Bab 4 Papa yang cool

1052 Words
Saat itu Yura sangat bahagia, karena papanya yang sudah hampir empat bulan lamanya baru saja pulang ke rumah. Begitu pula papanya yang baru bertemu dengan anak gadisnya. Bukan papa Yura tidak ingin lebih lama di rumhnya sendiri, namun ia merasa sesak saat menatap sekeliling rumah yang penuh dengan kenangan sang istri disana, semuanya di setiap sudut. Hingga Angga Wibawa tidak bisa menggantikan posisi sang istri oleh wanita manapun, meski umur nya yang terbilang masih belum tua, bisa dikatakan matang untuk lelaki seusianya. "Sayang...bagaimana sekolahmu? apa ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan pada papa? papa mau dengar semua cerita tentang puteri papa." Ucap Angga Wibawa di sela sela menuruni anak tangga menuju ke meja makan, dimana disana sudah ada bibi asisten rumah tangga yang di percaya papa Yura untuk menjaganya. Bibi sudah menunggu keduanya untuk makan malam. Sejenak Yura ingin menceritakan perihal guru baru yang terlihat genit padanya, namun karena ia merasa semua masih di batas normal, Yura hanya bisa diam saja dan memilih untuk menyunggingkan senyum manisnya untuk sang papa. "Semua aman terkendali papa...semua baik baik saja, papa...jangan khawatir ya..." Ucap Yura pada papanya. Hingga malam itu terlewati begitu saja, dengan riang gembira dan obrolan obrolan ringan namun hangat, sampai papa meminta anak gadisnya untuk segera beristirahat, karena esok ia harus sekolah pagi pagi. Yura pun yang merasa ia sudah mengantuk, hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan papanya, Yura sebenarnya belum ingin berpisah dari papanya, bisa dibilang ia masih sangat merindukan papanya tersebut, namun ia tidak bisa menolak apa yang papanya perintahkan, dan ia sebagai anak yang penurut hanya bisa mengangguk mengiyakan apa yang papanya inginkan. Dengan langkah gontainya Yura berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, sampai disana ia pun hanya bisa merebahkan tubuhnya di atas pembaringan, menatap kearah langit langit kamarnya, matanya menengadah, menatap satu titik disana. Ia pun tidak lupa untuk memasang alarm pada ponselnya. Alarm itulah yang esok akan membangunkannya. "Cinta papa sangat dalam pada mama, sampai sampai papa tidak ingin mencari pengganti mama, cinta? apakah itu yang dinamakan cinta? mereka bilang...itu namanya cinta, dan aku pun tidak percaya kekuatan cinta itu sebelum aku merasakannya sendiri." Ucap Yura dalam hatinya, karena memang Yura belum merasakannya, hingga sayup sayup ia pun tertidur dengan sendirinya. Udara dingin masih tersisa, tanda pagi mulai menjelang, Yura sudah terbangun sebelum alarm pada ponselnya berbunyi, segera saja gadis itu memulai aktivitas rutin paginya, membereskan kamarnya dan memasukan pakain kotor ke bak khusus pakaian kotor yang terletak di sudut kamar mandi bagian dalam, nanti bibi akan mencucinya, meski Yura anak orang kaya, namun ia tidak manja seperti gadis pada umumnya. Usai dengan aktivitas paginya, Yura pun segera keluar dari dalam kamarnya, ia menatap kearah kamar papanya, yang masih tertutup rapat disana, Yura ingin mendekat dan memastikan apakah papanya sudah bangun pula atau belum, dan ternyata... "Sayang...kamu mau mencari papa ya?" Tanya seseorang yang suaranya jelas jelas Yura kenali. "Akh papa, mengagetkan saja tahu...huuuft..." Dengus Yura saat menatap papanya yang baru usai joging sepertinya, terlihat dari pakaian olah raga yang santai papa Yura kenakan saat itu. "Sana, bantuin bibi menyiapkan sarapan...papa mau mandi dulu, gerah nih...lengket..." Ucap papa Yura sembari berlalu pergi menuju kamarnya, dan meninggalkan Yura sendiri disana, namun sebelum ia pergi, papa Yura terlebih dahulu mengacak acak puncak rambut anak gadisnya, barulah tertawa riang dan masuk kedalam kamarnya, lalu menutup pintu kamarnya rapat rapat. "Hah...mana ada yang percaya kalau papa itu suka jahil..." Dengus Yura dengan kesalnya sembari merapikan rambutnya kembali seperti semula. "Sudah hampir satu jam aku menatanya, enak saja papa merusaknya begitu saja!" Dengus Yura dengan gerutunya sembari menuruni anak tangga dan berhenti tepat di meja makan, mulutnya terlihat manyun mengerucut seakan akan ia sedang kesal, hingga membuat bibi pun ikut tertawa dengan tingkah nona mudanya. "Terus saja bik tertawanya...boleh kok..." Ucap Yura lagi yang lalu menarik kursi dan mendudukinya disana. "Karena non ini lucu...pagi pagi sudah menggerutu bibi dengarkan, di tambah bibir manyun yang membuat non makin imut." Ucap bibi yang membuat Yura tersenyum, ia suka saat di puji bibi asisten rumah tangganya, mungkin karena jarang ada yang memujinya. Hingga papa Yura tiba di sana dengan pakaian yang sudah rapi, membuat Yura memicingkan kedua matanya dan merapatkan kedua alisnya, tanda ia benar benar penasaran apa yang akan papanya itu lakukan. "Pah...papa bukanya masih lusa ya perginya lagi? kenapa papa sudah rapi saja ya? terus...mana oleh olehnya buat Yura? semalam Yura lupa menanyakannya." Ucap Yura dengan senangnya, karena ia baru ingat, hadiah apa yang papanya bawakan untuknya setiap papa nya itu pulang dari dinas keluar kota. "Oh...tenang sayang...papa pasti kan memberikan kamu hadiahnya...jangan khawatir...tapi nanti siang ya...dan sekarang kita sarapan dulu, karena pagi ini papa mau mengantarmu ke sekolah, masak iya puteri papa tidak pernah papa antarkan ke sekolah sendiri sih...bener nggak bi?" Ucap papa pada bibi asisten rumah tangganya, dan mendapat anggukan dari sang bibi, begitu pula Yura yang terlihat begitu gembira kala itu. Papa Yura sudah menunggui Yura di dalam mobilnya, pakaian casual persis seperti anak muda yang sepantaran dengan Yura, membuat sang papa terlihat sangat cool apa lagi begitu tampan. "Ayo sayang...cepat masuk..." Ucap papa saat melihat Yura yang mematung di teras luar rumahnya, saat itu Yura menatap sang papa yang terkesan gaul dan lupa pada umurnya. "Papa...apa papa yakin memakai pakaian gaul anak muda begini?" Ucap Yura sembari masuk kedalam mobil dan duduk di samping kemudi papanya, ia melihat papanya mengenakan kaus berkerah lengan pendek warana putih yang bergaris hitam memotong di bagian dadanya, dan celana jeans pendek selutut khas anak muda pada umumnya. "Haiz...ini anak! memangnya kamu pikir papa sudah tua ya! papa masih mudah tahu...!" Gerutu papa Yura sembari menjalankan mobilnya menuju ke arah jalan raya utama dan melajukannya menuju ke sekolah Yura. "Sudah tidak ada yang ketinggalan kan sayang? papa nggak mau balik lagi kalau sampai ada yang kelupaan." Ucap papa Yura dengaan gerutunya, dan Yura hanya mengangguk sembari terus mengawasi papanya. "Ada apa sih Ra? dari tadi lihatin papa terus?" Ucap papa Yura di sela sela mengemudinya. "Papa tahu tidak? papa Yura tuh tampan sekali tahu...dan...Yura khawatir nanti pas sampai sekolah tidak ada lelaki yang menyukai Yura karena papa!" Ucap Yura dengan jujurnya, ia khawatir di kira teman temannya Yura datang dengan kekasihnya. Karena memang semua temannya belum pernah tahu papanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD