Perjalanan menuju ‘The City of Love’, 1998 Karen menyulut putung rokoknya dengan api, kemudian mengembuskan asap ke udara. Terik yang membanjiri kawasan di sekitar stasiun itu perlahan mulai hilang, langit sore bergulung dan malam akan segera tiba. Karen menatap lurus ke depan selagi menarik nafas dalam. Sembari duduk di atas bangku panjang, ia menyaksikan angin menyapu lembut pepohonan di kejauhan sana. Dahannya bergerak melambai saat tertiup angin, hamparan rumput di perbukitan ditutupi oleh kabut putih tebal. Kota sudah tidak terlihat, kebisingannya juga tidak terdengar. Karen menatap arlojinya saat itu, sudah hampir tiga puluh menit ia duduk disana, menikmati kesendirian sementara sejumlah penumpang dari kereta yang sama saling berbondong-bondong menuju pintu keluar. Hanya beberapa

