"Ehh.. tapi perasaan tadi kamu keluar bukan pake baju ini kan?" tanya Robert karena dia melihat Ruby keluar.
Seketika Ruby gugup, tapi dengan cepat Liam menjawab pertanyaan Robert.
"Gue yang nyuruh ganti, habis terlalu kebuka pakaiannya, masih kecil tuh kalau pake baju tuh yang bener, lo juga sebagai kakak gimana sih?" tukas Liam yang kini malah mengomeli Robert.
"Hah???" Robert dan Raina merasa semakin bingung dengan sikap Liam
Lirikan Raina terlihat mengintimidasi Liam, sedangkan Robert tal berpikir yang aneh-aneh.
"Habis gimana? Orang dia demen ya begitu!"
"Liat aja kalau dia berani pake baju begitu lagi keluar rumah, gue robek bajunya saat itu juga!"
Ruby melirik Liam penuh dengan kepanikan, ia takut sikap Liam yang terlalu posesif terhadap dirinya akan menimbulkan kecurigaan bagi kakak juga pacarnya.
"Eh... Mumpung kita di sini, kita nonton yuk," ajak Raina. "Hayuk... mumpung Ruby ada temennya, kasian kan biasanya dia jadi obat nyamuk mulu, sayang, lagian Liam juga lagi nggak sama Keysa kan."
"Lo nggak apa-apa kan Am? Mau nemenin adek gue," kata Raina lagi meyakinkan Liam.
Tanya Ruby nya, dia mau enggak? Gue sih oke oke aja," sahut Liam bersikap cuek.
"Hemm...." Ruby terlihat berpikir
"Nggak usah banyak mikir, hayuk!" Raina menarik lengan Ruby dan di ekori oleh kedua cowok keren di belakang merek.
Ruby hanya bisa menuruti kemauan calon kakak iparnya itu, Raina memilih salah satu film romantis di balut dengan beberapa adegan dewasa di dalamnya.
Setelah membeli minuman dan juga pop corn utk mereka cemil di dalma nanti, ke empat orang itu masuk ke ruangan bioskop yang di mana di sana sudah banyak sepasang kekasih juga.
Raina duduk si sebelah Robert, dan Ruby di sebelah Raina, sedangkan Liam memilih berada di sebelah Ruby.
Awalnya semua tegang saat film baru saja di mulai, tapi lambat laut semakin membuat panas dingin ketika mereka menyaksikan adegan yang dewasa.
Liam menutup kedua mata Ruby agar cewek itu tak bisa melihat, "Apaan si kak Liam?" Protes Ruby yang ingin menyeka tangan Liam.
Tapi saat Ruby baru saja bisa melihat, Ruby harus di kejutkan dengan adegan yang di buat oleh kakaknya sendiri bersama sang pacar.
"Ikut kakak keluar!"
Dengan cepat Liam menarik lengan Ruby dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.
Wajah Ruby merona, dan itu sangat terlihat karena kulit Ruby yang putih bening.
"Kita mau kemana kak?" Ruby bertanya karena Liam terus saja berjalan.
"Nganterin kamu pulang!"
"Kok pulang sih?" Langkah Ruby berhenti.
"Kamu mau ngapain di sini? Ngeliat mereka ci uman begitu? Atau mau?" Liam mengerlingkan satu matanya.
"Ish apaan sih kakak, nanti kalau kak Robert dan Kak Raina ngikutin kita gimana?"
Liam menaikan satu alisnya bingung, "Do you really want to?" Liam menarik sudut bibirnya.
Ekspresi wajah Ruby tak menutupi betapa cewek itu juga ingin.
"Baby girl, masuk." Titah Liam meminta Ruby masuk ke dalam mobilnya.
Walau sedikit ragu, Ruby masuk ke dalam mobil. Dan Liam mengirimkan pesan pada Robert bahwa dia akan mengantarkan Ruby pulang,
Jantung Ruby berdegup dengan cepat kali ini, ia menyiapkan diri jika benar Liam akan membawa dirinya ke suatu tempat. Tapi di tengah jalan, ponsel Liam berdering.
Liam berdecak kesal saat melihat layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang menghubungi dirinya.
Terlihat jelas nama Keysa di layar hp Liam.
Wajah merona Ruby kini terganti dengan wajah yang sayu, ia merasa jika Liam akan pergi menemui Keysa dan mengantarkan dirinya pulang.
Bahkan kini Ruby tak menatap ke arah Liam, katakanlah dia egois karena ingin memiliki Liam seutuhnya.
Liam menarik sudut bibirnya ketika cowok tahu bahwa Ruby tengah di landa kecemburuan.
Dan Liam memilih untuk mengangkat telepon dari Keysa dan mematikan ponselnya.
"Kok nggak ada suara sih?" Gumam Ruby yang tak mendengar obrolan apapun dari Liam.
Tapi Ruby masih terdiam dan mempertahankan posisinya saat ini.
Membuat Liam yang melihat hak itu semakin gemas.
Tak lama kemudian mobil yang membawa mereka berdua sampai di kediaman Ruby.
Cewek itu langsung turun tanpa berkata sepatah kata pun pada Liam.
Sementara Liam membawa belanjaan yang di beli oleh Ruby tadi ke dalam, mengekori Ruby dari belakang sambil diam-diam memperhatikan Ruby dari belakang.
"Kakak mau ngapain?" Tanya Ruby saat mereka sudah di ambang pintu kamar Ruby.
"Masuklah, mau ngapain lagi?"
Tanpa berkata, Ruby merebut beberapa paper bag besar di tangan Liam, tapi saat Ruby mau menutup pintu kamarnya. Liam menaha dengan kakinya.
"Kenapa cemberut? Marah?" Tanya Liam tanpa basa basi.
"Enggak! Bukanya kak Liam mau pergi ke rumah kak Keysa? Ya udah sana!" Ketus Ruby masih dengan wajah cemberut.
"Kamu cemburu?"
"Enggak! Nggak ada hak juga kan aku cemburu!" Ketusnya yang langsung masuk ke kamar tanpa peduli dengan Liam yang masih berdiri di depan pintu.
Dengan cepat Liam memeluk Ruby dari belakang, "Kamu punya hak Baby, kamu pacar kakak sekarang!" Desis Liam di telinga Ruby. Membuat cewek itu merinding karena hembusan nafas yang menyapu ku liatnya.
"Tapi kak Keysa kan pacar kak Liam juga, apalah aku cuma di jadiin yang kedua sama kak Liam," keluh Ruby.
"Hemmm..."
Liam membalikan badan Ruby agar menghadap ke arahnya, "siapa yang bilang kamu yang kedua? Bagi kakak kamu yang pertama, dan satu-satunya."
"Tatap kakak," titah Liam karena Ruby terus menunduk.
"Nggak mau!"
"Ngelawan? Kalau cemburu bilang aja."
"Pake di tanya lagi," kini jawaban Ruby sukses membuat Liam terkekeh.
"Nggak ada yang lucu!" Tukas Ruby kesal.
"Emang nggak ada, tapi muka kamu lucu, jadi pengen makan pipinya yang kaya bakpao ini kalau lagi ngambek ngembung."
Liam menguyel nguyel pipi Ruby karena gemas.
"Ihhhh... Sakit kak."
Cup. "Kalau ini sakit nggak?" Liam mengecup bibir Ruby sekilas.
Ruby menggeleng pelan sebagai jawaban, lemah kan? Ruby yang kini selalu lemah di hadapan Liam sekarang malah jadi malu-malu meong.
"Mau lagi?" Goda Liam yang sebenarnya dia juga tak bisa tahan jika di depan Ruby.
"Enggak! Nanti kak Robert pulang."
"Dia nggak akan pulang!"
"Kakak tahu dari mana? Jangan sotoy deh."
Liam duduk di tepi ranjang milik Ruby. Menarik cewek itu agar lebih dekat lagi.
"Apa?" Tanya Ruby gugup.
"Kakak pengen liat kamu pake yang di beli tadi," Liam mengerlingkan satu matanya.
"Isshh.. nggak mau! Malu," tengen Ruby tapi Liam malah menarik badan Ruby ke dalam pangkuannya. Seketika Ruby melingkarkan kedua tangannya di leher Liam.
"Kenapa harus malu? Kan kakak udah pernah lihat," wajah Ruby merona saat mengingat Liam melihat bagian atas badanya waktu itu.
"Kak Liam nggak ke tempat kak Keysa?"
"Jangan bahas orang lain kalau lagi berdua, kakak nggak suka," Liam menyelipkan anak rambut yang tergerai ke telinga Ruby.
"Nanti kak Robert pulang gimana?"
"Dia nggak akan pulang, lagian kakak cuma mau liat kok, janji! Ya paling meleset dikit minta nen."
Setiap kata yabg keluar dari bibir Liam seolah hipnotis bagi Ruby.
"Emang kak Robert mau kemana? Nanti kalau dia pulang dan mergokin kita berdua di kamar gimana?"
"Mmmm... kamu maunya gimana? Kakak ikut aja, mau nikah sekarang juga boleh, biar langsung masuk kan nggak di tahan lagi."