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri.
Sudah satu jam Zahra berkutat di depan laptop, terhitung saat perempuan itu selesai mengerjakan salat isya. Bahkan ia belum sempat makan, lebih tepatnya malas makan. Terkadang Zahra memang seperti itu.
Zahra mengalihkan fokus dari laptop pada ponsel yang tergeletak di sampingnya.
Kira-kira sampai rumah jam berapa? ✅
Pesan yang Zahra kirim kepada Ali sehabis magrib tadi masih canteng satu. Merasa belum mendapat tanda akan dibalasnya pesan itu Zahra kembali fokus pada laptop.
***
Pukul sepuluh malam, Ali baru tiba di rumah. Setelah dari bandara ia ada urusan sebentar dengan temannya. Maka dari itu Ali pulang terlambat. Ponselnya habis baterai, jadi ia tidak sempat mengabari Zahra.
Ali tidak memanggil Zahra, ia takut istrinya itu sudah tidur. Dugaan Ali benar adanya saat lelaki itu memasuki kamar, Zahra sudah terlelap dengan kepala bertumpu pada meja, laptop dihadapnnya masih terbuka.
Ali menggeleng pelan, ia meletakkan koper lalu mendekati Zahra.
Dalam setiap lembaran buku ini
Ada kamu dan kita di dalamnya.
Aku ingin mengabadikan kisah kita, agar bisa dibaca oleh siapa saja.
Ali tersenyum kecil ketika membaca deretan kalimat yang terpampang di layar laptop, ternyata istrinya itu tertidur saat sibuk mengetik.
Ali mematikan laptop, setelah itu perhatiannya tertuju pada Zahra. "Cantik banget sih lagi tidur begini," ujar Ali pelan, jemarinya bergerak menyingkirkan helaian rambut Zahra yang menutup sebagian wajah perempuan itu.
Dengan hati-hati Ali memindahkan Zahra ke tempat tidur. Ia mengecup kening Zahra sebelum menyelimuti perempuan itu.
Zahra menggeliat kecil. Matanya mengerjap. "Udah pulang?" Ia bertanya dengan suara serak.
Ali duduk di tepi kasur, dielusnya pipi Zahra dengan lembut. "Tidur lagi aja."
Zahra menggeleng pelan, matanya terbuka dengan sempurna. "Kamu perlu apa? Biar aku siapin."
"Aku enggak perlu apa-apa. Kamu tidur lagi aja."
"Aku laper." Zahra merengek, bibirnya mengerucut.
"Baru jam sepuluh masa udah laper? Kamu belum makan?"
"Belum," ujar Zahra seraya menggeleng.
"Kenapa belum makan?"
"Malas." Zahra tersenyum kikuk, Ali menghela napas.
"Mau makan di luar atau masak aja?" Ali memberikan penawaran.
"Makan di luar boleh?"
"Boleh kok." Ali mengangguk setuju.
"Emang kamu enggak cape?"
"Capek sih sedikit."
"Kalau gitu enggak usah makan di luar."
"Makan di luar, abis makan pijitin aku, gimana?"
"Boleh," jawab Zahra. "Kalau gitu aku pakai jilbab dulu." Zahra beranjak, ia mengenakan jilbab instan berwarna hitam. "Kita makan nasi goreng pinggir jalan aja, ya."
"Iya Prillyasa Az-Zahra yang bawel," ujar Ali seraya mencubit gemas pipi Zahra.
"Ish kok bawel sih? Enggak ya!"
Ali menghela napas. "Iya, enggak bawel kok." Ali meraih tangan Zahra, mereka keluar dari rumah.
"Naik motor yuk," ajak Zahra.
"Nanti kamu kedinginan." Ali memberi penolakan.
"Aku 'kan udah palai jaket." Zahra memperhatikan jaket yang melekat di tubuhnya.
Lagi-lagi Ali menuruti kemauan Zahra, tidak ada salahnya demi membuat senang perempuan itu. Akhirnya Ali menyetujui, motor matic berwarna merah sudah siap melaju ketika Zahra duduk diboncengan dengan semangat.
"Mau beli nasgor di mana?" tanya Ali, motornya sudah melaju keluar dari g**g perumahan.
"Dekat rumah aku, di sana enak banget nasgornya. Masih buka juga jam segini."
Ali mengiyakan saja. Ia menarik tangan Zahra agar memeluk pinggangnya. "Peluk dong," pintanya.
Zahra memutar bola mata tapi ia menurut juga. Melingkarkan tangannya ke pinggang Ali dengan kepala yang bersandar di punggung lelaki itu.
"Ra, gerimis."
Tangan Zahra terangkat ke udara ketika mendengar ucapan Ali. "Iya, tapi cuma dikit kok."
Ali terkekeh. "Namanya juga gerimis ya sedikit lah, kalau banyak itu namanya hujan deras."
"Ah iya kamu bener." Zahra tertawa kecil. "Terus gimana? Mau neduh atau lanjut aja? Bentar lagi sampai sih."
"Lanjut aja. Pegangan yang genceng, aku ngebut nih."
"Jangan terlalu ngebut ya." Zahra memperingati, pegangannya semakin erat. Sepanjang perjalanan Zahra mengatup mulutnya rapat-rapat ia tak berani berucap. Laju motor Ali rasanya menyeramkan, segala macam halusinasi bermunculan di otak Zahra.
Hujan, banyak kecelakaan. Tertabrak truk lalu badan terlindas ban, mengenaskan.
Jatuh dari motor lalu terpental. Sudah terpental kembali di tabrak oleh pengendara lain.
"Kenapa diam? Takut?" Ali buka suara saat merasakan pelukan Zahra semakin erat.
"Iya!" Zahra sedikit berteriak agar Ali mendengar suaranya. "Kamu terlalu ngebut."
Ali memelankan laju motornya. "Ngebut itu enggak apa-apa asal jangan melanggar aturan aja."
"Tapi aku tetap takut, serem tau!"
"Enggak apa-apa." Ali mengusap punggung tangan Zahra.
Beberapa menit kemudian, motor Ali berhenti di tempat yang dituju. Kebetulan sekali di sana ada Azka dan Safira.
"Kenapa makan ke sini? Lumayan jauh loh," ujar Azka ketika menyadari kehadiran Ali dan Zahra.
"Pengen aja, udah lama enggak makan soalnya," jawab Zahra, ia duduk berhadapan dengan Safira sedangkan Ali di sampingnya.
"Udah berapa lama Ra, enggak makan. Sehat aja?" Azka bertanya dengan raut wajah yang dibuat seserius mungkin.
Zahra berdecak. "Maksudnya udah lama enggak makan di sini Bambang!"
Azka mangut-mangut, ia terkekeh.
"Becandanya garinya ya." Safira buka suara.
Zahra mengangguk berkali-kali. "Niat ngelucu tapi enggak lucu, kasian," ledek Zahra.
"Ada baiknya kita hargai usaha Azka, walaupun enggak lucu tetap ketawa aja," ujar Ali, ia tertawa kecil.
"Iya, iya." Lalu Zahra ikut tertawa, tentu saja dibuat-buat. Sementara Safira benar-benar tertawa ketika melihat ekspresi Azka yang terlihat lucu.
"Udah ah enggak lucu," ujar Azka akhirnya.
Tidak perlu waktu lama, nasi goreng pesanan mereka datang juga. Makan malam kali ini terasa menyenangkan karena bersama orang yang disayang, semakin lengkap diiringi dengan obrolan ringan. Bahkan setelah makanan habis pun mereka masih asyik berbincang, Safira lebih banyak diam karena pada dasarnya ia memang pendiam. Zahra juga hanya sesekali menimpili, Ali dan Azka malah terlihat akrab sekali.