Obat Kuat

1335 Words
       Ada sebuah pesan chat WA masuk ke ponsel Fadhil. Pesan itu masuk dari kemarin sebetulnya. Namun kendala pada ponsel membuat ia baru bisa membaca pesan itu hari ini. [Zakaria: Obat sama jamu kamu gak ada gunanya. Boro-boro 60%, 10% aja kagak manjur. Yakin itu obat asli?] Fadhil langsung menjawab. [Fadhil : Antum meragukan? Kalo ya, hayo dateng lagi ke toko ane. Ane ganti sama yang lebih mantep. Kepuasan customer terjamin.] Selang semenit kemudian sebuah pemikiran muncul di benaknya. Ia lalu menambahkan pesan sebagai sambungan chat WA sebelumnya. [Fadhil : Mending antum dateng bareng bini antum.]                      Fadhil merenung. Nyaris tak mungkin Zakaria membawa isterinya. Tapi bagi Fadhil, Shirley memang adalah impian liarnya sejak SMA. Dan ia mau berusaha segala cara untuk mewujud apa yang tak pernah terwujud itu. Dengan sedikit keberentungan, siapa tahu hal pertemuan itu bisa terwujud. *              Tak lagi di lantai, Shirley dan Zakaria kini berpindah ke tempat tidur. Keduanya masih sepenuhnya b***l. Tubuh t*******g Shirley memeluk erat tubuh Zakaria dengan posisi menyilang. Kepala dan dadanya bersandar ke d**a Zakaria. Satu tangan Zakaria merangkul pundak isterinya. Terkadang tangan itu juga membelai rambut atau mengelus punggung isterinya. Mereka mengobrol serius dan Zakaria berkali-kali menyisipkan obrolan dengan kecup sayang ke kening atau rambut Shirley. Keduanya agak kontras karena berbeda dengan Shirley yang putih mulus, Zakaria tergolong hitam.            “Papa.”                       “Kenapa sayang?” “Heru gapapa toh?” Tak banyak yang tahu bahwa Shirley dan Zakaria sebetulnya memiliki seorang anak, Heru. Entah mereka yang kurang pandai mendidik atau faktor-faktor lain, Heru tumbuh menjadi anak yang keras. Sebuah konflik keras selepas SMA membuat ia kabur dari rumah dan tinggal dengan neneknya sampai hari ini. “Ya gapapa, kenapa Mama tanya?” “Hari ini dia ulang tahun ke-22.” Zakaria membelai rambut isterinya selembut mungkin. “Papa masih nggak terima waktu dia tampar muka mama.” Jawaban itu membuat Shirley maklum. Kejadian itu memang menyakitkan fisik dan terlebih hatinya yang sampai sekarang masih luka. Kejadian enam tahun lalu ketika putera bengal mereka nyaris memperkosa ibu kandungnya sendiri. Ia jadi tak berniat lagi bercerita soal yang sama dan malah ingin secepatnya melupakan. Tak lama bibirnya menggurat senyum dan ia mengganti topik pembicaraan. “Papa kenapa sih kadang bisa bangun kadang nggak?” Ditanya seperti itu tentu saja Zakaria perlu bersikap hati-hati. Ia tidak bisa berkata jujur dengan berkata bahwa bangkitnya kejantanannya adalah karena ia tahu dan menikmati tontonan perselingkuhan yang dilakukan isterinya. Ia takkan pernah berkata begitu karena tahu bahwa adakalanya kebenaran itu cukup hanya dinarasikan sebagian. Tidak perlu diumbar dan dbukakan semua karena bisa jadi keterbukaan berlebih semacam itu bisa menimbulkan friksi mengerikan berupa perceraian. Ia tak mau mengambil resiko itu karena Shirley terlalu sayang untuk diceraikan. Sangat bodoh jika ia menceraikan Shirley manakala sadar bahwa toh masalah terjadi karena kegagalan fungsi terjadi pada dirinya, bukan pada Shirley. Isterinya adalah seorang wanita yang secara fisik bisa dibilang sempurna. Tak ada lelaki normal yang tidak suka memandangnya. Kalau ia menceraikan isterinya, pasti akan dengan mudah Shirley mendapatkan gantinya. Akan hal diri Zakaria? Wanita t***l mana yang mau menikahi pria semi penganggur, ekonomi bawah, wajah pas-pasan dengan penyakit edi tansil s****n ini? “Koq diem?” Zakaria tersadar dari lamunan. Ia mengecup kening Shirley dengan mesra. “Papa aja kurang tahu. Mungkin karena Papa minumnya kurang.” “Ihhh, lain kali jangan gitu dong Pa,” Shirley menanggapi gemas sambil mencubit d**a Zakaria. “Papa nggak kesian liat vaginna Mama jadi nganggur?           “Maafin Papa. Tapi aksi Mama tadi hebat. Mangkanya Papa bisa bangun biar cuma 2 menit kan lumayan, daripada lu manyun.” Shirley tertawa mendengar canda suaminya. “Iya. Mama juga senang. Itu tadi persetubuhan yang mantap.” Keheningan tercipta sesaat. Keduanya tenggelam lagi dalam pikiran masing-masing. Pikiran yang menutupi dusta kedua belah pihak. Saat Shirley mengatakan bahwa tadi adalah persetubuhan yang hebat, ia tengah berdusta. Persetubuhan atau intimacy tadi sangat tak ada apa-apanya dengan apa yang dilakukan bersama pria-pria selingkuhannya. Dusta yang disampaikan adalah semata untuk menghibur Zakaria agar harga dirinya tidak jatuh. Zakaria pun berdusta saat mengatakan bahwa intimacy terjadi karena obat yang ia konsumsi. Itu bohong besar. Efek yang ditimbulkan sangat sedikit, tak seberapa dan nyaris nihil. Kalau ia ereksi agak lama – yang menjadi penyebab utama ‘keberhasilan’ dalam ML tadi – itu adalah karena ia menikmati tontonan perselingkuhan isterinya. Pura-pura tidak tahu dan malah sekarang mulai timbul niat dalam dirinya untuk memfasilitasi agar perselingkuhan isterinya berjalan terus. Ya, memfasilitasi. Sebuah ide gila yang ia dapatkan dari Guntur. Sebuah ide yang dulunya membuatnya gamang, tapi kini terpateri makin kuat dalam benaknya.   *              Seusai jam kerja semua anggota Ivory Club diajak Fitri ke apartemennya yang ternyata hanya berjarak lima menit berjalan kaki dari kantor. Ini pengalaman pertama Shirley ke apartemen yang disediakan pejabat untuk Fitri sebagai kekasih gelapnya.            Sebagaimana aturan tak tertulis, di setiap pertemuan ‘resmi’ club mereka akan menentukan sebuah topik. Topik dimana semua orang harus menceritakan secara jujur dan detil tentang pengalaman mereka masing-masing. Kali ini akan ada pemenang beserta hadiahnya.            Topik kali ini ternyata disepakati tentang video dimana semua orang dalam waktu tidak kurang dari 10 menit harus menceritakan pengalaman membuat video privat mereka. Entah itu memvideokan, divideokan, upload, download, dan segala yang berkaitan.            Sambil satu per satu bercerita, makanan dan minuman berseliweran, termasuk minuman keras. Bagi Fitri yang seluruh biaya hidupnya dipenuhi kekasih gelapnya, mengeluarkan berbotol minuman keras dengan total hampir sepuluh juta rupiah bukanlah perkara besar. Kondisi mabuk membuat cerita yang disampaikan jadi makin v****r dan itu menarik untuk disimak. Mereka yang ceritanya dinilai paling menarik, nyata, dan detil akan mendapat satu set sexy outfit.            Kompetisi berlangsung ketat setelah keempatnya menceritakan peristiwa masing-masing. Tapi malam itu kemenangan berada di pihak Shirley. Pengalamannya ‘hanya’ m********i saja memang. Tapi bukti berupa video yang direkam suaminya yang tersimpan di smartphonenya, menjadi penentu kemenangan.            Shirley sebetulnya merasa kemenangannya adalah kemenangan yang dipaksakan. Bisa jadi mereka hanya kurang enak karena ia adalah anggota terbaru. Tapi bagaimana pun sang ketua, Fitri, sudah menentukan sehingga hadiah pun langsung ia dapatkan. * Zakaria sudah membaca pesan Fadhil, dan itu jadi alasan utama kunjungannya ke toko obat teman lamanya itu. Seperti sudah disampaikan di chat mereka, agenda utamanya adalah menukar dengan obat yang lebih manjur. Fadhil menceritakan kelebihan obat herbalnya yang baru. Sebuah obat yang konon merupakan racikan turun-temurun sebuah suku di Afrika yang membuat penggunanya jadi hebat. “Hebat apa?” “Hebat dalam b******a lah.” Zakaria tersenyum meledek. “Semua obat kuat promo-nya juga gitu.” “Ini obat emang manjur. Antum kudu pake supaya Shirley puas. Barang bagus jangan didiemin. Bini antum bodinya mulus. Sayang tuh bodi mulus kayak gitar gitu dianggurin sama antum.” Mendengar nama isterinya disebut, Zakaria yang tidak cemburu, malah menggoda dengan pura-pura innocent.  “Bodi segitu emang bisa dibilang mulus?” “Beuuuuh, antum ini. Keterlaluan.” “Jawab dong.” “Iya. Istilah kasarnya nih, kalo bini lu nakal dikit, bisa dijual. Tunggu! Jangan kaget dulu. Maksudnya dijual di sini bisa juga dalam arti dipamerin di aplikasi internet.” “Ooooo.” “Kapan ana bisa ketemu bini antum?” *              Asap rokok mengepul di ruang tamu apartemen Fitri. Gumpalan pekatnya langsung dihirup ventilator untuk terbuang di udara terbuka. Akibat minum alkohol terlalu banyak, Shirley jadi meracau. Tubuhnya pun limbung.            Sebetulnya Shirley meminum sama banyak dengan yang lain. Namun karena belum terbiasa, tingkat kemabukannya jadi lebih parah dari yang lain. Nabila langsung menyarankan agar Shirley dijemput suaminya saja. Pertimbangannya, jika ia pulang diantar taksi dalam kondisi seperti ini sangat besar kemungkinan tiga bulan lagi akan ada kabar seorang wanita hamil di luar nikah.            Betapa tidak, Shirley saat itu sudah mengenakan sexy outfit hadiahnya. Sebuah blouse berbahan lentur one-piece yang saat dipakai membuat lekuk tubuhnya tercetak sempurna dan hanya menutup mulai dari sedikit di atas d**a sampai ke pangkal paha. Sangat sexy. Saat terbuka sedikit saja di atas, atau tersingkap sedikit di bagian bawah, otomatis akan membuat tubuhnya terpampang jelas. Dengan tingkat kemabukan yang tergolong parah seperti yang terjadi saat ini, sangat mudah bagi pria manapun untuk dapat menikmati kemolekan tubuh wanita super cantik ini. *  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD