Bab XXIX

1107 Words

"Astaghfirullah..." Dia menyebut lirih. Sama sekali lupa dengan janji yang dibuatnya dengan Ibunya beberapa minggu lalu. Padahal dia sendiri yang berjanji. Sebentar lagi bulan puasa, dan Ibunya ingin nyekar di makam menantu dan cucunya. Itu adalah rutinitas Ibunya. Bisa - bisanya dia melupakan hal itu. "Tuh kan, Mbokdhe, dekne kelalen ini mesti. Dia tuh kelupaan." Dia mendengar Mbak Nah berseru pada seseorang di sana yang kemungkinan adalah Ibunya. "Maaf, Mbak. Aku lupa. Ibu di sana? Boleh ndak aku ngomong sama Ibu?" pintanya. Dia memijit pelipisnya yang sekarang berdenyut menyakitkan. Dia terlalu fokus pada operasi kemarin sehingga melupakan janjinya pada Ibunya. Ini hari rabu. Janjinya pada Ibunya adalah untuk menjemputnya akhir minggu kemarin. Biasanya, Ibunya akan bersamanya sepanj

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD