47. Hukuman dan Harapan

2521 Words

 Saatnya bicara berdua di malam bulan purnama. Meja di teras berjajar sisa-sisa potongan kue yang penuh warna. Sangat banyak berbagai macam rasa.  "Seperti perasaanku padamu. Huuu, manis banget! Cobain deh jangan dilihat mulu. Jauh-jauh nengokin gue masa hidangannya nggak dimakan? Daripada mubazir tau, Ar." Naina menyumpali mulut Arya dengan potongan kue kecil. Arya melotot tanpa mengunyah kue itu.  "Kenapa? Enak, ya? Haha, makasih... Gue yang buat pasti selalu enak. Nggak sia-sia, deh lo nikah sama gue. Makan lagi aja. Habiskan semuanya. Gue seneng banget kalah lo yang makan, hahaha!" tawa lebih manis dari gula manapun itu membuat Arya tersedak dan tidak berhenti mengunyah. Naina terus menjejalinya dengan kue-kue kecil. Terpaksa dia harus mengunyah dengan cepat. Sampai bicara pun tidak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD