Edwin sedang nongkrong di perpustakaan bersama teman-temannya untuk mengerjakan tugas kelompok. Ia, Dava, Balin, Vanya, Kimmy satu kelompok. Ia semakin bersemangat belajar karena hubungannya dengan Nayla sedang hangat-hangatnya. Tinggal tunggu panggilan istimewa dan cusss ia akan datang menemui orang tua cewek kesayangannya itu. Denting ponsel membuatnya menatap benda pipih itu. Matanya menyipit melihat pesan dari Firza. “Pokoknya aku nggak mau tau, kamu harus datang sekarang,” begitulah isi pesan cewek menyebalkan itu. Edwin menyimpan kembali ponselnya. Sekarang ia jadi serba salah, sebab Firza semakin terang-terangan menunjukkan sikapnya. Bahkan beberapa kali Nayla melihatnya sedang berbicara dengan Firza di koridor. Ia khawatir Nayla akan salah paham jika kedekatannya dengan Firza s

