Brakk, dubrakk
Tiba-tiba saja pintu ruang kelas ada yang mendobrak dengan keras dan masuklah seorang cewek dengan tergesah-gesah.
"Nes, Anes itu" ucap Lita yang baru saja datang dengan mengagetkan semua penghuni kelas.
"Apa sih ta, ngagetin aja lu" ucap Anes kesal karena acara main gamenya terganggu bahkan sampai game over.
"Itu, itu diluar" ucap Lita terbatah-batah sambil menunjuk keluar.
"Kenapa sih Ta, lu habis liat hantu?" Tanya Anes santai.
Lita pun menggeleng sambil terus menunjuk arah luar kelas, anes tau apa yang dimaksud Lita karena teman sekelasnya tadi sudah memberi tahunya, tapi Anes hanya bodo amat.
"Gak jelas lu Ta" Anes pun kembali memainkan hp.
"Itu diluar ada Edward dkk dan lu dicari sama mereka" Lita pun masih menunjuk kearah luar.
"Ya elah dari tadi ngomong gitu aja gak bisa" ucap Anes melempar botol minum ke Lita dan berlalu keluar.
Sampai didepan pintu Anes melihat Edward dkk sedang berdiri disampingnya dengan menyender.
"Ada apa cari gue?" Tanya Anes.
"Siapa yang cari lu" jawab Edward.
"Oh bukan gue yang lu cari?" Anes pun menganggukkan kepalanya.
"Terus cari siapa?, biar gue panggilin?" Tanya Anes kemudian berlalu tak mau menanggapi Edward.
Saat Anes ingin kembali masuk kelas ada yang mencekal tangannya, Anes pun berbalik dan menaikan alisnya seolah mengatakan ada apa.
"Gue kesini ada perlu sama lu" ucap Edward.
"Tuh kah, tadi aja bilang siapa yang cari lu?" Anes menirukan gaya bicara Edward.
"Cepet ngomong ada perlu apa?, gue gak ada waktu buat ngeladenin cowok kayak lu" ucap Anes sambil bersedekap.
"Jangan ge er dulu, gue kesini hanya mau balikin ini" ucap Edward menyodorkan kantung plastik.
Anes bukan orang bodoh yang gak tau apa didalam plastik itu, Anes heran buat apa dibalikan.
"Gue gak butuh uang dari lu, gue udah punya sendiri bahkan lebih banyak dari pada ini" lanjut Edward.
"Cih sombong banget, uang dari orang tua aja lu bangga" ucap Anes datar.
"Sembarangan, Edward itu dah punya bisnis sendiri" timpal Anan.
"Bisnis sendiri?, Bisnis apaan?, Bisnis punya orang tua juga kan" ucap Anes lagi membuat mereka geram.
"Lu jangan sembarangan kalau ngomong ya" tunjuk Adam.
"Ya udah mending nih buat lu aja dah" Anes pun mengambil plastik itu dan menyerahkannya pada Adam.
"Dengerin gue baik-baik jangan sok membanggakan diri kalau itu masih milik orang tua lu" Anes menunjuk Edward lalu berjalan memasuki kelas.
Belum juga Anes duduk Lita sudah menyodorkan banyak pertanyaan pada Anes dan itu membuat Anes pusing.
"Nes lu gak apa-apa kan?, lu diapain sama dia?, lu disakitin sama dia?, atau dimarahin?" Tanya Lita bertubi-tubi.
"Gue gak diapa-apain kok, santai aja" ucap Anes santai.
"Lu yakin?, lu gak dibentak sama dia?, lu gak dimarahin dia kan?, atau lu disakitin sama dia?" Tanya Lita lagi.
"Ngga Lita" ucap Anes penuh penekanan.
"He he pleace" Lita pun cengengesan.
"Ya udah yuk kekantin aja" lanjut Lita.
"Gak mau ah lagi gak mood, mau tidur aja pusing pala gue" Anes mengambil tasnya dan diletakan keatas meja untuk jadi bantalan.
"Ayo dong Jes gue traktir deh, khusus untuk hari ini" bujuk Lita agar Anes mau menemaninya makan dikantin.
"Ya udah yuk" Anes semangat.
"Yeh giliran ditraktir aja mau" kesal Lita.
"Iya dong, mana ada orang yang nolak kalo dapet gratisan, ayok cepat" anes menarik tangan Lita.
Sesampainya dikanti Anes mencari meja kosong dan Lita yang memesan makanan. Tak lama kemudian Lita dateng membawa makanan dibantu ibu kantin, sesaat kemudian ada yang menghampiri mereka berdua.
"Dek lu gak apa-apa kan?" Tanya Javin menepuk pundak Anes.
"Emangnya gue kenapa bang?" Tanya balik Anes.
"Katanya lu disamperin sama Edward dkk?"
"Iya bang" jawab Anes "tapi dia gak ngapa-ngapain kok cuma mau balikin uang tadi malem aja" lanjut Anes.
"Terus lu terima?" Anes menggeleng, "gue kasih ketemanya"
"Abang lu panik tau gak denger Edward dkk nyamperin lu, hampir aja dia bolos buat mastiin keadaan lu" ucap Stev teman Javin.
"Yakan gue khawatir sama adek gue" ucap Javin.
"Seriusan kak?" Tanya Anes pada Stev dan dibalas anggukan cepat.
"Wih abang gue begitu perhatian sama adeknya" Anes tepuk tangan.
"Kenapa tepuk tangan?" Tanya Stev.
"Ya kan baru kali ini abang begitu perhatian sama gue" ucap Anes melirik Javin.
"Dek jangan mulai" tegas Javin.
"Hhehe, engga kok bang" ucap Anes cengengesan lalu kembali melanjutkan makannya.
"Boleh kita gabung?" Tanya seseorang yang baru saja datang mengusik ketenangan mereka.
Anes mendengar ada yang bicara pun mendongak melihat siapa orang berdiri disamping mejanya dan ternyata yaitu Edward dkk.
"Eh, silahkan saja gak ada yang larang kok" ucap Lita kikuk.
"Tapi orang disamping lu, gak suka kami disini" tunjuk Edward.
"Duduk aja, lagian nih kantin bukan punya gue" ucap Anes santai.
"Hai ward dan hai semuanya" ucap Inaka yang baru saja dateng memenghampiri mereka, ralat bukan mereka hanya Edward.
"Ward habis sekolah entar, anter gue ya ke mall" ucap Inaka lembut dan bergelayut pada lengan Edward, Anes merasa ingin muntah kalau didepannya gak ada makanan.
"Iya nanti gue anter kemana pun kamu mau" ucap Edward mengusap rambut Inaka pelan.
"Mau aja dimanfaatin sama muka kedok kayak dia" ucap Anes santai, ya Anes anes akan memanggil Inaka dengan sebutan muka kedok.
"Siapa yang lu katain muka kedok?" Tanya Anan.
"Siapa aja yang ngerasa" ucap Anes menghabiskan makannya.
"Lu ngatain gue" marah Inaka.
"Lah siapa yang ngatain lu, bagus deh kalo lu ngerasa" ucap Anes santai.
Anes suka dengan musuh yang mudah terpancing amarahnya, menurutnya orang seperti itu muda untuk dikalahkan bahkan ditaklukkan.
Amarah Inaka pun sudah memuncak dia langsung berjalan menghampiri Anes dan menamparnya dengan keras.
Anes pun diam tak menghindar sama sekali malah terlihat biasa saja tidak merintih atau pun kesakitan.
"Woy lu apaan sih, main nampar pipi orang sembarangan banget lagi" Javin berdiri menatap Inaka sengit.
"Kenapa?, lu mau belain dia?" marah Edward menunjuk Anes.
"Jelas gue mau belain dia, dia adek gue" Javin pun tak mau kalah meninggikan suaranya sampai mereka jadi pusat perhatian.
"Oh, jadi lu udah terhasut oleh kelakuannya yang padahal cuma trik dia untuk deketin kita" Anan maju berhadapan dengan Javin.
"Gue gak terhasut oleh siapa pun tapi kalian lah yang terhasut oleh cewek murahan ini yang bersembunyi dibalik wajah sok polos dan lugunya itu" tunjuk Javin tak suka pada Inaka.
Bugggh
Bugggh
Bugggh
"Anes" teriak Lita dan Javin.