Sisca Menghilang

3078 Words
Bramantyo mendapat laporan bahwa mobil yang dikendarai Sisca dari kota mendapat serangan berupa tembakan paku pada kedua ban belakang. Diduga dilakukan oleh sekelompok orang. Kemudian Sisca dijemput oleh sebuah mobil dan berputar arah kembali ke kota. Namun, anak buahnya kehilangan jejak Sisca. Bramantyo merasa lega, dugaannya Sisca ada urusan mendesak sehingga harus kembali. Tapi hilangnya jejak Sisca sedikit mengganggu perasaannya. Bramantyo sedang melakukan video call dengan sekretarisnya saat pintu ruang kerjanya diketuk. "Masuk." Bramantyo menjawab ketukan pintu. Alisha masuk dengan wajah tenang tanpa ekspresi. Bramantyo segera memutuskan sambungan dengan skretarisnya. "Ya alisha?" Tanya Bramantyo. Alisha duduk di sofa yang tadi telah didudukinya. "Aku setuju kita menikah tapi ada beberapa syarat." Alisha membuka pembicaraan dengan sangat tenang. "Sebutkan saja," Bramantyo menjawab sambil menyembunyikan rasa senangnya. "Pertama, tidak ada aktifitas berbau romantis diantara kita." Alisha memulai persyaratan pertamanya. "Kedua, aku tidak ingin kehilangan kebebasanku karena terikat oleh kata 'Istri'." Lanjut alisha. "Ketiga, aku butuh waktu yang banyak untuk mencari tahu tragedi yang menimpa kedua orang tuaku." "Keempat, tentukan waktu sampai kapan kita berada dalam pernikahan itu." Alisha menghela nafas panjang. Bramantyo tercenung mendengar setiap kalimat yang meluncur dari bibir Alisha. Ada hal yang sangat mengusik hatinya, yaitu tentang tragedi yang menimpa orang tua Alisha. "Alisha, tolong ceritakan maksud kamu dengan tragedi yang menimpa orang tuamu." Bramantyo bertanya dengan sungguh-sungguh. Kembali Alisha menghela nafas, berusaha menahan tangis. Setiap teringat ayah dan ibunya, rasa sedih tidak sanggup untuk tidak hadir dalam hati alisha. "Karena kang ganteng mau jadi suamiku, aku bersedia menceritakannya." Ujar Alisha perlahan. "Dulu aku tinggal di perbatasan desa Wahana, dengan kedua orang tuaku. Ayahku adalah mandor dari perkebunan teh saat itu. Aku menyaksikan saat kedua orang tuaku diseret beberapa orang. Sejak itu, aku tidak pernah bertemu mereka lagi. Aku tidak tahu kabar mereka bagaimana, ada dimana, apakah masih hidup atau sudah tiada..." Sampai sini, Alisha tidak kuat lagi menahan kesedihannya. Alisha menangis tersedu-sedu. Hatinya merasa perih bagai ditusuk-tusuk. "Selama hidupku, belum pernah ada kesempatan untuk mencari tahu, terlebih nenek melarangku untuk ke desa Wahana. Nenek sengaja membuang diri ke Petinggi hanya untuk menyelamatkan aku." Cerita Alisha dibalik isakannya. Bramantyo merasa lemas. Ayahnya Alisha adalah salah seorang mandor di perkebunan teh milik keluarganya dan dia tidak tahu menahu atas peristiwa menghilangnya mandor beserta keluarganya. Hati Bramantyo merasa ikut terluka melihat Alisha yang menangis seperti itu. Ingin rasanya merengkuh Alisha untuk memeluknya erat. Tapi itu tidak mungkin dilakukannya. Yang dia bisa lakukan adalah memberikan waktu pada Alisha untuk menumpahkan perasaan sedihnya. "Aku rasa, persyaratanku bisa kamu terima. Saya pamit." Ujar Alisha sambil berdiri dan berlalu dari ruang kerja Bramantyo. Bramantyo tidak membuang waktu, setelah Alisha menutup pintu, dia segera menelepon Praja. "Cari tahu peristiwa menghilangnya seorang mandor perkebunan kira-kira delapan belas atau tujuh belas tahun yang lalu." Perintah Bramantyo lalu menutup telepone. Sekarang saatnya mencari cara untuk membawa Alisha dan Meilani keluar dari Vila agar tidak diketahui oleh Jafar. Berdasarkan rencana Jafar, mereka punya waktu enam puluh jam tersisa. Bramantyo, Meilani dan Alisha tampak berbincang-bincang di ruang tengah paviliun. Mereka terlibat pembicaraan dengan serius. Waktu telah menunjukan pukul 21.30. Alisha terlihat sesekali menguap. Begitupun Meilani seolah ketularan Alisha. Tidak lama kemudian, mereka berdiri dan berpisah. Bramantyo naik kelantai atas ke ruang kerjanya, Alisha dan Meilani menuju kamar tengah. Telepone Bramantyo berdering, sebuah nama muncul; Maman sp Sisca. Bramantyo mengerutkan dahinya, merasa heran untuk apa supir Sisca meneleponnya. "Ya." Bramantyo menjawab, "Halo pak Bram, mohon maaf pak mengganggu malam-malam." Ujarnya. "Ya, ada apa?". Tanya Bramantyo. "Anu pak, Ibu Sisca tidak ada telepone saya seharian, saya bingung mau jemput dimana, di telepone juga mati pak HPnya." Tutur Maman. "Saya tidak ketemu Ibu Sisca beberapa hari ini." Kata Bramantyo nyaris tidak peduli. "Tapi pak, tadi pagi saya antar bu Sisca untuk ke Vila menemui bapak. Tiba-tiba ban mobil belakang kempes pak, lalu bu Sisca menyuruh saya menelepone dealer terdekat. Meminta mobil. Orang dealer belum sampai, Ibu Sisca sudah ada yang jemput pak. Saya pikir dari dealer, ternyata bukan. sebab orang dealer datangnya satu jam kemudian." Panjang lebar Maman menjelaskan. Bramantyo terdiam. Dia baru menyadari bahwa Sisca Wardoyo telah di culik. "Sekarang pak Maman dimana?" Tanya Bramantyo. "Saya masih disini pak, tidak jauh dari Vila. Menunggu Ibu Sisca." Jawabnya. "Bapak pulang aja. Biar saya yang cari Ibu Sisca." Kata Bramantyo. "Kalau begitu, Terimakasih pak." Jawab pak Maman. Lalu sambungan terputus. Bramantyo memeriksa laporan-laporan mengenai Sisca Wardoyo. Sisca mengendarai Inova keluaran terbaru. Berputar arah di sebuah mini market dan memasukkan satu penumpang ke dalam mobil. Mobil tersebut mengarah kembali ke kota. Tapi anak buah Bramantyo kehilangan jejak Sisca. Yang artinya Sisca tidak pernah sampai di kota. "Cek CCTV minimarketnya." Perintah Bramantyo melalui chat. "Laksanakan." Bramantyo hanya menatap jawaban itu. Malam ini Bramantyo hanya ingin tidur melepas lelahnya. Setelah memerintahkan ini itu kepada semua orang yang bekerja padanya, Bramantyo merebahkan diri dan tertidur. Seperti biasa, Kegiatan dini hari di rumah-rumah yang mengelilingi Vila mulai sibuk. Sebagian dari rumah-rumah tersebut adalah mess atau asrama bagi pekerja yang berasal dari luar kota. Satu rumah besar yang lapang tidak ada sekat adalah dapur umum dengan kursi meja yang berjejer untuk para pekerja menyantap makan pagi, siang dan malam. Sebuah Mobil Van keluar dari area dapur umum. Tampak satu orang lelaki yang mengemudikan mobil dan seorang wanita paruh baya duduk di sebelahnya. Pemandangan biasa yang terlihat setiap hari di jam yang sama. Mobil itu keluar dari area perkebunan menuju sebuah pasar induk di daerah tersebut. Kegiatan dini hari yang tak luput dari pantauan Jafar dan anak buahnya. Hanya saja, mereka tidak tahu bahwa di dalam mobil tersebut, ada penumpang lain, yaitu Meilani dan Alisha dan seorang pengawal. Mereka duduk dilantai mobil sambil merendahkan tubuh. Setibanya di pasar induk, mobil menempati tempat parkir yang biasa. Kedua orang pekerja turun dari mobil dengan gerakan normal. Pintu mobil di kunci dari luar. Tidak menunggu lama, Alisha dan Meilani yang mengenakan pakaian pekerja turun diam-diam dari mobil, lalu menyelinap ke sebuah pintu besi yang jaraknya hanya setengah meter dari mobil yang terparkir. Dibalik pintu, Praja telah menunggu. Setelah mereka masuk, Praja mengunci pintu besi. Mereka berada dilorong sebuah Ruko, Praja memimpin jalan ke arah belakang, menuju mobil yang telah disiapkan. Mobil kijang manual. Mereka menaiki mobil tersebut, dan bisa duduk dengan normal di kursi penumpang. Praja membawa Meilani dan Alisha menuju kota satelit. Di mana persiapan untuk pernikahan Alisha dan Bramantyo tengah dilakukan. Bramantyo terbangun tepat jam enam pagi. Begitu nyenyak tidurnya malam tadi. Bramantyo segera membereskan laptop dan alat kerja lainnya dalam satu koper khusus. Lalu menuju kamar mandi. Bramantyo menyantap sarapan pagi yang disediakan oleh bibi Siti. “Panggil supir bi, barang-barang saya masukkan ke mobil.” Bramantyo menyuruh bibi Siti. “Iya den.” Jawab bibi Siti sambil memencet telepone di dinding. Bramantyo beserta supir keluar dari area Vila jam 6.45. Hal inipun tak luput dari pantauan Jafar. “Bos berangkat kerja pagi-pagi.. haha..” Tanpa sadar Jafar berucap setengah meledek kala melihat Mobil Bramantyo keluar dari bagian depan Vila. Jafar memandangi Vila dengan seksama. Dia berharap Alisha keluar dari Vila untuk jalan-jalan di kebun teh atau ke minimarket. Diam-diam Jafar telah mempersiapkan pasukan untuk menyergap Alisha pada saat yang tepat. Bramantyo tiba di kantor pusat. Sebuah gedung pencakar langit dengan gaya mediteranian dalam sentuhan kalsik modern. Benar-benar berkesan megah yang tidak mudah ditaklukan. Filosofi yang dibuatnya melekat erat pada identitas gedung miliknya ini. Ramah namun sulit didekati. Sebelumnya Bramantyo telah dikabari bahwa banyak pers yang datang ke gedung kantornya. Terkait desas desus hilangnya Sisca. Beberapa karyawan dan keamanan gedung telah berdiri menunggu kedatangan Bramantyo. Ini selalu dilakukan pada saat media berbondong-bondong datang untuk meminta beberapa kalimat dari mulut Bramantyo. Tujuannya adalah mengapit Bramantyo sampai masuk ke dalam gedung dengan aman. Team keamanan berlari menuju pintu mobil dan berdiri rapat, salah satu keamanan membuka pintu mobil. Awak media ikut menyerbu dengan kamera, alat perekam, mikrofon dan handphone. Tangan-tangan yang memegang alat perekam dan mikrofon berjuluran mencoba mendekati Bramantyo melalui celah-celah tubuh para keamanan yang memungkinkan. Aksi dorong-dorongan terjadi. Antara para keamanan, karyawan dan pengawal Bramantyo. Suasana ricuh yang sebenarnya umum terjadi antara awak media dengan public figure dimanapun. Tapi bukan awak media namanya kalau menyerah begitu saja. Kalimat-kalimat mendesak sampai bernada emosi terdengar. “Apakah anda tahu dimana Sisca Wardoyo?”. “Sisca dinyatakan hilang. Apa kaitannya dengan Anda?” “Bukankah Anda sangat dekat dengan Sisca, berarti Anda tahu Sisca dimana?” “Apakah Anda sedang tidak akur dengan Sisca?” “Anda meninggalkan acara Apresiasi kantor Anda dan mengubah jadwal pidato, lalu menghilang dari acara. Hubungan Anda dengan Sisca jelas bermasalah. Ada komentar?” Bramantyo menyadari satu hal, hilangnya Sisca akan disangkut pautkan dengannya. Apalagi ada rencana pernikahan mendadak besok. Asumsi bisa berkembang liar ke arah yang tidak pernah terbayangkan. Tiba-tiba Bramantyo berbalik tepat di depan pintu kaca dan menghadap kepada para awak media, sambil memberikan tanda melalui tangannya pada para keamanan dan pengawal-pengawalnya. “Kalian kan tahu, seseorang dianggap hilang jika sudah dua puluh empat jam tidak ada. Kemarin Ibu Sisca masih berkunjung ke Vila.” “Tolong rekan-rekan untuk tidak berasumsi dulu. Terimakasih.” Kata Bramantyo sambil balik badan masuk ke dalam gedung. Sekretaris Bramantyo, Lina tergesa-gesa menghampiri dan berjalan sejejeran Bramantyo. “Pak, kami sudah menemukan siapa yang pertama kali menghembuskan kabar hilangnya Ibu Sisca. Dari sebuah Blog pribadi. Kami masih terus menelusurinya.” Lapor Lina kepada Bramantyo. Bramantyo hanya mengangguk tanpa mengucapkan apa-apa. Bramantyo duduk dikursi kebesarannya, menandatangani dokumen-dokumen yang disodorkan oleh sekretarisnya. Menanyakan jadwal, meminta kopi dan menyuruh sekretarisnya keluar. “Dimana kamu Sisca, Apakah kamu sengaja melakukan ini untuk memancingku keluar menemuimu?” Gumam Bramantyo. Baginya, Sisca Wardoyo adalah wanita yang sangat pandai memanipulasi keadaan. Wanita yang akan melakukan apapun demi keinginannya tercapai. Bramantyo merasa kesal karena setiap hal yang berkaitan dengan Sisca Wardoyo, pasti menyeret namanya. “Baiklah Sisca, aku akan ikuti permainanmu, tunggulah berita besok, kamu yang akan keluar dari persembunyianmu. Aku akan menikahi satu-satunya wanita yang aku idamkan dari delapan belas tahun yang lalu.” Bathin Bramantyo sambil menyunggingkan seringai lebar. Pagi itu Bramantyo disibukkan dengan telepone masuk dari ayah dan ibunya Sisca, Semua tentang Sisca, terkait pernyataannya pada Media bahwa kemarin Sisca menemuinya di Vila. Tapi ayah ibunya Sisca justru beranggapan kalau putrinya sedang berulah mencari perhatian. Tidak mungkin Sisca menghilang begitu saja. Bramantyo meninggalkan kantor untuk meeting dengan koleganya dari luar negri. Meninggalkan semua masalah dibelakangnya. Fokus pada pekerjaannya. ......... Mobil yang ditumpangi oleh Sisca Wardoyo, terus melaju menuju arah barat. Menghindari jalan-jalan macet. Mereka tidak melakukan pemberhentian. Tugas mereka hanya mengangkut sampai tujuan. Hari menjelang sore ketika mereka sampai di lahan luas yang dibentengi oleh pagar Seng berlapis kawat duri. Sang supir membunyikan klakson mobil satu kali, pintu pagar yang berukuran panjang tiga meter tersebut pelan-pelan terbuka. Tanah kosong berwarna orange itu menyisakan kumpulan debu saat mobil melaju di belakangnya. Tepat di tengah-tengah kekosongan itu ada sebuah bangunan yang bisa dikatakan bedeng. Yaitu bangunan darurat yang terbuat dari potongan papan dan tripleks namun kokoh. Biasanya dipakai oleh para pekerja bangunan. Mobil berhenti di depan bangunan. Supir membuka pintu dan memerintahkan penjaga untuk membawa Sisca ke dalam. Sisca Wardoyo sudah sempat siuman sebelumnya. Dia berusaha berontak. Tapi lelaki yang ada disampingnya, dengan sigap membius Siska kembali. Memasuki ruangan di dalam bedeng, ada beberapa ruang yang disekat. Seorang pria bule sedang mondar mandir sambil menerima telepon. Melihat Sisca yang sedang di bopong oleh anak buahnya, dia menutup telepon. "Simpan dia disitu." Kata bule itu sambil menunjuk sebuah ranjang besi. "Ikat kaki tangannya pada besi." Lanjut bule tersebut. Sisca yang tidak sadarkan diri, tergolek tidak berdaya. "Bangunkan dia." Kembali bule itu bersuara setelah tangan dan kaki Sisca diikat pada besi ranjang dengan posisi telentang. Satu orang penjaga membawa satu ember ukuran sedang berisi air es. Lalu mengguyur kepala Sisca dengan perlahan. Tujuannya agar rasa dingin lebih lama mengganggu indera perasa di kulit Sisca. Dengan begitu Sisca bisa segera siuman. Tampak Sisca bergerak dan gelagapan. Guyuran airpun berhenti. Sisca merasa sesak nafas, dia berusaha menarik nafas dari mulutnya tapi tidak bisa. Mulutnya terkunci oleh selembar lakban atau perekat yang khusus untuk kulit manusia. Sisca tampak tersiksa dan berontak dengan menggoyang-goyangkan badannya. "Lepas perekatnya." Bule itu memerintah. Sreeekk.. Suara perekat ditarik dengan kuat, membuat Sisca berteriak. Dia merasa giginya seakan ikut ketarik. Butiran darah bermunculan membentuk bulatan-bulatan kecil di bagian yang tertutup perekat. Sisca menahan rasa sakit, karena yang dibutuhkan sekarang adalah udara untuk memenuhi paru-parunya. Sambil megap-megap, Sisca melihat ke sekeliling. Seluruh orang yang ada disitu, tidak ada yang dikenalinya. "Siapa kamu?" Tanya Sisca kepada bule yang sekarang sudah duduk di kursi kecil yang tebuat dari besi tempa. "Tidak penting." Jawab bule Ditangannya ada beberapa lembar kertas yang di klip jadi satu. "Tujuh bulan yang lalu, kamu telah menghabiskan lima juta dolar dalam the whole ball." Sisca Wardoyo mendadak merasa lemas. "Lima bulan lalu kamu telah meminjam kembali dua juta dolar untuk bermain pada texas festival." Sisca Wardoyo memejamkan matanya sambil berharap mendadak mati. "Dua bulan lalu adalah jatuh tempo dari perjanjian kamu." "Ah s**t!." Bathin Sisca. "Dan hari ini kamu ada disini, Bagaimana jawaban kamu?" Bule telah melakukan tugasnya dengan bertanya. Perlahan Sisca Wardoyo membuka matanya, lalu menatap lekat pada bule itu. "Bagaimana?". Pertanyaan bule dengan nada mendesak. "Aku minta waktu lagi." Jawab Sisca tidak yakin. "Waktumu sudah habis." Bule berkata dengan tenang. Sisca tahu bahwa bule itu ingin mendengar penjelasan dan jawaban pasti. Tapi dia sendiri belum punya solusi sampai saat ini. Rencananya untuk bertunangan dengan Bramantyo adalah supaya dia mendapat akses untuk memegang beberapa perusahaan Bramantyo, yang akan dia lelang ke pasar luar negri. Dengan begitu, dia bisa melunasi pinjaman dengan bunga yang maha tinggi itu. Sayang sekali, bertepatan dengan itu, hadirlah Alisha yang menyedot seluruh perhatian Bramantyo. "Aargh .. " Teriak Sisca. Suaranya menggema di bedeng itu. "Saya bayar dengan saham dulu." Jawab Sisca. "Saham kamu nilainya tidak lebih dari lima ratus ribu dolar. hanya sepuluh persen dari bunga berjalan." Bule menjelaskan. "Tunggu sampai aku menikahi Bramantyo." Sisca menjawab. "Bramantyo tidak mungkin menikahimu." Jawab bule sambil memberi isyarat kepada anak buahnya. Anak buahnya maju ke depan Sisca membawa laptop yang terbuka. Lalu menekan sebuah tombol setelah meletakkan laptop tersebut di kasur tipis itu. Sisca melihat adegan percintaan dengan seorang model yang dia manjakan. Video berubah, kali ini pertempuran sengit Sisca dengan Jafar. Penuh teriakan yang memalukan. Sisca merasa jantungnya hampir melompat keluar. Dia melototi layar laptop sambil ternganga. "Oke, oke. aku akan bicarakan dengan ayahku." Akhirnya Sisca menyerah. "Ingat Sisca, kamu tidak bisa melunasi semuanya, terpaksa kami akan kirim sebelah tanganmu ke Gold Papa." Bule itu memperingati Sisca. Sisca tahu betul cara kerja mereka. Nyawa manusia sama tidak berharganya dengan berak mereka. Kembali bule memberi isyarat kepada anak buahnya, yang langsung menghampiri Sisca sambil membawa handphone dan menempelkannya di telinga Sisca. Terdengar nada dering sampai lima kali baru diangkat. "Papa?". Nada Sisca ketakutan. "Sisca, kamu dimana? Pers semua mencarimu." Terdengar suara Dirga Wardoyo. "Papa.. bisa kirim uang lima belas juta dolar pa, please." Sejenak hening di ujung telepone. "Jangan main-main Sisca, kondisi kita sedang tidak bagus." Jawab Dirga Wardoyo "Papa punya uangnya. Papa tinggal kirim, atau aku, anak satu-satunya papa, tidak akan ada lagi di dunia ini." Sisca teriak sekencang-kencangnya sambil meraung. "Sisca? Sisca? apa yang kamu lakukan?" Suara Dirga terdengar panik sekarang. Sisca terisak-isak. "Maafkan Sisca pa.. hanya papa yang bisa tolong Sisca." Rajuk Sisca sambil sesenggukan. "Papa tidak bisa kirim dalam waktu dekat. papa butuh waktu untuk mengumpulkan uang segitu. Karena uang kita diluar semua, kecuali pinjam Bram dulu?" Dirga bertanya. Bule berdiri dan merampas handphone dari tangan anak buahnya. "Melibatkan Bramantyo maka anak Anda akan mati cepat." Kata Bule sambil menembakkan peluru pada sudut ranjang. Suranya yang kencang membuat Sisca berteriak. Dirga semakin gugup dan panik. "Waktu Anda hanya dua puluh empat jam, dimulai dari sekarang." Bule menutup telepone. Sisca gemeteran. Begitupun ayahnya. "Ada solusi lain?". Tanya Bule kepada Sisca yang dijawab Sisca dengan gelengan lemah. Bule itu melangkah pergi meninggalkan Sisca diikuti oleh anak buahnya. Terdengar pintu bedeng di banting dan gerendel tali besi berdenting-denting. Sisca sendirian di ruangan itu. Dengan posisi masih terikat. Rasa haus dan lapar menyerangnya. Kepala masih melayang-layang. Sisca terpejam. Butiran air mata turun dari sudut-sudut matanya. Tiba-tiba Sisca menyadari satu hal. Bule tadi sangat serius untuk tidak melibatkan Bramantyo. Secara tidak langsung mereka takut kepada kekuatan Bramantyo hingga mereka tidak ingin mengusik Bramantyo. Sisca memikirkan cara untuk bisa mengontak Bramantyo, meskipun dia yakin bahwa itu adalah hal yang mustahil. Selalu ada harapan di dalam kesempitan. Celah itulah yang ingin di gunakan Sisca. ..... Dirga Wardoyo tidak berhenti gemetar. Dadanya terasa sakit. Putri semata wayang yang sangat dia kasihi, tengah berada ditangan orang jahat. Suara tembakan itu adalah bukti bahwa putrinya sedang dalam bahaya besar. Sambil otaknya mengkalkulasi setiap dana yang mampu dia ingat dalam bentuk cash, sama sekali tidak bisa mencapai lima belas juta dolar. Aset-asetnya yang terbanyak tidak dalam bentuk liquid. tapi merupakan benda tak bergerak seperti tanah, gedung, pertanian, ruko-ruko, pasar modern. Sementara benda bergerak seperti kendaraan bermotor, termahal hanya yang dikendarai Sisca. Itupun kalau dijual pasti kurang dari satu milyard. Perusahaan sungguh butuh waktu yang lama untuk bisa dijadikan cash. Dengan birokrasi yang berbelit. Saham-saham yang dia punya tidak lebih dari lima puluh milyard. Sisanya adalah surat utang bank. Denyut rasa sakit yang luar biasa di dadanya membuat Dirga Wardoyo pingsan. Tiga jam telah berlalu dari sejak panggilan telepone Sisca yang mengejutkannya. Dirga terbangun mendapati dirinya sedang terbaring dengan infus di tangan kiri. Dia merasa lemah karena berada di ruangan sebuah rumah sakit. Evelyn, istrinya. Menghampiri Dirga sambil bertanya, "Gimana perasaan papa sekarang? pusing? apa yang sakit?" Sambil menyentuh bagian badan suaminya tanpa tekanan. Dirga hanya menggelengkan kepala lemah. "Ma, anak kita dalam bahaya. Papa butuh uang dua ratus milyard lebih dalam bentuk cash." Dirga memberitahu istrinya. Evelyn mematung. mencoba mencerna ucapan suaminya. Bibirnya mendadak kelu. Ingin melontarkan pertanyaan tapi tidak sanggup bertanya. Evelyn terduduk lemas. Dua ratus milyard bukan angka sedikit baginya saat ini. Setelah mereka mengalami kerugian hampir satu trilyun dan mereka harus mencicil ke bank. Peringkat konglomerat yang telah dicapai diposisi lima, merosot tajam sejak satu tahun yang lalu. Kini mereka bukan konglomerat lagi. Satu-satunya perusahaan yang menghasilkan sampai bisa menyicil utang juga bisa membiayai hidup mereka adalah perusahaan yang dipegang oleh putrinya. Yang bergerak dibidang konstruksi. Tidak mungkin mengobankan perusahaan tersebut. Suaminya sampai pingsan di kantor, pasti karena Sisca benar-benar dalam kondisi yang membahayakan nyawanya. Merasa tidak berdaya, Evelyn menangis sambil sesekali memukul-mukul dadanya. "Kenapa, kenapa semua ini terjadi ya Tuhaann .. Masih belum cukupkah cobaan pada keluarga kami." Evelyn meracau dalam isak tangisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD