"Kok cemberut?" Tanya Liam mengangkat dagu Ruby dengan satu jari telunjuknya.
"Habisnya kak Liam dateng- dateng nyuruh aku ganti baju, mana bajunya begini lagi," protes Ruby.
"Kamu nggak inget semalam kakak bilang apa?"
"Apa?"
Tuk.
Liam menyentil kening Ruby hingga membuat dia meringis sakit.
"Jangan pake baju yang kebuka kalau keluar! Pengen di liat sama siapa sih? Semalam juga kakak udah bilang kan? Cuma kakak yang boleh lihat!" Bisik Liam men cium leher Ruby sekilas.
Liam juga menarik ikat rambut yang Ruby kenakan agar leher jenjangnya tak bisa di lihat oleh orang lain. Terutama sama cowok hidung belang.
Ruby menghembuskan nafasnya panjang, dan menuruti semua keinginan sang pujaan hati.
Setelah itu Liam mengambil semua pakaian yang Ruby bawa lalu membawanya ke kasir untuk dia bayar.
Ruby membuka tasnya guna akan membayar semua baju yang ia beli.
"Mau ngapain?" Tanya Liam kemudian.
"Mau bayar," sahut Ruby dengan polosnya.
"Terus apa gunanya pacar kamu disini?"
Blush! Wajah Ruby langsung merona.
"Diem! Biar kakak aja yang bayar," kata Liam lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya.
"Mau beli apa lagi?" Tanya Liam.
"Emang kak Liam mau bayarin lagi?"
"Kenapa? Nggak mau?"
"Nanti aku di bilang morotin uang kak Liam lagi."
"Siapa bilang gratis."
"Hah? Maksudnya? Kalau aku harus ganti ya mending tadi bayarnya pake uang aku aja."
"Duit kakak udah banyak."
"Lah terus ganti pake apa?" Ruby jadi bingung.
"Your lips, and.... ?" Liam menggantungkan ucapannya. Tapi netranya tertuju pada badan Ruby dari atas sampai bawah.
"m***m!" Kata Ruby tapi cewek itu anehnya malah menggenggam tangan Liam dan menariknya keluar dari toko baju tersebut lalu masuk ke dalam toko pakaian dalam atau Lingerie yang ada di samping tokk pakaian tadi.
Netra Liam terbelalak saat Ruby dengan entengnya mengajaknya masuk ke dalam toko tersebut.
"Kak Liam mau liat aku pake yang mana?"
Liam semakin di buat kaget oleh Ruby.
Cowok itu menelan ludahnya dengan susah payah, bayangan di kepalanya sudah di penuhi dengan Ruby memakai pakaian yang ada di toko itu.
"Kak..!" Panggil Ruby menggoyangkan lengan Liam
"Ah... I-iya kenapa?"
"Kok malah diem sih? Kak Liam pilihin buat aku pake."
"Ruby, kakak cuma bercanda tadi loh," Liam bukanya tak mau memilihkan pakaian itu untuk Ruby. Hanya saja ia terlalu takut jika akan kebablasan nanti.
"Hemmm jadinya nggak jadi?" Tanya Ruby yang malah cemberut lagi.
"Ada yang kami bantu kak? Ada lingerie keluaran baru untuk pengantin baru kak," ucap pelayan toko dengan sopan.
"Suami saya nggak mau kak, maaf ya nggak jadi," sahut Ruby yang langsung berjalan meninggalkan Liam begitu saja.
"Ohh.. s**t!" Geram Liam lalu menarik lengan Ruby masuk lagi ke dalam toko itu.
"Maaf kak, istri saya masih bocil, jadi suka ngambek," ucapnya pada pelayan toko." Mau pilih yang mana? Baby? Aku akan nemenin kamu nyobain lingerie -nya."
Ruby malah tersenyum dengan sumringah. "Beneran nggak takut dia sama gue anjir!" Gumam Liam yang mulai keluar keringat di wajahnya.
"Black and red? Dua-duanya bagus kan?" Tanpa ragu Ruby menarik lengan Liam dan masuk ke dalam ruang ganti berduaan.
Para pelayan toko hanya bisa senyum-senyum, karena mereka pikir Ruby dan Liam benar pengantin baru.
"Kakak kenapa kok keringetan?" Ruby mengelap keringat di wajah Liam dengan sebuah tisu yang dia ambil dari dalam tas.
Liam tak menjawab, netranya fokus pada bibir Ruby yang mengkilap karena lip gols yang cewek itu pakai.
"Kakak tunggu di luar aja."
Liam yang hendak keluar di tarik oleh Ruby dengan bibir cemberut.
"Kalau kakak Keluar siapa yang naliun talinya nanti?" Liam menelan ludahnya semakin susah payah, nafasnya kian tercekat di tenggorokan. Dia takut, benar-benar takut jika lepas kontrol.
Dan dengan mudahnya Ruby melepas semua pakaian yang dia pakai lalu mencoba lingerie yang dia bawa tadi.
"Bagus kan?" Tanya Ruby saat dia sudah memakai lingerie berwarna hitam.
Begitu cantik, lekuk tubuhnya yang terlihat jelas membuat netra Liam tak bisa berpaling lagi.
"Kok diem aja kak?" Satu jari menusuk Ruby perut Liam karena cowok itu masih terdiam.
"Kamu mancing kakak?"
Ruby menggeleng, "Emangnya kakak ikan di pancing?"
Tatapan Liam semakin tajam dan melangkah mendekati Ruby hingga mentok ke dinding.
"I like your touch," lirih Ruby saat wajah mereka sudah sangat dekat.
"Lingerie nya bagus, tapi aku lebih suka kamu tidak memakai apapun," bisik Liam mencium pipi Ruby sekilas sebelum dia keluar dari ruang ganti itu.
Jantung Liam berdebar dengan hebat, wajahnya sudah di pastikan sangat merah saat ini karena gelora yang semakin memuncak, tapi dia tau ini bukanlah tepat yang tepat.
"Dia buat gue bener-bener on sekarang!" Liam menggerutu.
Tak lama kemudian, Ruby keluar dengan pakaian tertutup lagi, dengan lengan panjang dan celana panjang yang Liam beli di toko sebelah.
"I will touch you, tapi bukan di sini tempatnya sayang," bisik Liam yang membuat Ruby merinding.
"Kirain kakak nggak suka aku lagi," lagi-lagi Ruby cemberut.
"Janhan cemberut di sini, kakak nggak tahan liatnya."
"Hehe..." Ruby menyengir dan mengecup pipi Liam sekilas. "Makasih traktirannya," Ruby tahu bahwa Liam akan membayar semua yang ia beli lagi.
Setelah membayar semuanya, satu sepasang kekasih itu keluar.
Dan saat mereka baru saja keluar dari toko itu. Mereka berpapasan dengan Robert juga Raina. Membuat Ruby kaget karena takut jika hubungannya akan di ketahui oleh kakaknya itu.
Bukan masalah orangnya, tapi saat ini posisi Liam masih punya pacar, dan Ruby takut jika día akan di omelin sama kakaknya.
"Loh kalian?" Satu telunjuk Robert ia arahkan pada Ruby juga Liam.
Genggaman di tangan Liam pun Ruby cepat-cepat lepaskan dan gugup seketika.
"Tadi kak Liam liat aku sendirian masuk ke toko ini, dan dia nemenin aku kak," untungnya Liam tahu bahwa biasanya Ruby selalu di temani oleh salah seorang jika ingin berjalan-jalan.
"Oh... Iya iya, kakak juga nyusul kamu kesini takut kamu di culik, bukanya kakak ngak percaya sama kaku, kakak cuma khawatir karena kamu belum biasa kemanapun sendiri," Ruby mengangguk mengerti dengan kecemasan kakaknya itu.
"Terus lo lagi ngapain di sini? Sama Keysa?" Tanya Raina pada Liam.
"Enggak, gue sendirian kesini, ada urusan tadi ketemuan sama orang, terus gue liat Ruby jalan sendirian makanya gue ikutin."
"Thanks ya, coba lo tadi chat gue, kan gue jadi nggak perlu khawatir lagi,"
"Kak Liam juga baru kok ketemunya sama Ruby kak." Ruby mencoba menjelaskan lagi.
"Kamu ngikutin Ruby ke toko ini Am?" Raina tak percaya seorang Liam mau menemani wanita ke toko pakaian dalam, sedangkan selama ini dia selalu menolak untuk masuk jika para ciwi-ciwi berbelanja pakaian dalam.