Salah Orang
"Ah lepaskan! siapa kamu? lepaskan aku!" teriak Syaila meronta-ronta.
"Heuh, melepasmu? yang benar saja. Kamu itu istriku. Berani-beraninya kau kabur dariku," ucap Joy Nelton dengan sorot matanya tajam dan penuh kemarahan.
"Istrimu? yang benar saja. Aku bahkan gak mengenalmu Tuan, kamu salah orang," protes Syaila masih meronta-ronta melepaskan tangannya dari laki-laki asing yang menarik lengannya.
"Berhenti membuat drama!"
Pria itu semakin mempererat genggamannya lalu memaksa Syaila untuk masuk kedalam sebuah kamar hotel yang berada tidak jauh dari posisi keduanya sekarang.
"Bule kurang ajar, apa yang kamu lakukan?lepaskan aku!"
Syaila semakin berteriak kencang dan berusaha melepaskan tangan kekar yang menggenggam erat lengannya itu.
"Apa yang aku lakukan? haha tentu saja memakanmu."
Joy semakin mendekatkan dirinya.
"Jika kamu berani menyentuhku sedikit saja, aku akan...."
Syaila bingung ia akan melakukan apa jika pria brutal di hadapannya inj tak melepasnya, pasalnya ia tak pernah berfikir untuk melakukan hal-hal buruk kepada siapa pun sebelumnya.
"Akan apa sayang? bukankah kita sudah biasa melakukan ini bersama?" Seringai jahat muncul di wajah tampan itu. Joy menarik jilbab Syaila hingga rambut panjang gadis itu pun tampak.
"Jangan!" teriak Syaila.
Tubuhnya bergetar hebat, pria itu semakin mendekatkan tubuhnya tak peduli. Posisi Syaila terhimpit di antara dinding dan pria yang tak di kenalnya itu. Ia meraba-raba sesuatu di atas meja.
Bugh.
"Aw!" teriak Joy kesakitan.
Sebuah vas bunga mendarat di kepalanya, ia merintih kesakitan.
Mendapat kesempatan seperti itu, Syaila langsung berlari meninggalkan ruangan dan tak lupa mengambil jilbabnya yang jatuh di lantai. Joy merasa kesakitan akibat pukulan di kepalanya, pelipisnya berdarah. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat Syaila telah keluar dari ruangannya. Joy mengambil handphone mahalnya lalu menghubungi anak buahnya.
"Cepat tahan Nyonya! dia keluar dengan mengenakan penutup kepala," perintah Joy dengan emosi yang meledak-ledak di dalam dadanya.
"Baik Bos," ucap anak buahnya. Mereka pun menyebar mencari ke berbagai tempat.
Syaila berlari secepat mungkin. Ia masuk ke dalam kamar hotel yang di sewanya itu dengan segera.
"Huuf hampir saja. Siapa dia? apa dia sudah gila?"
Syaila memijat-mijat keningnya yang terlihat sedikit berkeringat akibat lari maraton beberapa saat lalu agar orang cabul yang datang entah dari nama itu tak mengejarnya lagi.
"Jangan-jangan dia mengira aku istrinya. Apa wajah kami begitu mirip?"
Syaila memperhatikan wajahnya di cermin dengan teliti.
Drriiiit.
Sebuah telpon menyadarkan lamunannya.
"Halo, ada apa Bel?" tanya Syaila pada sahabatnya.
"Ada apa endasmu? dasar makhluk gak ada akhlaq," teriak Bela emosi.
"Kenapa sih? baru nelpon udah marah-marah," jawab Syaila tak mengetahui kesalahan apa yang telah di buatnya.
Syaila sedikit menjauhkan posisi ponselnya dari daun telinganya agar tak merusak gendang telinganya akibat teriakan sahabatnya itu.
"Woy! kamu masih anggap aku sahabat gak sih? berangkat gak main bilang-bilang dan sampai di sana juga gak ngasih kabar."
"Sorry Bel, ponselku hilang tiga hari yang lalu. Pas aku ke rumah kamu, eh kamunya juga gak di rumah kemarenkan?"
"Ia sih aku baru pulang dari Lampung tadi malam, gimana keadaan kamu sekarang? nginap dimana? apa udah sampek di asrama?"
"Aku lagi stress ni. Baru juga nyampek ke hotel aku langsung di tarik-tarik sama bule gila. kamu tau gak?"
"Enggak, kan belom kamu bilang."
"Bule gila itu mau melecehinaku. Alhamdulillah aja gue bisa mukul kepalanya pakek vas bunga dan berhasil kabur."
"Gila tu bule, kamu harus hati-hati tu Syai. Bisa-bisa dia balas dendam, jadi runnyam deh tu urusan." Bela memperingati.
"Ia aku juga cemas sekarang. Doain ya semoga aku gak kenapa-kenapa."
"Iya Amiin," ucap Bella.
Tok tok tok.
"Bel, ada yang mengetuk pintu. Aku tutup dulu ya telponnya," ucap Syaila.
"Oke, hati-hati tuh!"
"Iya, assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Telpon pun di tutup.
Syaila melangkahkan kakinya ke arah pintu, dari dalam ia dapat melihat siapa yang memgunjunginya. Syaila takut orang yang mengunjunginya adalah orang-orang cabul seperti yang ia temui beberapa saat lalu. Setelah melihat siapa yang mengunjunginya, Syaila pun membuka pintunya.
"Assalamualaikum, kamu Syaila kan?" ucap seorang perempuan muda di hadapannya itu.
"Wa'alaikum salam iya, kalian pasti mahasiswi dari Indonesia itu kan?" tanya Syaila bahagia karena bertemu dengan orang yang berkenegaraan sama dengannya.
"Iya. Perkenalkan namaku Aurel. Ini Andre, ini Lena, dan itu Revan." Aurel memperkenalkan diri dan teman-temannya kepada Syaila. Mereka pun saling bersalaman.
"Maaf kami agak terlambat menjemputmu. hingga kamu akhirnya harus ke hotel terlebih dahulu," jelas Lena tampak akrab.
"Gak masalah, ayo masuk!" ajak Syaila mempersilahkan.
"Trima kasih," ucap Aurel.
Aurel dan beberapa temannya pun masuk ke dalamnya.
"Ngomong-ngomong saat kami kemari tadi, ada beberapa orang berpakaian jas hitam lagi nyari seseorang yang pakek jilbab pink, apa mereka sedang mencarimu?" tanya Lena.
"Untuk apa mereka mencariku? aku bahkan baru sampai dari Indo."
"Haha benar juga," ucap Lena.
"Mereka mencariku? aduh bagaimana ini, jika mereka menemukanku, pria cabul itu akan menyiksaku untuk balas dendam. Sebaiknya aku harus segera pergi dari sini deh," bathin Syaila.
"Ngomong-ngomong apa kita bisa pergi sekarang? rasanya aku ingin segera sampai kesana," ucap Syaila.
"Oh baiklah, kebetulan aku harus mengerjakan tugas yang di berikan Pak Jeck padaku," Ucap Revan.
"Kalau begitu ayo! aku udah nyusunin barang-barangku," ajak Syaila.
"Baiklah, biar ku bantu." Revan menarik koper yang ada di tangan Syaila.
"Gak usah, biar aku aja," ucap Syaila tak enak hati.
"Kau terlalu sungkan," tambah Andre lalu menarik ransel Syaila dari bahunya.
"Trima kasih teman-teman." Syaila terharu dengan keramahan mereka.
"Hey! berhenti merasa terharu, ayo cepat! kita harus segera sampai asrama sebelum pukul 20:05 kalau gak aku gak yakin kita bisa masuk dengan tampa hambatan, wanita tua penghuni rumah itu akan terdengar seperti radio rusak di telinga kita."
"Apa radio rusak? haha kau lucu sekali Aurel," tawa Syaila.
"Oke, lets go!" ajak Aurel.
"Emm tunggu, aku rasa aku harus mengganti pakaianku," ucap Syaila.
"Buat apa harus ganti pakaian, baju ini juga sudah oke, lagian tas dan kopermu udah di bawa kabur tu sama Revan dan Andre."
"Tunggu semenit aja oke," ucap Syaila. Gadis itu mengambil sebuah selendang dan kaca mata botolnya dari hand bag hitam di tangannya.
"Apa kamu sedang menyamar Syaila?" Aurel tampak curiga dengan tingkah laku Syaila yang terlihat tidak normal.
"Emmm ya, ceritanya panjang. Akan aku ceritakan padamu saat kita sampai disana, ayo!"
"Baiklah." Mereka pun berangkat.
Di sekitar lorong dan sudut, terdapat beberapa orang body guard yang bertubuh tinggi dan kekar. Mereka masih mencari gadis yang di suruh oleh Joy Nelton beberapa saat lalu untuk di temukan.
"Bagaimana jika aku ketahuan, aku bahkan belum pernah main petak umpet seumur hidupku, kali ini matilah aku. Apa yang harus aku lakukan?, ya Allah tolonglah aku," bathin Syaila sembari berharap dan berdoa agar Allah menyelamatkannya.
Syaila berusaha berjalan dengan anggun dan tenang. Agar para body guard tak curiga terhadap gerak geriknya. Saat berada di depan pintu, para body guard dan satpam pun tak mempedulikannya dan mempersilahkan Aurel dan Syaila keluar sedangkan Andre dan Revan sudah menunggu keduanya di dalam mobil.