Pura-pura o*****e

1275 Words
           Pertemuan Zakaria dengan pemuda di depan rumah beberapa waktu lalu sudah tak lagi ia ingat. Menurutnya tak ada yang aneh dengan peristiwa itu. Sore itu ia hanya ingin membantu isterinya dengan mengerjakan satu atau dua pekerjaan rumah. Ia sudah tidur tiga jam dan itu membuatnya cukup segar untuk beraktifitas. Ia sudah mencuri piring dan perabot kotor. Untuk makan malam, ia sudah memesan lewat aplikasi GoFood dan sebentar lagi makanan itu tiba di rumah. Ia melirik jam dinding dan menilai bahwa ada waktu cukup panjang sebelum beremu Shirley yang bisa ia lakukan dengan melakukan tugas lain. Menyapu lantai, itu pilihannya.            Isterinya telah bekerja keras. Pasti letih. Malam itu ia ingin membuat Shirley bahagia. Jadinya ia menyapu seluruh ruangan, termasuk kamar tidur. Dan saat menyapu itulah, matanya tertumbuk pada sebuah bayangan benda kain kehitaman jauh di bawah ranjang. Dengan gagang sapu, ia tak berpikir apa-apa ketika mengais benda yang ia pikir sampah itu. Dan saat benda itu terjangkau ujung sapu dan dibawa ke hadapannya, jantung Zakaria nyaris berdetak.            Benda itu adalah sebuah celana dalam. Motif dan warnanya membuat ia sangat sangat yakin bahwa itu bukan miliknya. keingintahuan yang hebat membuat ia mengambil CD dan membentangkan dengan kedua tangan. Ukurannya lebih kecil karena hanya ukuran XL. Merknya pun adalah merek yang rasanya tidak pernah ia beli. Itu berarti CD itu memang bukan miliknya karena yang ia pakai selama ini ukuran M dan berbeda merek. Terakhir, ia mencoba mencium.            Ia melengos karena ada aroma pesing yang tercium dari jarak belasan centimeter.            Zakaria adalah tipikal pria penjaga kebersihan. Membiarkan CD bekas di kamar adalah hal yang mustahil dilakukan. Kondisi ini, plus ukuran XL, plus motif yang berbeda, membuat dirinya semakin yakin bahwa itu bukan miliknya. jadi milik siapa?            Mendadak ia teringat pada pemuda yang tadi katanya mau mengantar paket kiriman. Saat itu Zakaria percaya saja semua omongannya. Alangkah naif. Saat orang itu tidak menunjukkan mana paket yang katanya salah antar itu, kenapa ia bisa percaya begitu saja dan membiarkannya pergi? Zakaria merutuk kepolosannya yang parah.            Bulu kuduknya seketika merinding menyadari bahwa isterinya kemungkinan memiliki pria lain di belakangnya. Seberapa besar kemungkinan itu, ia belum tahu. Pemikiran itu hanya sesaat saja timbul. Semua pertanyaan dan tandatanya akhirnya diputuskan untuk dikubur saja dahulu. Ia akan tanyakan itu ke isteri tersayangnya pada kesempatan dan tempat yang tepat. Mudah-mudahan itu semua hanya salah paham, begitu pikirnya.            Zakaria yang malang. Zakaria Santoso yang naif.            Seandainya saja ia tahu bahwa isterinya memang sudah sangat jauh melangkah. Merobek dinding biduk rumah tangga mereka dengan tangannya sendiri. Menyerahkan diri dalam rengkuhan pria rekan sekantor yang dianggapnya berjasa menolong kariernya.            Karena di menit yang sama, di salah satu ruang VIP sebuah karaoke, isteri tersayangnya yang ia pikir setia sebetulnya tengah sibuk. Diiringi lengking gitar, gebukan drum, dan vocal musik cadas dari perangkat karaoke ada kesibukan lain yang isterinya lakukan. Musik dan lagu cadas memang tengah mengiringi kesibukannya melayani pria lain di atas sebuah meja. Membiarkan sebongkah daging mencuat yang berotot, berurat dan berakar milik pria lain yang bukan suaminya dengan ganas mengaduk-aduk liang kewanitaan isterinya nyaris tanpa henti.   *              Shirley tiba sangat larut. Pukul 11 malam ia sampai di rumah dengan menumpang taksi. Zakaria yang sempat tertidur karena letih menunggu tak sempat menyambut karena Shirley sudah terlanjur masuk ke kamar mandi dan langsung mandi di sana.            Melihat sikap isterinya yang langsung mandi, pikiran Zakaria berputar lagi. Mungkinkah isterinya bertemu lagi dengan pemuda itu dan tidur bersama di satu tempat seperti motel? Otaknya berputar keras lagi ketika terdengar pintu kamar mandi dibuka, menandakan isterinya sudah selesai mandi dan akan segera keluar. Benar saja, Shirley keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk hingga ke batas d**a. Bagi Shirley, mandi telah membuat sisa-sisa persetubuhan dengan Bram lenyap.            Saat itulah, Zakaria langsung masuk ke kamar mandi dan menutup serta mengunci pintu.            “Kenapa, Pa?”            “Kebelet.”            Tentu saja Zakaria berbohong. Ia tidak buang air kecil. tangannya kini memeriksa pakaian yang tadi dipakai isterinya dan sekarang teronggok di keranjang berisi pakaian kotor yang siap dicuci. Ia bangkit, memeriksa, mencium di sana-sini. Kecurigaannya beralasan. Ada parfum pria di pakaian.            Heran. Zakaria heran dengan sikapnya. Ia tidak marah atau benci saat menemukan bukti itu. Ia malah jadi bersemangat. Bersemangat saat mengetahui bahwa semakin besar dugaan isterinya telah berselingkuh.            Zakaria keluar dari kamar mandi. Melihat suaminya, wajah Shirley seketika berubah. Rasa senang, bahagia, sedih, sesal, bercampur jadi satu. Saat bertemu pandang, Zakaria tersenyum. Senyum yang menurut Shirley terasa misterius. Tidak bisa ia memaknai. Namun yang jelas Shirley tiba-tiba menjadi begitu kangen, terharu, cinta. Ia lalu menabrak tubuhnya, memeluk dan mencium bibir dengan sangat mesra serta penuh kasih sayang. Shirley menangis. Benar-benar sebuah kombinasi perasaan yang aneh dimana keanehan itu segera tertangkap oleh Zakaria.            Bagi Zakaria, sikap yang tidak biasa itu dimaknai sebagai konfirmasi perselingkuhannya. Shirley tentunya telah sangat menyesal karena di rumah itu ia berselingkuh dengan seorang pemuda. Efeknya, kehadiran Zakaria langsung ditanggapi dengan curahan cinta yang tidak seperti biasa.            Bayangan kehadiran adanya pria lain yang meniduri Shirley di luar dugaan memberi dampak pada Zakaria. Bayangan itu menstimulasi otak untuk memproduksi hormon testosteron secara berlebih. Efeknya, terjadi percepatan aliran darah ke organ genitalnya. Zakaria merasa takjub ketika terasa pennis di bawah boxer yang ia pakai berubah mengeras.            Shirley awalnya belum menyadari perubahan itu. Bahkan ketika Zakaria bertindak lebih jauh. Shirley membiarkan saja ketika Zakaria melepas kaitan handuk. Saat terlepas ke lantai, tubuh polos tanpa gumpalan lemak berlebih terpampang di depan Zakaria.  Sebelumnya, pemandangan polos Shirley takkan berdampak apa-apa bagi Zakaria. Biasanya ia hanya akan menatap tanpa ekspresi. Tapi kali ini tidak. Ia merasakan ada pergerakan di bawah celananya!            “Kenapa pulangnya malam, Ma?”            Shirley memberi alasan mengada-ada yang langsung dipercayai Zakaria yang emoh perpanjang-panjang masalah. Bagi Shirley sendiri, hatinya terenyuh karena ia harus berbohong lagi demi menutupi kebohongan sebelumnya. Sampai kapan dan sampai berapa banyak ia harus membohongi suami tersayangnya? Pemikiran atas dasar kasihan itu dengan cepat menguasai Shirley. Ia ingin sekali memberi kebahagiaan sekalipun ia tahu itu hanya balasan kebaikan secuil dibandingkan dosa yang ia sudah kerjakan. Tapi sanggupkah kebahagiaan itu diberikan Shirley jika Zakaria masih bermasalah?            Nyatanya Zakaria tidak sepenuhnya impoten malam itu. Aneh. Bayangan kemungkinan isteri yang berselingkuh dengan seorang pemuda yang ia temui sore tadi, justeru terasa sangat menggairahkan. Membangkitkan kejantanan. Shirley menyadari hal itu dan menyambut dengan semangat. Selama ini ia selalu menyemangati Zakaria dalam urusan ranjang. Kadang berhasil, namun lebih banyak gagal. Tapi malam ini ia melihat kemungkinan berhasil sepertinya cukup besar. Syaratnya, satu saja: tidak boleh terlalu lama foreplay.            “Mas mau ML, sayang?” desah Shirley saat Zakaria mulai meraba bagian-bagian tubuhnya yang berlekuk dan tanpa lemak. Ia sudah disetubuhi Bram dengan liar. Ia capek. k*********a pun masih menyisakan rasa perih. Tapi ia masih mau kembali b********h kalau yang meminta adalah orang yang sangat ia hormati dan sayangi.            “Iya, Ma.”            Shirley jadi bersemangat. Ia langsung bertekad untuk malam itu membahagiakan Zakaria. Walau itu mungkin harus berupa kepura-puraan berorgasme. *             Besoknya. Di keremangan subuh, satu sosok nampak beringsut diam-diam. Bergerak meniti sebuah dahan pohon mangga yang berada di bagian belakang sebuah rumah, menuruni batang pohon sebelum kemudian menjejak tanah yang dicor semen. Lamat-lamat terdengar suara ayam berkokok.            Sosok itu adalah Katon.            Pengalaman gila yang ia alami beberapa hari lalu bersama sang tante sexy nan binal, ingin terulang kembali. Pengalaman itu terlalu indah untuk diabaikan, terlalu sayang untuk dicampakkan, terlalu nikmat untuk tidak dilanjut.            Rumah yang ia dekati hanyalah rumah tipe 21 yang standar. Dan rumah sederhana tetaplah rumah sederhana. Kecil, mungil, yang ketika orang mengintip dari luar maka akan terlihat seluruh isi rumah. Belum banyak renovasi dan jumlah kamar tidur pun hanya satu dan berada di sisi bagian belakang rumah. Ia kini bergerak mendekati dan mulai mencari jalan untuk melihat pemandangan di dalamnya.               *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD