bc

Terpikat Sahabat Ayahku

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
forbidden
HE
age gap
opposites attract
friends to lovers
badgirl
single mother
heir/heiress
drama
sweet
bxg
enimies to lovers
addiction
seductive
like
intro-logo
Blurb

🔞 Adult story - Age gap - Daily update

••

Sejak kedua orang tuanya bercerai, Lily hanya memiliki satu tempat untuk pulang, yaitu rumah ayahnya. Namun, ketika sang ayah semakin sering bepergian demi urusan bisnis, ia mempercayakan putri semata wayangnya kepada satu-satunya orang yang paling ia percaya, Ethan Whitmore.

--

Sahabatnya selama lebih dari dua puluh tahun. Seorang duda berusia tiga puluh tujuh tahun yang terkenal dingin, berwibawa, dan belum pernah membuka hatinya lagi sejak kepergian sang istri. Bagi Ethan, Lily hanyalah putri sahabatnya. Seseorang yang harus ia jaga, bukan perempuan yang seharusnya ia cintai.

--

Di sisi lain, Lily justru jatuh cinta pada satu-satunya pria yang tak seharusnya ia miliki. ​"Jika aku menciummu sekarang... apa kau masih bisa menganggapku sebatas anak dari sahabatmu sendiri?"

--

Ucapan yang secara tak sadar akan menjadi bumerang di kemudian hari. Sebab, jika cinta mereka terbongkar, yang hancur bukan hanya dua hati, melainkan juga persahabatan yang telah terjalin selama puluhan tahun. Lalu, siapa yang akan Ethan pilih? Sahabat yang telah ia anggap sebagai saudara, atau perempuan yang tanpa sadar telah mencuri seluruh hatinya?

chap-preview
Free preview
Sahabat Ayah?
Lily Hartford. Aku merutuki diri sendiri karena harus kembali ke tempat ayahku dibesarkan setelah berkali-kali gagal mendapatkan pekerjaan di kota. Sial. ​Apa memang sesulit itu mencari pekerjaan sekarang? Aku bukan mahasiswi bodoh. Nilai-nilaiku cukup bagus, bahkan beberapa kali hasil tugasku mendapat pujian dari dosen. Namun, semua itu ternyata tidak cukup untuk membuat satu perusahaan pun mau melirikku. Setelah berbulan-bulan mengirim lamaran, menghadiri beberapa wawancara, lalu menerima surel penolakan yang isinya hampir selalu sama seperti, “Kami menghargai ketertarikan Anda, namun saat ini kami belum dapat memproses…” akhirnya aku menyerah. Sekarang, aku kembali ke Montana. Lebih tepatnya, ke rumah ayah. ​Rumah dua lantai dengan lebih dari lima kamar tidur. Terlalu besar untuk ditempati dua orang, tetapi ayah memang sudah terbiasa hidup dengan kemewahan seperti itu. Sejak dulu, dia seorang pebisnis sukses. Bahkan ketika masih menikah dengan ibu, kehidupan kami jauh dari kata kekurangan. Sayangnya, pernikahan mereka berakhir. Sudah hampir sepuluh tahun sejak perceraian itu terjadi. Aku meraih celana pendek yang tergeletak di ujung ranjang. Celana itu hanya sampai beberapa sentimeter di atas lutut. Setelah mengenakannya, aku menarik kaus berdada rendah yang sedikit kusut hingga menutupi pinggang. ​Aku berjalan menuju jendela. Langit Montana sudah gelap gulita. Cahaya dari beberapa lampu di halaman jatuh berpendar di atas rumput yang luas, sementara sebagian besar pekarangan tertutup bayangan pekat pepohonan pinus. Aku membuka jendela sedikit. Udara malam yang menggigit langsung menyentuh kulit wajahku. “Jauh sekali dari kota,” gumamku getir. Aku menutup kembali jendela itu rapat-rapat, lalu kembali ke ranjang. Kedua kakiku kutarik hingga lutut menyentuh d**a. Aku duduk di tengah kasur sambil memeluk kedua lututku. ​Kamar ini masih hampir sama seperti dulu. Dinding hijau pastel yang mulai memudar, lemari buku di dekat jendela, dan sofa single di sudut ruangan. Tempat itu dulu sering kupakai untuk membaca buku sampai ketiduran atau duduk sendirian ketika sedang kesal pada pertengkaran ayah dan ibu. Aku menyandarkan punggung ke kepala ranjang. “Jadi sekarang aku tinggal di sini lagi.” Aku menatap sekeliling kamar. Tidak ada yang benar-benar berubah. Justru aku yang berubah. ​Dulu, aku begitu ambisius dan tidak sabar meninggalkan rumah ini demi merintis karier impian. Sekarang, setelah akhirnya pergi dan gagal membangun kehidupan sendiri, aku kembali seperti anak kecil yang tersesat dan tidak tahu harus ke mana. Aku mengusap wajah dengan kasar, lalu menjatuhkan kepala ke atas lutut. “Memalukan.” Belum sempat aku menikmati kesunyian kamar yang menenangkan itu, suara bel dari lantai bawah berderit nyaring, bahkan terdengar jelas sampai ke kamarku yang berada di ujung lorong lantai dua. ​Aku mengangkat kepala, mengerjap kaget. Siapa yang datang malam-malam begini? ​Suaranya terdengar lagi, lebih mendesak. Aku mendecakkan lidah kesal. “Tsk. Siapa sih?” Tanganku meraba ponsel di atas meja samping ranjang. Layar menyala, menunjukkan pukul setengah delapan malam. “Kenapa tidak besok saja?” ​Bel kembali berbunyi, seolah tak sabar. Aku menatap pintu kamar beberapa detik sebelum akhirnya menyingkirkan selimut dari kaki. “Kalau yang datang ternyata orang iseng, benar-benar akan kuhajar dia.” Aku turun dari ranjang dan memasukkan ponsel ke saku celana. Lorong menuju tangga terasa cukup panjang malam ini. Kamarku memang berada di bagian paling ujung rumah, jadi setiap kali ingin turun ke lantai bawah, aku harus melewati deretan pintu kamar kosong yang kini terasa asing. ​Aku berjalan keluar. Saat melewati salah satu kamar tamu yang gelap, bel rumah kembali berbunyi, kali ini disusul ketukan pintu utama yang terdengar tidak sabar. ​“Iya, sebentar!” seruku jengkel, mempercepat langkah menuruni anak tangga kayu yang berderit di bawah bobot tubuhku. Tangga besar yang melingkar itu langsung membawaku ke ruang depan. Pintunya sengaja kukunci rapat. Ayah sempat berpesan bahwa ia masih lama dalam perjalanan bisnisnya ke luar negara bagian, jadi aku harus ekstra waspada. Kejahatan bisa terjadi di mana saja, apalagi di negeri ini. Setelah anak kunci berputar dan membuka selotnya, aku menekan kenop pintu ke bawah. ​Begitu pintu terbuka, untuk sekian detik aku tertegun. Napasku tertahan di tenggorokan. Lelaki yang berdiri di hadapan benar-benar... hot. Kulit cokelat eksotisnya berpadu sempurna dengan lengan kekar yang terbalut kaus ketat berwarna hijau tua, agak pudar di beberapa bagian, tetapi justru membuatnya terlihat semakin effortless. Saat manik mata kami bertemu, aku terpaku. Iris birunya menatapku tajam, berbinar setengah heran melihat penampilanku, reaksi yang awalnya tak kumengerti alasannya. Dan, jangan lupakan topi koboi usang yang bertengger di kepalanya, dengan helai rambut hitam legam yang mengintip nakal di balik tepian topi tersebut. ​Lamunanku buyar seketika saat suara berat bernada bariton mengalun dari bibirnya. ​"Kau Lily? Lily Hartford?" Aku mengerjap cepat, berusaha menguasai diri. "Eh, ya? Maaf. Ya, aku Lily Hartford. Ada keperluan apa malam-malam begini? Dan... kau siapa?" ​"Ethan Whitmore. Ayahmu menitipkanmu padaku selama ia pergi." ​Ah, perkenalan macam apa itu? Bahkan tidak ada basa-basi atau senyuman sama sekali. Wajahnya tetap datar, dingin, dan tanpa ekspresi. Dia bahkan tak repot-repot mengangkat tangan untuk sekadar berjabat denganku. Celakanya, matanya sempat turun ke bawah. Aku baru ingat, celana pendek dan kaus rumahan yang kukenakan tadi benar-benar terbuka. ​Aku buru-buru menyilangkan tangan di depan paha, berusaha menutupi celanaku yang kelewat pendek. "Kau kenal ayahku dari mana? Jangan-jangan kau cuma penipu yang mengaku-ngaku?" Ethan berdecih pelan. Tanpa aba-aba, sebelah tangannya tiba-tiba terangkat dan menempel di kusen pintu, tepat di sebelah kepalaku. Ia merunduk mendekat. Mau tak mau harus kuakui, tubuhnya tinggi sekali, paling tidak mencapai 190 sentimeter, membuatku merasa begitu kecil di bawah bayangannya. ​"Aku sahabat ayahmu," bisiknya rendah, begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma maskulin bercampur udara luar yang segar dari tubuhnya. "Kami sudah berteman sangat lama. Makanya, dia mempercayakan keselamatanmu padaku." Aku mendengus ragu, mencoba tidak terintimidasi oleh jarak kami yang terlalu dekat. Tatapanku turun sejenak, melirik celana jeans belelnya yang tampak kaku, seolah sudah bertahun-tahun tidak pernah dicuci. Lalu, aku kembali mendongak menatap manik birunya. "Penampilanmu tidak meyakinkan. Kau lebih mirip gelandangan ketimbang seseorang yang dipercayai oleh ayahku." Sontak, tawa berat tersebut meledak dari tenggorokannya. Suaranya menggema di pintu depan itu. Ia bahkan sedikit menengadah, memperlihatkan rahang tegasnya yang dibayangi janggut tipis terawat. Suara tawa itu tidak dibuat-buat, terdengar begitu lepas, seolah ejekanku tadi adalah hal paling lucu yang ia dengar sepanjang hari ini. ​"Apa aku benar-benar terlihat seperti itu?" tanyanya di sela tawa, matanya berkedip tak percaya menatapku. "Tubuhku bau dan lusuh, ya?" ​Aku mengangkat dagu, mencoba mempertahankan harga diriku di hadapannya. "Kurang lebih." ​Dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang kasar, berusaha meredakan tawanya. Entah kenapa, reaksi santai itu justru membuatku semakin yakin bahwa pria di hadapanku ini benar-benar aneh dan tidak bisa ditebak. ​"Kau memang benar putri Oliver," gumamnya, menggelengkan kepala pelan. "Sifat keras kepalamu itu persis sekali seperti ayahmu." ​Aku menyipitkan mata, langsung bersikap defensif ketika nama ayahku disebut. "Jangan bawa-bawa ayahku." ​Ethan akhirnya berhenti tertawa. Manik birunya kembali fokus menatapku dengan sorot yang lebih serius. "Baiklah. Tetapi sebelum kita lanjut berdebat, setidaknya izinkan aku masuk. Udara di luar semakin dingin, dan aku yakin kau juga tidak ingin berdiri terlalu lama di ambang pintu dengan pakaian sependek itu." Sialan. Sindirannya membuatku kembali sadar akan potongan pakaianku yang serba pendek dan terbuka. Aku masih memegang daun pintu dengan erat, enggan bergeser sejengkal pun. "Belum tentu aku mau mengizinkanmu masuk." Kali ini dia menghela napas panjang, embusan napasnya yang hangat sempat mengepul tipis di udara dingin malam ini. Dia menarik tangannya dari kusen, lalu memasukkannya malas ke saku jeans belelnya. ​"Kalau begitu," katanya santai, menaikkan sebelah alis menantang, "kita bisa berdiri di sini semalaman sampai kau percaya." Aku menatapnya tajam selama beberapa detik. Pria ini benar-benar menyebalkan. Tapi di balik rasa kesalku, benakku mulai berputar liar. Rasa penasaranku mendadak terusik. Hubungan macam apa yang sebenarnya dimiliki pria urakan bernama Ethan Whitmore ini dengan ayah? Dia mengeklaim dirinya sebagai sahabat lama... tapi rasanya, aku tidak pernah sekalipun mendengar nama itu disebut oleh Ayah. Atau... apakah aku yang terlalu acuh dan pelupa? Bisa saja Ayah dan Ethan memang sudah berteman sejak lama, bahkan mungkin pria itu pernah berkeliaran di rumah ini semasa aku masih anak-anak, masa ketika duniaku hanya sebatas main dan aku sama sekali tidak peduli pada siapa saja orang-orang di sekeliling Ayah. Ethan sempat menoleh ke belakang, mengarahkan pandangannya ke pekarangan. Sebuah pickup Ford hitam terparkir agak miring di atas rumput halaman, posisinya tampak berantakan, seolah pemiliknya baru saja membanting setir dan turun dengan terburu-buru. Aku mengangkat alis sebelah, melirik kendaraan itu. ​"Apa?" tanyaku begitu ia kembali menatapku. Aku sengaja memasang nada ketus. Aku bukannya berniat menyebalkan, melainkan hanya berjaga-jaga. Di mataku, Ethan tetaplah orang asing, dan aku tidak punya alasan untuk langsung menyerahkan rasa percayaku begitu saja. ​Ethan membalas tatapanku, lalu mendengus pelan. "Kau lihat sendiri, bukan? Gelandangan mana yang datang mengendarai Ford f-150 sebesar itu?" Aku menahan sudut bibirku agar tidak melengkung membentuk senyuman. "Mana kutahu. Mungkin gelandangan zaman sekarang sudah jauh lebih makmur." ​Dia mengembuskan napas kasar lewat hidungnya, tampak mulai kehabisan kesabaran menghadapi lidah tajamku. "Aku hanya ingin masuk sebentar untuk menghangatkan diri. Kalau kau masih ragu, aku akan menelepon ayahmu di dalam nanti supaya kau benar-benar percaya." ​"Telepon saja di sini," sahutku cepat. Aku tetap berdiri kokoh di ambang pintu, tidak berniat memberi celah. Membiarkan pria asing melangkah masuk ke rumah besar ini di tengah malam buta adalah tindakan bun-uh diri. ​Ethan menatapku lekat-lekat selama beberapa detik, menilai keseriusanku, sebelum akhirnya mengangkat kedua tangan menyerah. "Astaga, baiklah. Keras kepala sekali." Dia merogoh saku jeans belelnya dan mengeluarkan ponsel keluaran terbaru. Sempat kulihat sekilas layarnya, cukup kontras dengan penampilannya yang urakan. Rupanya ia tidak separah itu dalam mengikuti perkembangan zaman. Ethan mencari kontak ayah, menempelkan benda pipih itu ke telinganya, lalu menunggu sambungan terhubung. Selama menunggu, manik birunya kembali berkeliling, mengamati kemegahan halaman rumah ayah yang sunyi. Aku mengetukkan ujung kaki kiri ke lantai marmer ruang depan. Entah kenapa, keheningan di antara kami mendadak terasa canggung sekaligus dipenuhi ketegangan yang terasa asing. ​Tidak lama kemudian, suara bariton ayah terdengar dari seberang sambungan. ​"Oli?" sapa Ethan, menyebut nama panggilan akrab ayah, lalu melirik sekilas ke arahku dengan seringai tipis. "Aku sudah sampai di rumahmu. Lily juga ada di sini." Mendengar namaku disebut, aku refleks melangkah maju setengah langkah, tanpa sadar memangkas sedikit jarak di antara kami. Perhatianku seketika terpusat pada ponsel di telinganya. Rasa penasaran mendadak menggelitik benakku, membuatku diam-diam menajamkan pendengaran demi menangkap sayup-sayup suara Ayah dari seberang sana. Apa sebenarnya yang sedang beliau katakan tentangku kepada pria ini? ​"Dia baik-baik saja," lanjut Ethan tanpa beban, matanya masih menatapku geli. "Cuma... dia tidak mau mengizinkanku masuk ke dalam." ​Aku langsung membelalakkan mata, terperanjat hingga nyaris tersedak ludahku sendiri. Hei! Bagian itu sama sekali tidak perlu diadukan ke Ayah! jeritku tertahan dalam hati. Dengan panik, aku mengangkat telunjuk ke depan bibir, memberi isyarat keras agar dia segera menutup mulutnya. Ethan justru terkekeh, sengaja melirikku dengan sudut bibir terangkat sebelah. Benar-benar pria yang menyebalkan. ​Selama beberapa saat, Ethan hanya diam mendengarkan rentetan pesan dari ayah di seberang sana. Ia sesekali bergumam pelan mengiyakan, sementara sepasang mata birunya terus mengunciku dengan sorot menyebalkan, sama sekali tidak terpengaruh oleh pelototan tajam yang kulemparkan. ​"Ya, jangan khawatir. Serahkan saja anak ini padaku," ucapnya santai sebagai penutup obrolan. ​Dengan gerakan lambat yang seolah sengaja mengejek kepanikanku, ibu jarinya menekan layar untuk mematikan sambungan, lantas menelusupkan kembali benda pipih itu ke dalam saku jeans-nya. ​"Jadi?" ​Suara baritonnya mendadak terdengar lebih rendah dan serak, menyapu telingaku layaknya geraman halus. "Kau akan tetap menahanku di luar, Miss Hartford?" Ia semakin mendekatkan tubuhnya, sementara aku tidak bergeming. Matanya perlahan turun, menelusuri garis leherku, lalu dengan sengaja berlama-lama pada kulit bahu dan belahan dadaku yang terekspos dari balik kaus kusut ini. Aku menahan napas, tanpa sadar merapatkan paha. Tubuhku mendadak kaku saat tatapan yang terasa mengundang itu kembali naik, langsung mengunci manik mataku. Sebuah seringai tipis yang berbahaya perlahan tercetak di sudut bibirnya. ​"Atau," bisiknya, suaranya begitu dekat hingga embusan napas hangatnya yang beraroma tembakau menerpa wajahku, "kau memang suka membiarkanku berdiri sedekat ini denganmu?"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
238.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.2K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.7K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.4K
bc

Kali kedua

read
223.5K
bc

MENCINTAIMU TANPA SENGAJA

read
1.3K
bc

Langit Tak Selalu Abu-Abu

read
125.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook