Sexy Outfit

1456 Words
           Zakaria juga singgah di toko elektronik yang beberapa hari lalu ia kunjungi. Ia memutuskan untuk membeli lagi satu unit hidden cam.            Menelisik berbagai kondisi perselingkuhan isterinya dengan anak muda itu, ia jadi tahu dari mana masuknya orang itu. Jadi ia merasa perlu untuk memasang satu lagi hidden cam di area belakang rumah.            Waktu Jakarta sudah tiba di pukul 8 malam. Baru saja ia menuju tempat parkir, sebuah panggilan telpon dari isterinya terdengar.            “Pa,” terdengar suara serak isterinya. “Papa jemput Mama ya?”            Zakaria menaikkan alis. “Mama… mabuk?”            “Dikit.”            “Ya udah. Oke. Papa jemput Mama di mana?”            Shirley menyebut nama apartemen tempat ia berada. Zakaria langsung mengiyakan.            “Papa.”            “Ada apalagi sayang?”            Jeda sejenak. “Mama… pengen… ngentooot…”            Terdengar suara beberapa wanita mengikik di ujung telpon sana. Zakaria langsung tahu bahwa isterinya sedang bersama teman-teman sekantornya. Shirley memang suka begitu. Saat mabuk suka sekali berucap v****r. Bagi Zakaria permintaan itu terasa suatu kebetulan karena ia baru saja membeli obat baru yang konon lebih manjur.            “Kebetulan Papa juga beli obat baru,” kata Zakaria kalem. “Cocok nih. Pas diminum, eh pas mau dipake. He he he…”            “Yeaaayyyy, jadi deh kita make love…” terdengar Shirley bersorak yang lagi-lagi diikuti suara cekikikan di belakangnya.            Zakaria jadi jengah sendiri mendengar ucapan Shirley. Tapi itu memang bisa dimaklumi karena isterinya dalam keadaan mabuk berat. Tak cukup berhenti di situ Shirley terus saja mengoceh.            “Paaaa,” katanya manja. “Kita make love di mobil yuuuuk.”            Anjrit. Zakaria jadi makin malu sementara latar belakang tawa di sana semakin santer terdengar. *              Apa yang tadi Zakaria anggap sebagai keberuntungan, ternyata berubah jadi musibah. Zakaria sudah mengkonsumsi obat herbal yang baru dibeli dari Fadhil dan ia sedang dalam antrian kendaraan yang akan masuk lobby apartemen ketika ponselnya berdering.            “Zak, ini Fadhil. Sori, soriiiii banget.”            “Ada apa lu, belum apa-apa bilang sori. Sori kenapa?”            “Obat yang antum ambil, itu salah.”            “Hah? Salah obat?”            “Itu obat malah nggak secanggih yang pertama.”            “Ya olooooh, koq bisa gitu?”            “Gue tanggungjawab deh. Antum balikin aja nanti diganti sama yang bener. Yang lebih mantap luar dalem. Eh, tapi obat yang lama itu lu belum minum kan?”            “Dodol lu!” Zakaria mematikan telpon. Pertama ia sebal karena merasa telah dikerjai. Kedua, ia telah berada di parkiran lobby dimana ada isterinya di sana.            Ia lalu menebarkan pandangan ke arah lobby yang cukup padat dengan manusia.            s****n!!            Mata Zakaria nyaris copot ketika melihat penampilan isterinya dalam convict dress, sebuah outfit paling sexy yang ia pernah lihat dimana d**a dan paha-paha mulusnya diumbar bebas. Beberapa orang termasuk satpam nampak melihati dengan lapar. Dengan langkah gontai dan dibimbing salah seorang teman kantor, Fitri dibimbing hingga masuk ke bagian depan mobil.            Tak mau berlama-lama, setelah memasukkan isterinya, Zakaria kemudian tancap gas meninggalkan lokasi apartemen. *            Di sebuah kampus, seorang mahasiswa nampak didekati tiga orang. Sekilas ini seperti sebuah pertemuan biasa tapi sebetulnya tidak demikian. Orang-orang yang mengerumuni mahasiswa itu adalah rombongan debt collector. Sorang berbadan besar dan postur menyeramkan kini berbicara padanya.            “Lu udah nunda pembayaran hutang selama 3 minggu,” katanya. “Perusahaan udah ngasih tenggat waktu yang cukup. Tapi kami kasih seminggu lagi untuk lu balikin utang sekalian bunganya.”            “Waktu itu terlalu singkat. Gue punya kepent…”            Ucapannya terputus waktu salah satu dari mereka memotong dengan suara keras.            “Satu minggu. Lu inget itu, Katon! Satu minggu! Lu balikin utang atau lu kita hajar.”            Katon menatap dengan senyum nakal. “Lu mau hajar gue?”            “Jelas. Gue selalu hajar orang yang…”            Kali ini giliran orang itu yang terpotong ucapannya. Kalau Katon terputus karena dibentak. Ucapan orang itu terputus ketika sebuah pukulan karate menghantam mulutnya. Melihat itu dua rekannya bergerak menyerang. Tapi dengan gerakan kaki yang berkelebat kesana-kemari, keduanya langsung terjengkang jatuh.            Dalam keadaan terluka, ketiga debt collector berpadu melakukan serangan bersama. Tapi lagi-lagi, Katon hanya butuh satu jurus untuk melumpuhkan mereka semua.   *            Obat yang baru dikonsumsi memang betul-betul tidak memberi efek berarti. Zakaria merutuk Fadhil. Ia sangat membutuhan obat untuk mendongkrak kejantanannya saat ini, saat isterinya sedang membutuhkan. Sialnya, obat yang dipakai malah parah. Ia benar-benar seperti terperangkap. Bukan seperti terperangkap, tapi memang benar terperangkap. Kejantanannya gagal berfungsi di saat ada sebuah celah sempit yang tengah basah kuyup bernama vaginna yang minta diisi.            Di dalam mobil yang melaju di arteri, Zakaria berpikir keras. Shirley sudah sejak tadi meminta agar ‘pertarungan’ segera dimulai. Zakaria mengulur waktu dengan mengatakan bahwa mereka lakukan itu di rumah saja. Tapi Shirley meminta ‘tanda jadi’ atau ‘uang muka’ saja dulu. Sebuah tawaran yang tetap saja sulit dilakukan karena sang pennis tetap nyenyak di peraduan berbentuk segitiga bermerk Crocodile miliknya.            “Ayo Pa,” Shirley sudah sejak tadi memegang bagian depan celananya. Rona kecewa terpancar di wajahnya karena dari bentuk celananya yang tidak menggembung, berarti sang kejantanan masih juga belum berfungsi.            “Tunggu.”            “Nggak mau.”            “Tunggu di rumah ya.”            “Nggak mauuu.” Shirley sudah sepenuhnya seperti gadis kecil yang merajuk karena tidak mendapat apa yang ia mau.            Shirley merunduk. Ia mencoba meraba, meremas, mencium, mengigit bagian luar s**********n yang masih terbalut celana panjang. Semenit, dua menit, lima menit. Usahanya tak kunjung berhasil. Air mata mulai menggenang di pelupuk wanita karier yang tengah dilanda rangsangan hebat itu. Ini membuat Zakaria benar-benar gundah. Pikirannya blank. Kosong. Tak tahu apa yang harus ia buat.            Mereka kini melewati daerah yang agak sepi. Zakaria tersadar sesuatu bahwa mereka berada di salah satu sudut kumuh Jakarta.            Sebuah gagasan liar mendadak dengan begitu saja menyelusup masuk ke dalam benaknya. Gagasan yang sebetulnya sudah lama ada. Gagasan yang sudah lama bersarang dalam benak. Bersarang dalam pikiran. Menunggu saat yang tepat sebelum gagasan kecil itu mewujud dalam kenyataan.            Gagasan agar isterinya b********h dengan orang lain.            Adakah yang lebih sinting dari itu? Adakah yang lebih tak waras dari gagasan tadi? Adakah suami segila dirinya yang berusaha ekstra keras agar isterinya yang cantik dan berfisik sempurna dijadikan santapan pria lain bahkan yang ia tak kenal sama sekali?            Namun, itulah hidup. Terkadang ada yang tak bisa diterjemahkan dengan nalar, logika, etika, atau nurani. Dan Zakaria serius mewujud gagasan super gila tadi.            Di kabin mobil, Shirley masih sangat berisik. Ini menjadi kesempatan bagi Zakaria untuk memancing kemarahan. Ketika Shirley kembali mengomel, ini menjadi alasan buatnya mengusir Shirley keluar dari mobil.            “Apa?”            “Keluar!”            Shirley tidak mengerti. “Papa ngusir?”            “Iya, Papa ngusir soalnya kamu berisik banget. Pergi sana!”            Tak percaya dengan apa yang ia dengar, dengan disertai kejengkelan, Shirley menurut dengan terpaksa.            “Fine!”            Ia keluar dari mobil dan membanting pintu keras-keras. Ia masih memaki ketika Zakaria menjalankan mobilnya. Pergi meninggalkan isterinya di sana. Saat itulah Shirley tersadar sesuatu bahwa ia berada di sebuah Red district, dimana penjaja cinta kelas bawah dan pelanggan yang umumnya kelas bawah juga, bertransaksi.            Para penjaja cinta itu duduk berderet-deret di beberapa warung remang-remang. Ditemani musik dangdut dan lampu kedap-kedip, mereka asyik bersenda-gurau, merokok, berdangdutan. Tak ada yang berpakaian tidak seronok. Terlihat salah satu dari mereka yang ‘laku’ segera digiring ke dalam salah satu truk. Gadis yang lain malah ada yang digiring ke dalam truk dengan tiga orang pria di dalamnya. Siap untuk sebuah pesta gangbang.            Tubuh mulus Shirley dengan pakaian convict dress yang seronok dengan cepat menarik perhatian pria-pria pencari cinta. Ketika tiga-empat sosok mendatanginya, Shirley jadi takut sendiri. Saat itulah sebuah motor trail tiba-tiba meraung mendekati dan berhenti persis di sampingnya.            “Cepetan ama gue aja,” terdengar suara seorang pria dari balik helm yang dikenakan. Suasana temaram dan kaca helm gelap membuat Shirley tidak bisa melihat wajahnya. Karena tak mengenakan jaket, Shirley hanya melihat bahwa orang itu berkulit gelap, bertato di lengan dan pangkal lengan, serta memiliki postur gemuk namun berotot. Sebuah kombinasi yang dirasanya unik.            “Ayooo.”            Shirley menggeleng. “Gue ke sini bukan untuk ini.”            “Udah deh… Ayo cepetan .”            “Lu salah ngerti. Gue ini bukan perek.”            “Ngerti. Tapi lu mau dicincang? Mereka itu penjahat, pembunuh,” katanya sambil menunjuk beberapa pria yang makin mendekat.            Shirley jadi takut. Dan melihat bahwa beberapa mulai berlari mendekat, ia sudah tak bisa berpikir lebih jauh. Dengan dibantu pria bermotor, ia naik ke jok belakang motor dan duduk mengangkang. Kini pemandangan Shirley jadi sangat jauh lebih seronok lagi. Kedua paha jenjangnya terpampang jelas saat duduk di jok motor. Dan akibat terburu-buru naik, blus ketat bagian atasnya tertarik ke bawah sehingga mempertontonkan buahdadanya yang tak berbalut b*a.            Motor kemudian melaju. Membawa Shirley pergi ke suatu tempat yang belum ia ketahui. Sebuah tempat dimana ia akan memasuki pengalaman lain yang tak pernah ia duga sebelumnya. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD