Ruby Kesal

1305 Words
"Kenapa? Lo mau pergi lagi? Jangan harap bisa, Liam! Karena gue akan nahan lo ada disini!" Tegas Keysa yang saat ini terlihat baik-baik saja. "Jadi lo beneran cuma akting? Harusnya lo jadi artis aja nggak sih? Cocok kan sama kelakuan lo!" "Jangan bilang lo udah jadian sama cewek murahan itu! Gue nggak akan pernah rela dan ngebiarin lo jalan sama dia!" "Sekali lagi lo bilang dia murahan, gue robek mulut lo!" "Robek Liam! Robek aja nih! Biar lo semakin nggak bisa lepas dari sisi gue karena harus tanggung jawab karena gue sakit." "Dasar uler! Lo liat aja sampai waktunya tiba!" Liam keluar dari ruangan Keysa. Hatinya yang gelisah tak bisa ia tutupi karena saat ini yang ada di pikirannya hanyalah Ruby. Dan hari itu, Liam benar-benar tidak kembali menemuinya Ruby, sampai beberapa hari bahkan Liam tak datang. Pagi ini di rumah Ruby. "Kamu kurusan lagi sih deh, ada masalah di sekolah? Atau ada yang lagi pikirin?" Tanya Robert melihat badan Ruby semakin kecil. "Nggak kok kak, badan aku kan emang kecil." "Kecil sih emang, tapi ini tambah kecil lagi, makan yang banyak, terlalu kecil juga nggak bagus," ujar Robert dengan lembut. "Iya Kakaku sayang." Setelah mereka sarapan pagi, Robert mengantarkan Ruby ke sekolah dulu sebelum dia pergi ke kampusnya. Sampainya di sekolah, Ruby segera masuk ke dalam sekolah, cewek itu berjalan dengan santai dan seperti biasa selalu mencuri perhatian hampir semua cowok karena kecantikan yang Ruby miliki. "Ruby Hazel!!!!" Seru Mili satu teman di kelas Ruby. "Kenapa?" Tanya Ruby yang sebenarnya tidak terlalu akrab. "Nanti malam dateng ke party ulang tahun gue ya, gue nggak terima penolakan, karena gue mau semuanya dateng," ucap Mili dengan antusias. "Hem... Kalau di izinin ya sama kakak gue," sahut Ruby yang emang dia selalu harus mendapatkan izin dulu dari kakaknya. "Tapi harus dapet izin ya, please! Masa lo tega sama temen satu kelas ini, dari dulu gue tuh pengen deket sama lo tahu, cuma lo terlalu pendiem, jadi gue minder duluan, padahal lo cantik banget anjir, lo nggak sadar apa hampir semua cowok di sekolah ini tuh suka sama lo," tukas Mili yang membuat Ruby tercengang, "Hah!!?? Suka apanyaa? Perasaan aku biasa aja deh." "Iya perasaan lo aja itu, tapi nyatanya lo itu primadona di sini, jadi please dateng ya ya ya...." Mili terus merayu. "Iya deh, iya usahain dateng nanti," "Nah gitu dong, kan gue jadi seneng, fix kita temenan nih ya, hehe." Mili tak segan lagi menggandeng kengan Ruby dan melangkah bersama masuk ke dalam kelas. "Minggir lo, cari tempat lain, sekarang Ruby duduk sama gue," tukas Mili mengusir teman cowok sebangkunya. Dan cowok itu pun langsung nurut gitu aja karena yang akan dudun bekasnya, yaitu Ruby. "Gue baru tahu kalau lo galak," tukas Ruby tak percaya. "Hehe... Biar nggak ada yang berani macem-macem sama Lo hazel." "Hazel?" "Iya, kan nama Lo Ruby Hazel, lebih cocok di panggil Hazel tahu." Ruby tersenyum melihat tingkah teman barunya itu yang terlihat konyol memang. "Ada-ada aja deh." "Kemana aja lo baru nongol sama Keysa?" Tanya Robert karena beberapa hari ini Liam tak terlihat bersama Keysa. "Ngurusin gue yang lagi sakit, pacar baik banget kan dia?" Tukas Keysa menjawab dengan bahagia karena telah sukses membuat Liam selalu berada di sisinya. Liam menatap Keysa dengan tajam dan datar. "Apa? Mau ngelak? Mau apa?" Tanya Keysa yang bahkan juga tersenyum di tatap tajam. "Gila lo!" Ketus Liam meninggalkan semuanya dan pergi begitu saja. "Kenapa dia?" Tanya Robert tak biasanya melihat Liam yang tampak sangat kesal. "Lagi dapet kali, makanya jadi sensi," timpal Jodi menjawab. "Weii.. nanti malam adik gue ngadain party, gue harap sih kalian dateng buat ngeramein," kata Jodi. "Wihh... Boleh lah, nanti malam kita dateng, "ujar Robert ikut antusias jika mendengar party. Sementara Liam pergi dari kampus menuju sekolahan Ruby. Dia ingin memastikan bahwa pacarnya itu dalam keadaan baik-baik saja. Walau hanya melihat gerbang sekolah High School, Liam sedikit merasa lega, dia tahu jika Ruby di dalam tengah bersenang senang walau tanpa dirinya. "Sorry Baby, aku janji aku balik sebentar lagi," gumam Liam kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan pergi dari sana. Malam hari pun tiba. Suasana pesta ulang tahun Mili memang tak terlupakan malam ini. Lampu-lampu berkelap-kelip menghiasi ruangan, menciptakan aura magis yang menarik semua tamu untuk menari dan tertawa lepas. Musik dari DJ yang terkenal memenuhi setiap sudut ruang dengan dentuman bas yang menggetarkan jantung. Mili, yang berpakaian indah dengan gaun pesta berkilau, berada di tengah-tengah kerumunan, berdansa tanpa henti. Dia melambaikan tangan ke arah teman-temannya, mengajak mereka bergabung di lantai dansa. Gelak tawa dan sorakan memenuhi ruangan, semangat pesta semakin memuncak. Setiap tamu tampaknya melupakan kepenatan dan kesibukan dunia sekolah mereka, larut dalam euforia dan kegembiraan bersama, Di sudut lain, teman baik Mili, Ruby, menikmati koktail sambil menatap kegembiraan yang tercipta. Ruby merasakan kebahagiaan yang sama, namun ada kehangatan khusus di hatinya saat melihat Mili begitu bahagia. Malam itu, mereka semua sepakat untuk melepaskan segala beban dan hanya menikmati momen spesial bersama. "Gimana? seru kan? sorry ya baru bisa gabung," seru Mili pada Ruby. "Sans aja sih, gue juga enjoy kok di sini." "Lo cantik banget anjir, gaun lu lucu banget," seru Mili jujur, karena memang gaun yang Ruby kenakan sangat lucu dan pas di badannya. "Lo lebih cantik anjir, lo kan yang punya pesta, gaun lo juga cantik banget." Mereka saling memuji satu sama lain, Mili benar benar senang bisa akrab dengan Ruby yang selalu menyendiri di sekolah. Tak lama kemudian satu kelompok kakak dari Mili datang, dan semua mata Beralih fokus pada sekelompok cowok dengan wajah yang tampan itu. Robert terkejut saat melihat adiknya Berada di kerumunan dengan beberapa pria apa lagi dengan koktail di tangannya. Semuanya datang bersama pacar masing-masing kecuali Liam, dia terlalu malas mengajak Keysa dan ingin sedikit menghilangkan penat di pesta itu, tapi siapa sangka jika dirinya akan bertemu dengan Ruby, cewek yang kahir-akhir ini sudah membuatnya gila karena rasa rindu yang menyiksa. "Itu Ruby kan?" netra Liam langsung memaju di mana telunjuk Liam mengarah. Dan benar saja, dengan gaun cantik yang adiknya kenakan tadi sewaktu pergi, Robert menghampiri adiknya dengan langkah yang tegas, tapi Liam menahannya. "Adik gue itu," tegas Robert yang sudah hampir marah. "Gue tahu, tapi ini party adiknya Jodi, lo nggak mau kan ngerusak suasana party yang juga jadi kebahagiaan bagi adiknya Jodi? gue tanganin Ruby, Lo lanjut aja sama Raina." Raina mengandeng lengan Robert dan mengangguk, mengiyakan perkataan Liam. "Liam bener sayang, biar Liam yang ngurus Ruby, toh mereka kan juga pernah deket." ucap Raina meyakinkan. "Gue titip adik gue." Akhirnya Robert memasrahkan Ruby ke tangan Liam. Liam berjalan dengan tatapan tajam ke arah Ruby, dia tak menyukai gaun yang Ruby kenakan, karena menurut Liam itu terlalu pendek dan terbuka di bagian belakang. "Anjir, itu cowok yang ganteng baru aja dateng jalan kesini weii." "lya anjir, ganteng banget." "Jantung gue berasa mau lompat dari tempatnya njir." Bisik - bisik dari para cewek yang melihat Liam berjalan ke arah mereka, tapi melainkan menghampiri mereka, Liam menghampiri Ruby yang tengah duduk dan sudah setengah sadar karena koktail yang dia minum. "Ruby!" pekik Liam berbisik di telinga Ruby. Cewek itu terkejut dengan kedatangan Liam yang tiba-tiba sudah ada di depannya. Dengan pandanga yang setengah kabur, Ruby melihat Liam dengan samar - samar. "Kak Liam?" ucap Ruby belum sempat melanjutkan ucapannya karena Liam lebih cepat menggendong Ruby. "Lepasin kak," Ruby meronta dengan memukul d**a Liam. Mili yang melihat itu seketika panik, tapi saat Mili hendak mengikuti Ruby cewek itu di cegah oleh Raina. "Selamat ulang tahun, kamu adiknya Jodi yang ulang tahun kan?? ini kado buat kamu," kata Raina dengan senyum di bibirnya dan memberikan kado yang ia bawa. "Kamu nggak perlu khawatir dengan Ruby, dia udah ditangan yang tepat kok," imbuh Raina dan Mili mengerti walau ia masih sedikit bingung. "Makasih kak," Mili melihat sekilas di mana Ruby di bawa pergi oleh cowok tampan yang Mili yakin bahwa itu teman kakaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD