Chapter 7 - Sentuh Aku

1567 Words
“Tinggallah bersamaku malam ini.” Ucapan Alberto Romano tadi seolah-olah jadi bumerang yang terdengar amat mengerikan bagi Elena. “Stop! Berhenti sekarang!” bentaknya. Dahi mulus Alberto langsung mengerut, “Apa maksudmu?” Elena menatap Alberto emosi, “Turunkan aku sekarang, Alberto! Kamu sudah tidak waras, ya?!” Alberto langsung menggeleng. “Aku tidak akan menurunkanmu sekarang. Kita belum sampai di tujuan, Elena,” ucapnya serius. Kedua mata Elena langsung membulat. “Turunkan aku sekarang! Kamu mau menculikku, ya?!” bentaknya lagi. Bukannya merasa kesal, Alberto malah tersenyum manis. “Siapa yang mau menculikmu, hm?” ucapnya seraya mengelus lengan Elena dengan perlahan. Elena langsung bergerak menjauh, “Jangan menyentuhku!” Elena terdiam sejenak untuk berpikir. “Baik, kalau kamu tidak mau berhenti, biar aku turun sekarang,” ucapnya seraya membuka pintu mobil jaguar hitam milik Alberto yang masih melaju kencang di jalanan beraspal. Dengan cekatan, Alberto langsung banting stir ke bahu jalanan dan menepi sejenak. “Stop!” bentaknya seraya memegangi tangan Elena. Alberto mengunci mobil jaguar-nya setelahnya lalu beralih menatap Elena dengan tatapannya yang terlihat amat berapi-api. “Bahaya, Elena! Kamu mau mati?!” bentaknya kesal. Elena tersenyum kecut. ‘Ya, sepertinya akan lebih baik kalau aku mati saja,’ benaknya. Alberto menghela napas sejenak, “Please, jangan berbuat seperti itu lagi. Kamu membahayakan dirimu sendiri, Elena. Kamu membuatku khawatir, kamu tahu?” Alberto lanjut bicara seraya menatap Elena iba, “Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Percayalah padaku.” Elena hanya terdiam, sama sekali tak merespon. ‘Maaf, tapi aku tidak bisa percaya padamu, Alberto,’ benaknya getir. Alberto kembali menyetir mobil jaguar-nya tak lama kemudian, “Tunggu sebentar, kita akan segera sampai tak lama lagi.” ***** Elena langsung melongo dan tertegun kaget sesampainya di depan kediaman Alberto. Sebuah rumah besar nan megah—sungguh, rumah termegah yang pernah Elena datangi seumur hidupnya—terpampang di hadapannya.   “I .. ini rumahmu?” ucap Elena kaget seraya terus memandangi rumah megah yang terdapat garasi dan taman di halaman depannya itu. Alberto tersenyum seraya mengangguk, “Tentu.” Elena terdiam sejenak memperhatikan dua laki-laki berwajah garang dan bertubuh tinggi semampai yang berdiri di depan rumah Alberto. “Siapa orang-orang itu?” tanyanya penasaran. “Penjaga rumahku,” jawab Alberto santai. Alberto membuka pintu mobil jaguar-nya setelahnya, “Ayo.” “Tunggu,” ucap Elena. “Cara membuka seatbelt-nya bagaimana?” Alberto tersenyum ramah seraya membukakan Elena seatbelt-nya, “Seperti ini.” “Te .. terima kasih,” ucap Elena yang terlihat sedikit salah tingkah. Begitu menginjakkan kaki di dalam kediamannya, seorang pelayan langsung menyambut kedatangan Alberto dan Elena. “Selamat malam, Tuan Alberto,” ucapnya ramah. Alberto hanya tersenyum manis. Tanpa menunggu lama, Alberto langsung membawa Elena ke kamar tidur khusus untuknya, yang terdapat di lantai dua, setelahnya. “Ini kamarmu. Kalau butuh sesuatu, kamu panggil saja aku. Oke?” ucapnya ramah. Elena hanya mengangguk. Lagi-lagi, Elena dibuat tertegun kaget seketika dirinya melihat betapa besar dan luasnya kamar tidur pribadinya. Dengan langkah santai, Elena langsung berjalan menuju sebuah kamar mandi yang terdapat di dalam kamar tidur pribadinya. Kamar mandi mewah berarsitektur ala Eropa modern langsung terpampang di hadapannya. ‘Oh, astaga, bahkan kamar mandinya saja luas sekali,’ benak Elena terkejut. Elena memperhatikan bath tub yang tergeletak di hadapannya sejenak, “Seperti apa ya rasanya berendam di dalam bath tub?” Elena baru saja membuka beberapa kancing kemeja kerjanya saat tiba-tiba dirinya mengurungkan niatnya kembali. “Ah, tunggu dulu. Apakah aman kalau aku membuka bajuku?” ucapnya curiga. Dengan cekatan, Elena langsung mengunci pintu kamar pribadinya lalu kemudian mengunci pintu kamar mandinya. “Aku tak bisa mempercayai Alberto begitu saja,” ucapnya. Begitu memastikan kalau semuanya sudah aman dari jangkauan Alberto, Elena langsung merebahkan dirinya ke dalam bath tub yang sudah diisi dengan air hangat dan minyak lavender yang harum. “Nyaman sekali ..,” ucap Elena yang merasa otot-otot tubuhnya terasa rileks seketika. Tak terasa, hampir lima belas menit sudah berlalu. Tanpa sadar, sudah selama itu pula Elena berendam dan tak sengaja tertidur di dalam bath tub-nya. Untungnya, suara Alberto dan suara pintu kamarnya yang diketuk langsung membangunkan Elena dari tidur-tidur ayamnya. Kalau tidak, mungkin Elena akan benar-benar jatuh sakit karena terlalu lama berendam. “Elena? Kamu masih ada di dalam?” ucap Alberto khawatir. Elena langsung terkejut. “Astaga, jam berapa sekarang?” ucapnya. Dengan cekatan, Elena langsung mengeringkan tubuhnya sejenak lalu beralih mengenakan sebuah bath robe yang tergeletak di samping wastafel kamar mandi. Elena menghampiri Alberto setelahnya. “Ada apa, Alberto?” ucapnya dari balik pintu kamar tidurnya. “Aku membawakanmu pakaian ganti,” jawab Alberto yang suaranya tidak terlalu terdengar jelas dari balik pintu kamar tidur. Elena membuka pintu kamar tidurnya sedikit lalu menerima pakaian yang diberikan Alberto. “Terima kasih,” ucapnya sebelum akhirnya menutup kembali pintu kamar tidurnya dengan cekatan. Begitu selesai mengenakan pakaian tidur yang diberikan Alberto tadi, Elena beralih memperhatikan pantulan dirinya yang terpantul melalui sebuah cermin besar yang ada di hadapannya. Sungguh, mengerikan sekali rasanya bagaimana Alberto Romano bisa mengetahui dengan persis ukuran setiap lekuk tubuh Elena. Dahi mulus Elena langsung mengerut, “Mungkinkah ini semua hanya kebetulan?” Tak sampai setengah jam kemudian, lagi-lagi, Alberto mengetuk pintu kamar tidur Elena. “Elena? Aku boleh masuk?” ucapnya. “Kamu mau apa?” tanya Elena curiga. “Aku membawakanmu makan malam,” jawab Alberto santai. Elena yang sudah merasa amat keroncongan, mau tak mau akhirnya membukakan pintu kamar tidurnya untuk Alberto. “Masuk,” ucapnya dingin. Harum aroma masakan yang amat menggugah selera memenuhi indera penciuman Elena setelahnya. Namun bukannya mulai memakan makanannya, Elena malah terdiam seraya terus menatapi makan malamnya dengan tatapan yang terlihat amat curiga. Alberto tersenyum ramah, “Tenang saja, Elena. Aku sama sekali tak mencampurkan racun atau obat tidur ke dalam makananmu.” Elena hanya menelan ludahnya dengan kasar, sebelum akhrinya mulai memakan makan malamnya dengan lahap. Alberto kembali bertanya seraya menatap Elena penasaran, “Bagaimana rasanya?” “Enak ..,” ucap Elena seraya sedikit berbisik. “Thanks.” Alberto menatap Elena serius, “Maafkan aku ..” “Maaf untuk apa?” tanya Elena bingung. “Maaf, aku sudah membentakmu tadi di jalan. Aku hanya tak ingin kalau sampai ada sesuatu yang buruk terjadi padamu,” ucap Alberto seraya menatap wajah cantik Elena dengan tatapannya yang terlihat amat bersalah. Elena menggeleng perlahan, “Tidak apa-apa ..” Alberto memperhatikan wajah cantik Elena sejenak, “Tunggu.” Alberto beranjak mengusap bekas saus yang mengotori sudut bibir Elena dengan ibu jarinya setelahnya, “Ada saus di sudut bibirmu tadi.” Elena hanya tersenyum tipis. Alberto lanjut bertanya, “Kamu suka dengan kamarmu?” “Kamarku?” ucap Elena terkejut. “Maksudku kamar tidurmu sekarang.” Elena mengangguk perlahan, “Suka .. Luas sekali .. Sepertinya luasnya tiga kali kamar tidurku ..” Alberto hanya terdiam setelahya seraya terus menatapi wajah cantik Elena dengan tatapannya yang terlihat amat sulit untuk diartikan. “Ke .. kenapa?” tanya Elena takut-takut. Bukannya menjawab, Alberto malah mengecup bibir Elena sekilas. “Bibirmu manis, sama manisnya seperti madu yang barusan kamu makan,” ucapnya seraya tersenyum. Elena hanya terdiam seraya menatapi wajah tampan Alberto. Lelaki tampan asal Italia itu kembali bicara setelahnya, “Elena .. Tahukah kamu kalau kamu sudah berhasil membuatku gila?” “Ma .. maksudmu?” Alberto menatap Elena serius, “Aku mencintaimu, Elena. Aku mengagumimu. Aku suka semua hal tentang dirimu.” Alberto menangkupkan wajah cantik Elena dengan kedua tangannya lalu beralih berbisik tepat di depan wajahnya, “Aku mau memilikimu.” Tanpa menunggu lama, Alberto kembali mencium bibir Elena. Sama sekali tak ada perlawanan dari Elena, yang malah terlihat begitu menikmati cumbuan bibir seorang Alberto Romano. Jari-jari tangan Alberto yang nakal itu mulai bergerak bebas setelahnya, menggerayangi gundukan ranum Elena yang selalu ingin disentuhnya sejak dulu. “Mphh ..,” erang Elena di sela-sela ciumannya. Alberto melepas ciumannya sejenak. “Kamu menyukainya, Elena?” ucapnya seraya menyeringai nakal. Dengan sigap, Alberto mulai menyelusupkan tangannya masuk ke balik celana tidur dan panties yang dikenakan Elena, lalu membelai lembut lipatan intimnya dengan perlahan. “Bagaimana dengan yang ini?” goda Alberto sebelum akhirnya menyelusupkan tiga jarinya sekaligus ke dalam lubang surga Elena yang mulai basah. “Ahhh ..” desah Elena yang tak kuasa lagi menahan gairah yang terus berkecamuk dalam dadanya. Alberto Romano bergerak semakin liar nan cepat setelahnya, hingga akhirnya berhasil membawa Elena masuk ke dalam sebuah puncak kenikmatan baru—sesuatu yang belum pernah Elena rasakan sebelumnya dalam hidupnya. “Ahhh .. Lebih cepat .. Ahhh!” desah Elena setelah akhirnya merasakan puncak kenikmatan pertama dalam hidupnya. Dengan napas yang masih amat terengah-engah, Elena kembali bicara pada Alberto, “Al .. Alberto .. Aku ..” Alberto tersenyum manis lalu mencium dahi mulus Elena sekilas, “Shh .. it’s okay ..” Alberto merapihkan pakaian Elena sejenak lalu beranjak bangkit berdiri setelahnya. “Selamat malam, Elena,” ucapnya ramah sebelum akhirnya  pergi meninggalkan Elena sendirian. Sesampainya di kamar tidurnya, Alberto langsung meremas rambut tebal kecoklatannya dengan raut wajah yang terlihat amat frustrasi. Oh, padahal batang keperkasaan Alberto sudah menegak dan berontak di bawah sana. Apalagi tadi, saat dirinya melihat bagaimana bergairahnya wajah cantik Elena. Saat dirinya mendengar desahan Elena yang terdengar bagaikan syair yang merdu di telinganya. Alberto langsung menggeleng. “Tidak, sekarang belum saat yang tepat bagiku untuk memiliki Elena seutuhnya,” ucapnya serius. ♥♥TO BE CONTINUED♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD