Di hadapan ayahnya, siang itu Ervan merasa dirinya sebagai CEO bodoh.
Papa itu pendidikannya jauh di bawah dirinya. Tapi pengalaman memang tak bisa dianggap remeh. Pengalaman Papa menunjukkan ada transaksi tidak beres pada cabang perusahaan di Bekasi. Ervan merasa sangat bodoh. Ia sudah mencium keanehan, sudah melakukan investigasi fisik, tapi penilaian itu dimentahkan karena pandangan dari Bram. Apa yang mulanya ia pikir terjadi penggelapan dana perusahaan, dimentahkan oleh Bram. Tapi audit lebih lanjut yang dilakukan Papa menunjukkan bahwa memang terjadi penggelapan. Ervan kini hanya perlu bukti pendukung yang kuat untuk mengeksekusi pelakunya. Pecat.
“Menurut Papa, siapa pelakunya? Shirley?”
“Kamu cari tau sendiri lah. Jangan asal tuduh. Cek juga si Bram.”
Ervan percaya. Entah audit itu dilakukan karena anak buahnya itu bodoh atau karena faktor lain ia juga perlu diberi sangsi.
“Kalau Bram dipecat, perusahaan harus keluarin uang banyak untuk pesangon karena dia orang lama.”
“Gampang,” cetus Papa. “Kita lagi mau buka kantor cabang di Papua kan?”
“Iya.”
“Nah, lempar aja dia ke sana. Kasih tugas 1 bulan non-stop, habis itu tarik lagi sebentar ke sini, kemudian lempar lagi ke sana. Kalo gak becus, baru pecat.”
“O gitu?”
“Kirim juga ke anak cabang di Timika. Di sana banyak OPM. Kali aja dia bisa mampus di sana.”
*
Kegagalan b******a di pagi itu mengundang tandatanya besar dalam diri Zakaria. Apa yang salah? Obat, jamu, alat bantu, dia sudah terapkan. Tapi semua berakhir dengan kegagalan penetrasi.
Dengan segera, ingatan tentang konsultasi s**s yang terjadi beberapa hari lalu muncul lagi di benaknya. Bagai recorder, ucapan-ucapan Guntur muncul kembali. Terngiang kuat dalam pikirannya. Sepertinya ia harus melakukan pendekatan baru seperti yang Guntur sarankan. Rumah tangganya adalah mahligai tertinggi dan ia tidak mau itu hancur di tengah jalan. Lalu, jika cara-cara lama tak bisa lagi efektif maka memang harus ada cara baru yang revolusioner yang harus dikerjakan.
Zakaria malu. Tapi ia harus jujur mengakui bahwa keberhasilan penetrasinya – kalau percintaan beberapa menit itu layak disebut keberhasilan – terjadi karena proses yang terjadi di otaknya bahwa isterinya telah berselingkuh. Dan ini membuktikan kebenaran teori Guntur.
Sebuah rencana besar pun muncul.
Rencana besar dalam benak Zakaria dilakukan tanpa sepengetahuan isterinya. Itu diawali dengan dirinya tidak mencari nafkah sebagai pengemudi taksi online. Hari itu, setelah mengantar isterinya ke kantor, diam-diam ia sengaja tidak mengaktifkan aplikasi taksi online-nya untuk menerima order. Seharian itu ia tidak akan aktif mencari nafkah karena ada satu hal penting yang harus dilakukan. Ia pergi ke sebuah toko elektronik untuk mewujudkan sebuah ide. Ide yang muncul sejak kegagalan penetrasi pagi tadi yang sungguh sungguh memalukan.
Ide berupa pemasangan hidden camera.
Ia tidak melakukan itu untuk menceraikan Shirley jika terbukti rekaman kamera menunjukkan ia kedapatan berselingkuh. Tidak. Ada yang lebih penting. Bukan itu. Bagi Zakaria, rekaman kamera itu ia butuhkan untuk menjadi alat ‘terapi’ yang bisa mengatasi kelemahsyahwatannya.
Ini memang gila. Tapi bukankah ia harus mencoba segala cara untuk menyelamatkan keluarganya yang ia sayangi?
*
Dengan dikaruniai ketampanan dan kekayaan, Ervan jelas beruntung. Tapi sedikit yang tahu bahwa sebetulnya ia juga dikaruniai yang lain. Charm. Pesona, yang membuat tidak sedikit wanita yang mau ia ajak kencan. Mendapat seorang sekretaris semoleh Shirley, tentu menjadi pertimbangan tersendiri. Bagi CEO bertipe cassanove, Ervan merasa ia butuh waktu yang tepat untuk bisa menikmati kesintalan tubuhnya.
Ia tahu bahwa Shirley adalah isteri setia dari seorang suami. Shirley juga sempat aktif dalam kegiatan perayaan keagamaan. Artinya, Shirley bukan w**************n.
Di sinilah Ervan memainkan pesona. Dan Shirley yang sikapnya tertutup dengan temperamen serius, agak pendiam, misterius, mulai berubah. Sebuah Berrybenka yang menjadi oleh-oleh Ervan sepulang dari Singapura menjadi gong makin rekatnya hubungan mereka berdua.
*
Zakaria singgah ke sebuah warteg di tepi jalan untuk makan siang yang sebetulnya sudah lama terlewat. Selama menunggu makanan disiapkan ia mengutak-utik ponsel. Ia mengklik sebuah icon aplikasi. Setelah loading beberapa lama, layar kemudian menampilkan hasil.
Aplikasi itu merupakan aplikasi pemantau kamera yang diatur secara jarak jauh. Hidden camera yang ia beli sudah ter-connect dengan ponsel. Ia meletakkan alat itu secara diam-diam dan sangat rahasia di dua titik berbeda. Di kamar tidur dan ruang tamu. Kamera itu lumayan canggih karena bisa menyala 24 jam sehari, beresolusi tinggi, dapat melihat dalam gelap, dan data bisa disimpan di cloud server kapasitas 20 TB yang kebetulan sudah dimiliki Zakaria. Sebetulnya ia berencana memasang CCTV kamera dengan kemampuan audio. Tapi dengan berbagai pertimbangan ia memilih yang non audio saja. Zakaria memang bukan anak kemarin sore dalam dunia internet. Hanya karena intrik kasar lah yang membuat ia harus terdepak dari kantor sebelumnya sebagai staf senior bidang IT.
Layar ponsel kini menayangkan gambar suasana membosankan di kamar dan ruang tamu. Hanya ada benda-benda mati. Kalau di-skip mundur pada suasana pagi tadi, tentu lumayan. Ada gambar dirinya atau Shirley. Mengobrol, berjalan, makan, berbaring, bersiap berangkat kerja. Benar-benar membosankan. Tak ada yang aneh.
Ia jadi terpikir sesuatu hal. Berlebihankah kecurigaannya selama ini terhadap isterinya?
Memikirkan hal itu membuat Zakaria jadi malas melanjutkan driver online-nya. Ia merasa perlu secepatnya pulang ke rumah, mandi, makan, merias diri sedikit. Semua dilakukan menjelang kedatangan Shirley. Setelah itu, ia akan berbicara baik-baik untuk meminta maaf karena sempat mencurigai bahwa isterinya telah berlaku tidak setia.
*
Tas Berrybenka segera menjadi topik pembicaraan seru antara Shirley dengan teman-teman wanitanya di kantor. Di antara mereka, ternyata ada 3 orang yang membentuk kelompok khusus. Dinamai Ivory Club, kesanalah Shirley mendekat dan kemudian diterima sebagai anggota.
Tidak ada iuran atau kewajiban. Shirley diterima karena sepakat bahwa di club itu, tidak boleh ada rahasia ketika membicarakan mengenai pria. Tidak boleh pula ada kata tabu. Cerita seru mengenai pengalaman nyata soal kepriaan harus diceritakan gamblang.
Shirley merasa lucu dengan aturan itu. Tapi itu memang mengasyikkan. Ia jadi tahu bagaimana pengalaman rekan-rekannya ketika make love to their lovers.
Ada Nabila, seorang lajang, tapi memiliki 3 pacar dimana ia harus pandai-pandai berbagi waktu untuk berkencan dengan setiap mereka. Ini sudah bulan ke-9 dan luar biasa bahwa kenakalannya masih belum terbongkar oleh satupun pacarnya.
Ada pula Fitri yang walau lajang tapi ternyata menjadi gadis simpanan seorang pejabat. Pekerjaan di kantor tak lebih dari sekedar kamuflase dan pencari kesibukan.
Lalu ada Widhi yang terpaksa berselingkuh karena merasa diselingkuhi lebih dulu oleh suaminya.
Terakhir ada Rosye yang memiliki kekasih gelap walau bersuami.
Cerita-cerita v****r pun mengalir dari mulut mereka. Kisah mengenai pengalaman pertama menjadi sajian topik pertama yang didengar Shirley. Baik pengalaman pertama kehilangan keperawanan, malam pertama perkawinan, perselingkuhan pertama, pertama kali melakukan fellatio, dan lain lain pengalaman pertama. O ya, ada hadiah untuk setiap pemenang topik. Fitri, sebagai ketua, menentukan hadiah hari ini berubah sebotoh whiskey yang bisa diambil di pertemuan berikut.
Semua pun bercerita. Saat gilirannya yang ditodong, Shirley tak ada jalan lain selain menceritakan perselingkuhan pertamanya. Seorang pemuda bertubuh atletis, perut six-pack, badboy, segera menjadi sentra kisahnya.
*