Hari masih terang, pukul 5 sore, ketika Zakaria tiba kembali di rumah. Setelah memarkir kendaraan, ia bersiap mandi. Tapi rencananya terhalang ketika melihat keranjang sampah yang mulai penuh. Pikirnya, lebih baik ia bereskan sampah terlebih dulu sebelum kemudian mandi.
Saat membereskan tempat sampah itulah matanya tertuju kepada suatu bungkusan plastik. Penasaran dengan yang dilihatnya ia menjumput benda itu. Bulu kuduknya merinding ketika melihat itu adalah sebuah pembungkus k****m!
Siapa pria yang menggunakannya? Mengapa benda itu ada di situ? Adakah penggunaan lain selain untuk dipasang pada sebuah pennis? Rangkaian pertanyaan bertubi-tubi muncul di benaknya. Dan pertanyaan terakhir dan terpenting adalah: kapan benda itu digunakan?
Otak Zakaria berpikir ekstra keras.
Dilihat dari pembungkusnya yang masih agak basah, ia lalu menduga bahwa kemungkinan benda itu dipakai pagi hari. Tapi jika itu dilakukan pagi hari, bukankah hanya tersedia waktu sekitar 2 menit saja yaitu ketika ia meninggalkan Shirley saat pergi keluar mencari rokok? Rasanya tidak mungkin, nyaris mustahil, affair terjadi dalam kurun waktu sesingkat itu. Tapi, hanya ada satu cara untuk membuktikan teori itu. Segera saja Zakaria tahu kemana ia harus melakukan pengecekan.
Smartphone. Gadgetnya yang terhubung dengan dua kamera tersembunyinya.
Shirley pulang kantor dalam keadaan letih. Dan seperti biasa, rasa bersalah muncul kembali saat ia melihat suaminya. Rasa bersalah itu kian membuncah karena Zakaria begitu telaten mengurus dirinya. Tak ada omelan, amarah, kata-kata sinis, diabaikan, dan hal negatif lain. Suaminya malah sudah menyiapkan air panas untuk ia mandi plus siapnya hidangan untuk makan malam.
Ini membuat Shirley terharu, namun sekaligus heran apa yang membuat Zakaria berubah seperti ini. Tapi keheranan yang lebih besar adalah apa yang terjadi saat ia mandi. Zakaria tiba-tiba ikut masuk ke dalamnya, membalik badan Shirley dan mencium bibirnya dengan mesra,
“I love you, Ma.”
Hati Shirley semakin gundah. Ia telah bersikap tidak setia dan malah kini mendapat perhatian dan kasih sayang luar biasa. Ia pun tanpa sungkan balik mencium.
Tadinya Shirley pikir aksi Zakaria hanya berakhir di situ. Tapi saat berciuman itulah ia sadar ada sesuatu yang menyentuh paha. Saat melepas ciuman dan menengok ke bawah, matanya membelalak takjub melihat pennis suaminya kembali tegak berdiri.
“Papa?”
Zakaria mengangguk dan tersenyum. “Iya nih mumpung bisa berdiri. Buruan layanin ya, Ma. Takutnya tegang gini hanya bertahan sebentar.”
Shirley jadi terharu. Ia ingin sekali menjadi isteri yang berdedikasi saat itu sekedar untuk menebus rasa bersalah yang kian membubung. Kalau b******a bisa dianggap mengurangi dosa dan rasa bersalah, ia tentu saja tak sungkan melakukannya. Ia akan memberi penampilan terbaik.
Tidak, maksudnya penampilan tercepat. Karena jika yang diminta adalah penampilan terbaik itu butuh waktu intimacy lebih lama. Sesuatu yang belum bisa Zakaria lakukan.
*
Ervan sore itu benar-benar menjadi a real gentleman bagi Shirley. Perilaku, perhatian, kepedulian, kemurahan hatinya, terumbar sepanjang hari itu. Ia bahkan menyempatkan diri mengantar Shirley pulang sore itu.
Di jok belakang kabin kendaraan, Shirley masih mengamat-amati tas tangan yang diberikan Ervan. Model, warna, corak, semua terasa menarik. Rasanya ia tak perlu menanyakan harga per buah karena merek Berrybenka sudah pasti menjanjikan angka yang melebihi gaji bulanannya.
“Mudah-mudahan kamu suka.”
Komentar Ervan ditanggapi Shirley dengan senyum paling manis yang ia bisa berikan. “Suka lah, pak. Ini tas…”
“Panggil Ervan. Jangan pake pak.”
“Okay, Ervan.”
“Kamu tahu kenapa aku beliin itu?”
Shirley menggeleng.
“Sebagai sekretaris, kamu itu representasi perusahaan ketika ikut rapat dengan pihak luar. Itu sebabnya kamu perlu ditunjang dengan fasilitas. Kami merekrut memang mengutamakan skill dan pengalaman tapi bukan berarti mengabaikan penampilan. Cantik, sexy, itu jadi pertimbangan selain skill dan pengalaman tadi,” Ervan memberikan ceramah yang sebetulnya secara tersirat merayu Shirley yang dinilainya cantik dan sexy.
Suasana di dalam kabin mobil terasa dingin karena hembusan AC yang diatur di suhu 16 derajat Celcius. Ervan menoleh, matanya tajam menatap Shirley yang duduk di sampingnya.
“Banyak orang yang munafik dengan menganggap kecantikan dan kesexyan itu tak perlu. Buat kami, kalo bisa sekaligus dapat, why not? Itu berguna demi menaikkan pamor perusahaan.”
Ada desir halus ketika Shirley ditatap lekat seperti itu. Shirley jadi tak tahan untuk tidak bertanya.
“Jadi menurut Ervan, aku ini cantik?"
“Absolutely.”
“Sexy?”
Tangan Ervan tiba-tiba menyambar pinggang ramping Shirley dan membaringkan di pangkuannya.
“Kalau dalam keadaan dipeluk begini, aku yakin kalau kamu betul-betul sexy,” ujarnya.
Shirley merasa ucapan itu romantis. Ia jadi diam saja ketika Ervan tak berhenti dengan hanya memangkunya. Pria itu menunduk dan melancarkan sebuah kecupan yang mendarat di bibirnya.
Mobil Bentley Continental GT yang dikendarai sopir, melaju semakin jauh. Suasana terasa mengasyikkan bagi Shirley. Untuk saat itu ia sudah benar-benar mencampakkan imej bahwa ia adalah isteri yang baik dan setia.
No.
Isteri yang baik dan setia adalah masa lalu. Ia sudah mengkhianati suaminya dengan berhubungan intim dengan dua pria, dan hanya tinggal masalah waktu untuk ia melakukan dengan pria ketiga, Ervan. Dengan pria ketiga ini, ia malah hampir-hampir tidak melakukan resistensi. Tak ada penolakan. Ia malah mendambakannya!
Namun di saat ia siap jatuh dalam rengkuhan Ervan, ternyata kegilaan ketiga tidak terjadi karena rumah tujuan sudah di depan mata.
Bagi Shirley ini agak disayangkan sebetulnya karena ia ingin lebih lama bersama pria super duper tampan dan gagah ini. Sepanjang perjalanan mereka mencium, saling elus, saling remas. Tapi tak lebih dari itu. Ervan seolah ingin menunjukkan bahwa ia bukan predator s*x yang langsung memangsa ketika ada kesempatan. Kalau pun ia seorang predator, yang jelas ia predator yang sabar. Sabar menunggu hingga suatu kesempatan yang lebih baik terwujud di depannya. Ervan malah menunjukkan jati diri sebagai seorang gentleman sejati. Ia tidak memaksa kehendak dan sepanjang hari itu menunjukkan diri bukan hanya sebagai CEO tapi juga seorang teman atau bahkan sahabat. Sahabat yang bersedia mendengar keluhan apapun. Sahabat yang - karena kebetulan ia kaya raya – mau menyelesaikan beberapa permasalahan ekonomi yang Shirley hadapi.
Perhatian itu mau tak mau mendatangkan simpati, hormat, dan ujung-ujungnya melahirkan benih ketertarikan. Termasuk ketertarikan secara s*****l yang membuat Shirley mau saja dicumbu di dalam mobil yang mengantarnya pulang.
*
Zakaria lalu menarik mundur kejadian ketika ia dan Shirley bemain role play. Tak ada suara terdengar. Gambar TV yang menayangkan adegan khusus dewasa tak terlihat. Tapi dari sudut kamera tersembunyi terlihat tangan-tangan Shirley dan dirinya yang merambah kemana-mana. Adegan selanjutnya adalah adegan yang dianggapnya menyedihkan. Zakaria tak tega melihat. Ia melakukan skip-skip sampai tayangan video sekarang kosong, tak ada keduanya. Seingat Zakaria, itu pasti momen ketika Shirley ke kamar mandi dan ia sendiri keluar rumah untuk membeli rokok.
Makanan siang pesanannya telah siap. Zakaria mulai menyantap dan lupa mematikan tayangan video. Pada saat setengah jalan menikmati makan siang itulah ia tiba-tiba melihat sesuatu. Di layar terlihat ada seseorang lain yang langsung ia kenali sebagai pemuda yang tempo hari mau mengantar paket yang salah kirim.
Shirley sendiri terlihat kaget sampai sempat mundur dua langkah ke belakang. Ekspresi terkejutnya nyata sekali terlihat di wajahnya. Ekspresi yang tak menduga bahwa akan ada seseorang yang datang. Isterinya sempat melihat-lihat ke arah depan rumah. Sebuah ekspresi yang jelas menyiratkan bahwa ia sedang berjaga-jaga jangan sampai ada seseorang mendadak datang.
Playback video terus bekerja. Si pemuda tak banyak bicara. Mungkin malah tidak sepatah katapun. Bulu kuduk Zakaria meremang ketika tayangan video mulai menunjukkan adegan makin panas.
Adegan berikut, dan berikut, dan berikut menunjukan perselingkuhan yang dilakukan Shirley. Ia heran, semua tadi tidak membuat Zakaria galau. Sama sekali tidak. Melihat adegan panas itu mata Zakaria malah berbinar. Akhirnya, benar dugaannya. Sudah ia dapatkan bukti sangat nyata bahwa isterinya memang benar berselingkuh. Seketika keajaiban terjadi. Pennisnya terasa bergerak.
Adegan persetubuhan super singkat itu Zakaria ulang dan ulang lagi. Ia merekam tiap adegan dalam benaknya. Heran, tak ada kecemburuan sama sekali. Ia malah bahagia dan ikut puas melihat ada orang lain menikmati tubuh mulus isterinya. Bukti kebahagiaan itu terletak pada organ genital di balik celana yang kini terasa bangkit perkasa.
*