Robert menatap Ruby dengan menyelidik, tapi karena Robert merasa malam tadi Ruby juga tak keluar dari rumah, bahkan adiknya itu hanya memiliki satu teman di sekolahan nya, Robert tak begitu memikirkan hal tersebut.
"Beli obat nyamuk nanti kalau ke supermarket," kata Robert dan Ruby mengangguk dengan cepat.
Yakni kini Robert bersama Raina sang pacar, dan Jodi juga bersama kekasihnya Nia. Hanya saja Liam tak ikut sarapan karena polang lebih awal dari biasanya. Dan Ruby seorang diri yang tak punya pasangan,
"Liam balik jam betapa? Kok gue nggak tahu sih?" Tanya Jodi yang merasa formasi kurang lengkap
"Gue juga nggak tahu, tumben banget itu anak bangun pagi, biasanya juga paling telat bangun," tukas Robert menjawab.
Sementara Ruby hanya bisa terdiam walau dia tahu saat Liam tadi pulang bersama Keysa.
Selera makan Ruby jadi menghilang mengingat nama Keysa. Pacar dari Liam yang kini juga menjadi pacarnya.
"Aku udah kenyang kak, aku ke kamar lagi ya?" Ruby berlalu begitu saja meninggalkan akak juga teman- teman kakaknya di meja makan.
"Adik kamu kenapa? kayaknya dia sakit deh," kata Raina pada Robert.
"Enggak ah, dia baik-baik aja kok, mungkin lagi ada tugas sekolah yang bikin di pusing, biasanya sih gitu," sahut Robert karena tahu kebiasaan adiknya itu.
Sampainya di kamar, Ruby duduk di meja riasnya, melihat bagian lehernya yang benar adanya bekas tanda yang Liam berikan semalam.
Ruby malah ingat lagi, bagaimana bibir Liam dengan agresifnya menjelajah di leher mulusnya itu, membuat Ruby menjadi merasakan gai rah lagi, cewek itu menggigit bibirnya sendiri mencoba merasakan kembali sen tuhan Liam pada diriny.
"Kak Liam...." panggilnya lirih.
Ruby mengambil ponselnya, ia ingin menghubungi Liam, tapi dia sedikit raung dan takut.
"kak Liam mau nggak ya nemenin gue jalan-jalan ke mall? gue kan juga pacarnya, tapi kalau dia lagi sibuk sama kak Keysa gimana?" Ruhy kembali takut menerima kenyataan.
Alhasil dia tak jadi menghubungi Liam dan akan pergi ke mall sendirian.
Ruby menuruni anak tangga dengan sudah berganti baju.
"Mau kemana?" tanya Robert melihat adiknya sudah dandan begitu cantik dan girly.
"Mau jalan-jalan kak, boleh kan?"
"Sama siapa?" tanya Robert karena Robert tak pernah membiarkan Ruby pergi seorang diri.
"Sendirian kak, boleh ya, sekalian belajar kan harus kemanapun sendiri, kan kak Robert juga lagi ada kak Raina di rumah," Ruby berharap Robert mengijinkan dirinya.
Walaupun sedikit cemas, tapi tak bisa di pungkiri bahwa Ruby juga sudah besar. "Ya udah boleh, tapi kalau ada apa-apa kamu hubungi kakak atau kak Raina ya!" Tegas Robert dan Ruby mengangguk antusias.
Ruby merasa senang karena akhirnya dia bisa berjalan-jalan seorang diri, tanpa harus menjadi obat nyamuk atau kambing conge.
Karena kalaupun Robert akan mengantarkan dia, pasti Reina akan ikut dan malah membuat Ruby terabaikan, walau memang Robert sesekali kan memperhatikan Ruby.
Walau kedua orang tua Ruby sudah tiada.
Tapi hidup Ruby masih terbilang mencukupi karena perusahaan peninggalan orang tua Ruby di kelola oleh Robert sambil kuliah.
Ruby meminta pak supir yang biasanya mengantarkan dirinya pergi ke sekolah kali ini untuk mengantarkan dirinya ke salah satu mall terbesar di kota itu.
"Pak anterin ke mall biasa ya kita pergi ya," tukas Ruby sopan pada pak Misran.
"Baik non."
Pak Misran mulai menyalakan mesin mobil dan melajukan dengan kecepatan sedang. Tak butuh waktu lama karena kediaman Ruby berada di tengah-tengah kota. Dan sampailah di mall yang Ruby ingin datangi.
"Makasih ya Pak, bapak pulang aja, nanti kalau Ruby mau pulang, Ruby kabarin pak Misran."
"Baik non," sahut Misran yang menuruti majikanya.
Tanpa menunggu lagi, Ruby yang semangat karna jalan-jalan seorang diri, melangkah lebih cepat masuk ke dalam mall.
"Mmm... Kemana dulu ya?" Ruby sedikit bingung karena mungkin ia belum terbiasa.
"Ke toko baju ahh," langkah Ruby terlihat sangat ringan dan senyum di wajahnya terukir jelas.
Cewek itu sangat menikmati harinya kali ini.
Netra Ruby menangkap satu pakaian yang sangat pas untuk dirinya. "Cobain ahh.."
Ruby tak segan mengambil beberapa stel baju yang ia inginkan dan mencobanya di ruang ganti.
"Kak Liam pasti suka kalau aku pake ini di depan dia," senyum di bibir Ruby semakin mengembang membayangkan bagaimana Liam yang akan menyukainya penampilannya.
Ruby ber-selfie mirror depan kaca di ruang ganti dengan beberapa pakaian yang ia bawa tadi. Dia bahkan tak segan lagi untuk mengirim pesan pada Liam. Walau awalnya dia sedikit ragu juga takut.
"Bagus nggak kak?" -send ke Liam dengan mengirimkan beberapa selfie mirror nya.
"Kamu di mana?" Tanya Liam dengan cepet membalas,
"Di ruang ganti toko baju,"
"Jangan pake baju begitu kalau keluar! Kamu ke mall sama siapa?" Ruby seolah bisa menadakan chat yang Liam kirim dengan nada yang posesif dan galak.
"Sendirian kak."
"Kamu ke mall pake baju apa?"
Ruby yang sudah berganti pakaian awal lagi pun kembali ber-selfie miror. Cekrek dan send.
"Pake ini kak,"
"Ohh.. s**t! Mall mana? Tunggu kakak di ruang ganti itu! Jangan keluar kalau kakak belum dateng!"
Ruby menjadi bingung. "Nungguin dia dateng? Yang bener aja? Kelamaan dong gue di dalem sini? Di kira pingsan nggak gue nanti?"
Tapi anehnya Ruby menurut dan masih terdiam di dalam ruangan ganti toko tersebut sampai Liam datang.
Bahkan ada pelayan toko yang merasa takut karena Ruby juga tak keluar dan bertanya apakah dia baik- baik saja di dalam sana.
"Kak maaf, kakak baik-baik aja di dalam?" Tanya pelayan toko itu.
"Baik-baik aja kok kak. Saya nunggu pacar saya dateng, di omelin gara-gara pake baju begini ke mall."
"Oooh.... Baiklah kak, kami mengerti."
Pelayan toko itu merasa lega karena pengunjung tokonya baik-baik saja.
Sampai akhirnya Liam datang ke toko tersebut dengan Ruby mengirim lokasinya pada Liam, Cowok itu langsung mengambil setelan yang menurutnya tertutup dan pas di badan Ruby.
"Ruby, kamu di mana?" lirih Liam karena di toko itu ada 3 ruang ganti.
"Di sini kak."
Ruby mengetuk pintu ruang gantinya sendiri.
"Ganti pake ini!" Tegasnya minta Ruby untuk membuka pintu dan mengambil pakaian yang Liam pilihkan.
"Kakak nggak mau masuk?" Tanya Ruby dengan entengnya.
Liam mengusap wajahnya dengan kasar, "Kamu mau kakak terkam sekarang?"
Seketika Ruby terdiam dan berganti pakaian sesuai yang Liam mau.
Dan tak lama kemudian Ruby keluar dari ruang ganti dengan wajah yang cemberut karena pakaian yang ia kenakan tak menunjukan dirinya sama sekali.
SIAPA YANG SAMA KAYA RUBY? DI POSESIFIN SAMPAI BAJU AJA DAN YANG LAINYA SAMA PACAR ATAU SUAMI?