Jangan Menolak

1381 Words

Rachel mencoba mengatur napasnya, dia merogoh tasnya dan mengambil obat yang biasa dia minum. Ditenggaknya satu pil obat penenang, dia lalu beristirahat dan menenangkan dirinya. Pisau itu adalah kelemahannya, ternyata walau sudah bertahun-tahun ingatan itu tidak pernah hilang dari dirinya. Menutup matanya mencoba tenang, selang 15 menit dirinya sudah kembali normal walau wajahnya masih sedikit pucat, dan basah oleh keringat. Perlahan dia melangkah masuk menuju ruangannya dan ternyata ia sudah di tunggu oleh Sarah. "Mba," "Ada apa Sarah?" Ujar Rachel sambil menaruh tas dan duduk di kursinya. "Ini dokumen yang harus di tanda tangani, dan saya sudah mengirim email soal cabang Purnomo di London. Karena mba masih menjadi pemegang saham di sana jadi masih ada paper work yang harus di tanda ta

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD