Episode 1-Jangan Punya Anak Dengan Istrimu!
Kemuning Melati, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu harus menghentikan langkah di balik dinding pembatas antara dapur dan ruang tamu. Bukan tanpa sebab ketika ia mendadak mengambil sikap seperti itu, di saat sudah membawa nampan berisikan dua cangkir teh untuk Arendra serta Mirah, suami dan juga ibu mertuanya. Pasalnya belum sempat melangkah keluar, sudah ada omongan dari mulut Mirah yang begitu pedas sekaligus sangat menyakitkan, yang langsung membuat Kemuning syok hingga terpaku diam.
“Kita sudah bersepakat sejak sebelum kamu menikah, Ar! Kamu boleh menikahinya, tapi kamu enggak boleh punya anak darinya! Kemuning itu jelek, hitam, kumal, dan pesek. Padahal kamu putih dan tampan lho. Kamu juga seorang penulis terkenal! Cuma gara-gara menikah dengan perempuan udik itu, namamu juga jadi tercoreng! Banyak yang menilai kalau kamu bodoh karena salah pilih! Lantas bagaimana jika anak kamu dengan dia nantinya malah jelek kayak ibunya?! Apa kamu enggak malu? Bukankah hal itu malah akan bikin anak kamu terluka karena terlahir buruk rupa?!” ucap Mirah, ibu mertua Kemuning sekaligus ibu kandung Arendra Damar Langit, selaku suami Kemuning.
“Dan lagi, kamu kan sudah punya Jasmine, anak kamu sama mendiang istri kamu yang cantik. Ibu rasa, Jasmine sudah lebih dari cukup. Jasmine cantik dan pintar untuk anak usia lima tahun. Jangan membuatnya ikut dihujat, lantaran adiknya jelek!” lanjut Mirah semakin geram.
”Bu, tolong jangan keras-keras. Nanti Kemuning mendengar ucapan Ibu ...!” Meskipun menyahut dengan suara yang pelan, tetapi ucapan Arendra penuh penekanan.
”Biar saja! Biar dia juga tahu diri dan enggak ngelunjak, setelah berhasil jadi istri penulis terkenal dan juga anak mantu artis senior yang terhormat!”
”Ibu ... tolong!”
Di balik dinding pembatas antara dapur dan ruang tamu itu, Kemuning masih bersembunyi. Perasaannya hancur berkeping-keping. Ia tahu ucapan ibu mertuanya memang nyaris benar, bahwa dirinya memang jelek dan tidak pantas jika bersanding dengan Arendra yang tampan. Namun mengapa baru sekarang dipermasalahkan? Apa memang sudah lama, karena selama dua bulan menikah dengan Arendra, hubungan Kemuning dengan Mirah memang terasa jauh? Pasalnya, antara Mirah dan Arendra pun nyatanya sudah memiliki kesepakatan yang tidak Kemuning ketahui.
Sebenarnya, apa aku memang sejelek itu? Meskipun memiliki pigmen warna sawo matang, tapi kulitku sangat bersih kok. Meskipun hidungku memang enggak panjang, tapi enggak terlalu pesek sampai aku kesulitan bernapas kok. Tapi kenapa aku masih saja dianggap sampai ke arah buruk rupa? Apakah di mata Ibu Mertua, aku memang selayaknya monster hina?
Kemuning menghela napas dan memejamkan matanya yang terasa panas dalam beberapa detik. Ia mencoba menenangkan diri, pun dengan usahanya untuk berpikir lebih positif. Di negara ini, memang masih banyak orang yang masih beranggapan bahwa standar kecantikan itu harus berkulit putih dan berhidung mancung. Meskipun kulit sawo matang sudah menjadi identitas sebenarnya bagi penduduk negara tropis di Asia Tenggara ini, nyatanya masih banyak orang yang kerap membeda-bedakan fisik.
Termasuk Mirah, yang sebenarnya masih cantik sebagai salah satu artis senior yang selalu mengutamakan penampilan. Mungkin Mirah memang tidak mau garis keturunannya memiliki satu saja kekurangan di segi fisik.
“Entahlah,” gumam Kemuning lalu menghela napas lagi, agar semua perasaan gusarnya dapat menghilang. Detik berikutnya, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke arah ruang tamu, meskipun ia harus menghadapi ibu mertuanya yang telah menghina bentuk fisiknya secara terang-terangan.
Kehadiran Kemuning yang dengan rajin dan sopan membawa dua cangkir teh, disambut dengan tatapan tajam penuh kebencian oleh Mirah. Di sisi lain, Arendra hanya terdiam, membuat Kemuning menjadi bingung untuk menentukan sikapnya. Kalau saja si penghina adalah wanita seumuran, tentu Kemuning akan langsung menyiramkan salah satu teh yang masih panas itu pada si penghina tersebut. Sayangnya, si penghina justru ibu mertuanya sendiri, yang sejelek apa pun sikapnya masih harus Kemuning hargai.
”Silakan diminum, Ibu,” ucap Kemuning masih berusaha bersikap santun, di saat dadanya sudah bergemuruh berisik. Bahkan matanya masih terasa panas dan pedas, lantaran desakan air mata yang ingin segera membanjiri kedua pipinya.
”Apa kamu sudah gila?! Kamu ingin saya celaka?!” celetuk Mirah sengit, dan membuat keputusan Kemuning untuk duduk di samping Arendra menjadi tertunda.
Kemuning menggertakkan gigi. “Memangnya apa yang sudah saya perbuat, Ibu?” balasnya bertanya.
“Lho, lho! Ternyata kamu itu bodoh dan enggak peka ya? Saya enggak habis pikir kenapa kamu bisa diangkat sebagai kepala tim divisi perencanaan di perusahaan itu, di saat otak kamu tumpul begitu?!” Mirah melipat kedua tangannya dan bersikap angkuh. ”Sudah kumal, bodoh lagi!”
“Ibu!” tegas Arendra. “Tolong jangan keterlaluan, Bu!”
Kemuning menghela napas, berusaha mengumpulkan sisa keberanian di dalam dirinya. “Saya tidak bodoh, Ibu. Dan saya benar-benar sadar bahwa saya tidak melakukan kesalahan. Saya memang jelek. Tapi apakah karena tidak good looking, lantas saya menjadi yang paling bersalah di setiap keadaan?”
“Keberadaanmu saja sudah salah! Kok malah tanya!” tegas Mirah semakin kesal lantaran Kemuning yang baru menjadi anak mantunya selama dua bulan justru langsung menyahuti ucapannya. “Melihat teh yang masih mengepul dan sudah pasti masih panas saja, kamu malah nyuruh saya meminumnya. Kalau saya enggak peka dan lantas menyantap teh itu, bukankah lidah saya akan terbakar?! Begitu saja kok kamu enggak tahu!”
“Ibu, cukup!” Arendra kembali menegaskan. “Sekarang Ibu langsung bilang saja, apa yang membuat Ibu tiba-tiba datang dengan membawa koper besar? Saya masih banyak pekerjaan, Bu. Lusa, saya sudah harus menyelesaikan naskah saya!” Ia menoleh ke arah Kemuning. “Duduklah, Kemuning.”
“Baik, Mas,” jawab Kemuning pelan.
Kemuning segera mengambil sikap duduk di sofa yang bersebelahan dengan suaminya. Terlepas dari rasa dongkolnya sebab Mirah terus merundungnya hanya karena tidak good looking, sebenarnya saat ini dan sejak Mirah baru tiba, hati Kemuning sudah was-was. Koper besar yang dibawa oleh Mirah memberikan tanda bahwa akan ada keinginan besar dari wanita tua berusia lima puluh lima tahun itu.
Mirah tetap bersikap angkuh dan judes, meski sebenarnya agak malu. Tak berselang lama, ia pun berkata, “Ibu ingin tinggal di sini.”
“Hah?!” Kemuning refleks melongo dengan rahang terbuka dan mata yang sudah semakin melebar. “Bukankah rumah Ibu sangat besar, kenapa mendadak ingin pindah ke rumah sempit kami?”
“Memangnya kenapa? Kamu enggak setuju?” sahut Mirah. “Mau bagaimanapun ini rumah Arendra lho, bukan rumah kamu! Saya kan mau tinggal sama anak dan cucu kesayangan saya! Kamu seharusnya enggak menolak dong!”
Kemuning sungguh tidak setuju. ”Ta-tapi—”
“Kenapa Ibu mendadak membuat keputusan seperti itu?” sahut Arendra. “Ibu enggak mengambil pinjaman demi koleksi tas lagi, 'kan?”
“En-enggak kok! Ibu hanya ingin tinggal bersama Jasmine!” tandas Mirah, yang sebenarnya sudah keringat dingin. Karena meski usianya tak lagi muda, nyatanya ia tetaplah perempuan yang gemar hidup hedon. Ia mudah iri jika orang lain memiliki barang yang lebih dari dirinya. “Ibu kan sudah tua, Ar! Sudah enggak banyak tawaran akting lagi! Buat bayar listrik dan bayar pembantu, Ibu mana bisa! Kalian berdua kan bekerja! Cuma ditumpangi satu orang lagi, enggak bakal kesulitan kali! Lagian, Ibu cuma punya kamu saja setelah ayahmu meninggal, Ar! Dan rumah Ibu sudah masuk forum penjualan tahu!”
Enggak kesulitan bagaimana? Kalau Ibu orang baik sih enggak apa-apa, aku justru dengan senang hati menampung Ibu. Tapi setelah menghina fisikku, malah membuat keputusan ingin tinggal bersamaku? Memangnya itu masuk akal?! Kenapa sih harus seperti ini?! Kenapa pula mau menjual rumah, tapi enggak bicara dulu? Kenapa aku harus punya mertua macam dia?! Aku enggak bakalan sanggup, tahu! Aku enggak akan kuat! Batin Kemuning meronta-ronta. Rasa sesak yang sempat pergi, kini justru datang kembali. Benar-benar kesal, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berharap agar Arendra menolak permintaan sang ibu.
Namun sayang, harapan Kemuning menjadi pupus ketika Arendra justru menganggukkan kepala atas permintaan untuk tinggal bersama sesuai yang Mirah inginkan.
***