Bibir Ruby

1000 Words
"Isshhh... Serius loh kak!" "Serius Baby, kakak siap kapanpun, tinggal nunggu kamunya aja," Perkataan Liam benar-benar membuat Ruby salah tingkah dan wajahnya memerah. "Jadi mau kan pake sekarang," pinta Liam lagi dan Ruby mengangguk walau sedikit ragu. "Pinter banget sih bocil nya kakak." "Aku udah gede loh kak!" Protes Ruby yang tak terima di kata bocil. "Iya nggak bocil, tapi mukanya masih kaya bocil," Liam memberikan satu paperbag berisi lingerie yang mereka beli tadi. "Hayuk Baby. Nggak tahan pengen liat," "Liat doang kan?" "Ya.... Paling kalau nggak tahan, nen dikit ya." Dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus, Ruby mengambil paperbag itu dan menuju kamar mandi, mengganti pakaian yang ia pakai dengan menggunakan lingerie yang mereka beli dengan warna hitam. Liam menunggu dengan santai, tapi netranya tak teralihkan ketika Ruby keluar dari kamar mandi, begitu lekuk tubuhnya terlihat jelas di mata Liam. Sampai cowok itu menelan ludahnya dengan susah payah. Jakun yang naik turun memberikan efek Liam semakin sexi jika di lihat. Dan begitu juga Ruby. Cewek itu perlahan melangkah mendekati Liam. Walaupun ia menutupi bagian yang terbuka dengan kedua tangannya. "Bagus nggak?" Tanya Ruby takut jika itu akan terlihat jelek di badannya. "Cantik, cantik pake banget Baby," Liam menarik Ruby dan memangku nya lagi. Ruby kaget karena kini pakaiannya yng terbuka dan benar-benar mepet dengan Liam. "Ohh.. s**t! Bangun kan." "Apanya?" Tanya Ruby dengan polosnya. "Dedenya, kamu nggak kerasa emang?" "Nusuk," lirih Ruby yang malah bergerak dan membuat gesekkan di bawah sana. Liam memejamkan matanya, "Jangan banyak gerak sayang, nanti tambah bangun." "Ohh.. maaf," Ruby jadi merasa bersalah. "Terus gimana?" Imbuh Ruby bertanya. "Boleh nen kan?" "Kak Robert beneran nggak pulang kan? Rubby takut." "Kakak tanggung jawab," desis Liam yang sudah tak kuasa kini menyambar bibir Ruby dan menyekopnya. Sekopan Liam semakin menjelajah dari bibir, kini telinga, dagu, dan leher, membuat Ruby mendongak tak kuasa menahan gairah yang semakin mem bara. Lingerie yang Ruby pakai, yang hanya menutupi bagian - bagian tertentu saja membuat Liam serasa sesak di bawah sana. Dan ketika Liam sedang gencar memberi serangan, ponsel nya kembali berdering, awalnya Liam mengabaikan tapi saat tahu bahwa orang tua Keysa yang menghubungi dirinya. Jadi berhenti dari aktifitasnya bersama Ruby Nafasnya yang masih terengah ia atur seketika dan menggeser tombol hijau terpaksa. "Hallo Om," jawab Liam. "Bisa ke rumah sakit sekarang? Keysa nggak mau minum obat kalau bukan kamu yang datang," kata Baskoro dari sebrang telepon. "Baik Om, Liam kesana sekarang," sahutnya yang sebenarnya malas. "Kak Liam mau kemana?" Rengek Ruby menatap netra pacarnya. "Kakak keluar bentar ya, nanti kalau sempet kakak balik kesini, kalau enggak, kamu istirahat ya," ujar Liam dengan lembut. Cup cup cup cup... Sebelum pergi, bahkan Liam menghujani wajah Ruby dengan kecupan kilas. "Maafin kakak karena kakak harus pergi sekarang." Ruby cemberut, ia tahu bahwa tadi yang menelepon Liam adalah keluarga Keysa dan meminta Liam untuk datang. Nyatanya Liam masih gak bisa memutuskan Keysa dan membuat Ruby menjadi satu-satunya. Ruby menarik ujung kaos yang Liam kenakan, "boleh