Waktu menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima pagi saat suara alarm ponsel yang amat berisik membangunkan Elena dari tidurnya. Elena langsung terbangun, setelah sebelumnya terbangun sejenak hanya untuk menekan tombol snooze pada alarm ponselnya. “Nghh ..,” erangnya seraya meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku sejenak.
Kedua mata Elena yang cantik itu langsung membulat seketika melihat jam digital penunjuk waktu yang terpampang pada layar ponselnya. “Astaga, sudah hampir jam sembilan pagi?!” ucapnya kaget. Elena terdiam sejenak memperhatikan kamar yang ditempatinya setelahnya. “Ah, tunggu dulu. Aku masih ada di rumah Alberto?” ucapnya seraya sedikit berbisik.
Beberapa saat kemudian, Alberto Romano, sang pemilik rumah, mengetuk pintu kamar tidur yang ditempati Elena. “Elena? Kamu sudah bangun?” ucapnya ramah.
Elena langsung bangkit berdiri dari ranjang tempat tidurnya, “Iya, sebentar.” Elena beranjak membuka pintu kamar tidurnya sedikit, “Ada apa, Alberto?”
Alberto tersenyum manis. “Aku membawakanmu sarapan dan pakaian ganti,” ucapnya seraya membawa sebuah nampan baja besar berisi sarapan dan pakaian ganti untuk Elena.
Elena hanya terdiam untuk beberapa saat. Begitu melihat senyum di wajah tampan Alberto, entah mengapa, memorinya membawanya lagi pada apa yang baru saja dilaluinya tadi malam. Pada apa yang baru saja dilakukan Alberto padanya tadi malam—sentuhan itu, ciuman itu, belaian itu. Ya, Elena masih ingat betul sensasi itu, sebuah sensasi memabukkan yang bahkan tak pernah Elena dapatkan sebelumnya dari seorang Nathan, kekasih hatinya sendiri.
“Te .. terima kasih,” ucap Elena kikuk seraya mengambil nampan tersebut dari pegangan tangan Alberto.
Alberto memegang pergelangan tangan Elena, “Tunggu.” Alberto lanjut bicara, “Aku boleh ikut sarapan bersama denganmu?”
“Di dalam kamar?” ucap Elena bingung.
Alberto tersenyum, “Kita bisa sarapan bersama di taman belakang rumahku kalau kamu mau, tapi kalau kamu ..”
Elena langsung angkat bicara. “Iya! Aku rasa lebih baik kita sarapan di taman saja ..,” ucapnya yang terlihat sedikit salah tingkah.
Senyum di wajah tampan Alberto melebar, “Okay. Aku tunggu kamu di sana.” Alberto beralih mengambil lagi nampan yang dipegang Elena lalu memberikan Elena pakaian gantinya, “Sini sarapanmu. Biar aku yang bawakan saja.”
Elena hanya mengangguk dengan perlahan.
Begitu selesai mengganti pakaiannya, Elena langsung berjalan menuju taman yang letaknya di halaman belakang rumah Alberto. Alberto Romano memiliki dua taman, satu taman kecil yang letaknya berada di halaman depan rumahnya—dan satu lagi yang ukurannya lebih besar, lengkap dengan sebuah kolam renang dan lapangan golf mini, yang letaknya berada di halaman belakang rumahnya.
Selama perjalanan menuju taman, lagi-lagi Elena dibuat takjub akan betapa besar dan mewahnya rumah lelaki tampan asal Italia itu. Beberapa lukisan pemandangan klasik dan patung dewa dewi Yunani kuno nampak menghiasi dinding dan beberapa sudut rumahnya. “Sayang sekali, rumah sebesar ini mengapa hanya sedikit ya penghuninya?” gumam Elena bingung.
“Good morning, Miss Elena,” sapa Alberto ramah seketika dirinya melihat kedatangan Elena.
Elena hanya tersenyum lalu menarik kursinya dan duduk persis bersebelahan dengan Alberto, sebelum akhirnya mulai memakan sarapannya. “Bagaimana rasanya? Enak?” tanya Alberto penasaran.
Elena langsung mengangguk, “Enak, enak sekali.” Elena hanya terdiam seraya memandangi pemandangan di sekitar rumah Alberto setelahnya. Kedua matanya terlihat menerawang, terus memandangi kediaman Alberto dengan serius bak seorang detektif yang sedang mencari bukti kejahatan.
Dahi mulus Alberto langsung mengerut, “Ada apa?”
Elena beralih menatap Alberto lagi, “Aku hanya merasa aneh saja. Bagaimana bisa kamu tinggal di rumah sebesar ini sendirian?”
Alberto menggeleng perlahan, “Aku tak pernah tinggal sendirian, Elena.”
“Lalu?” tanya Elena penasaran.
“Beberapa pengawal dan asisten rumah tanggaku juga aku biarkan tinggal di sini. Koki pribadiku juga suka menginap di sini setiap akhir bulan,” jawab Alberto ramah.
Elena mengangguk perlahan, “Ah, begitu ..”
Alberto tersenyum nakal. “Kenapa, hm? Kamu mau tinggal di sini juga bersama denganku?” godanya.
Elena langsung menggeleng, “Ah, bukan begitu! Hanya saja .. sayang kan kalau rumah sebesar dan sebagus ini tidak ada penghuninya?”
Alberto menghela napas sejenak, “Yeah .. Itulah mengapa aku meminta beberapa orang pengawal dan asisten rumah tanggaku untuk tinggal bersama denganku. Yang paling utama supaya aku tak merasa kesepian.”
“Kamu .. suka merasa kesepian?” tanya Elena takut-takut.
Alberto tersenyum miris, “Kadang-kadang.”
Elena terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Ayah dan ibumu .. ada di mana sekarang?”
“Mereka sudah lama meninggal,” jawab Alberto serius.
Elena langsung merasa amat bersalah, “Maaf, aku tak bermaksud ..”
Alberto tersenyum manis, “No. It’s okay.”
Seketika, Elena malah jadi teringat kalau sekarang seharusnya dirinya sudah berada di kantor. Padahal Elena baru saja keterima kerja, tapi dirinya sudah telat dan berbuat kesalahan dengan absen hari ini. “Astaga, aku lupa! Aku kan harus berangkat kerja sekarang! Aduh, bagaimana ini? Bisa-bisa aku dipecat ..,” ucapnya panik.
Alberto tersenyum lebar, “Tidak apa-apa, aku sudah beritahu atasanmu kalau kamu tidak bisa masuk kerja hari ini.”
Elena langsung terkejut, “Eh? Benarkah? Bagaimana bisa?”
Alberto mengangkat kedua bahunya santai, “Kami memang sudah lama menjalin hubungan kerja.”
“Bukankah kamu investor baru di perusahaan tempatku bekerja?” tanya Elena curiga.
Alberto mengangguk perlahan, “Yeah, aku memang investor baru di sana, tapi aku sudah kenal lama dengan beberapa orang atasanmu.”
“Ah, begitu ..,” ucap Elena lega. “Terima kasih,” lanjutnya.
“No, no, aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Elena.”
Elena menatap Alberto bingung, “Berterima kasih untuk apa?”
Alberto hanya tersenyum. ‘Karena kamu sudah hadir dalam hidupku,’ benaknya.
Elena terdiam sejenak seraya menatapi rerumputan hijau yang ada di hadapannya sebelum akhirnya kembali bicara. “Tadi malam .. kita benar-benar tidak melakukan apa-apa kan?” tanyanya takut-takut.
Alberto langsung menggeleng, “Tidak sama sekali.”
Elena menatap Alberto curiga, “Sungguh?”
“Aku bersumpah padamu, Elena,” ucap Alberto serius. Alberto lanjut menggoda Elena, “Lagipula bukankah kamu mengunci pintu kamarmu semalaman? Bagaimana bisa aku melakukan sesuatu padamu, hm?”
“Ah, iya juga ..,” ucap Elena kikuk. Wajah cantik Elena seketika merona padam begitu dirinya melihat keperkasaan Alberto, yang terlihat amat menonjol dan menantang dari balik celana pendek warna hitamnya. ‘Oh, astaga,’ benaknya.
Alberto menyeringai nakal, “Kenapa, hm?”
Elena langsung membuang muka. “Tidak apa-apa ..,” bohongnya.
Seringai nakal di wajah tampan Alberto melebar. Dirinya sebenarnya tahu betul ke mana arah kedua mata Elena yang cantik itu menatap.
Selepas sarapan bersama, Alberto memutuskan untuk mengantar Elena pulang. Semakin lama dirinya menghabiskan waktunya bersama dengan Elena, semakin sulit pula dirinya mengontrol keinginannya. Gairahnya. Nafsunya untuk memiliki Elena Arendea seutuhnya.
“Aku akan mengantarmu pulang setelah ini,” ucap Alberto serius.
Elena hanya mengangguk.
Begitu sampai di halaman depan rumah Elena, Alberto langsung memegang pergelangan tangan Elena, mencegahnya untuk keluar dari mobil jaguar hitamnya sejenak. “Tunggu,” ucapnya serius.
Elena mengerutkan dahi mulusnya, “Ada apa?”
“Maaf sudah memaksamu bermalam di rumahku tadi malam.”
Elena tersenyum tipis, “Tidak apa-apa.”
Tanpa menunggu lama, Alberto langsung mencium bibir Elena sebelum akhirnya beralih mencium dahi mulusnya sejenak. “Sampai jumpa nanti, Elena,” ucapnya seraya tersenyum manis.
“Hati-hati di jalan, Alberto,” ucap Elena seraya sedikit tersipu malu.
Begitu masuk rumahnya, Elena langsung terkejut setengah mati seketika dirinya melihat siapa gerangan laki-laki muda yang tengah duduk sendirian di sofa empuk ruang tamu rumahnya. Ya, Nathan Gauthier, kekasih hatinya. Raut wajah Nathan nampak begitu cemas, tapi juga terlihat sedikit kesal di saat yang bersamaan.
“Nathan?” ucap Elena terkejut.
Nathan menatap Elena dingin, “Kamu darimana saja, Elena?”
Elena langsung gelagapan. “Ah, itu .. Aku .. aku baru pulang kantor ..,” bohongnya.
Nathan tersenyum miring, “Pulang kantor sesiang ini?”
Elena langsung membatu. Elena hanya terdiam di tempatnya, tak berani menatap balik wajah tampan Nathan yang terus menatapinya dengan raut yang terlihat amat curiga, cemas nan kesal di saat yang bersamaan.
Nathan lanjut bicara seraya menatap Elena tajam, “Dan lagi, ke mana saja kamu semalam? Ayah dan ibumu terus-terusan mencarimu, Elena. Mereka bilang kamu tak pulang semalam.”
Sebuah petir seolah-olah langsung menyambar kepala Elena. Dengan takut-takut, Elena balik menatap Nathan dengan raut wajahnya yang terlihat amat bersalah. ‘Maafkan aku, Nathan,’ benaknya.
“Jawab aku, Elena,” ucap Nathan seraya menatap wajah cantik Elena serius. “Ke mana saja kamu semalam?” ucapnya lagi.
Elena langsung gelagapan, “Ah, itu .. aku ..” Elena memperhatikan wajah kekasih hatinya sejenak. Elena dapat melihat kekhawatiran dan amarah yang tergambar dengan jelas di sana. ‘Maafkan aku, Nathan, tapi aku tak mungkin mengatakan yang sebenarnya padamu,’ benaknya getir. Elena menghela napas sejenak, “Aku pergi menginap di rumah temanku ..”
“Temanmu yang mana?” ucap Nathan curiga.
“Tiffany. Dia teman kantorku yang baru,” bohong Elena. “Maaf tidak mengabarkanmu. Kemarin sore aku mencoba menghubungimu, tapi ponselmu malah tak aktif ..,” ucap Elena dengan raut wajahnya yang terlihat amat bersalah.
Nathan langsung terkejut, “Kemarin sore saat hujan deras?”
Elena mengangguk perlahan, “Iya ..” Elena lanjut berbohong, “Akhirnya .. aku diantar pulang oleh Tiffany, dia juga memintaku untuk sekalian bermalam di rumahnya saja.”
Nathan langsung memeluk tubuh mungil Elena. “Maafkan aku, Elena. Seharusnya aku langsung menjawab panggilanmu kemarin ..,” ucapnya seraya mengelus perlahan rambut panjang Elena.
Elena tersenyum kecut. ‘Tidak, Nathan, seharusnya aku yang meminta maaf padamu,’ benaknya yang merasa amat bersalah karena sudah membohongi kekasih hatinya sendiri.
Nathan melepas pelukannya lalu beralih menangkupkan wajah cantik Elena dengan kedua tangannya dan menatapnya nanar, “Ponselku mati saat itu, baterainya habis. Segera setelah aku tahu aku mendapat panggilan darimu, aku langsung mengunjungi rumahmu. Aku menunggu cukup lama di rumahmu, Elena. Aku menunggu sampai malam, bahkan sampai orangtuamu pulang, kamu belum kembali juga.”
“Maafkan aku, Nathan ..,” lirih Elena.
Nathan tersenyum seraya menggeleng, “It’s okay. Yang penting, jangan lakukan hal itu lagi, oke? Kamu membuatku khawatir, Elena. Aku takut kalau sampai ada sesuatu yang buruk terjadi padamu.”
Elena hanya tersenyum seraya mengangguk. Nathan lanjut bicara, “Besok kamu ada acara?”
“Tidak, kenapa memangnya?” ucap Elena seraya tersenyum dan menggeleng.
“Aku mau mengajakmu makan bersama. Jam lima sore selepas pulang kantor bagaimana?” ucap Nathan seraya mengelus perlahan pipi mulus Elena.
“Ah, benarkah?!” ucap Elena semangat. Elena langsung mengangguk, “Tentu, aku mau. Di mana?”
Nathan tersenyum ramah, “Di salah satu restoran seafood, letaknya di pinggir pantai. Aku berani jamin makanan laut yang dijual di sana pasti masih segar karena ditangkap langsung dari laut.”
Elena mencium pipi Nathan sekilas, “Thanks, Nathan.”
Nathan tersenyum lebar, “You’re welcome, Elena.”
**Esok sorenya**
Waktu menunjukkan pukul lima lewat lima belas sore saat Alberto Romano dan salah satu anak buahnya sedang menunggu di dalam mobil jaguar hitamnya. Dalam diam, Alberto terus menatapi dengan serius gedung kantor tempat Elena bekerja—terus menunggu dan memata-matai Elena yang sebentar lagi hendak keluar dari gedung kantornya, persis seperti seekor singa yang sedang sibuk mengintai mangsanya.
“Mau sampai kapan kita menunggu di sini, boss?” tanya Michael, salah satu anak buah Alberto.
“Sampai Elena pulang kerja,” ucap Alberto serius. “Aku hanya mau memastikan dia pulang dengan selamat,” lanjutnya.
Tak lama setelahnya, Elena akhirnya keluar dari gedung kantor tempatnya bekerja. Kedua tangan Alberto langsung mengepal erat begitu dirinya melihat dengan jelas dengan siapa Elena akan pergi. Ya, Nathan Gauthier, kekasih hati Elena. Keduanya memang hendak makan bersama di salah satu restoran seafood, sesuai dengan janji Nathan kemarin.
“Sial ..,” bisik Alberto geram.
“Bukankah itu lelaki muda yang waktu itu kita lihat?” tanya Michael bingung.
Alberto tersenyum miring seraya mengangguk, “Iya. Dia kekasih Elena.”
Sementara Nathan dan Elena, sama sekali tak menyadari kalau nun jauh di sana, ada sebuah mobil beserta pengemudi dan pemiliknya yang mengintai keduanya dalam diam. “Bagaimana? Kamu sudah siap?” tanya Nathan seraya menyisir perlahan rambut panjang Elena dengan jari-jari tangannya.
Elena tersenyum lebar seraya mengangguk, “Sudah.”
Nathan membalas senyum Elena, “Let’s go.”
Begitu melihat kepergian motor yang membawa Nathan dan Elena pergi, Alberto langsung angkat bicara lagi. “Ikuti mereka,” ucapnya dengan raut wajah yang terlihat amat dingin nan serius.
*****
Semilir angin yang sejuk berhembus perlahan menimpa kulit Nathan dan Elena. Hangatnya sinar matahari yang tak lama lagi akan terbenam menjadi pemandangan yang seolah-olah memanjakan mata keduanya. Suara beberapa ekor burung camar yang sibuk mengepakkan sayapnya menjadi penambah indahnya matahari terbenam di sore yang cerah ini.
“Bagaimana? Kamu suka tempatnya?” ucap Nathan sesampainya di restoran seafood tempatnya dan Elena makan bersama.
Elena langsung mengangguk, “Suka, suka sekali, Nathan.”
Nathan tersenyum ramah, “Silahkan pesan apa saja yang kamu mau.”
“Be .. benarkah?” ucap Elena terkejut.
Nathan tersenyum lebar seraya mengangguk, “Iya.”
“Aku .. tak enak hati padamu, Nathan,” ucap Elena seraya menggeleng perlahan. Elena beralih memperhatikan buku menunya sejenak. “Lagipula harga makanannya mahal semua ..,” lanjutnya.
Nathan beranjak memegangi tangan Elena, “It’s okay, Elena. Aku yang traktir kali ini. Toh tidak sering-sering kita makan seperti ini, kan?”
“Benar tidak apa-apa?” tanya Elena yang masih merasa tak enak hati.
Nathan hanya mengangguk seraya tersenyum.
Elena membalas senyum di wajah tampan Nathan, “Thanks.”
Nathan mencium pipi mulus Elena sekilas, “Sama-sama.”
Sementara Alberto, diam-diam, masih memperhatikan Nathan dan Elena dari kejauhan. Dari dalam kaca mobil jaguar hitamnya, Alberto bisa melihat dengan jelas bagaimana mesranya Nathan dan Elena. Bagaimana Nathan mencium pipi Elena tadi. Sungguh, sebuah pemandangan yang bisa dikatakan jauh lebih menyeramkan dan menegangkan jika dibandingkan dengan film horror manapun yang pernah Alberto tonton sepanjang hidupnya.
“Elena ..,” ucap Alberto geram seraya menatap Nathan dan Elena tajam.
Selagi menunggu sampai seluruh pesanannya tiba, Nathan dan Elena duduk samping-sampingan, terdiam seraya menikmati sejuknya angin dan indahnya matahari terbenam. “Elena?” panggil Nathan setelahnya.
Elena langsung menoleh, beralih menatap balik wajah tampan Nathan, “Hm?”
Tanpa menunggu lama, Nathan langsung menangkupkan wajah Elena dengan kedua tangannya lalu mencium bibirnya sejenak. “Aku sangat mencintaimu, Elena,” ucapnya serius sebelum akhirnya beralih mencium bibir Elena lagi.
“A .. aku juga, Nathan ..,” ucap Elena kikuk.
Entah mengapa, seketika, Elena malah jadi teringat akan Alberto begitu bibir Nathan mendarat di atas bibirnya. Sungguh, sebuah sensasi yang amatlah berbeda. Elena bisa merasakan dengan jelas, betapa berbedanya ciuman bibir Alberto dan ciuman bibir Nathan. Nathan menciumnya dengan amat lembut, penuh kasih sayang—sementara Alberto, tak hanya menciumnya dengan lembut dan penuh kasih sayang, tetapi juga dengan hasrat dan gairah. Gairah yang mampu membakar sekujur tubuh Elena.
Elena langsung menggeleng. ‘Apa-apaan ini? Kenapa aku malah jadi memikirkan Alberto?’ benaknya kesal.
Dahi mulus Nathan langsung mengerut, “Ada apa, Elena?”
Elena langsung menggeleng. “Tidak apa-apa,” bohongnya.
Sementara Alberto, langsung geram dan emosi setengah mati seketika dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Nathan mencium bibir Elena tadi. “Lelaki sialan itu tak boleh memiliki Elena! Elena hanya milikku!” bentaknya seraya memukul dashboard mobilnya dengan kasar.
“A .. apa yang harus kita lakukan, boss?” tanya Michael takut-takut.
Alberto terdiam sejenak untuk berpikir. “Kita ke rumah Elena sekarang juga,” ucapnya dingin.
*****
Waktu menunjukkan hampir pukul tujuh malam saat akhirnya Elena sampai di halaman depan rumahnya. “Terima kasih banyak untuk hari ini, Nathan,” ucapnya pada Nathan yang juga mengantar dirinya pulang.
Nathan mengangguk seraya tersenyum, “Sama-sama. Aku pulang dulu.”
Elena mencium pipi mulus Nathan sekilas, “Hati-hati di jalan!”
Nathan hanya tersenyum lebar.
Begitu membuka pintu rumahnya, Elena langsung terkejut seketika dirinya mendapati ayah dan ibunya sedang menangis sesegukan seraya berlutut di atas lantai rumahnya yang dingin. Tak jauh dari tempat ayah dan ibunya menangis, terdapat Alberto Romano, yang sedang berdiri seraya melipat kedua tangannya di depan d**a bidangnya. Raut wajah Alberto nampak begitu dingin—berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Alberto yang terakhir kali Elena temui.
“Alberto?” ucap Elena terkejut.
“Elena ..,” lirih Kyra, ibu kandung Elena.
Dengan sigap, Elena langsung menghampiri ayah dan ibunya. “Ayah? Ibu? Ada apa ini? Kenapa kalian menangis?” ucapnya khawatir. Elena lanjut bicara pada Alberto seraya menatapnya kesal, “Apa yang sudah kamu lakukan pada orangtuaku, Alberto?”
Alberto hanya terdiam seraya terus menatapi Elena dengan raut wajahnya yang terlihat amat dingin—nyaris tanpa emosi.
♥♥TO BE CONTINUED♥♥