Bugggh
Bugggh
Bugggh
"Anes" teriak Lita dan Javin.
"Bangun lu, jangan jadi banci, sok jagoan, sok bener" marah Anes pada Anan yang sudah tersungkur dilantai.
Anes sudah geram melihat tingkah Anan yang sok benar makanya sebelum Javin yang memukul Anan, Anes dulu yang memukulnya.
"Dek udah" Javin menarik Anes agar menjauh dari Anan.
Kalau dibiarkan Anan bisa masuk rumah sakit karena adeknya sendiri.
"Lepasin bang, biar gue kasih pelajaran sama tuh orang" brontak Anes sambil menunjuk Anan.
Anes terus memberontak sampai Javin tak bisa menahannya lagi, karena sekarang Anes benar-benar sedang dikuasai oleh amarahnya.
Bugggh
Tendang Anes mengenai perut anan sampai Anan kembali tersungkur tak berdaya.
"Dek udah, tenangin diri lu" ucap Javin memeluk Anes erat agar tak terlepas lagi.
"Lepas bang" Anes terus berontak.
"Dek ingat dia juga abang lu, apalagi dia saudara kembar lu, gue cuma gak mau lu ngerain sakit yang dia rasain" Javin mengingatkan Anes.
Perlahan emosi Anes mereda dia baru ingat bahwa Anan saudara kembarnya dan Anes pun terdiam berfikir apakah nanti dia juga merasakan sakit yang Anan rasakan atau tidak karena adanya ikatan batin, bagaimana pun tubun ini bukan miliknya pasti ikata itu ada.
Ya benar, tiba-tiba saja Anes merasakan kepalanya sangat pusing dan sakit diperutnya perlahan kesadaran Anes menipis kemudia pingsan.
Javin yang merasa tidak ada pergerakan lagi dari Anes pun membalikkan tubuh adeknya, tubuh Anes merosot Javin menggendongnya dan langsung dibawah pergi ke uks.
Mereka yang melihat itu semua bingung gimana Anes mendapatkan kekuatan untuk memukul Anan, dan tidak heran kalau Anes pingsan karena mereka tau ikatan batin Anes terhadap Anan sangat kuat tapi tidak tau gimana ikatan batin Anan terhadap Anes.
"Nan lu gak apa kan?" Tanya Adam sambil memapah Anan.
"Bodoh, masa iya orang babak belur gak apa" ucap Ali memukul kepala Adam.
"Yeh kan gue cuma nanya" Adam memukul balik Ali.
"Udah lebih baik kita bawa Anan ke uks biar diobati" ucap Edward menengahi.
Mereka pun memapah Anan menuju uks, baru juga beberapa langkah tangan Edward sudah ada yang menahannya.
"Ayo katanya mau antar aku ke mall" ucap Inaka menarik lengan Edward.
"Bisa nanti aja?"
"Yah aku maunya sekarang" Inaka cemberut.
"Tapi kamu liatkan sekarang kondisi Anan sahabat aku gimana, aku harus memastikan keselamatannya terlebih dahulu" ucap Edward menunjuk Anan yang sudah menjauh dipapah Ali dan Adam.
"Ya kan udah ada Ali dan Adam, ada abangnya juga masa iya kamu harus ikut juga" ucap Inaka manja.
"Ya kita ke mallnya bisa lain kali, besok juga bisa" Edward sudah kesal melihat kelakuan Inaka yang gak bisa liat situasi.
"Tapi aku mau sekarang"
"Cukup, kamu gak bisa liat kondisi apa?" Sentak Edward, dia benar tak habis pikir dengan jalan pikiran kekasihnya itu yang lebih mementingkan kesenangannya dari pada temannya.
"Sekarang kamu beda tau dari yang dulu" lanjut Edward.
"Beda gimana sih aku sama seperti dulu" sangkal Inaka.
"Ngga, dulu kamu pengertian selalu mengutamakan teman dari diri sendiri, sekarang kamu itu egois" sentak Edward berlalu meninggalkan Inaka.
"Ish sebel, sabar Inaka jangan sampai dia menjauh apa lagi pergi darimu bisa kacau semua rencanamu, awas aja lu Anes gue akan bales lu nanti" gumam Inaka sambil mengepalkan tangannya.
Di uks anan sedang diobati dan tatapannya tak pernah lepas dari Anes yang terbaring tak berdaya didepannya.
"gue lebih baik bertengkar dengan lu dek dari pada melihat kamu seperti ini" batin Anan.
Semua merasa cemas melihat Anes yang tak kunjung sadar, kata dokter anes baik-baik saja tapi kenapa Anes tak kunjung sadar.
Dilain tempat lebih tepatnya dialam bawah sadarnya Anes bertemu dengan pemilik tubuhnya.
"Keyria apa kabar?" Tanya Anestia.
"Baik, lu Anestia kan yang punya tubuh ini?, sekarang gue dimana?, apa gue dah mati?" Tanya Anes.
"Iya aku Anestia, kamu belum mati kok. Kamu sekarang berada dialam bawah sadarmu, aku menghampirimu karena ingin menyampaikan sesuatu, kamu pasti tau itu" ucap Anestia, Anes paham pasti ada sesuatu yang belum Anestia itu kerjakan didunianya.
"Dan aku hanya sebentar disini jadi jangan potong ucapanku" ucap Anestia dan Anes pun mengangguk.
"Aku minta tolong, tolong jaga keluargaku jangan pernah sakiti mereka terutama saudara kembarku, karena kami memiliki ikatan batin yang kuat, bila dia kesakitan tubuhku pun merasakannya" ucap Anestia, Anes menganguk-anggukan kepalanya udah tau karena dia merasakan apa yang kembarannya itu rasakan.
"Ya maka dari itu tubuhmu merasakan sakit" ucap Anestia mengetahui pikiran Anes.
"Oke, apakah ada lagi?" Tanya Anes, dan Anestia pun berfikir.
"Oh ya satu lagi balas perlakuan Inaka padaku karena dia yang membuat aku tenggelam didanau dan perbaikilah hubungan dengan keluargaku" ucap Anestia serius.
"Apa kamu menyesali semua itu?" Tanya Anes memastikan.
"Ga ada yang perlu diselali semua itu sudah terjadi" jawab Anestia mantap.
"Hanya itu saja yang ku pinta darimu Keyria..." jeda sesaat.
"Sekarang apa yang aku miliki sudah menjadi milikmu semuanya, jadi manfaatkan kesempantan yang telah tuhan berikan padamu jangan pernah sia-siakan dan berbahagialah kamu" ucap Anestia tersenyum.
"Terima kasih, pasti aku akan memanfaatkan kesempatan ini dan memperbaiki semuanya" ucap Anes tulus.
Perlahan tubuh Anestia memudar kemudian menghilang dan Anes merasakan seperti ada yang menarik dirinya keluar dari dalam sana.
Anes pun membuka matanya perlahan dan melihat ada Javin didepannya yang sedang menatapnya dengan cemas.
"Dek syukurlah lu dah bangun" ucap Javin senang sambi mencium kening Anes.
"Jangan bikin abang cemas lagi ya" pinta Javin, Anes pun mengangguk.
"Nggak akan kok bang, oh ya Lita mana?" Tanya Anes melihat sekitar tak menemukan Lita.
"Disini ada abangnya masa iya cari orang lain" ucap Javin cemberut.
"Ya mau tau aja bang" ucap Anes tersenyum.
"Lita tadi dah pulang duluan, supir keluarganya sudah menjemput" jawab Javin.
"Emang sekarang jam berapa bang?" Tanya Anes lagi.
"Jam 5 sore dek, kamu pingsan selama 6 jam"
"Apa jam 5 sore, 6 jam pingsan" kaget Anes, selama itu dia berbincang dengan Anestia pikirnya.
Edward dkk hanya diam melihat interaksi abang dan adik itu tak mau ada yang bicara.
"Ngapain kalian ada disini?" Tanya Anes yang baru sadar bahwa ada orang lain didalam ruangan itu selain dia dan Javin.
"Ya nemenin Anan lah" jawab Edward bohong, padahal mereka sedang menunggu Anes sadar sedari tadi karena ingin memastikan kondisi Anes.
"Ohh, bang yuk pulang" ucap Anes sambil bangun dan tak mau berdebat dangan Edward dkk.
"Ayo, hati-hati turunnya" saut Javin sambil memegang lengan Anes yang hampir turun dari brangkar uks.
"Mau abang gendong atau jalan sendiri?" Tawar Javin.
"Gendong" ucap Anes cepat, Javin pun berjongkok didepan Anes dengan semangat Anes pun langsung mengalungkan tangannya dileher Javin.