Rasa bahagia karena keberhasilan menjalankan peran sebagai seorang pria pada sehari sebelumnya, ingin sekali agar terus berlanjut dalam hidup Zakaria. Tapi sayang, walau sesiap apapun dia dan isterinya mencoba, ketika pagi hari itu mereka hendak b******a, kasus lama kembali terjadi. Pennis Zakaria kembali loyo walaupun Shirley sudah berupaya maksimal melakukan bermacam simulasi mulai dari h*****b sampai b*****b. Dildo yang dibeli Zakaria memang digunakan Shirley untuk merangsang bangkitnya kejantanan sang suami. Tapi itu juga tak berlangsung lama.
Setelah lima belasan menit , upaya b******a pagi hari itu ternyata tidak sama seperti sebelumnya. Usaha intimacy alias membangun keintiman antara suami dan isteri yang coba dibangun berakhir dengan hasil berbeda yakni kegagalan. Menyisakan sedih dan pilu pada kedua pihak.
Kejadian itu dilihat dan terekam baik-baik dalam benak Katon. Walau kecewa karena ia tidak bisa bersama-sama wanita bersuami itu, ia mendapatkan yang tak kalah berharga yaitu info. Info yang menjelaskan mengapa ia bisa dengan mudah bisa meniduri sang tante binal tempo hari.
Tante Shirley rupanya memiliki seorang suami yang bermasalah secara genital. Entah ejakulasi dini tanpa hasil atau lemah s*****t. Apapun itu, yang terjadi adalah ketidakpuasan pada sang isteri. Dan ketidakpuasan itu bisa menjadi jalan tol bagi pria lain untuk menikmati kemolekan tubuhnya. Tentu syaratnya hanyalah bahwa pria itu TAHU. Itu saja. dan ia merasa sangat beruntung karena mengetahui. Tinggal sekarang bagaimana masalah teknisnya karena secara teori, seharusnya tidak sulit bagi dirinya untuk bisa mendekati sang tante.
Bagi Katon, dalam menjalani kehidupan berpacaran tidak ada yang lebih nikmati daripada memacari seorang MILF, mother I’d like to f_u_c_k_e_d. Selama dilakukan hati-hati dan tidak ketahuan pasangannya, menjalani hubungan pacaran semacam itu adalah yang terbaik. Beda jika memacari seorang gadis yang jika hamil mereka bisa menuntut pertanggungjawaban nikah. Bagi seorang MILF, kencan s**s hanya sekedar untuk bersenang-senang. Just having fun, tak ada istilah menikah karena ia punya keluarga yang harus dijaga. Wanita semacam itu akan sangat berhati-hati bagaimana agar dirinya tidak hamil. Jika sudah bosan, mereka akan meninggalkan begitu saja dan tidak menuntut sang pria untuk bertanggungjawab. Ini sempurna bagi pria yang berfokus pada kencan seperti dirinya.
*
Ervan sepertinya mulai menunjukkan tabiat aslinya sebagai seorang cassanova. Shirley beberapa kali merasa terganggu ketika pria itu mulai menyentuh tubuhnya. Ini pelecehan s*****l sebetulnya. Selain itu ia juga melakukan pelecehan secara verbal. Kata-kata seronok, menjurus dan jorok segera mewarnai ucapan. Makin lama makin sering terjadi.
Mulanya ia ingin menolak karena berpikir bahwa dirinya adalah seorang isteri yang harus mati-matian menjaga keutuhan rumah tangga. Tapi tak lama kemudian ia memiliki pemahaman lain. Pertama, ia masih membutuhkan pekerjaan di tempat itu dan betapa sulit mencari pekerjaan penggantii. Kedua, ia pernah melakukan penggelapan dan harus diupayakan jangan sampai ketahuan sang CEO. Ketiga, Ervan dikaruniai fisik sempurna sebagai pria. Rasa-rasanya masuk dalam barisan wanita yang pernah b******a dengannya bukan ide yang buruk. Shirley kini hanya menyiapkan mental seandainya itu terjadi.
Menjelang jam istirahat, Ervan mendadak diminta pulang oleh Papanya karena ada hal penting entah apa. Ini sebetulnya menjengkelkan dirinya karena ia sebetulnya hendak mengajak Shirley untuk keduanya makan siang di sebuah club eksklusif di kawasan Kota. Waktu yang mepet sudah membuat Shirley terlambat untuk makan siang bersama rekan-rekan kerjanya. Akhirnya ia hanya bisa memesan lewat online di sebuah resto yang hanya terletak di basement gedung. Akibatnya makanan yang ia pesan datang dengan cepat. Siang hari itu, ia jadinya akan makan sendiri saja di pantry.
Saat membuka pintu, ia kaget karena ada satu orang lain di sana yaitu Bram.
Segera saja ingatan mengenai perselingkuhan dengannya menguasai benak. Shirley malu. Sangat malu mengingat perselingkuhannya. Begitu ia memutuskan tak jadi masuk malah terdengar suara Bram memanggil.
“Masuk aja.”
Ada keraguan sesaat sampai Bram memanggilnya lagi. Ketika ia masih saja diam, pria itu bangkit dari duduk, menghampiri, dan dengan lembut memegang tangan Shirley dan membawanya ke bangku di depan sebuah meja. Berdua kini bebas melanjut obrolan.
“Makanlah.”
Shirley menurut. Ia mulai makan sesuap dengan kaku.
“Kamu makin cantik.”
Shirley menggeleng. “Kita melakukan kesalahan.”
Wanita itu pasti merujuk peristiwa di karaoke, pikir Bram. Ia menyesal karena perselingkuhannya. Tapi Bram ingat dengan siapa ia bicara. Shirley adalah wanita pendamba cinta yang karena alasan tertentu tak puas dengan cinta yang ada yaitu yang seharusnya disediakan suaminya. Bagi Bram, menghadapi Shirley harus sabar dan juga gigih. Buktinya di karaoke itu. Ia ingat bagaimana Shirley mula-mula melawan sebelum kemudian mengikuti apa yang Bram mau setelah ia gigih merayu.
“Semua manusia melakukannya.”
“Ini beda.”
Bram jadi pendengar yang sabar ketika mendengar Shirley ber-curhat-ria. Balasannya ia, Bram, sampaikan dalam bahasa paling lembut yang ia ucapkan. Dan benar saja, tak lama, Shirley luluh.
Bagi Shirley sendiri ia sebetulnya tengah menimbang-nimbang dalam hati. Pikirannya berkecamuk dahsyatr. Apa hal yang membuatnya harus tetap menjaga imej bahwa ia isteri setia pada suami? Apa yang membuatnya harus ngotot menjaga biduk rumah tangganya? Mengapa harus demikian dan atas alasan apa? Berapa waktu lagi yang ia butuhkan untuk bersikap seperti sebelumnya yang tak lain adalah sebuah kepura-puraan. Sikap hipokrit yang memalukan. Dalam waktu singkat, ia sudah dua kali b******a dengan orang lain dan karena itu masih perlukan ia menjaga integritasnya? Bahkan dengan the boy next door, Katon, ia melakukan percintaan dalam waktu tak lama setelah bertemu. Mereka bahkan berkenalan ketika kedua organ genital mereka telah saling menyatu. Ada yang lebih gila dari itu?
Pertanyaan terakhir: Atas kondisi rumit yang dihadapi, mengapa ia tidak nikmati saja? Tak perlu malu. Atau ragu. Ia hanya perlu hidup dengan mindset baru: she’s a b***h. Si jalang, peselingkuh, pendamba cinta yang mudah haus dan ingin selalu terlampiaskan.
Sepuluh menit percakapan itu luar biasa mengubah cara pandang Shirley. Dan kini – dengan mindset alias pola pikir barunya – mereka jadi bagai sepasang remaja yang tengah jatuh cinta. Asyik mengobrol dengan keduanya tersenyum-senyum kecil.
“Thank you ya, babe.”
Mengerti apa maksudnya, sambil mengunyah Shirley berpura-pura tidak mengerti maksudnya. “Buat apa?”
Bram mengedip nakal. “Buat yang di karaoke lah.”
“O yang di karaoke,” Shirley mengangguk-angguk sambil menyelesaikan makan siangnya. Satu-dua detik kemudian ketika keduanya bertemu pandang, ia dan Bram jadi tersenyum-senyum lagi.
“Enak gak?”
Shirley meminum seteguk air dan kemudian mengacungkan jempol.
“Nanti malem lagi yuk?”
Itu adalah pertanyaan Shirley.
Betul. Tak salah lagi. Shirley tak menyangka bahwa kalimat itu keluar dari mulutnya. Halowww, dimanakah logika? Mengapa ia mendadak jadi begitu murah? Ini hal memalukan dan buktinya Bram juga terlihat kaget dengan pertanyaannya.
Bram tentu saja menanggapi sangat optimis. Tapi Shirley buru-buru mengatakan bahwa itu hanya joke. Sebuah candaan. Bram masih mau mengejar tapi terhalang karena pintu pantry terbuka dan ada beberapa orang yang kini masuk untuk membuat kopi di tempat itu.
*