nggak kalau aku yang minta kak Liam tetep di sini sekarang?" Liam menoleh, melihat ekspresi wajah Ruby yang sendu, membuat Liam juga tak tega, tapi sekarang dia harus pergi. "Bentar ya, kakak janji cuma bentar," Ruby menggelengkan kepalanya, dia ingin egois untuk waktu ini memiliki Liam sepenuhnya. Liam yang juga lemah di hadapan Ruby. Kini memeluk Ruby ke dalam dekapannya. "Bentar ya sayang, bentar doang ya, kakak janji bakal balik lagi," suara Liam terdengar begitu lembut. "Nggak mau! Aku mau kak Liam tetep di sini." Ruby mendongak, mereka pun saling tatap sebelah Ruby melonggarkan pelukan mereka dan mundur beberapa langkah. Tali sepatu yang tersangkut di bahunya ia tanggalkan dan membuat apa yang ia kenakan merosot ke bawah. "Ohh... s**t! This is my Baby girl," pekik nya lalu melangkah mendekati Ruby. Mengambil selimut di atas tempat tidur lalu menutup badan Ruby dengan selimut itu. "Aku suka ini, tapi aku akan nikahin kamu dulu sayang, inget! Cuma aku yang boleh liat!" Cup. Liam kembali mengecup kening juga bibir Ruby. Tapi kali ini dengan dalam sebelum cowok itu meninggalkan Ruby seorang diri di dalam kamarnya. "Dia beneran pergi? Nikah? Apanya yang nikah? Kalau sekarang aja dia belum bisa milih antara aku atau kak Keysa." Ruby masih kesal walau ucapan Liam tadi terdengar sungguh-sungguh dan tulus, dia merobek semua lingerie yang beli tadi dan membuangnya ke tong sampah yang ada di dalam kamarnya. "Aku benci kak Liam!!" Ruby menenggelamkan dirinya di Bathtub kamar mandi, meluapkan semua kekesalan yang ada. Sementara tak lama kemudian Liam tiba di rumah sakit, Liam juga bingung bagaimana bisa tiba-tiba Keysa masuk rumah sakit, sedangkan tadi ketika ia tinggal masih sehat -sehat saja. Liam langsung ke ruangan di mana Keysa di rawat setelah ia menerima pesan dari Baskoro. "Akhirnya kamu datang, Liam." Baskoro lega karena Liam datang juga. "Keysa sakit apa Om? Bukanya pagi tadi masih baik-baik aja?" "Biasalah, pengen di manja sama pacar, mau minum obat aja nungguin pacar dateng kan." Liam benar-benar di uji kesabarannya, cowok itu menghampiri Keysa dan menyuapkan obat yang sudah tersedia di atas nafas. "Minum obat yang bener, biar cepet sembuh." Ucap Liam dengan penuh sandiwara karena nada suaranya yang lembut. Setelah Keysa sudah meminum obatnya, Baskoro menitipkan Keysa pada Liam karena tiba-tiba ada pertemuan dengan klien. "Kamu bisa kan jagain Keysa selama Om nggak ada? Om tiba-tiba harus ketemu sama klien," Liam mengangguk, ia benar-benar merasa kini Keysa yang merencanakan semua hal itu. "Iya Om," jawab Liam sopan. "Makasih ya, Om pergi dulu." Baskoro pergi, dan tinggallah mereka berdua. "Makasih ya sayang, ternyata kamu masih peduli sama aku," ucap Keysa. Tak Liam tak menjawab, pikirannya masih tertuju pada Ruby yang ia tinggalkan seorang diri tadi. "Dia pasti marah kalau gue nggak balik sekarang, padahal gue udah janji bakal balik dia nemuin dia lagi," gumam Liam dalam hati. "Sayang, kok diem aja sih?" Rengek Keysa mencoba menggapai tangan Liam. Tapi dengan cepat Liak menjauhkan tangannya. "Om lagi nggak ada, jadi nggak usah pura-pura nggak bisa? Gue males liatnya!" Ketus Liam tapi itu tak membuat Keysa gentar. dan Keysa tak gentar menghadapi Liam
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD