The Point of Our Jurney

1187 Words

LEPAS shalat isya, Nayla dan Edwin meninggalkan rumah Yoga. Mereka hanya diam sepanjang perjalanan.  "Kamu marah?" tanya Edwin sambil fokus mengemudi. Nayla hanya diam, mengarahkan pandangan ke luar jendela. Di luar, rintik gerimis mulai turun. "Maafin aku, Nay," ucap Edwin lagi karena Nayla hanya diam. "Kamu selalu melakukan itu ke aku, habis itu minta maaf. Terus diulangi lagi. Seolah gampang banget buat kamu." Nayla menghela napas dengan wajah kesal. "Kamu nggak pernah tau, itu udah kelewat batas buat aku. Selama ini, aku selalu menjaga diri sedemikian rupa, tapi sekarang aku nggak ada bedanya dengan cewek-cewek yang nggak jaga diri." Nayla mulai terisak. "Tolong maafin aku, Nay. Aku selalu kebawa suasana setiap kali berdekatan secara fisik sama kamu. Dan… ciuman juga bentuk ekspre

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD